Meraih cinta Allah dengan Surat al-Ikhlas (Bag. 2)

Tadabbur firman Allah Subhanahu wata’ala:

اللَّهُ الصَّمَدُ

Artinya: Allah Ash-Shamad, yaitu Yang Maha sempurna dalam sifat-sifatNya dan seluruh makhluk butuh dan bergantung kepadaNya.

Berikut ini beberapa hasil tadabbur ayat di atas:

  1. Lafadzul jalaalah (Allah) diulang kembali pada ayat kedua ini. Selain memiliki keistimewaan sebagai nama teragung, kandungan makna dan pesan yang terkandung dalam nama tersebut sangat penting, yaitu mengagungkan Allah Subhanahu wata’ala. Seyogianya ta’dziimullah (mengagungkan Allah) sudah tertanam dan selalu tumbuh berkembang dalam hati setiap muslim, karena hanya denganNyalah jiwa-jiwa kita akan terdidik dan terlindungi.
  2. Mengetahui serta memahami makna Ash-Shamad akan membentuk pribadi yang selalu optimis dan tidak mudah berputus asa. Karena keyakinan akan kesempurnaan sifat-sifat Allah Subhanahu wata’ala akan menumbuhkan ketenangan hati dan kejernihan pikiran.
  3. Anjuran untuk bertawakal hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala saja. Perintah ini tersirat dalam makna Ash-Shamad. Karena hanya Allah Subhanahu wata’ala saja yang maha sempurna sifat-sifatNya, dan hanya kepadaNyalah seluruh makhluk bergantung.

Oleh karenanya merupakan dosa yang sangat besar adalah bergantung kepada selain Allah Subhanahu wata’ala.

Tadabbur firman Allah Subhanahu wata’ala

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

Artinya: (Allah) tidak beranak dan tidak dilahirkan.

Berikut ini beberapa hasil tadabbur ayat di atas:

  1. Penggunaan kata kerja bentuk sekarang (mudloori’) pada ayat di atas mengisyaratkan bahwa tuduhan buruk kepada Allah tentang adanya keturunan akan selalu ada, demikian pula para pengusungnya. Di sisi lain, jawaban untuk tuduhan tersebut akan selalu ada dan tidak pernah berubah bahwasanya Allah tidak beranak dan tidak dilahirkan.
  2. Dua ayat sebelumnya menetapkan nama dan sifat bagi Allah (Ahad dan Ash-Shomad), penetapan ini sering disebut dalam istilah aqidah dengan itsbaat (penetapan), sedangkan pada ayat kedua terkandung penafian (meniadakan) sifat yang buruk dan tidak pantas bagi Allah, yaitu sifat memiliki keturunan. Sehingga bisa disimpulkan bahwa nafyu dan itsbaat merupakan dua rukun tauhid yang tidak pernah terpisah, baik dalam rububiyah Allah, uluhiyah, atau tauhid asma’ wa sifatNya. Adapun sumber dua rukun tersebut adalah kalimat tahlil yang sangat agung laa ilaaha illallah.
  3. Mengapa Allah tidak memiliki keturunan?

Jawabannya, karena Allah tidak membutuhkan hal tersebut. Dialah pencipta seluruh alam semesta beserta isinya. Lain halnya dengan makhluk yang sangat membutuhkan keturunan, baik dalam rangka membantu untuk mengarungi kehidupan di dunia, atau dalam rangka mencegah punahnya makhluk tersebut bila tidak ada keturunan.

  1. Ada dua tuduhan keji yang disematkan kepada Allah Subhanahu wata’ala:
  • Tuduhan bahwa Allah memiliki putra.
  • Tuduhan bahwa Allah dilahirkan (memiliki orang tua).

Jawaban tegas dalam ayat di atas terlebih dahulu diarahkan kepada tuduhan bahwa Allah memiliki putra. Mengapa demikian? Karena tuduhan tersebut paling banyak pengusungnya, di antaranya adalah kaum musyrikin, kaum Yahudi, dan kaum Nasrani.

Bahkan hampir tidak ditemukan ada yang mengklaim bahwa Allah memiliki orang tua, kecuali hanya sebagian kecil dari para penyembah dewa-dewa.

  1. Ayat di atas adalah jawaban dan penolakan atas tiga kelompok yang sesat, yaitu:
  • Kaum musyrikin, karena mereka meyakini bahwa para malaikat adalah putri-putri Allah Subhanahu wata’ala.
  • Kaum Yahudi, karena mereka meyakini bahwa Uzair adalah putra Allah Subhanahu wata’ala.
  • Kaum Nasrani, karena mereka meyakini bahwa Isa adalah putra Allah Subhanahu wata’ala.

Ayat di atas mendustakan klaim-klaim mereka, karena Allah adalah Al-Awwal yaitu Yang Maha pertama dan tidak ada sesuatupun sebelum Dia.

You might also like More from author

Leave a comment
k