Meraih cinta Allah dengan Surat al-Ikhlas (Bag. 1)

Mengenal surah al-Ikhlas

Al-Ikhlas adalah salah satu nama dari surat ini, arti al-Ikhlas adalah murni, pemurnian, atau memurnikan. Ada 3 alasan mengapa surat ini dinamakan al-Ikhlas:

  1. Kandungan surat ini adalah pemurnian dan penyucian Allah Subhanahu wata’ala dari segala aib dan kekurangan.
  2. Kandungan surat tersebut murni hanya penjelasan tentang Allah Subhanahu wata’ala, dzat, nama-nama, dan sifatNya.
  3. Kandungan surat al-Ikhlas akan menjadi pembersih bagi pembacanya dari segala macam kesyirikan, sehingga iman dan tauhid menjadi murni hanya untuk Allah Subhanahu wata’ala saja. Karena hanya dengan kemurnian tauhid dan imanlah kita akan selamat dari api neraka.

Surat yang memiliki empat ayat dengan kalimat-kalimat yang sangat pendek ini ternyata sebanding dengan sepertiga al-Quran. Mengapa demikian?

Karena kandungan surat tersebut yang sangat agung, sampai-sampai seorang sahabat selalu mengakhiri bacaan dalam shalatnya dengan membaca surat ini. Ketika ditanya mengapa ia melakukan hal tersebut? Sahabat tadi menjawab, “Karena surat tersebut adalah sifat Ar-Rahman (Sang Pengasih), dan aku suka membacanya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihai wasallam bersabda setelah mendengar jawaban tersebut, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala mencintainya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Allahu akbar!! Surat ini akan mendatangkan cinta Allah bagi siapa saja yang membaca, mentadabburi, dan mengamalkan kandungannya. Inilah rahasia kesuksesan para sahabat bersama al-Quran dalam meraih kemuliaan dan kecintaan Allah. Tidak sekedar membaca atau menghafal saja, namun mereka juga mentadabburinya sehingga al-Quran tersebut menghiasi hati dan jiwa raga mereka dengan keimanan, kecintaan, dan amal saleh.

Barang siapa yang membacanya sepuluh kali, maka Allah akan membangun baginya istana di surga. (HR. Ahmad, dan dishahihkan oleh al-Albani).

Di dalam surat ini disebutkan nama yang paling agung yaitu Allah. Siapa saja yang memohon dengan nama tersebut, niscaya akan terkabul.

Karena kedudukannya yang sangat agung serta fungsinya yang sangat vital dalam kehidupan seorang muslim, tak heran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan agar surat al-Ikhlas dibaca dan ditadabburi pada beberapa waktu: di setiap pagi dan petang, menjelang tidur, seusai shalat-shalat fardlu, dan juga secara khusus dibaca dalam shalat witir, sunnah fajar, dan shalat sunnah setelah menunaikan thawaf.

Surah yang memiliki 20 nama ini, sebagaimana dijelaskan oleh imam ar-Razi, adalah surat makkiyah (yaitu surat yang diturunkan sebelum hijrah) yang mengandung pokok-pokok ajaran Islam. Pada masa sekarang sangat tepat untuk mentadabburi kembali surat-surat makkiyah ini dalam rangka mengevaluasi aqidah dan manhaj Islam yang kita yakini; apakah masih orisinal sebagaimana awal turunnya, atau sudah ternodai oleh warna-warna penyimpangan dan kekeliruan?

Sebab turunnya surat al-Ikhlas

Dari sahabat Ubay bin Ka’ab radliyallahu ‘anhu, “Bahwasanya kaum musyrikin pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Wahai Muhammad, jelaskanlah nasab tuhanmu!’ Maka Allah Subhanahu wata’ala menurunkan surat al-Ikhlas.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan dihasankan oleh al-Albani).

Dari keterangan sababunnuzul di atas kita bisa memahami stressing kandungan surah al-Ikhlas, yaitu penetapan keesaan Allah Subhanahu wata’ala dalam kesempurnaan dan ibadah, serta penyuciannya dari segala aib dan kekurangan.

Tadabbur ayat pertama:

{قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ}

Artinya: “Katakanlah (wahai Muhammad), Dialah Allah Subhanahu wata’ala Yang Maha Esa.”

Berikut ini beberapa hasil tadabbur:

  1. Perintah pengucapan ikrar akan keesaan Allah Subhanahu wata’ala dalam ayat tersebut ditujukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan umatnya. Karena setiap perintah atau larangan yang ditujukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam al-Quran, selama tidak ada pengecualian atau pengkhususan, maka hakikatnya ditujukan pula kepada umat Islam seluruhnya, baik laki-laki maupun perempuan.
  2. Penegasan tentang keesaan Allah Subhanahu wata’ala, atau dalam istilah syar’i lazim disebut tauhidullah.
  3. Ada 3 macam keesaan atau tauhid yang disebutkan dalam surat al-Ikhlas. Dan pada ayat yang pertama ini disebutkan salah satunya, yaitu tauhid uluhiyah atau keesaan Allah Subhanahu wata’ala dalam hak ibadah. Artinya Allahlah satu-satunya Tuhan yang berhak diibadahi. Oleh karenanya, dalam ayat ini juga tersirat larangan syirik uluhiyah, yaitu menyekutukan Allah Subhanahu wata’ala dalam ibadah, misalnya dengan memberikan salah satu ibadah kepada selain Allah Subhanahu wata’ala. Barang siapa yang beribadah kepada selain Allah Subhanahu wata’ala, maka ia telah meninggalkan tauhid, karena syirik dan tauhid tidak akan pernah bersatu.
  4. Penegasan tentang tauhidullah pada ayat di atas, didasari minimal oleh dua hal:

Pertama: Lafal هو artinya Dia.

Kata ganti (dlomir) tersebut berfungsi sebagai pengkhususan keesaan atau tauhid, karena bila dlomir tersebut dihilangkan, maka makna ayat tersebut tetap sempurna. Namun adanya dlomir pada ayat di atas menjadikan makna dan pesan ayat lebih sempurna.

Kedua: Lafal أحد artinya satu.

Lafal أحد merupakan bilangan dalam bahasa Arab yang tidak memiliki bandingan maupun urutan. Berbeda dengan bilangan واحد yang memiliki urutan seterusnya yaitu: اثنان، ثلاثة، dan seterusnya. Begitu juga bilangan الأول yang memiliki urutan setelahnya yaitu: الثاني، الثالث، dan seterusnya.

Tentu pemilihan lafal أحد bukan tanpa maksud dari Allah Subhanahu wata’ala, ternyata secara makna lafal tersebut menambah penegasan tentang keesaan Allah. Sehingga hanya Dialah satu-satunya Yang Maha Esa dan yang berhak ditauhidkan, bukan dua apalagi tiga dan seterusnya.

Bukan pula Dia yang pertama, sehingga akan ada yang kedua atau ketiga tuhan yang esa selain Dia. Allah Subhanahu wata’ala lah satu-satunya Yang Maha Esa dan berhak ditauhidkan.

  1. Perintah pengucapan dalam lafal (قل) yang artinya “katakan” mengandung perintah agar setiap mukmin menampakkan keimanan dan keislamannya berdasarkan kemampuannya, sesuai contoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Apalagi di zaman sekarang, di mana persentuhan antara ideologi, pemikiran, maupun keyakinan-keyakinan tidak dapat dielakkan. Sehingga kerancuan (syubhat) pun acap kali terjadi. Terkadang kita sulit membedakkan antara muslim dan kafir, ahlussunnah ataupun aliran-aliran sesat, cendekiawan muslim dan pengusung ideologi barat yang bertentangan. Salah satu sebab kerancuan tersebut adalah lemahnya kesadaran sebagian kaum muslimin dalam idzhaaruddin (menampakkan agama) sebagai akibat dari dangkalnya keimanan serta keyakinan kepada Allah Subhanahu wata’ala.

 

You might also like More from author

Leave a comment
k