Berlindung di Bawah Naungan Surat Al-Falaq dan An-Naas (Bag. 4)

Tadabur firman Allah ta’ala:

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

Artinya: “Dan (aku berlindung kepada Allah) dari keburukan pendengki apabila mendengki”.

Ulasan tafsir

Hasad/dengki adalah menginginkan hilangnya kenikmatan atau kebaikan dari orang lain. Ayat di atas menjelaskan bahwasanya hasad/dengki bisa menimbulkan keburukan atau kejahatan, oleh karenanya kita dianjurkan untuk berlindung dari sifat buruk tersebut.

Mengapa hasad bisa menimbulkan keburukan? Karena sifat tersebut muncul ketika karakter fujur (buruk/jahat) lebih dominan di dalam jiwa, sehingga ketika melihat kenikmatan atau kebaikan orang lain, tumbuhlah sifat benci, cemburu, emosi yang terkadang berujung kepada tindak kejahatan.

Jenis lain dari hasad adalah ‘ain, yaitu pandangan suka berbalut hasad di saat melihat kebaikan atau keburukan orang lain, yang bisa menimbulkan mara bahaya baginya bila pandangan suka dan rasa takjub tersebut tanpa disertai zikir kepada Allah ta’ala.

Bila timbul perasaan dengki dalam diri disebabkan nikmat yang dimiliki orang lain, namun tanpa diiringi keinginan buruk agar nikmat tersebut hilang dari orang tersebut, maka inilah yang disebut ghibthah, yang dibolehkan oleh syariat, Rasulullah sallallahu’alahi wasallam bersabda:

لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ في الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

Artinya:

Tidak boleh hasad kecuali kepada dua orang yakni, orang yang Allah  berikan kepadanya harta, lalu ia habiskan dijalan kebenaran, dan seorang yang Allah berikan hikmah, lalu ia konsisten dengan hikmah tadi dan mengajarkannya kepada manusia. (HR. Bukhari)

Berikut ini beberapa hasil tadabur ayat di atas:

Pertama: Haramnya sifat hasad/dengki, dan larangan untuk mendekati apalagi melakukannya, serta anjuran untuk selalu berlindung dari sifat buruk tersebut, serta membersihkan hati dan jiwa darinya.

Kedua: Adanya ayat khusus terkait hasad/dengki dalam sebuah surat, yang secara khusus juga merangkum sumber-sumber keburukan di dunia ini, adalah sebuah isyarat agar kita betul-betul memperhatikan keburukan-keburukan tersebut, dan keburukan hasad secara khusus, untuk segera dibersihkan bila ada dalam diri kita, atau kita cegah agar tidak sempat mampir apalagi tinggal sebagai benalu dalam diri.

Ketiga: Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa manusia tidak luput dari penyakit hasad/dengki, sampai-sampai ibnu taimiyah pernah mengatakan: hasad adalah penyakit jiwa, dan ia adalah penyakit yang menguasai, tidak ada yang selamat darinya kecuali hanya segelintir orang. Karenanya dikatakan, “Tidak ada jasad yang selamat dari hasad, akan tetapi orang yang tercela adalah yang menampakkannya, dan orang yang mulia adalah yang menyembunyikannya” (Majmuu’ Al-Fataawaa 10/125-126).

Namun penyakit tersebut bisa diobati dengan segera serta selalu berzikir dan berlindung kepada Allah, dan merubah hasad tersebut menjadi ghibthoh (hasad yang dibolehkan) yang telah dibahas di atas.

Keempat: Membersihkan jiwa dari hasad bukanlah perkara yang mudah, sebagaimana Allah isyaratkan dalam firmanNya:

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ

artinya: “Dan kami cabut rasa dendam yang ada di dalam hati mereka” (QS. Al-A’raf: 43).

lafal (ونزعنا) memiliki makna lebih kuat dari sekedar mencabut atau menghilangkan, sebagai isyarat bahwa diperlukan kekuatan dan kesungguhan dalam upaya Membersihkan jiwa dari hasad.

salah satu pendorong agar kita tidak menyerah dari penyakit hasad tersebut adalah dengan mengingat pahala yang sangat agung bila kita berhasil mengobati penyakit tersebut. Simaklah dengan penuh penghayatan hadis di bawah ini.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, beliau berkata, “Suatu ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah. Tiba-tiba beliau berkata, ‘Akan lewat di hadapan kalian saat ini seorang calon penghuni surga.’ Lalu lewatlah seorang pemuda Anshar dalam keadaan dari jenggotnya menetes sisa-sisa air wudhu dan tangan kirinya menenteng sandal. Pada keesokan harinya, Rasulullah bersabda lagi persis sebagaimana sabdanya kemarin, lalu lewatlah pemuda tersebut dengan keadaan persis dengan keadaannya yang kemarin. Dan pada hari yang ketiga Rasulullah mengulang lagi sabdanya seperti sabdanya yang pertama, dan pemuda itu pun muncul lagi dengan keadaan seperti keadaannya yang pertama. Maka, ketika Rasulullah beranjak pergi, Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash segera mengikuti pemuda tersebut (ke rumahnya), lalu berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya antara aku dan bapakku telah terjadi perselisihan, maka aku bersumpah tidak akan masuk ke rumahnya selama 3 hari. Jika engkau tidak keberatan, aku ingin menumpang padamu selama 3 hari tersebut.’ Pemuda tersebut berkata, ‘Ya, tidak apa-apa.’”

Selanjutnya Anas berkata, “Maka Abdullah menceritakan bahwa selama 3 hari bersama pemuda tersebut, dia tidak melihatnya melakukan qiyamul lail (shalat malam) sedikit pun. Yang dia lakukan hanyalah bertakbir dan berzikir setiap kali dia terjaga dan menggeliat di atas tempat tidurnya sampai dia bangun untuk shalat shubuh. Selain itu, Abdullah berkata, ‘Hanya saja, aku tidak pernah mendengarnya berbicara kecuali yang baik-baik. Setelah 3 hari berlalu dan hampir saja aku meremehkan amalannya, aku berkata kepadanya, ‘Wahai hamba Allah, sebenarnya tidak pernah ada pertengkaran antara aku dengan bapakku, dan tidak pula aku menjauhinya. Sebenarnya, aku hanya mendengar Rasulullah berkata tentang engkau tiga kali, ‘Akan muncul di hadapan kalian saat ini seorang laki-laki calon penghuni surga.’ Dan ternyata engkaulah yang muncul sebanyak tiga kali itu. Karena itu, aku jadi ingin tinggal bersamamu agar aku bisa melihat apa yang engkau lakukan untuk kemudian aku tiru. Akan tetapi, aku tidak melihat engkau melakukan amalan yang besar. Lantas, amalan apa sebenarnya yang bisa menyampaikan engkau kepada kedudukan sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah?’ Orang tersebut berkata, ‘Aku tidak melakukan kecuali apa yang kamu lihat.’ Maka ketika aku telah berpaling (pergi), dia memanggilku dan berkata, ‘Sebenarnya aku memang tidak melakukan apa-apa selain yang engkau lihat. Hanya saja, selama ini aku tidak pernah merasa dongkol dan dendam kepada seorang pun dari kaum muslimin, serta tidak pernah menyimpan rasa hasad terhadap seorang pun terhadap kebaikan yang telah Allah berikan kepadanya.’ Maka Abdullah berkata, ‘Inilah amalan yang membuatmu sampai pada derajat tinggi, dan inilah yang tidak mampu kami lakukan.’” (HR. Ahmad).

You might also like More from author

Leave a comment
k