Nilai-nilai Tarbawiyah dalam Nama al-‘Aliim al-Khabiir

A. Al-‘Aliim:

Al-‘Aliim sebagai nama Allah sering disebutkan di dalam Al-Qur’an. Nama ini berulang tidak kurang dari 157 kali di dalam kitab suci tersebut.

Al-‘Aliim bermakna Allah Maha Tahu. Artinya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Baik yang nyata ataupun yang ghaib, baik yang kecil maupun yang besar, baik yang telah terjadi ataupun yang belum terjadi, baik yang ada di darat, di laut ataupun di angkasa. Intinya, segala sesuatu yang ada atau terjadi di langit dan bumi diketahui Allah.

Nama ini menunjukkan bahwa Allah memiliki ilmu. Ilmu tersebut merupakan sifat yang melekat pada zat Allah yang biasa disebut sebagai sifat zatiyah Allah.

Di dalam Al-Qur’an dijelaskan keluasan ilmu Allah dengan berbagai metode. Selain menyebutkan secara global akan keluasan ilmu Allah, Al-Qur’an juga menyebutkan secara detail beberapa obyek pengetahuan Allah Ta’ala.

Berikut beberapa bentuk penjelasan tentang ilmu Allah dan obyeknya:

  1. Penjelasan bahwa ilmu dan pengetahuan Allah meliputi segala sesuatu dan mencakup segala hal:

Allah berfirman yang artinya :

Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. (QS. al-An’am: 80)

“Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala. (QS. Mu’min: 7)

Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah, yang tidak ada Tuhan selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu”. (Thaha: 98).

  1. Penjelasan bahwa pengetahuan Allah mencakup segala aktifitas dan perbuatan:

Allah berfirman yang artinya :

Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan. (QS. Ali Imran: 120)

Sesungguhnya (pengetahuan) Tuhanku meliputi apa yang kamu kerjakan. (QS. 92)

  1. Penjelasan bahwa Allah mengetahui hal yang dirahasiakan dan dinyatakan, demikian pula yang ghaib dan nyata:

Allah berfirman yang artinya :

Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati. (QS. Mu’min: 19).

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (QS. Qaaf: 16).

Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan? (QS. al-Baqarah: 77).

Tidakkah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang ghaib. (QS. at-Taubah: 78).

Dan Allah mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan. (QS. an-Nahl: 19).

  1. Penjelasan bahwa Allah mengetahui isi langit dan bumi:

Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Hujurat: 18).

Katakanlah: “Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu, padahal Allah mengetahui apa yang di langit dan apa yang di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu?” (QS. al-Hujurat: 16).

  1. Penjelasan bahwa Allah mengetahui semua yang masuk dan keluar dari perut bumi, demikian pula yang turun dan naik ke langit:

Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Hadid: 4).

  1. Penjelasan bahwa Allah mengetahui janin dan perkembangannya di dalam rahim ibu:

Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya.(QS. ar-Ra’d: 8).

  1. Penjelasan bahwa Allah mengetahui kunci-kunci ilmu ghaib:

 “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” (QS. al-An’am: 59).

Ayat-ayat yang berbicara tentang pengetahuan Allah terdapat pada hampir setiap lembaran-lembaran mushaf Al-Quran dengan berbagai teks dan konteksnya.

Seorang Mu’min wajib meyakini bahwa pengetahuan Allah mencakup segala sesuatu, tidak ada yang luput dari Ilmunya, termasuk apa yang tersembunyi dalam benak seseorang.

B. Al-Khabiir

Nama al-Khabiir  juga berkali-kali disebutkan, tidak kurang dari 45 kali berulang di dalam al-Qur’an, baik secara tunggal ataupun  secara paralel.

Al-Khabiir berasal dari kata khibr, khubr, khibrah ataupun khubrah yang berkonotasi mengetahui sesuatu. Jika diungkapkan: rajulun khaabir wa khabier maka ungkapan tersebut bermakna orang yang mengetahui khabar/informasi.

Dengan demikian nama al-Khabiir  bagi Allah Ta’ala tidak jauh berbeda dengan makna al-‘Aliim, karena al-Khabiir bermakna Allah maha mengetahui rahasia segala sesuatu sebagaimana Dia mengetahui lahiriahnya.

Dalam beberapa ayat, nama tersebut disebutkan dalam konteks aktifitas dan amalan hamba, misalnya: ﭽ ﭩ   ﭪ  ﭫ ﭼ dan  ﭽ ﯣ  ﯤ  ﯥﭼ  . Hingga kedua teks tersebut masing-masing berulang 8 dan 7 kali di dalam Al-Qur’an.

Penggandengan antara al-‘Aliim dan al-Khabiir

Al-‘Aliim Al-Khabiir  merupakan dua di antara Asmaul Husna yang disebutkan secara parelel pada ujung empat ayat di dalam Al-Quran, yaitu masing-masing pada surah: at-Tahrim: 3, Luqman: 34, al-Hujurat:13, dan an-Nisa’: 35. Dengan teks:

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. an-Nisa’: 35).

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Luqman: 34, dan QS. al-Hujurat: 13).

Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah yang Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. at-Tahrim: 3).

Adapun yang tidak digandengkan dengan al-‘Aliim, nama al-Khabiir juga disebutkan tidak kurang dari 41 kali dalam Al-Qur’an.

Makna umum dari kedua nama tersebut sebenarnya identik, yaitu Allah Maha Mengetahui, hanya saja penekanan makna pada nama al-Khabiir  lebih spesifik untuk perkara-perkara yang abstrak. Karena maknanya adalah Allah Maha Mengetahui rahasia segala sesuatu. Kenyataan ini juga menjadi hikmah  digandengkannya nama al-Khabiir dengan nama al-Lathiif (Maha Halus), seperti dalam firman-Nya yang artinya :

Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui? (QS. al-Mulk: 14).

Penggandengan nama al-‘Aliim dan al-Khabiir (Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal) dalam beberapa ayat di atas, diartikan oleh Imam Ibn Jarir rahimahullah sebagai: “Yang Maha Mengetahui rahasia dan isi hati hamba-hamba-Nya, Yang Maha Mengenal segala urusan mereka. Tidak ada sesuatu apa pun yang luput dari Allah”.

Pengetahuan Allah yang terkandung dalam nama al-‘Aliim dan al-Khabiir tersebut adalah pengetahuan yang Maha Sempurna. Pengetahuan yang tidak didahului kejahilan, tidak dibarengi kelupaan dan tidak disusul kealpaan dan kekeliruan.

Pengaruh Nama al-‘Aliim dan al-Khabiir

Seorang muslim hendaknya menghayati makna dan sifat yang terkandung di dalam kedua nama Allah ini;  al-Aliim dan al-Khabiir . Dengan penghayatan dan kesadaran terhadap makna dan sifat kedua nama tersebut, seorang muslim akan memperoleh banyak manfaat dan pengaruh dalam dirinya, antara lain:

  1. Jika seorang muslim yakin dan sadar bahwa semua ruang, waktu, dan aktifitasnya diketahui Allah maka ia akan termotivasi melakukan perintah-perintah Allah, kapan dan dimana pun. Dengan kesadaran yang semakin tinggi dan keyakinan yang semakin kuat dia akan sampai pada derajat ihsan, yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan dia melihat-Nya. Tapi karena dia tidak melihat Allah di dunia ini, dia tetap sadar bahwa Allah melihatnya.
  2. Jika seorang muslim yakin dan sadar bahwa Allah maha mengetahui segala niat, ucapan dan perbuatannya, maka akan lahir dari dirinya rasa khasy-yah dan takut kepada-Nya. Pada gilirannya, rasa khasy-yah dan takut tersebut akan menahan dirinya dari perbuatan dosa dan maksiat karena dia senatiasa merasa dikontrol dan dilihat oleh Allah sehingga dia takut dimurkai-Nya. Hal ini telah diisyaratkan Allah dalam firman-Nya yang artinya :

Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya. (QS. al-Baqarah: 235).

  1. Dengan keyakinan dan kesadaran seperti itu pula, dia akan mengagungkan Allah dan malu kepada-Nya. Pada gilirannya, dia akan berupaya membuang sifat-sifat tercela yang biasa luput dari pandangan manusia, seperti sifat riya’, hasad, ujub, sombong, dengki namun tidak pernah luput dari pengetahuan Allah. Karena semua sifat-sifat tersebut dibenci oleh Allah dan makhluk-Nya.
  2. Jika dia yakin bahwa Allah maha mengetehui segala sesuatu dan sadar bahwa ilmu yang dia miliki sangat terbatas dan hanya diperoleh dengan taufiq Allah maka dia akan tawadhu’, merendah diri dan tidak berlaku sombong dengan pengetahuannya dan tidak akan menentang Allah dengan ilmu tersebut.

Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. (QS. Ibrahim: 38).

 

Referensi:

Wa Lillah al-Asma’ al-Husna Fa Ud’uhu Biha, karya Abdul Aziz ibn Nashir al-Julail.

Fiqh al-Asma’ al-Husna, karya Abdur Razzaq ibn Abdul Muhsin al-Badr.

Al-Asma’ al-Husna wa al-Shifat al-‘Ula, karya Abdul Hadi ibn Hasan Wahbi.

You might also like More from author

Leave a comment
k