Cahaya Itu Hanya Akan Dilihat Oleh Sang Guru

Melihat Nu’man bin Tsabit bin Zuta bin Mahan at-Taymi rahimahullah ta’ala, ibarat melihat pertemuan dua gunung besar, gunung Ilmu dan gunung kedermawanan.

Sebenarnya beliau lebih dikenal dengan Al-Imam Abu Hanifah, karena beliaulah yang meletakkan dasar mazhab fiqih, yang kemudian berkembang dan diikuti oleh banyak penduduk muslim dunia, terbentang dari ujung barat Rusia, Turki, bahkan hingga hampir seluruh daratan Eropa hari ini.

Suatu hari Al-Imam Abu Hanifah –rahimahullah- melihat cahaya iman dan ilmu di wajah seorang anak muda, yang berpeluh keringat bekerja di pasar.

Beliau bertanya: “Mengapa engkau tidak duduk belajar di Majelisku?”

Anak muda itu menjawab: “Aku harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluargaku”.

Lalu Abu Hanifah menanggung kebutuhan keluarganya, dan memintanya untuk fokus serta duduk belajar di majelisnya.

Beberapa waktu berlalu, Ibu anak muda itu berkata: “Wahai anakku, Abu Hanifah bisa belajar dan mengajar karena dia adalah orang kaya, adapun kita adalah orang miskin”.

Tatkala Abu Hanifah mengetahuinya, beliau berkata kepada anak muda tersebut: “Kau akan makan makanan faluzaj di atas piring fairuzaj.”

Faluzaj adalah makanan mewah yang hanya tersedia di istana Khalifah tatkala itu, adapun Fairuzaj adalah salah satu jenis piring, yang terbuat dari bebatuan mulia yang juga hanya terdapat di dalam istana.

Dia pun terus menjadi penuntut ilmu, dan menyertai gurunya Abu Hanifah hingga beliau wafat, rahimahullah.

Tahukah anda siapa anak muda tersebut?

Dialah Abu Yusuf yang sangat terkenal dengan sebutan salah satu dari shahibaa Abi Hanifah (dua orang sahabat/murid terbaik Abu Hanifah, bersama Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani, di antara tokok utama mazhab Hanafi).

Abu Yusuf pulalah yang kelak menyandang gelar Qaadhi Qudhaat (Hakimnya Para Hakim di seluruh wilayah Kekhilafan) pertama dalam Islam di masa khalifah Harun Ar-Rasyid.

Di hari pertama Al-Imam Abu Yusuf rahimahullah dilantik menjadi Qaadhi Qudhaat, dihidangkan kepadanya makanan Faluzaj di atas piring Fairuzaj, lalu dia tersenyum.

Khalifah bertanya: “Mengapa engkau tersenyum wahai Imam?”

Al-Imam Abu Yusuf menjawabnya sambil tetap tersenyum dengan menceritakan kisah awal mulanya menuntut ilmu, dan berkata: “Aku teringat dengan ucapan Guruku Abu Hanifah rahimahullah, Kau akan makan makanan faluzaj di atas piring fairuzaj.”

Itulah salah satu karya istimewa Abu Hanifah, ulama besar Al-Imam Abu Yusuf lahir dari ilmu dan kedermawanannya, pelanjut tongkat estafet perjuangan ilmu, yang merupakan jalan keluar bagi persoalan yang terjadi di umat Islam.

Bayangkan, betapa bercahayanya ruh beliau hingga hari kebangkitan.

Sudah semestinya, begitulah jiwa-jiwa pengusaha muslim hari ini dan begitu pulalah karya-karya mereka hadir untuk umat.

Sejatinya pengusaha muslim akan berlomba dengan hartanya untuk berbuat lebih dan beramal, dan memberikan solusi untuk anak-anak muda kaum muslimin yang memiliki cahaya ilmu dan iman di wajah-wajah mereka.

Bahkan lebih dari itu, Abu Hanifah memberikan inspirasi mahal buat kita, bahwa harus ada keseimbangan antara harta dan ilmu pada diri seorang muslim, sehingga hartanya digunakan sesuai dengan panduan ilmu, dan ilmu dipelajari dengan harta yang halal lagi berkah.

Teruslah belajar dan mengajar, ikutlah andil membesarkan Islam, serta menegakkan kalimat Tauhid di muka bumi ini.

Tetap kokohlah dalam mencari nafkah yang halal lagi berkah, untuk menyokong aktivitas ilmu dan pendidikan anak-anak muda kaum muslimin.

Kelak kita akan membutuhkan para sosok Abu Yusuf yang lainnya, yang menjadi solusi dan pemersatu kaum muslimin di setiap negeri-negeri mereka.

 

Muhammad Rifyal

Selasa, 7 November 2017

You might also like More from author

Leave a comment
k