Bersahabat Dengan Wali Murid

Sekolah telah menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter generasi bangsa dan umat islam secara umum, hal tersebut nampak dari ketergantungan pendidikan anak pada pembelajaran formal dengan presentasi yang cukup besar. Sekitar 60% aktivitas anak terlewatkan di sekolah. Maka sudah menjadi keharusan kepada para orang tua untuk memberi perhatian serius terhadap perkembangan yang terjadi pada anak di lingkungan sekolahnya.

Semua telah mengetahui bahwa sekolah sangat mempengaruhi prilaku dan pemahaman anak pada keagamaan, moral, dan cara pandang bahkan masa depan anak tersebut nantinya. Upaya dalam mencapai pendidikan yang bermutu terus dilakukan. Namun,  tidak akan bisa mencapai sebuah keberhasilan yang maksimal tanpa keterlibatan aktif dari orang tua siswa. peran dan dukungan orang tua dan lingkungan keluarga sangat dibutuhkan dalam membantu pendidikan anak.

contoh kasus, seorang anak yang terdidik untuk menunaikan shalat di sekolah secara berjamaah, namun setelah sampai di rumah, tidak ada dorongan dari kedua orang tuanya maka upaya pendidikan keagamaan yang telah di berikan oleh pihak sekolah seakan–akan tidak berarti. Hal serupa terjadi pada seorang anak yang terdidik untuk berkata lembut dan santun, tapi setelah sampai di rumahnya mendapatkan kata- kata kasar dan perlakuan yang tidak baik, maka pendidikan karakter anak di sekolah menjadi tidak berefek. Contoh yang lain misalnya seorang siswa tidak berprestasi bahkan dianggap gagal di sekolah, ternyata memiliki kelebihan dalam satu bidang tertentu yang dapat menjadikannya orang hebat dan berprestasi di tingkat internasional, namun karena tidak adanya kerja sama  antara wali murid dan guru sekolah sehingga potensi besar yang dimiliki siswa tidak diketahui dan secara otomatis tentu tidak berkembang bahkan tidak jarang menjadikan potensi tersebut mati.

imam Abu al-Hamid al-Ghazali rahimahullah. Beliau berkata, “perlu diketahui bahwa metode untuk melatih/mendidik anak-anak termasuk urusan yang paling penting dan harus mendapat prioritas yang lebih dari urusan yang lainnya. Anak merupakan amanat di tangan kedua orang tuanya dan qalbunya yang masih bersih merupakan permata yang sangat berharga dan murni yang belum dibentuk dan diukir. Dia menerima apa pun yang diukirkan padanya dan menyerap apa pun yang ditanamkan padanya. Jika dia dibiasakan dan dididik untuk melakukan kebaikan, niscaya dia akan tumbuh menjadi baik dan menjadi orang yang bahagia di dunia dan akhirat. Dan setiap orang yang mendidiknya, baik itu orang tua maupun para pendidiknya yang lain akan turut memperoleh pahala sebagaimana sang anak memperoleh pahala atas amalan kebaikan yang dilakukannya. Sebaliknya, jika dibiasakan dengan keburukan serta ditelantarkan seperti hewan ternak, niscaya dia akan menjadi orang yang celaka dan binasa serta dosa yang diperbuatnya turut ditanggung oleh orang-orang yang berkewajiban mendidiknya” (Ihya Ulum al-Din 3/72).

Mewujudkan generasi emas merupakan tugas bersama seluruh elemen masyarakat yang ada, tapi perlu disadari,mbagaimanapun juga orang tualah yang akan bertanggung jawab terhadap anak yang diamanahkan oleh Allah ta’ala kepadanya: Allah ta’ala berfirman dalam sebuah ayat yang telah kita ketahui bersama,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (At Tahrim: 6).

Seorang tabi’in, Qatadah, ketika menafsirkan ayat ini mengatakan,

تأمرهم بطاعة الله وتنهاهم عن معصية الله وأن تقوم عليهم بأمر الله وتأمرهم به وتساعدهم عليه فإذا رأيت لله معصية ردعتهم عنها وزجرتهم عنها

“Yakni, hendaklah engkau memerintahkan mereka untuk berbuat taat kepada Allah dan melarang mereka dari berbuat durhaka kepada-Nya. Dan hendaklah engkau menerapkan perintah Allah kepada mereka dan perintahkan dan bantulah mereka untuk menjalankannya. Apabila engkau melihat mereka berbuat maksiat kepada Allah, maka peringatkan dan cegahlah mereka.” (Tafsir al-Quran al-’Azhim 4/502).

Demikian pula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memikulkan tanggung jawab pendidikan anak ini secara utuh kepada kedua orang tua, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggunjawabannya dan demikian juga seorang pria adalah seorang pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari: 2278).

Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma berkata,

أدب ابنك فإنك مسؤول عنه ما ذا أدبته وما ذا علمته وهو مسؤول عن برك وطواعيته لك

“Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai pendidikan dan pengajaran yang telah engkau berikan kepadanya. Dan dia juga akan ditanya mengenai kebaikan dirimu kepadanya serta ketaatannya kepada dirimu.”(Tuhfah al Maudud hal. 123).

Maka peran aktif orang tua/ wali murid sangat diperlukan oleh pihak sekolah dalam pendidikan anak. Berikut kami paparkan tanggung jawab dan bentuk kerjasama orang tua dan guru terhadap pendidikan anak di sekolah

  1. Tanggung jawab orang tua:
  2. Memilih sekolah yang terbaik dalam pendidikan keagamaan anak.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ما نحل والد ولده أفضل من أدب حسن

“Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan yang baik.” (HR. Al Hakim: 7679).

  1. Menjadi teladan bagi anak

jika kita menginginkan anak-anak shalih, maka kita juga harus menjadi orang yang shalih. Ada pepatah Arab yang bagus mengenai hal ini,

كيف استقم الظل و عوده أعوج

“Bagaimana bisa bayangan itu lurus sementara bendanya bengkok?”

Kita selaku orang tua adalah bendanya sedangkan anak-anak kita adalah bayangannya. Jika diri kita bengkok, maka anak pun akan bengkok dan rusak.

  1. Mengontrol tugas- tugas sekolah dan pelajaran yang didapatkan anak di sekolah.
  2. Mengetahui jadwal pelajaran dan aktivitas anak di sekolah
  3. Membantu pencapaian tujuan pembelajaran sekolah pada anak, di antaranya menyiapkan lingkungan belajar di rumah / tempat yang menyenangkan untuk belajar di rumah.
  4. Memberi motivasi dan penghargaan kepada anak terhadap pencapaian di sekolah
  5. Melakukan komunikasi secara berkala lewat telpon atau sms kepada pihak guru kelas/ wali kelas, BK, dan guru mata pelajaran untuk menanyakan perkembangan anak di sekolah, minimal satu bulan sekali.
  6. Aktif menghadiri rapat sekolah, pertemuan dan kegiatan lainnya yang melibatkan wali murid.
  7. Tanggung jawab guru terhadap orang tua siswa sebagai orang yang diberi amanah dalam pendidikan anak di sekolah:
  8. Memberikan pendidikan akhlak dan bidang studi yang diajarkan secara profesional dan proporsional.
  9. Memposisikan siswa seperti anak sendiri yang harus diarahkan, diberikan teladan, dimotivasi dll.
  10. Mengenal orang tua siswa dengan baik ( memiliki data yang lengkap tentang orang tua siswa dan tempat tinggal mereka)
  11. Melakukan komunikasi secara berkala kepada orang tua/ wali siswa untuk memberi laporan perkembangan anak disekolah dan sekaligus menanyakan perkembangan anak dirumah.
  12. Jika diperlukan maka guru melakukan kunjungan khusus ke rumah wali murid untuk mendiskusikan masalah yang dihadapi oleh sang anak.
  13. Menyediakan buku kontrol perkembangan anak yang di isi setiap pekannya oleh guru dan orang tua sebagai hubungan timbal balik.
  14. Mengarahkan potensi anak didik sesuai minat dan bakat yang dimilikinya.

Dengan melaksanakan tanggung jawab masing-masing yang kami paparkan diatas, diharapkan terjadi persahabatan dan kerjasama yang baik dari kedua belah pihak sehingga mampu menjadi solusi persoalan pendidikan yang di hadapi di era modern ini.

 

You might also like More from author

Leave a comment
k