Agar Anak Anda Melaksanakan Shalat

Anak merupakan anugerah Ilahi yang sangat berharga dan nikmat Rabbani yang tak ternilai, ia bak lentera keluarga di tengah kegelapan, keberadaannya menyempurnakan eksistensi keluarga.

Allah berfirman:

Artinya: ”Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. [QS. Asy-Syura : 49-50]

Anak adalah jaminan kebahagiaan masa depan, ia adalah investasi akhirat yang “mengabadikan” pahala amalan para orang tua meskipun mereka telah berkalang tanah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Artinya: Jika manusia telah meninggal dunia, amalannya terputus kecuali tiga: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, anak sholeh yang mendoakan orang tuanya. [HR. Muslim]

Namun perlu diketahui pula bahwa anak merupakan batu ujian bagi para orang tua, ia adalah amanah dari Allah ‘Azza wa Jalla di atas pundak mereka, yang pastinya akan dimintai pertanggungjawaban oleh-Nya, Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ… وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَةٌ وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا

Artinya: ”Setiap kalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang yang dipimpinnya… dan seorang laki-laki adalah pemimpin di dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang yang ia pimpin, dan seorang wanita di rumah suaminya adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang yang ia pimpin. [HR. Bukhari dan Muslim].

Oleh karena itu, adalah merupakan sebuah kewajiban bagi orang tua membina dan mendidik anak-anak mereka, agar menjadi anak-anak yang sholeh dan menjadi penenang  hati dan penyejuk pandangan bagi para orang tuanya.

Salah satu amalan yang harus ditanamkan kepada anak-anak sejak dini adalah ibadah shalat, hal ini disebabkan karena urgensi dan keagungan ibadah shalat yang sangat besar, selain ia adalah bagian dari rukun Islam, ibadah shalat merupakan ibadah yang pertama kali dihisab pada hari kiamat kelak, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ صَلَاتُهُ

Artinya: Hal yang pertama kali dihisab (pada hari kiamat) dari seorang hamba adalah shalatnya. [HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, Tirmidzi dan Ahmad, sanadnya shahih]

Beberapa sarana yang bisa digunakan untuk membiasakan anak-anak shalat, di antaranya adalah:

  1. Memberikan qudwah (contoh) kepada anak-anak kita dalam melaksanakan shalat, dan memperlihatkan kepada mereka bahwa kita sangat memberi perhatian kepada ibadah yang agung ini.

Mungkin ini adalah salah satu di antara hikmah keutamaan melaksanakan shalat sunnah di rumah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَفْضَلَ الصَّلَاةِ صَلَاةُ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا الْمَكْتُوبَةَ

Artinya: ”Sesungguhnya shalat yang paling afdhal adalah shalat (sunnah) yang dilaksanakan di rumah, kecuali shalat wajib (maka lebih baik dilaksanakan di masjid). [HR. Bukhari]

Dengan melaksanakan shalat sunnah di rumah, maka anak-anak akan melihat dan memperhatikan gerakan-gerakan yang dilakukan oleh orang tuanya, dan jika hal tersebut berulang bahkan sering, maka seorang anak akan mencoba untuk meniru aktifitas tersebut, karena salah satu sifat dari anak kecil adalah meniru.

  1. Menyuruh anak-anak untuk melaksanakan shalat.

Jika kita mengamati sirah para orang-orang sholeh sebelum kita, maka kita akan dapati wasiat-wasiat shalat dalam nasehat mereka, contohnya adalah wasiat Luqman kepada putranya yang diabadikan oleh Allah di dalam Al-Quran:

Artinya: ”Wahai putraku, tegakkanlah shalat, suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. [QS. Luqman : 17].

Dan di antara manaqib (kebaikan) yang dikisahkan oleh Allah tentang Nabi Ismail ‘alaihissalam adalah, perintah beliau kepada keluarganya untuk menegakkan shalat, Allah berfirman:

Artinya: ”Dan ia menyuruh keluarganya untuk shalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Allah. [QS. Maryam : 55]

Hikmah dari perintah orang tua kepada buah hati untuk melaksanakan shalat adalah untuk menegaskan urgensi ibadah yang agung ini, agar ada perhatian dari anak-anak terhadap shalat. Dan tentunya metode penyampaian perintah kepada anak-anak sangat berbeda dengan orang dewasa, diperlukan kelembutan dan kasih sayang dalam menyuruh anak-anak, hal ini bisa kita petik dari nasehat Luqman kepada putranya yang dimulai dengan kalimat “Ya Bunayya”. Bentuk “tashghir”  (pada panggilan Ya Bunayya) merupakan cerminan dari kasih sayang dan kecintaan orang tua kepada anak.[1]

  1. Memotifasi anak untuk melaksanakan shalat dengan kisah-kisah pilihan.

Secara fitrah anak-anak suka dengan kisah dan cerita, maka hal ini bisa dijadikan pintu untuk menjadikan mereka cinta kepada ibadah ini, banyak kisah-kisah pilihan yang bisa digunakan untuk mengetuk hati si kecil terhadap shalat, diantaranya kisah tentang Isra’ Mi’raj yang sarat akan pelajaran tentang shalat, dan kisah kecintaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan ibadah yang banyak diriwayatkan oleh para sahabatnya.

  1. Mengapresiasi Anak yang Mengerjakan Shalat.

Secara fitrah manusia menyukai pujian dan hadiah, maka hal ini tentunya bisa menjadi sarana untuk memotivasi anak-anak untuk melaksanakan shalat.  Apresiasi bisa dalam bentuk pujian kepada anak-anak, bisa juga dalam bentuk hadiah bagi anak yang komitmen melaksanakan shalat. Namun ada catatan penting yang mungkin perlu untuk kita waspadai, yaitu jangan terlalu sering menggunakan metode ini, karena khawatir ada efek buruk bagi anak, di antaranya anak tidak mau  melaksanakan pekerjaan dan kewajiban kecuali jika ada hadiah.

  1. Memberi hukuman jika melalaikan shalat.

Sebagaimana ada apresiasi jika melaksanakan kewajiban, maka ada pula hukuman jika melalaikannya. Dan syariat pun menganjurkan metode ini, khususnya jika anak telah mencapai usia 10 tahun dan masih belum mau melaksanakannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مروا أولادكم بالصلاة وهم أبناء سبع سنين واضربوهم عليها وهم أبناء عشر سنين

Artinya: ”Perintahkanlah anakmu melaksanakan shalat ketika berusia 7 tahun, dan (jika belum melaksanakan) pukullah jika berusia 10 tahun. [HR. Abu Dawud dengan sanad hasan]

Catatan penting untuk para orang tua, bahwa bentuk pukulan kepada anak bukanlah pukulan yang berdampak buruk bagi anak, maksudnya bukan pukulan keras yang mengakibatkan cidera, memar apalagi sampai mengakibatkan patah tulang, namun bentuknya adalah pukulan mendidik yang tidak membahayakan anak-anak, namun memberikan efek pembinaan dan pendidikan terhadap urgensi shalat.

  1. Berdoa kepada Allah.

Poin-poin yang kita paparkan diatas adalah usaha dan upaya kita untuk menghadirkan keluarga yang mengagungkan shalat, namun masih ada warisan para salaf yang perlu untuk kita contoh, salah satunya adalah memanjatkan doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang diabadikan Allah dalam Al-Quran:

Artinya: ”Wahai Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Allah, perkenankanlah do’aku. [QS. Ibrahim : 40]

Ya Allah, jadikanlah kami, keluarga kami dan seluruh kaum muslimin sebagai orang-orang yang mengagungkan dan mendirikan shalat. Amiin.

____________________________________

[1]. Tafsir Ibnu ‘Asyuur 11/197 secara ringkas.

You might also like More from author

Leave a comment
k