Tadabbur Al-Quran

Pendahuluan

” Ketika mendengar Rasulullah ﷺ membaca surah ath-Thur,  seakan-akan hatiku terbang “.

Itulah ungkapan salah seorang sahabat ketika mendengar ayat Al-Quran, padahal saat itu ia belum memeluk Islam,namun keagungan dan kehebatan Al-Quran mampu menundukkan hatinya yang bersih, sehingga mampu merespon pesan-pesan yang dikandungnya. Jangankan hati manusia, benda mati sekalipun seperti gunung, bila Al-Quran diletakkan diatasnya, niscaya akan tunduk dan berguncang karena takut kepada Allah ﷻ, sebagaimana Ia sinyalirkan dalam surah Al-Hasyr ayat 21.

Pernahkah  hati kita merasakan takut dan penyesalan yang amat sangat, ketika membaca ayat tentang ancaman dan siksa bagi para pelaku dosa dan maksiat?

Atau merasakan kegembiraan dan ketenangan disaat membaca ayat-ayat tentang syurga, pahala yang besar, serta luasnya rahmat Allah ﷻ bagi hambaNya yang taat?

Dua keadaan di atas bila terjadi karena kejujuran, seringkali menjadikan mata berlinang tangisan, jiwa tenang  serta hati tentram.

Inilah rahasia dan buah tadabbur Al-Quran, Maha benar Allah yang telah memerintahkan tadabbur , karena hanya dengan tadabburlah segala kemuliaan, keagungan dan keberkahan Al-Quran bisa diraih.

Adalah kerugian yang sangat besar bagi orang yang sakit dan memiliki obat namun ia tidak bisa menggunakannya, atau orang yang sedang tersesat dan ia memiliki peta petunjuk namun ia tidak memahami penggunaannya, lebih-lebih orang yang sedang resah dan gundah, pergi kesana kemari untuk menghilangkan keresahan dan kegundahannya, padahal ia memiliki penawarnya, namun ia tidak bisa memanfaatkannya.

Itulah gambaran orang yang membaca atau mendengarkan Al-Quran namun tidak mentadabburi dan mengamalkannya, sehingga Al-Quran tidak berfungsi baginya sebagai petunjuk kehidupan, penasihat dalam kesalahan dan kelalaian, penawar segala penyakit, serta sumber ketenangan hati dan ketentraman jiwa.

Allah ﷻ menyindir keadaan mereka seperti keledai yang membawa buku-buku, namun si keledai tidak mampu memanfaatkannya.

Rasulullah ﷺ bersabda: ” Sesungguhnya Allah akan mengangkat darajat suatu kaum dengan Al-Quran, dan Allah akan menghinakan selain mereka dengan Al-Quran  (juga)”. Mengangkat derajat sebuah kaum kerena mereka memahami dan mengamalkan Al-Quran, dan menghinakan kaum yang menyia-nyiakan Al-Quran.

Pengertian  tadabbur

Tadabbur Al-Quran adalah usaha untuk memahami ma’na lafadz-lafadznya, serta  merenungkan kandungannya, agar hati menerima nasihat-nasihatnya, jiwa menjadi takut, dan dada menjadi lapang untuk beramal saleh.

Dari pengertian di atas bisa disimpulkan, bahwa tadabbur adalah segala kiat dan usaha yang bisa membantu dalam proses merespon setiap pesan yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Quran, sehingga Al-Quran berpengaruh dalam kehidupan seseorang, dan ia terpengaruh oleh nasihatnya ketika lalai, mendapatkan petunjuknya disaat tersesat, meredam keresahan dan kegundahannya dan penawar segala penyakit yang menimpanya.

Tadabbur Al-Quran membutuhkan usaha dan kiat yang tepat agar proses tersebut berjalan dengan baik dan membuahkan hasil. Diantara kiat-kiat mudah dalam tadabbur Al-Quran adalah:

  1. Wajib meyakini bahwa dengan Al-Quran kita akan hidup, mendapatkan bashirah (ilmu dan hikmah) dan petunjuk, tanpanya kita laksana mati, buta akan kebenaran, dan berada dalam kesesatan.

Seorang muslim yang membaca Al Quran hendaknya harus memiliki keyakinan seperti ini sebelum membaca ayat-ayat atau surat yang ada di dalamnya. Sebab itulah Allah Ta’ala berfirman dalam surat Thaha yang artinya:

Jika datang kepadamu petunjuk dariKu, maka (ketahuilah) barangsiapa mengikuti petunjukKu dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatanKu, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta (QS. Thaha : 123-124)

     Untuk menjaga keyakinan di atas agar tetap ada setiap kali akan membaca Al-Quran, dianjurkan untuk senantiasa mengingat keagungan Al-Quran, misalnya dengan mengingat sifat-sifat dan fungsi Al-Quran. Ia adalah Al Haq (kebenaran), Al Huda (petunjuk), Al-Quran merupakan suatu ilmu, Al Burhan (bukti kebenaran), Al Muhaimin (penjaga atas kitab-kitab sebelumnya), Al Barakah (suatu keberkahan), Al Mau’idzhah (peringatan/pelajaran), Al Syifa’ (obat penyembuh), Al Tadzkirah (peringatan), Al Nuur (cahaya), Al Rahmah (rahmat), Al Shidq (kebenaran), Al Mushaddiq (yang membenarkan), Al ‘Aliy (yang tinggi), Al Kariim (yang mulia), Al ‘Aziz (yang agung), Al Majiid (yang agung), Al Furqan (pembeda antara yang haq dan yang batil), Bashaair (pedoman), Al Quran telah muhkam (dimudahkan pemahamannya), Mufashshal (diperjelas ayat-ayatnya), ayat-ayatnya menakjubkan, Ia adalah Al Balaagh (petunjuk), Ia adalah Al Basyiir (pemberi kabar gembira), sekaligus sebagai Al Nadziir (suatu peringatan), Ia adalah Al Bayaan ( keterangan ), dan Al Tibyaan (pemberi penjelasan ).

Mengetahui dan mengingat sifat-sifat Al-Quran di atas, akan meningkatkan keyakinan akan kebutuhan kita terhadap Al-Quran dalam kehidupan ini, dan sungguh adalah kerugian yang sangat besar bagi siapa saja yang berpaling dari kitab suci yang mulia ini.

  1. Memelihara dan memperbaiki hati

Antara tadabbur Al-Quran dan hati, memiliki hubungan yang sangat erat. Qalbun salim ( hati yang selamat dan sehat ) adalah syarat agar ayat-ayat yang dibaca atau didengar bisa ditadabburi. Lebih jauh dari itu, ternyata ada beberapa alasan yang sangat kuat, mengapa keberhasilan tadabbur sangat tergantung kepada hati, diantara alasan-alasan tersebut adalah:

  • Semua perintah Al-Quran, pada asalnya ditujukan kepada hati

Allah berfirman yang artinya:

Dan sungguh (Al-Quran) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Yang dibawa turun oleh al ruh al amiin (Jibril). Kedalam hatimu (Muhammad) agar engkau termasuk orang yang memberi peringatan. Dengan bahasa Arab yang jelas. “ (QS Al Syu’araa’ : 192-195)

Perhatikan firman Allah ” ‘ala qalbika / ke dalam hatimu”, dan Dia tidak berfirman bahwa Al-Quran diturunkan kepada pendengaran, penglihatan, otak atau lainnya, akan tetapi ia diturunkan kedalam hati, dan ini sangatlah jelas

  • Pengaruh terbesar dari Al-Quran adanya di dalam hati

Kebaikan terbesar yang didapatkan oleh orang yang senantiasa memperhatikan dan menghayati Al-Quran adalah kelembutan dan kesucian hati, sebaliknya penyakit terbesar yang menimpa orang yang berpaling dari Al-Quran adalah kematian dan kerasnya hati, sebab itu nasehat quraniyah hanyalah bisa diterima dan dilakukan oleh orang yang memiliki hati yang menghayati Al-Quran, atau orang yang berusaha memperbaiki keadaan hatinya dengan Al-Quran , sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya:

“Sungguh pada yang demikian itu pasti terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau menggunakan pendengarannya sedang dia menyaksikannya(QS. Qaaf : 37)

  • Tujuan utama Al-Quran : Tadabbur (penghayatan) hati terhadap ayat-ayatnya.

Allah Ta’ala telah menjelaskan hikmah diturunkannya Al-Quran ini dalam firmanNya yang artinya :

Kitab (Al-Quran) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran” (QS. Shaad : 29). Huruf “lam” dalam lafaz “li yaddabbaruu” adalah “lam ‘illah/ lam yang berfungsi sebagai penjelas sebab, oleh karena itu hal ini bermakna bahwa Al-Quran tidak akan menjadi sumber keberkahan secara sempurna  pada diri seseorang kecuali jika ia melakukan tadabbur ketika membacanya.

Allah juga telah berfirman yang artinya :

“Maka tidakkah mereka menghayati Al-Quran ,ataukah hati mereka sudah terkunci ?” (QS. Muhammad : 24).

Ayat ini hanya memberikan dua pilihan, bisa menghayati Al-Quran atau jika tidak maka itu tanda banyaknya  kunci yang telah menutup hati

  1. Mengetahui trik yang tepat untuk membaca Al-Quran

Cara yang tepat dalam membaca Al-Quran adalah tartiil yaitu secara perlahan-lahan dan tidak terburu-buru,

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu ketika menjelaskan makna tartil, beliau berkata: hendaknya membaca dua ayat, atau tiga ayat lalu berhenti (untuk menghayati maknanya –pent), dan tidak membacanya dengan cepat”.

Dan cara yang demikian sangat dianjurkan dalam Al-Quran, dan dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabat beliau.

Abu Daud dan Al Tirmidzi juga meriwayatkan dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, beliau menyifati bacaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Bahwa bacaan beliau adalah bacaan (yang bertujuan memberikan ) penafsiran, membacanya perlahan  kata demi kata.  Al Tirmidzi berkata tentang hadits ini ; “hasan shahih gharib”.

Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah berkata ; “Saya safar bersama Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu ,dan ia selalu shalat malam selama setengah malam, dengan membaca Al-Quran kata demi kata (perlahan-lahan), lalu ia menangis sehingga terdengar suara tangisannya”.

Wahai pembaca Al-Quran, seharusnya seperti inilah bacaan Al -Quran kita,  bacaan yang mengharukan, sekaligus indah, pelan, dan tidak tergesa gesa,  semoga Allah memberikan taufiq kepada kita dengan petunjukNya.

  1. Mulai membaca dan tadabbur surah-surah Al Mufashshal (bagian akhir Al-Quran yang dimulai dari surat Qaaf sampai surat Al Naas)

Tentang metode ini, disampaikan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam hadits sebelumnya ketika beliau berkata ; “Sesungguhnya awal-awal yang diturunkan dari Al-Quran adalah surat-surat dari Al Mufashshal (dari surat Qaaf – Al Naas), sebab di dalamnya ada penjelasan tentang surga dan neraka…”. Juga ucapannya ; ” Akan tetapi (diantara ayat yang awal-awal) diturunkan ; “…Hari kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit” (QS. Al Qamar : 46),   ayat ini diturunkan di Mekah sedangkan saya waktu itu  masih seorang anak kecil yang suka bermain-main, dan kemudian tidaklah surat Al Baqarah dan Al Nisa’ (yang mengandung hukum halal haram –pent) diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali saya telah bersama beliau (di Madinah)”

Adapun keistimewaan metode pembelajaran Al-Quran yang diawali dengan surah-surah Al Mufashshal ini adalah ;

  • Keistimewaan Pertama : Kandungan surat-surat Al Mufashshal inilah yang banyak mengokohkan keimanan dalam hati.

Sebab di dalamnya ada penjelasan tentang surga dan neraka, perkara tauhid / pengesaan Allah Ta’ala dalam Rububiyah maupun UluhiyahNya, penetapan adanya Yaum Al Ba’ats (Hari Kebangkitan) dan hari kiamat, dan perintah untuk berakhlak mulia.

Jadi kandungan surat-surat inilah yang menjadikan hati teguh dan tentram dengan keimanan, jika setelah ini kemudian mempelajari masalah hukum halal dan haram maka yang ada hanyalah adanya sikap mendengar dan taat terhadap perkara Allah dan RasulNya.

Tentunya  keadaan para sahabat  yang awal-awal masuk Islam bersama Al Mufashshal ini menjadi bukti nyata akan keabsahan metode ini, yaitu ketika kandungan makna surat-surat  Al Mufashshal ini memberikan tazkiyah (penyucian) terhadap jiwa mereka, sehingga keimanan yang sebelumnya ada dalam hati mereka semakin teguh laksana gunung yang kokoh.

  • Keistimewaan kedua ; Surat-surat Al Mufashshal lebih mudah dan cepat dipahami karena ia adalah ” muhkam” (Mudah dipahami), dan tidak ada ayat-ayatnya yang ” mutasyaabih”  (sulit dipahami) kecuali sedikit.

Ini diisyaratkan juga oleh Umar radhiyallahu ‘anhu  dalam ucapannya sebelumnya : “Jika salah seorang diantara kalian ingin belajar Al-Quran, maka hendaknya memulai dari Al Mufashshal karena ia lebih mudah”.

Juga ucapan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma sebelumnya : “Saya telah menghafal Al Muhkam pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam “, maka iapun ditanya : “Al Muhkam itu apa ?”, beliau menjawab : “Ia adalah Al Mufashshal”.

Jadi Al Mufashshal adalah surat-surat yang muhkam, berbeda dengan bagian lainnya dari Al-Quran yang memiliki banyak ayat yang mutasyaabih.

Al Darimi dan selainnya meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata : “Sesungguhnya segala sesuatu memiliki puncak, adapun puncak Al-Quran adalah surat Al Baqarah, dan segala sesuatu memiliki dasar ( lembah ), dan adapun dasar daripada Al-Quran adalah surat-surat Al Mufashshal”.

Apakah mungkin seseorang bisa sampai kepuncak tanpa melewati dahulu suatu dasar ( lembah ) yang begitu mudah ?!

Penutup

            Tadabbur adalah suatu usaha, ya usaha yang perlu terus diusahakan, dan setiap muslim harus selalu berusaha dan berlatih hingga tadabbur menjadi kebiasaan, seperti membaca atau mendengar Al-Quran.

Dengan memohon pertolongan saja, diiringi keinginan yang kuat dan kesungguhan serta istiqomah dalam menerapkan kiat-kiat di atas, insya Allah tadabbur adalah sesuatu yang mudah, sebagaimana janji Allah:

“Sungguh telah kami mudahkan Al-Quran untuk ( dijadikan ) peringatan ( dengan membacanya, atau mentadabburinya ).”

Selamat mencoba!

Wallahu A’lam.

You might also like More from author

Leave a comment
k