Wahana Berbagi Ilmu dan Menebar Dakwah

Syamatah: Bergembira Dengan Kesalahan atau Musibah Orang Lain

205

Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara.” (QS. Al-Hujurat 10). Bila seorang muslim sedih, hendaknya muslim lainnya turut merasakan kesedihan yang ia alami. Bila ia memerlukan bantuan dan pertolongan, yang lain pun bersegera mengulurkan tangan meringankan bebannya. Bila ia tersalah, hendaknya ia menasehatinya dengan baik-baik, bukan malah kegirangan karenanya. Bahkan, seorang muslim tidak akan sempurna keimanannya sampai ia harus rida dan memiliki keinginan atau hasrat agar kebaikan yang ia raih, hendaknya juga dirasakan oleh saudara muslimnya yang lain. Ibaratnya, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

Dalam berbagai hadis, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam begitu memotivasi akhlak dan kepribadian muslim seperti ini, di mana menunjukkan bahwa islam adalah satu agama yang sangat luar biasa dalam memperhatikan keutuhan tatanan sosial suatu masyarakat, dan keberlangsungan kerukunan antara mereka, agar tetap hidup dalam damai, aman, dan sejahtera. Di antara sekian sabda beliau tersebut adalah: “Janganlah kalian saling mendengki, janganlah saling mencurangi, janganlah saling membenci, janganlah saling membelakangi dan janganlah sebagian kalian menjual atas penjualan sebagian yang lainnya. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara! Seorang muslim adalah bersaudara, janganlah menzaliminya, merendahkannya dan janganlah mengejeknya!.” (HR. Muslim: 2564)

Juga sabda beliau: “Perumpamaan kaum mukminin dalam hal kecintaan, kasih sayang, dan bahu-membahu sesama mereka, bagaikan satu tubuh, bila ada anggota tubuh itu yang menderita, niscaya anggota tubuh lainnya akan sama-sama merasakan susah tidur dan demam.”. (HR. Bukhari: 6011, dan Muslim: 2586)

Juga bersabda: “Tidak sempurna iman seorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukhari: 13, dan Muslim: 45).

Oleh karena itu, islam sangat mencela sikap “syamatah” atau bergembira dengan kesalahan, aib, musibah, bencana, dan kesusahan yang ada pada diri muslim lainnya. Karena selain hal ini sangat bertentangan dengan berbagai adab-adab keislaman yang tertera dalam hadis-hadis di atas, juga sikap ini memiliki sisi keburukan lainnya, di antaranya:

  1. Sikap ini merupakan salah satu dosa besar, dan menunjukkan buruknya akhlak dan hati pemiliknya. Sebab sikap buruk ini mesti berasal dari hati yang dengki, hasad, iri, dan pendendam.
  2. Sikap seperti ini merupakan sikap utama Kaum Yahudi dan orang-orang kafir. Hal ini telah disinggung oleh Allah dalam berbagai firman-Nya, di antaranya: “Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS Ali ‘Imran: 120)
  3. Sikap “syamatah” merupakan penyebab yang akan mendatangkan bencana bagi pelakunya, atau membuka aib dirinya. Sebab itu, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam melarang keras sikap “syamatah” ini sebagaimana dalam hadisnya: “Janganlah engkau menampakkan sikap “syamatah” (bergembira dengan adanya aib dan musibah) pada saudaramu, sehingga Allah berubah merahmatinya dan memberikan musibah (atau aib itu) pada dirimu.” (HR Tirmizi: 2506, hasan).
  4. Ia merupakan satu bentuk kezaliman, karena ia salah satu jenis olok-olok dan cemohan terhadap orang lain. Dan Allah Ta’ala telah melarang keras hal ini: “Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS Al-Hujurat: 11).

Olehnya itu, sudah sepantasnya bagi seorang muslim, bila melihat aib orang lain, hendaknya ia menasihatinya dan tidak boleh merasa girang karenanya, karena sifat orang-orang yang beriman itu adalah saling menasihati sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala: “Dan mereka saling nasehat menasehati dalam kebaikan, dan saling menasehati dalam kesabaran.” (QS Al-‘Ashr: 3).

Juga bila seorang muslim melihat adanya musibah yang menimpa muslim lainnya, agar ia turut merasakan kesedihannya, dan menghiburnya, membantu meringankan bebannya serta tidak bergembira karenanya. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam telah bersabda: “Barangsiapa yang menghilangkan kesusahan seorang muslim maka niscaya Allah akan menghilangkan kesusahan-kesusahannya pada hari kiamat, barangsiapa yang memudahkan orang yang lagi dalam kesusahan maka niscaya Allah akan memudahkan atasnya kesusahan di dunia dan akhirat dan barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat, senantiasa Allah di dalam menolong seorang hamba selam dia menolong saudaranya”. (HR. Muslim: 2699)

Seseorang yang menjadi korban sikap “syamatah” ini tentunya sangat merasa terhina, dan dipermalukan dengannya. Dengannya, kehormatannya akan terjatuh, ia akan menjadi bahan olok-olokkan, dan akan mendapatkan cela dan malu yang luar biasa. Sebab itu, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dahulu selalu berdoa agar para musuhnya tidak menerapkan sikap “syamatah” untuk diri beliau, sebagaimana dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam berlindung (kepada Allah Ta’ala) dari musibah yang tidak kuat ditanggung, sebab-sebab datangnya kebinasaan, takdir yang membawa akibat buruk dan kegembiraan musuh.” (HR. Bukhari: 6347 dan Muslim: 2707)

Bahkan Nabi Harun ‘alaihissalam telah meminta pada Nabi Musa ‘alaihissalam agar ia tidak dihukum yang dengan hukuman itu, musuh-musuh mereka berdua akan merasa senang dan gembira, sebagaimana dikisahkan dalam Al-Quran: “Harun berkata: “Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang lalim”. (QS Al-A’raf: 150).

Marilah kita semua menjauhi sikap tercela dan dosa besar yang satu ini, dan juga marilah selalu memohon perlindungan kepada Allah dari sikap “syamatah” orang lain pada kita, sebagaimana yang ditunjukkan oleh Nabi kita, Shallallahu’alaihi wasallam.

Leave A Reply

Your email address will not be published.