Meraih cinta Allah dengan Surat al-Ikhlas (Bag. 3)

Tadabbur firman Allah

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ   

Dan tidak ada bagi Allah satupun yang menyerupainya”.

Mufradat ayat:

كُفُوًا artinya permisalan atau penyerupaan,  lafal tersebut senada dengan  مثل  (mitsl), ند  (nid),  عدل (‘idl),  di mana tiga lafal tersebut juga telah dinafikan (dihapus/ditiadakan) makna dan wujudnya dari Allah ta’ala.

Ulasan tafsir ayat

Dan tidak ada satupun dari makhluk Allah yang menyerupaiNya,  baik dalam sifat-sifatNya,  atau af’aal (pekerjaan-pekerjaanNya).

Faidah tadabbur

  1. Ayat diatas merupakan salah satu rukun dalam tauhid, yaitu annafyu (meniadakan). Pada ayat sebelumnya rukun tersebut ditujukan secara khusus untuk meniadakan dua sifat buruk yang disematkan kepada Allah ‘azza wajalla,  sedangkan pada ayat ini annafyu ditujukan secara umum,  baik berkaitan dengan sifat maupun af’aal atau dzat Allah ta’ala.
  2. Nafyu alkufu (meniadakan persamaan) dari Allah subhaanah pada ayat di atas sangat tegas dan keras. Hal ini ditunjukkan oleh dua hal pada dua sisi. Pertama penggunaan uslub (gaya bahasa), kedua makna dan kandungannya. Adapun uslub ayat tersebut menggunakan lafal nakirah (umum) pada dua lafal     كفوا  dan أحد  ,  kemudian siyaq (konteks) ayat menggunakan taqdiim maa haqquhu ta-khiir (mengedepankan lafal yang biasanya diakhirkan),  karena dalam siyaq yang umum dan biasa ayat di atas akan berbunyi  ولم يكن أحد كفوا له  ,  oleh karena adanya perubahan siyaq dan penggunaan lafal nakirah tidak lain adalah bertujuan sebagai penegasan,  di mana salah satu hikmahnya adalah menutup seluruh celah kekufuran dan kesyirikan. Karena Allah ta’ala tidak ada satupun dari maklukNya yang dapat menyamaiNya,  sekalipun para malaikat ataupun para NabiNabi dan RasulRasul,  apalagi selain mereka. Allah maha ahad dalam segalanya,  rububiyah,  uluhiyah serta asma dan sifatNya.
  3. Hancurnya seluruh ideologi dan keyakinan diluar IslamIslam, karena sesungguhnya arbab (Tuhan-Tuhan),  andaad (tandingan-tandingan),  syurakaa (sekutu-sekutu),  ma’bud (sesembahan) yang disandingkan dengan Allah ta’ala adalah bathil dan tidak layak.

Bagaimana bisa diterima oleh akal sehat,  Allah rabbul’aalamin yang maha menciptakan alam semesta,  pemilik sekaligus pengaturnya disamakan dengan Tuhan-Tuhan palsu dan bathil yang tidak mampu untuk menciptakan meskipun hanya seekor lalat,  sebagaimana firman Allah dalam surah al-Haj,  ayat 73:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ

Artinya: “Wahai manusia,  telah dijadikan (sebuah) perumpamaan maka dengarkanlah,  sesungguhnya orang-orang yang kalian sembah selain Allah (sekali-kali) tidak akan mampu menciptakan seekor lalat,  meskipun mereka berkumpul (saling membantu) untuk menciptakannya,  dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka (yang kalian sembah) niscaya mereka (yang kalian sembah) tidak akan mampu menyelamatkannya,  lemah(lah) yang mencari (yaitu Tuhan yang kalian sembah) dan lemah (juga) yang dicari (yaitu lalat)”.

Demikian faidah-faidah tadabbur dari ayat terakhir surah al-Ikhlas,  ada beberapa faedah yang bisa dipetik dari kandungan surah ini secara umum,  di antaranya:

  1. Kemudahan aqidah Islam dan syariatnya, baik secara teori maupun aplikasinya. Kandungan surah al-Ikhlas begitu jelas dan sangat mudah difahami. Hal ini menjadi isyarat,  apabila dalam aqidah yang merupakan landasan dan pokok agama IslamIslam begitu mudah, maka syariat-syariat Islam lainnya,  yang merupakan cabang dan ranting dari aqidah tentu lebih mudah. Pemahaman seperti ini masih kurang disadari oleh sebagian kaum muslimin,  apalagi non muslim,  sehingga phobia terhadap Islam dan syariatnya masih menjadi hambatan penerapannya.
  2. Sikap pasrah kepada Allah secara totalitas yang dilandasi oleh keyakinan penuh terhadap ke maha ahadanNya dalam segala hal dan tidak ada sesuatu pun yang menandingiNya akan melahirkan ketenangan lahir batin, setiap saat,  serta dalam kondisi apapun.  Diriwayatkan dari sahabat ibnu ‘abbas radliyallahu ‘anhuma :

أن أعرابياً قام على رأس النبي صلى الله عليه وسلم والسيف في يده صلتاً وهو يقول: من يعصمك مني؟ قال: الله، فوقع السيف من يد الرجل، فأخذ النبي صلى الله عليه وسلم السيف وقال: من يعصمك مني؟ قال: كن خير آخذ.

Artinya: Bahwasanya seorang badui berdiri dekat kepala Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam dengan membawa pedang yang terhunus di tangannya,  dan dia berkata: siapa yang melindungimu dari ku? Rasulullah menjawab: “Allah“. Maka seketika pedang pun terjatuh dari tangan lelaki badui itu. Kemudian Rasulullah mengambil pedang tersebut,  dan beliau berkata (kepada si badui): “siapa yang melindungimu dari ku?” Si badui menjawab: jadilah sebaik-baik pembalas.

Ketenangan yang terpancar dari lahir dan batin Rasulullah di bawah hunusan pedang seorang badui,  adalah buah keyakinan beliau bahwa Allah maha ahad dan berkuasa atas segala makhlukNya,  setiap manfaat dan madlarat tidak akan terjadi kecuali atas izin Allah ta’aala.

  1. Terwujudnya keinginan dan cita-cita kita tergantung kepada lemah dan kuatnya keyakinan kita kepada Allah ta’ala, serta terpenuhinya syarat-syarat yang ditetapkan,  Allah berfirman:

 

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى (5) وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى (6) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى

Artinya: “Barang siapa yang memberi (apa saja) dan bertakwa,  dan membenarkan alhusna (surga),  niscaya akan kami mudahkan baginya kemudahan (urusannya)” (QS. Al-Lail: 5-7).

  1. Kandungan surah al-Ikhlas mengisyaratkan bahwa keyakinan tentang Allah baik yang terkait dzatNya, sifat,  dan af’aalNya tidak akan pernah berubah sejak diciptakannya manusia pertama Adam ‘alaihissalam. Hal ini menegaskan bahwa dakwah para Nabi dan Rasul adalah sama yaitu mengajak dan membimbing umat kepada tauhiidullah atau mengesakan Allah. Karena hanya dengan mentauhidkan Allah saja lah sebuah negeri akan makmur sejahtera, peradaban Islam akan kembali berjaya, namun sangat disayangkan masih banyak yang belum menyadari hal ini,  baik secara individu maupun kelompok atau jamaah,  apalagi bangsa dan negara. Oleh karenanya kaum muslimin dewasa ini terlihat begitu lemah disebabkan lemahnya tauhid mereka,  perpecahan dan perselisihan pun semakin tak terkendalikan,  karena hanya tauhidlah yang bisa menyatukan mereka.
  2. Kandungan surah al-Ikhlas akan menumbuhkan ta’dzimullah (pengagungan Allah) di dalam hati siapa saja yang menghayatinya, dan sifat ini (ta’dzimullah) memiliki pengaruh yang sangat besar dalam proses tarbiyah (pendidikan) jiwa. Oleh karenanya tidak dapat dipungkiri,  ketika ta’dzimullah tertanam kokoh di dalam hati-hati kaum muslimin,  maka kuatlah kepribadian mereka dan jayalah peradaban mereka,  dan di saat ta’dzimullah melemah di dalam hati-hati kaum muslimin,  merosot pula kepribadian mereka yang menyebabkan runtuhnya peradaban Islam.
  3. Bagi para peniti jejak Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam, sebagai da’i atau mujaahid fi sabilillah surah al-Ikhlas adalah peneguh hati (bila mereka meyakini kandungannya) untuk tetap berada di jalan yang mulia tersebut meskipun dipenuhi duri-duri ujian.

Penutup

Mutiara- mutiara kalam Ilahi tidak akan pernah habis meski selalu digali, hanya karena kelemahan manusia saja,  sehingga begitu banyak mutiara yang masih tertinggal di dalam indahnya untaian-untaian kalam rabbil ‘aalamin.

Al-Ikhlas adalah surah cinta dari Allah kepada hamba-hambaNya,  di dalamnya Ia menyampaikan bahwa cinta kepadaNya tidak akan dapat diraih kecuali dengan mentauhidkan Allah dalam dzat,  asmaa,  sifat dan af’aalNya,  serta tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun.   

Kita semua memohon kepada Allah cintaNya,  dan kecintaan kepada hamba-hamba yang mencintaiNya,  serta kecintaan kepada setiap perbuatan yang akan mendekatkan kepada cintaNya, amiin.

Wallahu’alam washallallahu wasallam ‘alaa Nabiyyina muhammad. 

 

You might also like More from author

Leave a comment
k