Beberapa Pokok Aqidah dalam Surat al-Kautsar (Bag. 1)

Di antara keistimewaan Al-Quran di atas kitab-kitab samawi yang lain adalah sifat universal dan kesempurnaan yang ada di dalam ajaran, syariat dan petunjuknya. Bahkan untuk mendatangkan satu surat yang sarat dengan petunjuk dan syariat yang bisa menandingi satu surat yang paling pendek di dalamnya pun adalah hal yang mustahil, Allah Azza wa Jalla berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 23 yang artinya:

 “Dan jika kalian meragukan (Al-Quran) yang kami turunkan kepada hamba kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah jika kamu orang-orang yang benar.”

Begitu pula Allah menafikan secara langsung kemampuan manusia dan jin untuk bisa menandingi Al-Quran secara utuh, Allah berfirman dalam surat Al-Isra ayat 88 yang artinya:

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa (dengan) Al-Quran, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.”

Maka sangat jelas bagi seorang muslim untuk bersyukur atas nikmat Al-Quran yang tak lain adalah Kalamullah yang tak ada tandingannya.

Dari 114 surat yang ada di dalam Al-Quran, terdapat surat-surat yang panjang dan surat-surat yang pendek. Di antara surat-surat yang pendek ini, surat Al-Kautsar – dengan jumlah ayat sebanyak 3 ayat – adalah surat yang terpendek. Meskipun dengan jumlah ayat yang sedikit tapi dia setara dengan surat Al-Baqarah dari segi kekuatan hujjah sebagaimana dijelaskan oleh para ulama. Surat ini mengandung pokok-pokok aqidah Islam yang harus diketahui oleh seorang muslim dalam mengarungi kehidupan dunianya.

Ibnul Jauzy rahimahullah dalam buku beliau Shaidul Khathir ketika menceritakan kisah-kisah nabi palsu dan pembawa khurafat, beliau mengutip kisah sebagian mereka yang ingin menandingi surat Al-Kautsar, di antara mereka ada seorang yang bernama Hudzail bin Wasi’ yang membuat surat tandingan dengan mengatakan:

إنا أعطيناك الجواهر فصل لربك وجاهر فما يردنك إلا فاجر

Artinya: “Sesungguhnya kami memberimu permata, maka shalatlah kepada Tuhanmu di khalayak ramai, dan tidaklah yang menolakmu kecuali seorang fajir (pembangkang).”

Tak lama setelah membaca surat tandingan di atas, muncullah seorang yang dengan bengis membunuh Haudzail bin Wasi’ dan menyalibnya di tiang kayu sambil mengatakan kepada mayat Hudzail bin Wasi’ di atas tiang kayu:

إنا أعطيناك العمود فصل لربك من قعود بلا ركوع ولا سجود فما أراك تعود

Artinya: “Sungguh kami telah memberimu tiang kayu, maka shalatlah kepada Tuhanmu dalam keadaan duduk, tanpa ruku dan sujud, dan saya rasa engkau tak akan kembali lagi.”

Maka salah satu perkara aqidah yang sangat menonjol dalam kisah di atas adalah bahwa Allah Maha Kuasa dan Perkasa, Dia membalas kelakuan para penentang wahyu-Nya dengan sesuatu, tanpa diduga sebelumnya. Juga janji Allah Azza wa Jalla untuk terus menjaga kitab-Nya dari segala macam penyimpangan. Subhanaka Ya Rabbana lakal hamdu.

Setelah membuka pembahasan kita dengan kisah dan hikmah di atas, maka ada baiknya kita langsung melihat pokok-pokok aqidah Islamiyah yang dikandung oleh surat Al-Kautsar ini.

  1. AL-KAUTSAR

Secara bahasa Al-Kautsar bisa berarti seorang dermawan, juga berarti pemuka sebuah kaum.

Adapun secara istilah Al-Kautsar berarti sungai di surga yang dikhususkan untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang begitu melimpah airnya dan begitu banyak jumlah gelasnya.

Para ulama kita sejak dahulu sampai sekarang telah menegaskan akan adanya sungai di surga yang bernama Al-Kautsar. Berikut ini beberapa di antara kutipan perkataan mereka:

  1. Ibnu Abdil Barr dalam kitab beliau Al-Istidzkar (1/95) berkata setelah menyebutkan hadits-hadits Al-Kautsar dan kekhususannya untuk Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam: “Perkara (Al-Kautsar) ini telah diriwayatkan oleh jumlah yang tidak sedikit dari kalangan sahabat dengan sanad yang shahih dan atsar-atsar dengan jalur periwayatan yang banyak.”
  2. Abu Amr Ad-Dani dalam kitab beliau Ar-Risalah Al-Wadhihah (hal 111) berkata: “Dan Al-Kautsar adalah sungai di surga yang diberikan kepada Nabi kita sebagaimana dalam hadits dan atsar yang shahih.”
  3. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Majmu’ Fatawa (16/529): “Dia (Al-Kautsar) adalah sungai di surga sebagaimana dalam hadits yang shahih dan sharih (jelas).”
  4. Ibnu Katsir dalam tafsir beliau (14/481): “Hadits-hadits tentang Al-Kautsar diriwayatkan secara mutawatir yang menegaskan keberadaannya sebagaimana pendapat sebagian besar ulama hadits.”
  5. As-Suyuthi dalam Al-Itqan fi Ulumil Quran (2/378): “Al-Kautsar adalah sungai di surga sebagaimana dalam hadits-hadits yang mutawatir.”

Begitu pula ulama-ulama Ahlussunnah yang memiliki konsentrasi dalam bidang aqidah menetapkan iman kepada Al-Kautsar ini sebagai bagian pokok dari Aqidah yang harus diyakini, di antara mereka adalah:

  1. Imam Ahmad bin Hanbal yang diriwayatkan oleh murid beliau Abduus, berkata: “Surga dan neraka adalah dua makhluk Allah yang telah diciptakan sebagaimana Nabi menceritakan bahwa beliau pernah masuk ke surga dan melihat istana dan Al-Kautsar di dalamnya.” (Syarh Ushul I’tiqad oleh Al-Lalakai (1/164).
  2. Ash-Shabuni berkata: “Mereka (ulama salaf) beriman kepada Al-Haudh (telaga) dan Al-Kautsar.” (Aqidatussalaf hal.79)
  3. An-Nasafi berkata: “Al-Kautsar di surga adalah benar adanya.” (Bahrul Kalam 239).
  4. Al-Ghazali berkata ketika bercerita tentang Al-Haudh: “(Al-Haudh) memiliki 2 pancuran yang airnya berasal dari Al-Kautsar.” (Qawaidul Aqaid hal.35)
  5. As-Saffarini mengatakan: “Dan sungguh beberapa kelompok ahlu bid’ah telah mengingkari Al-Kautsar seperti Mu’tazilah dan yang lainnya.” (Ad-Durrah Al-Mudhiah hal.77)

Barang siapa mengingkari keberadaan Al-Kautsar maka akan mendapatkan ancaman untuk tidak bisa menikmati segarnya air Al-Kautsar di hari kemudian, sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (11/467): “…di antara yang mengingkari keberadaan Al-Kautsar ini adalah seorang gubernur Iraq di zaman Muawiyah yang bernama Ubaidullah bin Ziyad, suatu ketika sahabat yang mulia Abu Barzah Al-Aslami menghadap Ibnu Ziyad sang gubernur yang mendustakan adanya Al-Haudh (tentu saja juga mendustakan Al-Kautsar yang merupakan sumber air Al-Haudh) seraya bertanya kepada sahabat tadi, “Apakah engkau wahai Abu Barzah pernah mendengarnya dari Nabi ?” Abu Barzah menjawab: “ Bukan sekali, dua kali, tiga kali, empat kali, lima kali. Barang siapa yang mendustakannya maka semoga Allah tidak memberikannya minum dari Al-Kautsar.”

Setelah membaca dengan seksama pemaparan ulama tentang keyakinan kepada Al-Kautsar maka ada baiknya kita melihat beberapa pendapat ulama tafsir tentang makna Al-Kautsar dalam surat ini, yang kalau kita kumpulkan maka kita akan menjumpai pendapat mereka mencapai lebih dari sepuluh dan bahkan ada yang menghitungnya sampai enam belas pendapat sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al-Qurthubi (22/520).

Di antara pendapat para ahli tafsir adalah sebagai berikut:

  1. Al-Kautsar adalah sungai di surga yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana dalam hadits Anas dalam Shahih Bukhari ketika Nabi dalam peristiwa Mi’raj, Nabi mendatangi sebuah sungai yang kedua sisinya dari kubah-kubah mutiara berongga, kemudian Nabi bertanya kepada Jibril: “Benda apakah ini wahai Jibril ?” Jibril menjawab: “Ini adalah Al-Kautsar.”

Juga Imam Ath-Thabari mengangkat riwayat dalam tafsir beliau yang senada dengan hadits di atas dengan lafadzh: “Ketika saya dalam peristiwa Mi’raj saya diberikan Al-Kautsar dan ternyata dia adalah sebuah sungai di surga.”

  1. Al-Kautsar adalah kebaikan yang berlimpah yang termasuk di dalamnya Sungai Al-Kautsar itu sendiri dan juga mencakup yang lain seperti Al-Quran, An-Nubuwah, ilmu, hikmah dan kebaikan dunia akhirat.
  2. Al-Kautsar adalah Al-Haudh (telaga) sebagaimana pendapat Atha’.

Tiga pendapat inilah yang paling masyhur di kalangan ulama kita, adapun pendapat yang lain maka tidak keluar atau merupakan pengembangan dari pendapat kedua yang berarti kebaikan yang berlimpah dengan menitik beratkan kepada salah satu jenis kebaikan yang ada, sebagaimana Hasan Al-Bashri memberikan spesifikasi khusus kepada Al-Quran, sebagaimana sebagian yang lain memberikan perhatian lebih kepada makna nubuwah dan sebagian yang lain lebih memperluas cakupannya untuk kebaikan dunia akhirat sebagaimana pendapat Mujahid.

Dari tiga pendapat di atas maka para ulama kita mentarjih bahwa yang dimaksud dengan Al-Kautsar dalam ayat ini adalah sungai di surga, sebagaimana telah dikuatkan oleh banyak hadits yang shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Imam Asy-Syaukani berkata dalam tafsir beliau (Fathul Qadir 5/716): “Hadits-hadits ini yang menjelaskan tentang Al-Kautsar mengharuskan kita untuk meyakininya bahwa dia adalah sungai di surga dan tidak menafsirkannya dengan makna yang lain, adapun penafsiran yang bermakna kebaikan yang berlimpah adalah tafsiran yang lebih melihat kepada asal kata kautsar itu sendiri dalam bahasa Arab, sebagaimana Muharib bin Ditsar menceritakan dari Said bin Jubair tentang tafsir Al-Kautsar berkata: “Telah berkata kepada kami Abdullah bin Abbas bahwa dia adalah kebaikan yang melimpah.” Tapi Muharib bin Ditsar mengelak dan mengatakan bahwa dia pernah mendengar Ibnu Umar menceritakan ketika turun surat Al-Kautsar maka Nabi pun mengatakan dia adalah sungai di surga.

Kemudian Asy-Syaukani menambahkan bahwa jika Ibnu Abbas menafsirkannya dengan kebaikan yang melimpah sesuai dengan asal katanya dalam bahas Arab, tapi telah shahih perkataan Nabi kita yang menjelaskan dia adalah sungai di surga maka sungai Allah yang hakiki lebih didahulukan daripada sungai yang diakali.

Adapun menafsirkan Al-Kautsar sebagai Al-Haudh adalah pendapat yang juga bisa dikritisi sebagaimana ketidakpastian pemegang pendapat ini. Imam Al-Qurthubi dalam At-Tadzkirah (hal.263) mengatakan bahwa ada dua haudh di hari kiamat kelak, yang pertama di padang mahsyar sebelum shirath dan yang kedua ada di dalam surga dan keduanya dinamakan Al-Kautsar. Ketidakpastian inilah yang juga memperkuat bahwa Al-Haudh beda dgn Al-Kautsar sebgaimana dijelaskan dalam hadits-hadits yang shahih.

Sifat Al-Kautsar

Dengan membaca beberapa riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka sifat Al-Kautsar ini bisa disimpulkan sebagai berikut, di antaranya:

  1. Sungai di dalam surga
  2. Khusus untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  3. Kebaikannya sangatlah melimpah.
  4. Memiliki dua pancuran yang mengarah ke Al-Haudh (telaga Nabi).
  5. Di antara sungai-sungai surga yang paling melimpah airnya dan paling banyak kebaikannya, paling besar ukurannya.
  6. Dua tepi sungai ini terbuat dari kubah mutiara yang berongga, dalam riwayat lain disebutkan terbuat dari emas.
  7. Tanahnya terbuat dari parfum misk yang semerbak wanginya.
  8. Bejana untuk minumnya sebanyak hitungan bintang. Sahabat Hudzaifah meriwayatkan bahwa gelas untuk minumnya terbuat dari emas dan perak hanya Allah yang mengetahui jumlahnya.(HR Thabrany dalam Al-Ausath no.1974)
  9. Kerikilnya dari intan dan permata.
  10. Lebih harum dari misk, lebih manis dari madu, airnya lebih putih dari susu dan lebih dingin dari salju.
  11. Sungai ini mengalir di atas permukaan tanah dan tidak memiliki saluran seperti sungai di dunia.
  12. Lebarnya seperti jarak antara kota Shan’a di Yaman ke kota Aila di negeri Syam.
  13. Ada burung-burung yang hinggap di sungai ini yang lehernya panjang dan besar dan siap untuk disembelih oleh mereka yang meminum darinya sebagai bentuk kesempurnaan minum dari Al-Kautsar.(HR Tirmizi 5641).

Semoga Allah memberikan kepada kita kesempatan untuk bisa menikmati segarnya air dari Al-Kautsar ini. Amiin.

You might also like More from author

Leave a comment
k