Tamu Terasing

13

Siapakah dia? Tak ada yang bisa menebaknya secara pasti. Datangnya tiba-tiba, tak ada sapa, tak ada salam, tak ada undangan. Dia tak peduli yang ditemuinya sedang bahagia atau sedang susah, sedang sehat atau dalam keadaan sakit, sedang beribadah atau sedang bermaksiat, sedang bersendirian atau sedang dalam keramaian. Dia tak hiraukan meski rasa yang dibawanya begitu menyakitkan kepada orang mukmin terlebih lagi kepada orang kafir. Baginya, jika jamnya telah tiba untuk bertemu maka ia akan datang untuk memisahkan ruh dari jasadnya. Dialah kematian.

Kata “kematian” Allah sebutkan dalam  Alquran sebanyak 50 kali. Ini menunjukkan hakikatnya dan kepastian datangnya. Setiap makhluk bernyawa pasti akan merasakannya dan hal ini telah Allah subhanahu wata’ala firmankan dalam 3 ayat dalam 3 surat yang berbeda, Allah berfirman: “Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya”. (QS. Ali’Imran: 185.)

Dalam surah lain Allah subhanahu wata’ala berfirman: “Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada kami.” (QS. Al- Anbiya: 35).

Juga dalam surat Al-Ankabut Allah subhanahu wata’ala berfirman: “Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Kemudian kepada kami kamu dikembalikan.” (QS. Al- Ankabut:57).

Tiga ayat di atas mengabarkan kepada kita bahwa kematian itu adalah sesuatu yang pasti, ibarat minuman yang ada di sebuah gelas maka semua makhluk yang bernyawa akan meminumnya dan merasakan manis atau pahitnya sebuah kematian.

Kematian memiliki dua bentuk sifat yaitu dia yang datang menemui kita di mana pun kita berada, sebagaimana yang Allah subhnahu wata’ala kabarkan dalam firman-Nya: “Di mana pun kamu berada, kematian akan mendatangi kamu, kendatipun kamu berada dalam benteng  yang tinggi lagi kokoh…” (QS. An-Nisa: 78). Ataukah kita yang datang menemuinya di tempat kematian kita sebagaimana firman Allah subhnahu wata’ala: “… Katakanlah (Muhammad), “Meskipun kamu ada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditetapkan akan mati terbunuh itu keluar juga ke tempat mereka terbunuh.” (QS. Ali- ‘Imran: 154).  Dua ayat ini menunjukkan kepada kita bagaimana pun seseorang berusaha menghindari kematiannya maka dia tidak akan lepas dari salah satu bentuk sifat kematian ini, maka Allah pertegas dalam firman-Nya: “Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu…” (QS. Al- Jumu’ah: 8).

Maka bagi orang kafir yang tidak meyakini adanya hari penghisaban dia akan melihat kematian hanya sebuah perusak angan-angan dan kenikmatan dunianya sehingga saat kematiannya tiba barulah dia sadar akan kelalaianya dan meminta dikembalikan ke dunia sebagaimana Allah subhanhu wata’ala kabarkan dalam firman-Nya: “Demikianlah keadaan orang- orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia).” (QS. Al-Mu’minun: 99). Ini berbeda dengan seorang mukmin yang berjalan di atas jalan Allah yang yakin akan janji Allah subhanahu wata’ala maka dia melihat kematian adalah pintu menuju kehidupan abadi yang penuh kenikmatan di sisi Tuhannya dan awal dari kehidupannya yang hakiki sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala: “Dan janganlah sekali- kali kamu mengira bahwa orang- orang yang gugur dijalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup di sisi Tuhannya mendapat rezeki, Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepadanya, dan bergirang hati terhadap orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Ali- ‘Imran: 169-170).

Digambarkan dalam Alquran bahwa ketika Malaikat Maut akan memisahkan ruh seorang mukmin dari jasadnya, saat sang mukmin merasakan sakitnya sekarat maka ruhnya kan diseru dengan penuh kelembutan agar keluar menuju rida Allah dan surga-Nya sebagaimana Allah subhanahu wata’ala kabarkan dalam firman-Nya: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya, maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al- fajr: 27- 30).

Betapa indahnya kematian seorang mukmin yang mendapatkan rida Tuhan-Nya menjelang kematiannya. Cukuplah kematian sebagai nasehat bagi kita semua. Marilah kita senantiasa meminta kepada Allah agar keimanan kita dikuatkan dan diteguhkan, karena Allah mewasiatkan kepada kita untuk selalu bertakwa kepada-Nya dan meminta kepada-Nya agar dimatikan dalam keadaan muslim yang berserah diri sepenuhnya kepada-Nya sebagai firman-Nya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali-‘Imran: 102).

Kematian juga bisa jadi pengingat bahwa kelezatan dunia ini hanya sementara dan tidak ada yang abadi, sebab itu tidak ada yang perlu dibanggakan dari kehidupan ini baik itu ketenaran, jabatan, dan harta serta martabat karena semuanya akan hilang saat ajal datang menjemput. Olehnya itu, Baginda Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihi wasallam berwasiat kepada kita dalam sabdanya:

( أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ. يَعْنِي: المَوْت) ( رواه الترمذي)

Artinya: “Perbanyaklah kalian mengingat penghancur segala bentuk kenikmatan. Yaitu kematian”. (H.R. At-Tirdmidzi).

Jika setiap kita akan merasakan kematian maka berdoalah kepada Allah agar kita dimatikan dalam keadaan beriman dan berislam.

Leave A Reply

Your email address will not be published.