Figur Pendidik Muslim : Luqman Al-Hakim (Bag. 2)

Dalam tulisan sebelumnya nampak keteladanan Luqman Al-Hakim sebagai seorang pendidik sejati yang memulai dari pendidikan keluarga. Beliau memberikan nasehat, wejangan, dan pendidikan kepada anaknya sebagai tanggung jawab terbesar seorang pendidik sebelum yang lainnya. Dari ayat 13 yang telah kami paparkan sebelumnya; ada fase utama dalam pendidikan Islam yang semestinya menjadi prioritas utama dan sejak dini ditanamkan oleh para pendidik yaitu pendidikan keimanan (Tarbiyah Imaniyah) sebagai landasan ilmu pengetahuan, di sinilah letak perbedaan mendasar antara pendidikan Islam dan pendidikan sekuler- materialistik.

Kemudian nasehat berikutnya adalah :

  • Surat Luqman ayat 16 :

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الأرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ (١٦)

(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

Pelajaran bagi para pendidik :

  1. Salah satu karakter pendidik sukses adalah mampu menjadi motivator bagi peserta didik untuk berkarya dan berprestasi. Setelah berhasil menanamkan keimanan kepada sang anak, Luqman menyiram keimanan itu dengan informasi penting dan perumpamaan yang jelas, sehingga memperkuat iman anak didiknya bahwa sesungguhnya segala perbuatan itu dinilai dan akan mendapatkan balasan dari Rabb semesta alam. Keyakinan yang kuat seperti ini akan membangkitkan produktifitas umat Islam, para peserta didik akan berlomba untuk beramal, berkarya dan berprestasi dalam mencapai ridha Rabbnya, inilah sebaik-baik motivasi.
  1. Seorang pendidik adalah penasehat ulung, dan pemberi peringatan yang bijak bagi peserta didiknya untuk menjauhi perbuatan buruk dan menjelaskan dampaknya pada kehidupan sang anak, tahu akan kondisi, pandai memilih kata yang tepat , sehingga nasehat dan peringatan yang diberikan dapat diterima dengan baik. Luqman menegaskan di akhir ayat di atas bahwa sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui, maka tidak ada satu keburukan pun yang tersembunyi kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membalasnya. Hal ini yang tidak dimiliki oleh kebanyakan pendidikan sekuler yang hanya memotivasi tanpa memberi peringatan terhadap hal-hal yang akan menghalangi jalan kesuksesan hidup sang anak, adapun dalam pendidikan Islam dikenal adanya targhib wa tarhib ( ada motivasi dan peringatan)
  • Surat Luqman ayat 17

يَابُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاَةَ وَأمُر بِالمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ المُنكَرِ وَاصبِر عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِن عَزمِ الأُمُورِ(17)

“ Wahai anakku, laksanakanlah shalat dan perintahkanlah mengerjakan yang ma’ruf dan cegahlah dari kemungkaran dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal diutamakan.”

  1. Pendidik adalah pengarah yang baik , senantiasa mengarahkan peserta didik pada hal-hal yang menjadi jalan untuk menggapai kesuksesan hidup mereka di dunia dan di akhirat. Di antara hal utama yang harus menjadi perhatian serius para pendidik adalah aspek ibadah, dan secara khusus ibadah shalat lima waktu yang merupakan ciri utama seorang muslim, bahkan  sebagai pertanyaan pertama dan penentu di akhirat kelak, serta menjadi sebab tercegahnya seseorang dari perbuatan keji dan mungkar di dunia.
  2. Pendidik adalah pembimbing yang ulet dalam pembentukan aspek psikomotorik peserta didik, mengajarkan ilmu yang bermanfaat dan punya semangat dalam membimbing mereka untuk mengamalkan apa yang telah mereka ketahui dan pelajari. Nampak dari ayat tersebut perintah shalat kepada sang anak setelah sebelumnya didahului dengan pelajaran keimanan. Di sini tersirat bahwa buah dari ilmu yang benar pasti akan menghasilkan amal yang nyata.
  3. Pendidik yang sukses mestinya mampu melahirkan kader atau generasi pelanjut yang tentunya menjadi penerus perjuangan sang guru, bahkan mampu berbuat yang lebih baik. Pemahaman dan pemberian tanggung jawab adalah bagian pembinaan yang sangat penting untuk melahirkan kader yang kuat, bukan dengan memanjakan dan menjadikan amanah tertumpu pada diri sang pendidik. Perintah untuk amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah bukti bahwa Luqman Al-Hakim memberi amanah dan tanggung jawab kepada sang anak, sekaligus menjadi sarana pembentukan karakter pemimpin  yang kelak diharapkan bisa meneruskan perjuangannya.
  4. Pendidik yang hebat adalah seorang problem solver yang handal, yang selalu punya tips dan solusi dalam menyelesaikan setiap masalah yang dihadapi atau akan dihadapi oleh peserta didiknya. Kesabaran adalah diantara tips dan solusi terbaik bagi para penuntut ilmu untuk meraih keutamaan dan kesuksesan.
  • Surat Luqman ayat 18-19

وَلاَتُصَعِّر خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَتَمشِ فِي الأَرضِ مَرَحًا إِنَّ اللهَ لاَيُحِبُّ كُلَّ مُختَالٍ فَخُورٍ

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِن صَوتِكَ إِنَّ أَنكَرَالأَصْوَاتِ لَصوتُ الحَمِيرِ

Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”

  1. Pendidik yang rabbani memberi perhatian serius terhadap pendidikan karakter atau yang kita sebut dengan pendidikan adab dan akhlak. Salah satu indikator keberhasilan pendidikan yang nampak secara langsung adalah  sikap peserta didik atau karakter yang terbentuk setelah melewati sebuah proses atau jenjang pendidikan. Penekanan Luqman Al-Hakim dalam wasiatnya pada ketawadhu’an atau kerendahan hati dan jauh dari sifat sombong yang merupakan tabiat syaithan dan sebab dikeluarkannya syaithan dari surga merupakan pesan akhlak yang terpenting,  karena sombong adalah sifat buruk yang menjadi sumber karakter keburukan lainnya pada diri seseorang, seperti sifat hasad, boros, cuek, tidak peduli, kikir dll,  semua punya korelasi dengan kesombongan.
  2. Pendidik muslim sejati memiliki sikap keteladanan yang akan memudahkan penanaman nilai-nilai akhlak mulia pada diri anak didiknya karena ada sosok yang bisa diikuti dan dijadikan panutan dalam pengejewantahan akhlak tersebut. Luqman Al-Hakim sebelum memberi nasehat kepada anaknya telah dikenal sebagai laki-laki yang berakhlak mulia, tidak sombong, penuh kesederhanaan, pandai dan tidak kasar. Maka sikap keteladanan itu menjadi kunci keberhasilan pendidikan karakter.

Umat Islam sangat butuh sosok pendidik muslim sejati untuk mengawal bangkitnya peradaban Islam dalam perannya mencetak generasi Qur-ani di seluruh aspek kehidupan ummat. Semoga tulisan sederhana ini menjadi sumbangsih nyata dalam rangka terwujudnya cita-cita mulia tersebut.

Ardian Kamal , Riyadh , 8/7/1436 H

You might also like More from author

Leave a comment
k