Mendulang Mutiara Al Fatihah (Bag. 5)

Tadabbur firman Allah Ta’ala

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat kepada mereka, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan jalan orang-orang yang tersesat.”

Ayat di atas merupakan penjelas ayat sebelumnya,

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah kami kepada jalan yang lurus.” Dimanakah jalan yang lurus itu? Adakah orang-orang yang menitinya?

Jalan yang lurus itu adalah jalan orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah Ta’ala.

Siapakah mereka? Apakah mereka yang telah diberi kekayaan atau kedudukan di dunia?

Firman Allah dalam surah An-Nisa ayat 69 menjelaskan bahwa mereka adalah para nabi, ashshiddiqin (orang-orang yang membenarkan), para syuhada (orang-orang yang mati syahid di jalan Allah) dan para shalihin (orang-orang yang saleh).

Jalan yang lurus itu semakin jelas dan tampak di saat Allah Ta’ala membandingkannya dengan jalan yang melenceng dan sesat, yaitu jalan orang-orang yang dimurkai Allah Ta’ala dan jalan orang-orang yang tersesat.

Siapakah mereka? Apakah mereka orang yang miskin harta dan tidak memiliki kedudukan duniawi?

Orang-orang yang dimurkai Allah adalah kaum Yahudi.

Mengapa mereka dimurkai Allah?

Karena kaum Yahudi mengetahui kebenaran namun mereka menyelisihi dan meninggalkannya.

Sedangkan orang-orang yang tersesat adalah kaum Nasrani sebelum diutusnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Rasul.

Apa yang menyebabkan mereka tersesat?

Karena kaum Nasrani beramal dan beribadah tanpa didasari oleh ilmu.

Setelah diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kaum Nasrani pun akan mendapatkan murka Allah bila mana mereka tetap berada dalam kesesatan dan kebodohannya.

Di antara mutiara tadabbur dari ayat di atas adalah:

  • Urgensi qudwah (teladan) dalam tarbiyah dan dakwah.

Pesan ini tersirat dalam penisbatan shirathalmustaqim kepada sebagian hamba-hamba Allah. Dia tidak hanya menjelaskan bahwa jalan yang wajib diikuti adalah jalan yang lurus, namun Allah sebutkan pula orang-orang yang telah meniti jalan yang lurus tersebut sebagai contoh dan teladan. Dengan adanya qudwah akan mempercepat proses tarbiyah dan dakwah, karena jiwa manusia cenderung mengikuti apa yang dilihat dan dirasakannya. Dengan qudwah pula seseorang tidak akan merasakan keasingan ketika meniti jalan kebenaran, apalagi di akhir zaman, di mana berkomitmen di atas kebenaran pada saat itu, Rasul gambarkan seperti menggenggam bara api. Dia akan merasakan ketenangan karena jalan yang sedang dia ikuti adalah jalan para rasul dan orang-orang yang taat kepadanya.

  • Mendapatkan hidayah Allah Ta’ala adalah sebuah kenikmatan yang agung dan lebih baik dari dunia seisinya.

Karena hanya dengan hidayah Allah seorang hamba akan meniti jalan menuju syurga.

Hidayah Allah tidak bisa diwariskan atau diperjualbelikan. Hidayah adalah karunia Allah yang diberikan kepada hamba pilihan-Nya.

Maka pantaskah seorang muslim mengkufuri (mengingkari) nikmat ini? Atau lebih memilih dunia dan hawa nafsunya dari pada hidayah Allah?

Rasakanlah kebahagiaan nikmat hidayah ketika kaki kita melangkah ke masjid untuk ibadah dari pada pergi ke tempat maksiat, rasakan pula kesejukan hidayah ketika mata ini digunakan untuk membaca Al-Quran dari pada melihat atau menonton hal-hal yang diharamkan, rasakan pula ketenangan hidayah di saat lisan dan bibir ini basah dengan dzikir kepada Allah, dari pada berbuih lantaran ghibah atau mencela orang lain. Rasakan manis dan lezatnya hidayah Allah saat hati dan tubuh ini berada dalam ketaatan kepada Allah setiap saat dan di manapun berada.

  • Sebab terbesar yang akan mengeluarkan sesorang dari jalan yang lurus adalah pembangkangan atau kebodohannya.

Sifat membangkang sangat berlawanan dengan iman yang membuahkan sifat tunduk dan patuh kepada Allah Ta’ala. Seseorang cukup mendapatkan label “membangkang” bila ia memilih kesalahan dan meninggalkan kebenaran setelah ia mengetahuinya. Demikian pula orang yang meninggalkan ketaatan/ibadah dan lebih memilih maksiat/dosa padahal ia telah mengetahuinya.

Adapun kebodohan atau sikap masa bodoh dan merasa tidak perlu untuk tahu tentang agama adalah penyebab terbesar timbulnya kesesatan dan kesalahan karena hanya ilmulah yang dapat menerangi sesorang kepada kebenaran. Ibarat berjalan dalam kegelapan tentu sangat beresiko untuk menginjak duri, menabrak sesuatu atau bahkan terjatuh ke dalam lubang. Lain halnya berjalan dengan diterangi cahaya lampu ataupun sinar rembulan, pasti lebih aman, mudah dan tepat hingga tujuan.

Orang yang beragama namun bodoh atau masa bodoh dengan ilmu agamanya bagaikan orang yang berjalan dalam kegelapan. Maka sungguh beruntung orang yang terus belajar dan mencari ilmu tentang agamanya, karena pada hakikatnya ia sedang menambah dan menyempurnakan cahaya yang akan menerangi jalannya.

Meskipun kedua sifat buruk di atas lazimnya dimiliki oleh non muslim (Yahudi dan Nasrani), namun di antara kaum muslimin ada juga yang mengikuti jejak mereka. Oleh karenanya siapa saja yang telah tahu kebenaran namun ia tinggalkan atau lebih memilih dosa dan maksiat dari pada ibadah dan ketaatan maka ia telah menyerupai kaum Yahudi. Demikian pula kaum muslimin yang melakukan ibadah tanpa ilmu dan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga terjatuh dalam kesalahan atau bid’ah, maka ia telah menyerupai kaum Nasrani. Mungkin inilah yang menjadi alasan mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menafsirkan ﭯ  ﭰ  ﭱ ﭼ     ﭽ

  adalah kaum Yahudi, dan  ﭲ  ﭳ ﭼ   ﭽ adalah kaum Nasrani, yaitu semata-mata sebagai tahdzir atau peringatan bagi umat Islam dari mereka (Yahudi dan Nasrani) karena akan ada dari umat beliau yang meniru dan mengikuti jejak serta tingkah laku mereka.

  • Pejelasan tentang jalan orang yang Allah murkai – yaitu kaum Yahudi dan Nasrani atau orang-orang yang menyerupai mereka – sebagai penutup (khitam) surah Al-Fatihah, mengandung anjuran dan penegasan bagi kaum muslimin untuk senantiasa melihat dan merenungi umat-umat yang binasa lantaran kedurhakaan mereka kepada Allah Ta’ala. Hal ini dimaksudkan agar umat Islam berhati-hati dari jalan dan tingkah laku mereka,tiada solusi untuk selamat dari kebinasaan yang mereka alami selain mengikuti jalan Islam dan syariatnya serta komitmen untuk tidak keluar darinya meskipun sedikit.
  • Penggunaan kata benda (isim) dalam kalimat   ﭰ  ﭱ ﭼ     ﭽ mengandung penegasan bahwa murka Allah Ta’ala pasti akan terjadi.  Ini merupakan hukum atau kaidah yang tidak akan pernah berubah, bahwa pembangkangan pasti mengundang kemurkaan Allah, cepat atau lambat.

Demikian pula dengan lafalﭽ ﭳ ﭼ ,yang menegaskan bahwa label sesat atas sebuah keyakinan dan ideologi, demikian juga cap salah terhadap suatu ibadah yang dilakukan tanpa ilmu dan contoh dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah konsekwensi yang pasti dan tidak pernah berubah meskipun orang yang tersesat dan melakukan kesalahan tersebut merasa atau mengklaim kebenaran, karena status benar dan salah atau hidayah dan sesat hanya datang dari Allah dan Rasul-Nya.

  • Meninggalkan kebenaran karena membangkang tentu lebih buruk dari pada orang yang meninggalkannya karena kebodohan dan ketidaktahuan, karena orang yang membangkang lebih sulit untuk kembali kepada kebenaran, sedangkan orang yang salah dan tersesat karena ketidaktahuan padahal ia menginginkan kebenaran, lebih mudah untuk menyadari kesalahanya dan tidak sulit untuk kembali kepada kebenaran.

Oleh karenanya Allah Ta’ala menyebutkan orang-orang yang membangkang lebih dulu dari pada orang-orang yang tersesat lantaran kebodohannya. Namun sebagaimana telah dijelaskan, bahwa kesesatan dan kesalahan yang terjadi setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus mayoritas dilakukan karena sikap masa bodoh dan tidak peduli bahkan berpaling dari ilmu-ilmu agama. Bila demikian maka tidak ada bedanya antara keduanya, karena semua akan mendapatkan murka Allah Ta’ala.

  • Setelah selesai membaca surah Al–Fatihah dianjurkan mengucapkan kalimat أمين , tanpa ditekan (tanpa tasydid). Adapun makna kalimat tersebut adalah : “Wahai Allah kabulkanlah”, karena telah kita ketahui bersama bahwa setengah dari ayat ke tiga, dan tiga ayat setelahnya adalah permohonan hamba kepada Allah Ta’ala.

You might also like More from author

Leave a comment
k