Mendulang Mutiara Al Fatihah (Bag. 3)

Tadabbur firman Allah Subhaanahu wa Ta’ala :

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

 “(hanya) kepada Engkaulah kami beribadah dan (hanya) kepada Engakulah kami memohon pertolongan.”

Setiap redaksi ayat Al Quran memiliki gaya bahasa (uslub) yang sesuai dengan pesan ayat tersebut. Uslub petikan ayat di atas adalah al hashr, yakni gaya bahasa yang menekankan pembatasan dan pengkhususan makna atau sebuah pesan. Apa pesan ayat di atas?

Ibnul Qayyim berpendapat bahwa ayat di atas mengandung inti seluruh pesan Al Quran dan semua risalah para rasul – yaitu tauhid uluhiyyah – yang hakikatnya adalah pemurnian ibadah dari segala bentuk kesyirikan/persekutuan, tandingan-tandingan dan thaghut-thaghut.

Melalui uslub al hashr dalam ayat di atas, Allah menegaskan bahwa segala ibadah khusus bagiNya, ibadah adalah hak yang sangat terbatas hanya untukNya, sedangkan selain Allah Ta’ala baik makhluk hidup seperti malaikat, jin, manusia dan hewan atau benda mati tidak berhak untuk dibadahi/disembah.

Allah Ta’ala berfirman :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“ Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu. “

Tauhid adalah tujuan hidup manusia, hanya dengan tauhidlah kebahagiaan dunia dan akhirat bisa digapai, maka sudah seharusnya tauhid menjadi inti dan pusat perhatian manusia dalam hidupnya, segala usaha dan upaya diarahkan untuk menjaga kemurnian tauhidnya, pengorbanan harta, waktu bahkan jiwa digunakan untuk menyempurnakan tauhidnya, namun realita kehidupan manusia sekarang menunjukkan betapa kurangnya kesadaran mereka akan nilai-nilai tauhid, kecuali orang-orang yang dirahmati Allah Ta’aala. Demi dunia, sebagian manusia tidak peduli dengan ucapan atau perbuatan yang bisa mengurangi bahkan mencoreng  tauhidnya, pertimbangan dalam memilih pekerjaan atau sekolah dan kampus bukan pada kemaslahatan tauhid, akhirnya tauhid tinggal nama dan Islam tinggal KTP, maka tak mengherankan bila jumlah kaum muslimin yang semakin banyak bagaikan banyaknya buih dilautan, wallahulmusta’an.

Inilah mutiara tadabbur teragung dari petikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: إِيَّاكَ نَعْبُدُ

Yaitu perintah mengikhlaskan ibadah dan larangan syirik. Perintah agung tersebut tidak akan terealisasi kecuali dengan ilmu, oleh karenanya wajib mengetahu ilmu tentang tauhid dan pembatal-pembatalnya.

Dalam sebuah hadits qudsi dijelaskan, bahwa Al Fatihah dibagi dua, bagian pertama yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4)

Adalah untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala karena ayat-ayat tersebut  mengandung segala pujian, segala kekuasaan dan tauhid ibadah.

Sedangkan bagian kedua, yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5)اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6)صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)

Adalah untuk hambaNya, karena ayat-ayat tersebut mengandung doa dan permohonan.

Firman Allah Ta’ala: وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Adalah doa hamba kepada Allah agar dikaruniai pertolongan dan bantuan setiap saat dan dalam bentuk apapun jua bantuan tersebut. Dengan uslub yang sama yaitu (al hashr), ayat tersebut menegaskan bahwa segala pertolongan hanya milik Allah, tidak dicari dan diperoleh kecuali dariNya. Adapun memohon pertolongan atau bantuan kepada makhluk dalam hal-hal yang mampu dilakukannya maka dibolehkan, dengan syarat tidak menggantungkan harapan kepadanya.

Ada beberapa faidah dari penyebutan وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ   setelah إِيَّاكَ نَعْبُدُ :

  • Segala ibadah hanya bisa dilaksanakan dengan taufik dan pertolongan Allah Ta’ala, oleh karenanya tidak sepantasnya berbangga diri apalagi mengharapakan pujian dalam beribadah.
  • Cara jitu untuk mendapatkan pertolongan dan bantuan Allah dalam segala hal adalah dengan meningkatkan ibadah kepadaNya, bahkan Ibnul Qoyyim menyimpulkan bahwa besar kecilnya atau cepat lambatnya pertolongan Allah kepada hamba tergantung kepada kualitas dan kuantitas ibadahnya kepada Allah Ta’ala.
  • Merupakan adab yang baik dalam berdoa adalah mendahulukan hak Allah Ta’ala sebelum hak hamba yang memohon, oleh karenanya dianjurkan untuk memuji Allah dengan nama-namaNya dan sifat-sifatNya yang sempurna sebelum berdoa dan bermunajat.

You might also like More from author

Leave a comment
k