Allah menginginkan bagi kalian kemudahan

Muqaddimah

Dalam syariat shaum yang agung terdapat pesan ilahy yang mungkin jarang kita renungkan, meskipun terbaca sangat jelas pada ayat-ayat shaum dalam surah al baqarah terutama ayat 183-185. Pesan tersebut adalah tentang kemudahan islam dan syariat- syariatnya, di mana Allah ta’ala menyebutnya secara gamblang dalam petikan firmanNya:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْر

Artinya: Allah menginginkan bagi kalian kemudahan, dan (Allah) tidak menginginkan bagi kalian kesulitan.

Kemudahan sebagai prinsip mendasar dalam islam dan syariat-syariatnya

Kemudahan adalah prinsip yang sangat mendasar dalam islam dan syariat-syariatnya, hal tersebut di tunjukan oleh dalil- dalil naqli, aqli, maupun fitrah.

Adapun dalil- dalil naqli ( alquran dan hadis), banyak sekali kita dapatkan penegasan tentang prinsip kemudahan tersebut, baik secara eksplisit maupun implisit. Di antara dalil-dalil naqli yang secara gamblang menegaskan prinsip kemudahan adalah:

  1. Firman Allah dalam surah al baqarah: 185

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْر

Artinya: Allah menginginkan bagi kalian kemudahan, dan ( Allah) tidak menginginkan bagi kalian kesulitan

  1. Firman Allah dalam surah al-haj: 78

وَما جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

Artinya: dan tidaklah (Allah) menjadikan atas kalian keberatan dalam agama islam

  1. Firman Allah dalam surah al-maaidah: 6

مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ

Artinya: tidaklah Allah hendak menjadikan keberatan atas kalian.

Demikian juga ayat- ayat yang melarang ghuluw (berlebih-lebihan) dalam beragama, seperti:

  1. Firman Allah dalam surah an-nisa: 171

يا أَهْلَ الْكِتابِ لا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ

Artinya: wahai ahli kitab jangankan kalian berlebih-lebihan dalam (mengamalkan) agama kalian

  1. Firman Allah dalam surah al-maidah: 77

قُلْ يا أَهْلَ الْكِتابِ لا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ

Artinya: katakanlah (muhammad): wahai ahli kitab jangankan kalian berlebih-lebihan dalam (mengamalkan) agama kalian.

Prinsip kemudahan dan larangan berlebihan dalam beragama juga ditegaskan Dalam hadis- hadis Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam, seperti:

  1. Hadits dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu’anhuma dia berkata:

قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم غداة العقبة وهو على راحلته: “هات التقط لي. فلقطت له حصيات هن حصى الخذف، فلما وضعتهن في يده قال: بأمثال هؤلاء. بأمثال هؤلاء. وإياكم والغلو في الدين فإنما أهلك من كان قبلكم الغلو في الدين) رواه النسائي، وابن ماجه واللفظ للنسائي وإسناده صحيح.

Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku pada padi hari ‘Aqabah (hari melempar jumrah pertama dalam rangkaian ibadah haji), dan saat itu beliau berada di atas kendaraannya:’Kemarilah, ambilkan (kerikil) untukku’ Maka aku ambilkan untuk beliau kerikil-kerikil, dan kerikil-kerikil itu (yang aku ambil) adalah batu-batu yang digunakan untuk melempar ketapel, maka ketika aku letakkan di tangan beliau, beliau berkata:’Dengan (kerikil) yang seperti mereka, dengan yang seperti mereka dan waspadalah kalian dari sikap ghuluw dalam beragama, karena sesungguhnya yang membinasakan umat-umat sebelum kalian adalah ghuluw dalam beragama’.”(HR. An-Nasaai, Ibnu Majah dan lafazhnya milik an-Nasaai dan sanadnya shahih).

  1. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dia berkata:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم (هلك المتنطعون) قالها ثلاثاً. رواه مسلم وعند أبي داود (ألا هلك المتنطعون قالها ثلاثاً) قال النووي : أي المتعمقون الغالون المجاوزون الحدود في أقوالهم وأفعالهم .

Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:’Binasalah al-Mutanathi’un’ Beliau mengucapkanya tiga kali.”(HR. Muslim) dan di riwayat Abu Dawud:”Ketahuilah, binasalah al-Mutanathi’un (tiga kali).” Imam Nawawi rahimahullah berkata:”(al-Mutanathi’un)Yaitu orang yang berbelit-belit, berlebih-lebihan dan melampui batas dalam ucapan mereka dan perbuatan mereka.

  1. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

( إن الدين يسر ولن يشاد الدين أحد إلا غلبه، فسددوا وقاربوا وأبشروا واستعينوا بالغدوة والروحة وشيء من الدلجة) البخاري .

Artinya: “Sesungguhnya agama ini mudah (untuk dijalankan), dan tidaklah seseorang mempersulit agama ini melainkan dia akan dikalahkannya, maka berusahalah untuk benar (sesuai sunah Nabi), atau (kalau tidak bisa) dekatlah dengan kebenaran, dan bergembiralah (dengan pahalanya), minta bantuanlah dengan (melaksanakan ketaatan) di waktu pagi, sore, dan sebagian malam hari” (HR.Al-Bukhari)

Kemudian, prinsip kemudahan dan larangan berlebihan dalam beragama juga sangat relevan dan sesuai dengan naluri akal, fitrah dan jiwa manusia. Oleh Karena itu kesulitan dan perasaan terbebani yang ditimbulkan oleh sikap berlebih-lebihan dalam beragama, sangat kontradiktif dengan naluri akal,fitrah, dan jiwa manusia.

Sebagai contoh, Akal seorang muslim dapat menerima kewajiban ibadah shaum dari mulai terbit fajar hingga terbenam matahari, karena ibadah tersebut sesuai dengan fitrah dan kemampuan insan yang sehat, sehingga mudah untuk dilakukan. Lain halnya bilamana ibadah shaum yang diwajibkan 1 x 24 jam atau lebih, tentu tidak sesuai dengan fitrah dan kemampuan insan yang sehat, oleh karenanya sangat berat dan sulit untuk dilakukan.

prinsip kemudahan dalam ayat- ayat shaum

Di antara tujuan penting dari tadabur ayat- ayat shaum di bawah ini adalah mengetahui landasan-landasan prinsip kemudahan yang ada dalam ibadah shaum ramadhan. Kemudian landasan-landasan tersebut bisa dijadikan sebagai kiat- kiat praktis yang bisa kita terapkan dalam ibadah- ibadah lain yang masih terasa berat untuk dilakukan, karena pada prinsipnya – sebagaimana yang telah dijelaskan- bahwa islam dan syariat-syariatnya mudah untuk diterapkan. Bila ibadah shaum ramdhan saja yang merupakan rukun islam mudah untuk dilakukan, maka ibadah- ibadah lain yang tidak termasuk rukun islam dan hanya bersifat sunnah saja tentu lebih mudah untuk dilakukan.

Adapun landasan-landasan prinsip kemudahan dalam ayat- ayat shaum yang bisa kita ketahui adalah:

  1. panggilan Allah bagi orang-orang yang beriman (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ),

Di mana panggilan tersebut mampu mengembuskan ruh ketundukan kepada Allah, serta kesiapan yang didorong oleh keimanan dan kecintaan untuk memenuhi panggilan tersebut. Apalagi bila panggilan tersebut datang dari Allah ‘azza wa jalla. Abdullah bin mas’ud pernah berkata:

إذا سمعت الله يقول: {يا أيها الذين آمنوا} فأرعها سمعك. فإنه خير يأمر به، أو شر ينهى عنه

Artinya: bila engkau mendengar  {يا أيها الذين آمنوا}, maka simaklah (dengan baik), karena hal itu sesungguhnya (berupa) kebaikan yang diperintahkan, atau keburukan yang dilarang.

Mungkin timbul pertanyaan kecil, apa hubungan antara panggilan {يا أيها الذين آمنوا} dengan prinsip kemudahan?

Jawaban untuk  pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut:

sumber ketundukkan dan ketaatan adalah hati, karena hati adalah pemimpin bagi anggota tubuh yang lain, maka bila hati tunduk dalam ketaatan, maka secara otomatis anggota tubuh yang lain akan mengikuti. Dan tidak ada yang mampu menundukkan hati untuk ketaatan selain iman kepada Allah. Dan inilah ketundukkan yang sejati, yaitu tunduknya hati karena iman kepada Allah ta’ala, bukan ketundukkan karena materi dunia atau syahwat manusia. Oleh karenanya setiap mukmin wajib untuk senantiasa memperhatikan keadaan imannya, apakah naik atau menurun, bertambah atau berkurang. Bila ia mendapatkan hati dan anggota tubuhnya mudah dan bersegera dalam ketaatan maka bersyukurlah karena iman yang ia miliki sedang naik dan bertambah, namun jika mendapatkan hati dan anggota tubuhnya merasa berat dan malas dalam ketaatan atau cenderung ingin berbuat kemaksiatan, maka segeralah sadar dan bertaubat karena itu adalah tanda lemah dan berkurangnya iman.

  1. Kebersamaan dalam ibadah shaum

Dalam  firman Allah ta’ala :

كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ

Artinya: Sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian.

Terdapat sebuah isyarat, bahwa shaum yang diwajibkan kepada kaum mukminin sangat mudah untuk dilakukan, karena shaum tersebut telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum mereka, dan mereka pun mampu melakukannya. Karena Sudah menjadi hal yang lumrah bahwa suatu pekerjaan seberat apapun, bila dilakukan bersama akan terasa ringan dan mudah.

Demikian juga dengan ibadah-ibadah yang lain, bila kita masih merasa berat melakukannya, maka ingatlah bahwa kita tidak melakukan ibadah tersebut sendirian, banyak kaum mukminin yang lain melakukan ibadah yang sama. Bahkan terkadang kita mendapatkan orang yang lebih kurang dari kita baik secara fisik, pendidikan, materi, atau pekerjaan, lebih baik dalam melakukan ibadah dan ketaatan. Di antara mereka Ada yang buta namun mampu menghafal al-quran, ada juga di antara mereka memiliki gaji atau pemasukan lebih kecil dari gaji yang kita miliki, namun mereka tidak pernah hitung- hitungan untuk bersedekah, banyak juga yang hanya berpendidikan sd/smp namun tidak pernah tertinggal shalat berjamaah…..

Oleh karenanya marilah berlomba-lomba dalam ibadah dan ketaatan sebelum terlambat dan ditinggalkan oleh kaum mukminin yang lain.  

  1. Tujuan shaum adalah takwa

Allah berfirman:

لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: agar kalian bertakwa.

Setiap kita mengetahui bahwa hikmah diwajibkannya shaum adalah agar kita menjadi orang yang bertakwa. Namun barangkali, kita jarang menyadari bahwa tujuan  mulia tersebut telah menjadikan hati dan tubuh kita mudah melaksanakan kewajiban shaum tersebut.

Secara umum, mengetahui tujuan sebuah pekerjaan akan memudahkan dan meringankan dalam menunaikannya,  apalagi bila tujuan sangat mulia, maka siapa saja akan mengorbankan apa saja yang dimiliki demi mencapai tujuan tersebut.

Dalam ibadah shaum, menahan makan dan minum menjadi ringan bila melihat tujuan yang akan diraih yaitu takwa yang merupakan ukuran kemuliaan di sisi Allah ta’ala. Demikian juga ibadah-ibadah lain yang masih terasa berat dalam menunaikannya, bila kita mengetahui bahwa tidak ada yang mampu mendekatkan seseorang kepada Allah, dan menjauhkannya dari siksa neraka selain ibadah, maka tentu kita akan membuang rasa berat ketika menunaikannya.

  1. Shaum hanya beberapa hari

Allah berfirman:

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ

Artinya: ( shaum diwajibkan hanya pada) hari –hari yang terhitung.

Maksudnya, waktu diwajibkannya shaum sudah dibatasi, hanya di bulan Ramadhan saja, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Bila kita cermati, akan kita dapati bahwa Allah telah menjelaskan kadar dan ukuran seluruh ibadah yang yang Ia syariatkan, Baik dari segi waktu, tempat maupun tata cara ibadah tersebut, Sehingga memudahkan kita dan merasa ringan dalam melaksanakannya. Sebagai contoh adalah ibadah shaum, hanya diwajibkan pada bulan Ramadhan saja sebanyak 29 atau 30 hari dalam setahun, sedangkan pada hari-hari yang lain sebanyak 330 hari, setiap kita bebas untuk makan dan minum. Kewajiban yang lain adalah shalat 5 kali yang ditunaikan dalam waktu yang relatif singkat. dan di luar waktu shalat tersebut kita bebas beraktivitas. demikian juga dengan kewajiban zakat yang telah dibatasi kadarnya (nisab), dan dikeluarkan hanya setahun sekali, bahkan ibadah haji hanya wajib satu kali seumur hidup bagi yang mampu, dan bisa dilakukan hanya dalam 4- 5 hari saja. Subhaanallah!!! Bukankah sangat mudah?

Bila prinsip kemudahan sangat kental kita dapatkan pada ibadah-ibadah wajib yang merupakan rukun islam, maka prinsip kemudahan tersebut lebih kental kita dapati dalam ibadah-ibadah sunnah yang tidak termasuk rukun-rukun islam. Lantas mengapa di antara kita masih enggan shalat sunnah malam meskipun hanya satu rakaat?, atau malas membaca al quran 2 atau 3 halaman?, atau tidak suka memelihara janggut padahal tidak akan mengurangi ketampanan?, dan ibadah-ibadah lain yang masih kita tinggalkan, tidak lain karena lemahnya iman yang ada dalam hati kita, serta kejahilan akan keutamaan ibadah-ibadah tersebut.

  1. Keringanan- keringanan ( rukhshah) dalam ibadah shaum

Allah ta’ala berfirman:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya: Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan (puasa), maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”.

Adanya keringanan- keringanan dalam ibadah shaum adalah sebuah isyarat tentang prinsip kemudahan dalam syariat Allah. Karena Allah maha mengetahui kondisi setiap hambaNya, ada di antara mereka yang sakit, atau sudah tua renta, atau dalam perjalanan, maka Allah tidak memaksa mereka untuk melakukan syariatnya, namun Allah, justru lebih mempertimbangkan kemudahan bagi mereka.

Inilah wajah islam dan syariatnya yang sesungguhnya, penuh dengan kemudahan dan keringanan. Oleh karenanya ketika kita merasa berat ketika dalam beribadah dan ketaatan, ingatlah bahwa ibadah-ibadah tersebut sangat mudah dan ringan dibanding dengan aktivitas-aktivitas yang lain, namun karena iman yang lemah dan ilmu yang minim tentang syariat Allah, sehingga perasaan berat dan malas selalu mendatangi hati kita setiap akan atau dalam melakukan ibadah.

  1. Penegasan Allah tentang prinsip kemudahan

Allah berfirman:

   يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْر

Artinya: Allah menginginkan bagi kalian kemudahan, dan ( Allah) tidak menginginkan bagi kalian kesulitan

Ayat tersebut merupakan penegasan final tentang prinsip kemudahan dalam islam dan syariat-syariatnya. Dengan kalimat-kalimat yang jelas tidak ada kesamaran sedikit pun, diucapkan langsung oleh yang maha membuat syariat- syariat tersebut, menunjukkan bahwa tidak ada penegasan yang lebih kuat dari itu. Oleh karenanya, masihkah ada keraguan dalam hati orang-orang yang beriman tentang prinsip kemudahan islam dan syariat-syariatnya? Masihkah ada pertanyaan tentang kemudahan dalam ibadah-ibadah yang Allah perintahkan? Dan masih adakah prasangka bahwa larangan-larangan Allah berat untuk ditinggalkan?

Pesan penting lain dari ayat tersebut adalah, hendaknya “kemudahan/ memudahkan” bisa menjadi prinsip dalam kehidupan kita. Baik ketika berhubungan secara vertikal kepada Allah, maupun ketika berhubungan secara horizontal kepada sesama manusia. Karena hal tersebut adalah manhaj hidup Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam, sebagaimana yang pernah dituturkan oleh Aisyah radliyallahu ‘anha:

ما خير رسول الله صلى الله عليه وسلم بين أمرين إلا اختار أيسرهما ما لم يكن إثما

Artinya: Tidaklah Rasulullah diberi pilihan di antara dua perkara, kecuali beliau memilih yang lebih mudah atau ringan, selama yang lebih mudah itu bukan perbuatan dosa.( bukhori- muslim)

Dan manhaj ini adalah wasiat beliau kepada para sahabatnya, yang wajib diteladani oleh umat setelahnya:

يَسِّرُوْا وَلَا تُعَسِّرُوْا وَبَشِّرُوْا وَلَا تَنَفَّرُوْا وَكَانَ يُحِبُّ الْتَخْفِيْفِ وَالتَّيْسِيرِ عَلَى النَّاسِ

Artinya: Permudahkanlah dan jangan kamu persulit, dan bergembiralah dan jangan bercerai berai, dan beliau suka pada yang ringan dan memudahkan manusia (H.R Bukhori).

Beliau juga bersabda:

إنما بعثتم ميسرين ولم تبعثوا ولم تبعثوا معسرين

Artinya: Kalian semua (kaum Muslimin dengan perantara Nabi SAW) diutus untuk memberi kemudahan; tidak untuk menyulitkan”( muttafaqun ‘alaih).

Penutup

Demikian, sedikit faedah yang bisa dipetik dari tadabur ayat-ayat shaum, masih banyak faedah- faedah lain yang bisa digali sebenarnya, namun karena keterbatasan kemampuan, mudah-mudahan faedah yang telah disebutkan tadi menambah keyakinan kita terhadap Allah, dan mengokohkan aqidah islam, serta meneguhkan kita untuk menerapkan syariat-syariatnya secara kaffah dalam kehidupan .

Beberapa faedah yang bisa disimpulkan adalah sebagai berikut:

  1. Kemudahan islam dan syariatnya, tidak ada beban dan keberatan di dalamnya.
  2. Allah menjamin kemudahan dalam melaksanakan islam beserta syariat-syariatnya, karena Allah tidak menghendaki kesulitan sedikitpun bagi hambaNya.
  3. Lemahnya iman serta minimnya ilmu syar’i adalah sebab terbesar yang akan menimbulkan perasaan berat dan malas untuk melakukan ibadah atau menerapkan syariat islam dam kehidupan.
  4. Bila Allah menghendaki kemudahan bagi hambaNya, dan tidak menghendaki kesulitan sedikitpun, maka hendaknya setiap muslim meneladani hal tersebut dalam kehidupannya, baik terhadap diri sendiri, keluarga, maupun orang lain.

Wallahu’a lam bishowab

وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين.  

You might also like More from author

Leave a comment
k