Bagaimana Mentadabburi Al-Quran?

52%
Awesome

Custom Title For Review?

  • Criteria 1
  • Criteria 2
  • Criteria 3
  • Criteria 4
  • Criteria 5

Pendahuluan

“ketika mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membaca surah at-thur,  seakan-akan hatiku terbang”.

Itulah ungkapan salah seorang sahabat ketika mendengar ayat al-quran,  padahal saat itu beliau belum memeluk islam, namun keagungan dan kehebatan al-Quran mampu menundukkan hatinya, sehingga mampu merespons pesan-pesan yang dikandung ayat yang didengar. Jangankan hati manusia,  benda mati sekalipun seperti gunung,  bila al-Quran diletakkan di atasnya,  niscaya akan tunduk dan berguncang karena takut kepada Allah, sebagaimana Ia tegaskan dalam surah al-Hasyr ayat: 21.

Pernahkah hati kita merasakan takut dan menyesal,  ketika membaca ayat tentang ancaman dan siksa bagi para pelaku dosa dan maksiat?

Atau merasakan kegembiraan dan ketenangan di saat membaca ayat ayat tentang surga, pahala yang besar, serta luasnya rahmat Allah bagi hambaNya yang taat?

Bila hati mampu merespons pesan pesan ayat yang dibaca atau didengar sehingga menambah keimanan dan ketenangan, keteguhan dan kekhusyuan,  sering kali menjadikan mata berlinang tangisan,  jiwa tenang serta hati tenteram.

Inilah rahasia dan buah tadabur al-Quran, maha benar Allah yang telah memerintahkan tadabur,  karena hanya dengan tadaburlah segala kemuliaan, keagungan dan keberkahan al-Quran bisa diraih.

Adalah kerugian yang sangat besar, bagi orang yang sakit dan memiliki obat namun ia tidak bisa menggunakannya,  atau orang yang sedang tersesat dan ia memiliki peta petunjuk namun ia tidak memahami penggunaannya,  terlebih lagi orang yang sedang resah dan gundah,  pergi ke sana ke mari untuk menghilangkan keresahan dan kegundahannya,  padahal ia memiliki penawarnya,  namun ia tidak bisa memanfaatkannya.

Itulah gambaran orang yang membaca atau mendengarkan al-Quran namun tidak mentadaburi dan mengamalkannya,  sehingga al-Quran tidak berfungsi baginya sebagai petunjuk kehidupan,  penasihat dalam kesalahan dan kelalaian,  penawar segala penyakit,  serta sumber ketenangan hati dan ketenteraman jiwa.

Allah menyindir keadaan mereka seperti keledai yang membawa buku buku,  namun si keledai tidak mampu memanfaatkannya.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ”sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat suatu kaum dengan al-Quran,  dan Allah akan menghinakan kaum yang lain dengan al-Quran (juga)”. Mengangkat derajat sebuah kaum karena mereka memahami dan mengamalkan al-Quran,  dan menghinakan kaum yang lain yang menyia-nyiakan al-Quran.

Pengertian tadabur dan keutamaannya

Tadabur al-Quran adalah usaha untuk memahami makna lafal-lafalnya,  serta merenungkan kandungannya,  agar hati menerima nasihat-nasihatnya,  jiwa menjadi takut,  dan dada menjadi lapang untuk beramal saleh.

Dari pengertian di atas bisa disimpulkan,  bahwa tadabur adalah segala kiat dan usaha yang bisa membantu dalam proses merespons setiap pesan yang terkandung dalam ayat ayat al-Quran,  sehingga al-Quran berpengaruh dalam kehidupan seseorang,  dan ia terpengaruh oleh nasihatnya ketika lalai, mendapatkan petunjuknya di saat tersesat,  meredam keresahan dan kegundahannya,  dan penawar segala penyakit yang menimpanya.

Tadabur adalah satu-satunya sarana untuk meraih segala keberkahan al-Quran, baik di dunia maupun di akhirat,  Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

“Kitab (Al-Quran) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran” (QS Shaad; 29).    Kata ”lam” dalam lafaz”li yaddabbaruu” adalah ”lam ‘illah/ lam yang berfungsi sebagai penjelas sebab,  oleh karena itu hal ini bermakna bahwa Al-Quran tidak akan menjadi sumber keberkahan secara sempurna pada diri seseorang kecuali jika ia melakukan tadabur ketika membacanya.

Di antara keberkahan al-Quran di dunia adalah petunjuk jalan surga, obat bagi segala penyakit, penenang jiwa sekaligus pengusir gundah gulana, dan al-Quran adalah sumber keberkahan dalam harta, umur, ilmu serta jiwa raga selama hidup di dunia.

Adapun keberkahan al-Quran di akhirat,  pastilah lebih agung dan mulia, pahala yang berlipat ganda,  bersanding dengan malaikat yang mulia,  memperoleh syafaat dari al-Quran,  dan derajat yang tinggi dalam surga,  karena al-Quran lah yang akan menjadi penentu tinggi atau rendahnya derajat seseorang dalam surga dengan rahmat Allah Subhanahu wata’ala.

Tadabur al-Quran membutuhkan usaha dan kiat yang tepat agar proses tersebut berjalan dengan baik dan membuahkan hasil,  di antara kiat kiat mudah dalam tadabur al-Quran adalah:

  1. Wajib Meyakini Bahwa Dengan Al-Quran kita Akan Hidup, Mendapatkan Bashirah (Ilmu dan Hikmah) dan Petunjuk,  Tampanya kita Laksana Mati,  Buta Akan Kebenaran,  dan Berada Dalam Kesesatan.

Seorang muslim yang membaca Al-Quran hendaknya harus memiliki keyakinan seperti ini sebelum membaca ayat-ayat atau surat yang ada di dalamnya. Sebab itulah Allah ta’ala berfirman dalam surat Thaha;

“Jika datang kepadamu petunjuk dariKu, maka (ketahuilah) barang siapa mengikuti petunjukKu dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barang siapa berpaling dari peringatanKu, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”(QS Thaha; 123-124)

Untuk menjaga keyakinan di atas agar tetap ada setiap kali akan membaca al-Quran,  dianjurkan untuk senantiasa mengingat keagungan al-Quran,  misalnya dengan mengingat sifat sifat dan fungsi al-Quran. Ia adalah la-haq (kebenaran), la-huda (petunjuk),  al-Quran Merupakan suatu ilmu,  la-burhan (bukti kebenaran),  Al-Muhaimin (Penjaga atas kitab-kitab sebelumnya),  Al-barakah (suatu keberkahan),  Al-Mau’idzhah (Peringatan/Pelajaran),  Al-Syifa’ (Obat penyembuh),  Al-Tadzkirah (Peringatan),  Al-Nuur (cahaya),  Al-Rahmah (Rahmat),  Al-Shidq (Kebenaran),  Al-Mushaddiq (Yang membenarkan),  Al-‘Aliy (Yang tinggi),  Al-Kariim (Yang mulia),  Al-‘Aziz (yang agung),  Al-Majiid (Yang agung),  Al-Furqan (pembeda antara yang haq dan yang batil),  Bashaair (Pedoman), Al-Quran telah Muhkam ( dimudahkan pemahamannya ),  Mufashshal-(diperjelas ayat-ayatnya),  Ayat-ayatnya menakjubkan,  Ia adalah al-balaagh (petunjuk),  Ia adalah al-basyiir (pemberi kabar gembira),  sekaligus sebagai al-nadzhiir (suatu peringatan),  Ia adalah al-bayaan ( keterangan ),  dan al-tibyaan (pemberi penjelasan).

Mengetahui dan mengingat sifat sifat al-Quran di atas, akan meningkatkan keyakinan akan kebutuhan kita terhadap al-Quran dalam kehidupan ini,  dan sungguh adalah kerugian yang sangat besar bagi siapa saja yang berpaling dari kitab suci yang mulia ini.

  1. Memelihara dan memperbaiki hati

Antara tadabur al-Quran dan hati,  memiliki hubungan yang sangat erat. Qalbun salim (hati yang selamat dan sehat) adalah syarat agar ayat ayat yang dibaca atau didengar bisa ditadaburi. Lebih jauh dari itu,  ternyata ada alasan-alasan yang sangat kuat,  mengapa keberhasilan tadabur sangat tergantung kepada hati,  di antara alasan alasan tersebut adalah:

  • Semua perintah al-Quran, pada asalnya ditujukan kepada hati

Allah berfirman:

Dan sungguh (Al-Quran) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Yang dibawa turun oleh al-ruh al-amiin (Jibril). Kedalam hatimu (Muhammad) agar engkau termasuk orang yang member peringatan. Dengan bahasa arab yang jelas.”(QS Al-Syu’araa’; 192-195)

Perhatikan firman Allah”‘ala qalbika / Ke dalam hatimu”,  dan Dia tidak berfirman bahwa Al-Quran diturunkan kepada pendengaran,  penglihatan,  otak atau lainnya,  akan tetapi ia diturunkan ke dalam hati,  dan ini sangatlah jelas

  • Pengaruh Terbesar dari Al-Quran adanya di dalam hati

Kebaikan terbesar yang didapatkan oleh orang yang senantiasa memperhatikan dan menghayati Al-Quran adalah kelembutan dan kesucian hati,  sebaliknya penyakit terbesar yang menimpa orang yang berpaling dari Al-Quran adalah kematian dan kerasnya hati, sebab itu nasihat quraniyah hanyalah bisa diterima dan dilakukan oleh orang yang memiliki hati yang menghayati Al-Quran,  atau orang yang berusaha memperbaiki keadaan hatinya dengan al-quran,  sebagaimana firman Allah ta’ala:

“Sungguh pada yang demikian itu pasti terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau menggunakan pendengarannya sedang dia menyaksikannya” (QS Qaaf; 37)

  • Tujuan Utama Al-Quran; Tadabur (Penghayatan) Hati Terhadap Ayat-ayatnya
  • Allah ta’ala telah menjelaskan hikmah diturunkannya Al-Quran ini dalam firmanNya:

“Kitab (Al-Quran) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal-sehat mendapat pelajaran” (QS Shaad; 29).    Kata ”lam” dalam lafaz ”li yaddabbaruu” adalah ”lam ‘illah/ lam yang berfungsi sebagai penjelas sebab,  oleh karena itu hal ini bermakna bahwa Al-Quran tidak akan menjadi sumber keberkahan secara sempurna pada diri seseorang kecuali jika ia melakukan tadabur ketika membacanya.

Allah juga telah berfirman;

“Maka tidakkah mereka menghayati Al-Quran, ataukah hati mereka sudah terkunci ?”(QS Muhammad; 24).

Ayat ini hanya memberikan dua pilihan, bisa menghayati Al-Quran atau jika tidak maka itu tanda banyaknya kunci yang telah menutup hati

  1. Mengetahui trik yang tepat untuk membaca Al-Quran

Cara yang tepat dalam membaca al-Quran adalah tartiil yaitu secara perlahan-lahan dan tidak terburu-buru,

Ibnu abbas y ketika menjelaskan makna tartil,  beliau berkata: hendaknya membaca dua ayat,  atau tiga ayat lalu berhenti (untuk menghayati maknanya –pent),  dan tidak membacanya dengan cepat”.

Dan cara yang demikian sangat dianjurkan dalam al-Quran,  dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya.

Abu Daud dan Al-Tirmidzi juga meriwayatkan dari Ummu salamah radhiyAllahu ‘anha, beliau menyifati bacaan Rasulullah shallAllahu’alaihi wasallam ”bahwa bacaan beliau adalah bacaan (yang bertujuan memberikan) penafsiran,  membacanya perlahan kata demi kata. Al-tirmidzi berkata tentang hadits ini, ”hasan shahih gharib”.

Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah berkata, ”Saya safarbersama Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu, dan ia selalu shalat malam selama setengah malam,  dengan membaca Al-Quran kata demi kata (perlahan-lahan),  lalu ia menangis sehingga terdengar suara tangisannya”.

Wahai pembaca Al-Quran,  seharusnya seperti inilah bacaan Al-Quran kita,  bacaan yang mengharukan, sekaligus indah,  pelan,  dan tidak tergesa-gesa,  semoga Allah memberikan taufiq kepada kita dengan petujukNya.

  1. Mulai membaca dan tadabur surah-surah Al-Mufashshal(bagian akhir al-Quran yang dimulai dari surat Qaaf sampai surat Al-Naas

Tentang metode ini Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam hadits sebelumnya ketika beliauberkata, ”Sesungguhnya awal-awalyang diturunkan dari Al-Quran adalah surat-surat dari Al-Mufashshal (dari surat Qaaf – an-Nas),  sebab di dalamnya ada penjelasan tentang surga dan neraka…”. Juga ucapannya, ”akan tetapi (di antara ayat yang awal-awal) diturunkan;”…Hari kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit” (Al-Qamar; 46),   ayat ini diturunkan di Mekah sedangkan saya waktu itu masih seorang anak kecil yang suka bermain-main,  dan kemudian tidaklah surat Al-Baqarah dan an-Nisa’ (yang mengandung hukum halalharam –pent) diturunkan kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam kecuali saya telah bersama beliau (di Madinah)”

Adapun keistimewaan metode pembelajaran al-Quran yang diawali dengan surah-surah al-Mufashshal-ini adalah;

  • Keistimewaan Pertama: Kandungan surat-surat al-Mufashshal inilah yang banyak mengokohkan keimanan dalam hati.

sebab di dalamnya ada penjelasan tentang surga dan neraka,  Perkara tauhid / Pengesaan Allah ta’ala dalam Rububiyah maupun UluhiyahNya,  Penetapan adanya Yaum al-Ba’ats (Hari Kebangkitan) dan Hari Kiamat,  Dan Perintah untuk berakhlak mulia.

Jadi kandungan surat-surat inilah yang menjadikan hati teguh dan tenteram dengan keimanan, jika setelah ini kemudian mempelajari masalah hukum halal dan haram maka yang ada hanyalah adanya sikap mendengar dan taat terhadap perkara Allah dan RasulNya.

Tentunya keadaan para sahabat yang awal-awal masuk islam bersama Al-Mufashshal ini menjadi bukti nyata akan keabsahan metode ini, yaitu ketika kandungan makna surat-surat Al-Mufashshal ini memberikan tazkiyah (penyucian) terhadap jiwa mereka,  sehingga keimanan yang sebelumnya ada dalam hati mereka semakin teguh laksana gunung yang kokoh.

  • Keistimewaan kedua; Surat-surat Al-Mufashshal lebih mudah dan cepat dipahami karena ia adalah ”Muhkam” (Mudah dipahami), dan tidak ada ayat-ayatnya yang ”mutasyaabih” (Sulit dipahami) kecuali sedikit.

Ini diisyaratkan juga oleh Umar radhiyallahu’anhu dalam ucapannya sebelumnya, ”Jika salah seorang diantara kalian ingin belajar Al-Quran,  maka hendaknya memulai dari al-Mufashshal karena ia lebih mudah”.

Juga ucapan Ibnu Abbas radhiyAllahu’anhuma sebelumnya, ”Saya telah menghafal al-Muhkam pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”,  maka ia pun ditanya, ”al-Muhkam itu apa?”,  beliau menjawab, ”ia al-Mufashshal”.

Jadi al-Mufashshal adalah surat-surat yang Muhkam,  berbeda dengan bagian lainnya dari al-Quran yang memiliki banyak ayat yang Mutasyaabih.

Ad-Darimi dan selainnya meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata;”Sesungguhnya segala sesuatu memiliki puncak,  adapun puncak alQuran adalah surat al-Baqarah,  dan segala sesuatu memiliki dasar (lembah),  dan adapun dasar daripada al-Quran adalah surat-surat al-Mufashshal”.

Apakah mungkin seseorang bisa sampai ke puncak tanpa melewati dahulu suatu dasar (lembah ) yang begitu mudah?!

Penutup

Tadabur adalah suatu usaha, ya usaha yang perlu terus diusahakan,  dan setiap muslim harus selalu berusaha dan berlatih hingga tadabur menjadi kebiasaan,  seperti membaca atau mendengar al-Quran.

Dengan memohon pertolongan saja,  diiringi keinginan yang kuat dan kesungguhan serta istiqomah dalam menerapkan kiat-kiat di atas,  insya Allah tadabur adalah sesuatu yang mudah,  sebagaimana janji Allah:

Sungguh telah kami mudahkan al-Quran untuk (dijadikan) peringatan ( dengan membacanya,  atau mentadaburinya).

Selamat mencoba!!!!

Wallahu ‘alam.

Ustadz Ridwan

52%
Awesome

Custom Title For Review?

  • Criteria 1
  • Criteria 2
  • Criteria 3
  • Criteria 4
  • Criteria 5

You might also like More from author

Leave a comment
k