Mendulang Mutiara Al Fatihah (Bag. 4)

Tadabbur firman Allah Ta’ala:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah kami kepada jalan yang lurus”

Ada kaitan yang sangat erat antara ayat ini dan ayat sebelumnya, dimana ayat sebelumnya menjelaskan bahwa ibadah harus dilandasi keikhlasan, bersih dari segala macam syirik besar maupun kecil. Hal ini diisyratkan oleh firman Allah:

 إِيَّاكَ نَعْبُدُ

Kemudian ibadah apapun tidak akan terlaksana kecuali dengan  I’anah (bantuan dan pertolongan) Allah, hal ini ditegaskan oleh firman-Nya:

وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Dan ibadah tidak akan diterima di sisi Allah meskipun telah dilandasi keikhlasan, bila tidak sesuai dengan tuntunan syariat Al Quran dan Sunnah,  ini disinyalir dalam firman Allah:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

 Diantara faidah tadabbur dari ayat ini adalah:

  1. Urgensi petunjuk (hidayah) Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Di dalam surah yang agung ini hanya disebutkan dua permohonan (doa) dari sekian banyaknya doa-doa atau permohonan seorang hamba. Hal ini menunjukkan begitu pentingnya dua permohonan tersebut, yang pertama adalah permohonan I’anatullah (bantuan dan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan permohonan yang kedua adalah petunjuk serta hidayah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

  1. Memohon dua petunjuk (hidayah) sekaligus.

Sebagaimana kita ketahui bahwa hidayah Allah ada dua macam, pertama hidayah irsyad yaitu petunjuk kepada kebenaran, dengannya seseorang dapat mengetahui dan membedakan kebenaran dan kebathilan.

Yang kedua adalah hidayah taufik yaitu pertolongan Allah untuk mengamalkan suatu kebenaran atau meninggalkan kebathilan. Kedua hidayah tersebut sangat dibutuhkan oleh seorang hamba agar tidak tersesat dalam kehidupan di dunia ini.

  1. Urgensi persatuan kaum muslimin serta anjuran untuk selalu mendoakan orang lain.

Hal ini ditunjukkan oleh penggunaan kata ganti (dhamir jamak/plural) yaitu نا yang artinya kami. Dan ternyata penggunaan kata ganti tersebut tidak hanya dalam permohonan dan doa saja, dalam ibadah serta menegakkan tauhidullah pun Allah Subhanahu wa Ta’ala mengisyaratkan begitu pentingnya persatuan dan kebersamaan, sebgaimana tersirat dalam firman-Nya:

 إِيَّاكَ نَعْبُدُ

  1. Anjuran untuk selalu memilih jalan yang lurus serta konsisten di atasnya.

Para ahli tafsir menyebutkan beberapa maksud dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Diantaranya: Islam, Al Quran dan As-Sunah, yang pada intinya makna tersebut mencakup segala sarana atau jalan yang akan menuntun kepada keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ada lima karakter khusus yang hanya dimiliki oleh Islam dan seluruh syariatnya sebagai tafsiran jalan yang lurus, dan lebih menakjubkan lagi, lima sifat tersebut selalu dan akan senantiasa ada meskipun pada syariat yang dinilai sederhana atau hukumnya sunnah. Hal-hal pokok dalam Islam seperti rukun iman, rukun Islam, segala perintah yang bersifat wajib, dan segala larangan yang diharamkan dengan segala tingkatannya, sudah pasti menjadi sumber lima sifat tersebut. Kelima sifat yang dimaksud adalah lurus, mudah, ada yang menggunakan (masluuk), luas dan menuntun hingga tujuan.

Dengan mengetahui karakter dan tabiat syariat Islam yang agung ini tentu akan mendorong kita semakin gemar untuk melakukan aktifitas apapun sesuai dengan syariat, karena disitulah kita akan menemukan kelurusan, kemudahan, keluasan, dan tujuan hidup yang sebenarnya. Juga akan kita dapati bahwa ternyata yang meniti jalan syariat itu bukan hanya kita, akan tetapi banyak saudara muslim yang lain yang lebih dahulu dan lebih bersungguh-sungguh bahkan lebih sempurna dalam menerapkan syariat Islam pada setiap sisi kehidupannya.

  1. Peringatan agar tidak memilih jalan yang melenceng dan menyesatkan atau keluar dari jalan yang lurus setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaruniakannya

Seorang muslim harus mengetahui bahwa di dunia yang fana ini, banyak jalan-jalan yang terhampar di depannya. Namun hanya satu saja jalan yang akan mengantarkannya kepada ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu jalan yang lurus, jalan Islam dan syariatnya. Hal ini telah Allah Subhanahu wa Ta’ala jelaskan dalam firman-Nya:

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: “dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am : 153)

Ayat tersebut menegaskan perintah untuk mengikuti jalan yang lurus dan konsisten di atasnya, serta larangan untuk keluar serta  mengikuti jalan-jalan yang melenceng dari Islam dan syariatnya, apakah dengan mengerjakan bida’ah dan maksiat yang akan menjauhkan dari keimanan, atau melakukan kesyirikan dan kekufuran yang akan mengeluarkan dari iman dan Islam.

  1. Kebenaran bukan sekedar klaim yang hampa dari pembuktian.

Lurus atau benarnya agama seseorang tidak diukur dengan sekedar mengaku saja, tapi ukuran benarnya sebuah iman adalah komitmen untuk menerapkan Islam dan syariatnya dalam kehidupan.

Imam Hasan Al-Bashri berkata:

ليس الإيمان بالتمني ولا بالتحلي، ولكن ما وقر في القلب وصدقه العمل

“(kebenaran) iman bukanlah (diukur) dengan (sekedar ) berangan-angan bukan pula (sekedar) bergaya (agar dianggap beriman), tapi (keimanan yang benar) adalah (keyakinan yang menancap dalam hati dan dibenarkan/dibuktikan) dengan beramal.”

You might also like More from author

Leave a comment
k