Posisi Para Reformis di Masa Fitnah dan Krisis (1)

79

Sebelum membahas posisi para reformis di masa fitnah dan krisis, ada dua poin penting yang perlu dipahami bersama:

Sunnatullah dalam Cobaan

Ujian dan cobaan adalah sunnatullah yang pasti menimpa orang-orang terdahulu, sekarang dan yang akan datang hingga dunia berakhir.  Firman Allah ta’ala:

“Alif laam miim . Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. al-Ankabut: 1-3)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian mushlihun/para reformis, kemudian yang lebih rendah derajatnya, lalu yang lebih rendah lagi derajatnya. Seseorang diuji sesuai kadar keimanannya. Jika agamanya kuat, maka ujiannya bertambah berat.” [1]

Korelasi antara Maksiat dengan Musibah

Selain sunnatullah bahwa setiap mukmin pasti diuji, ada sunnatullah lain yang perlu diingat dengan baik, yakni adanya korelasi kuat antara dampak maksiat dan dosa dengan musibah dan penderitaan. Begitu pula kelalaian dalam menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya. Meski kesalahan tersebut dilakukan oleh sahabat Rasulullah, generasi terbaik ummat ini. Renungilah firman Allah tentang sahabat di perang Uhud:

“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata: ‘Dari mana datangnya (kekalahan) ini?’ Katakanlah: ‘Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri’. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Ali Imran: 165)

Allah ta’ala juga berfirman:

“Dan setiap musibah yang menimpa kalian, disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan tersebut).” (QS. Asy Syura: 30)

Dalam kasus ini, tak jarang kita curiga kepada orang yang ditimpa musibah, barang kali ada maksiat atau penyimpangan yang mereka lakukan. Sebaliknya, sadar atau tidak kita menganggap diri bersih dan suci. Atau menganggap suatu musibah yang menimpa terjadi karena orang lain, sembari menganggap diri sendiri bersih dari maksiat dan dosa. Padahal tak ada manusia yang luput dari salah dan dosa, walau seringkali banyak dosa yang tidak kita sadari. Maka hendaklah kita introspeksi diri saat musibah menimpa. Juga menuduh diri sendiri dengan berbagai dakwaaan, akan tetapi jangan sampai menyurutkan semangat dari amal ibadah, melainkan introspeksi yang dapat memperbaiki dan menuntun jalan hidup.

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sungguh kalian mengerjakan beberapa amalan yang menurut kalian lebih remeh daripada sehelai rambut, padahal kami dahulu semasa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menganggapnya dosa besar yang menghancurkan.” [2]

Tentang dampak dan efek maksiat, Ibnu Qayyim mempunyai ungkapan indah. Dalam Kitab al-Da’u wa al-Dawa’u, beliau menulis: “Ada beberapa jenis kemungkaran yang tidak dipedulikan oleh sebagian orang baik. Ini adalah musibah besar, karena ia tidak marah saat menyaksikan kemungkaran tersebut,dan  tidak pula melarangnya.”

Beliau  menambahkan: “Adakah agama dan kebaikan pada seorang muslim, ketika ia menyaksikan perkara yang diharamkan Allah dilanggar terang-terangan, agama-Nya ditinggalkan, dan sunnah Rasul-Nya dibenci, sementara hatinya membeku, diam seribu bahasa, bagai setan yang bisu… .” [3]

Syekh Hamd bin Atiq rahimahullah menulis: “Seandainya seseorang senantiasa puasa, qiyamullalil, dan zuhud terhadap dunia. Namun ia tidak marah melihat kemungkaran, tidak menyuruh kepada yang ma’ruf, tidak pula mencegah kemungkaran tersebut. Maka ketahuilah bahwa orang tersebut adalah manusia yang paling dibenci Allah, dan paling rendah agamanya.”

Beliau kemudian menukil ucapan Syekh Muhammad at Tamimi rahimahullah, beliau menceritakan:

Aku menyaksikan sebagian orang yang gemar duduk di masjid membaca Al-Qur’an sampai menangis. Namun mereka tidak mau menyeru kepada kebaikan, dan ketika melihat kemungkaran mereka tidak melarangnya. Orang-orang sekitar berkata: ‘”Mereka adalah orang-orang beruntung.’ Syekh berkata: ‘Mereka adalah orang-orang merugi.’ Salah seorang  menimpali, ‘saya tidak tega mengatakan mereka merugi.’ Maka Syekh berkata lagi: ‘Mereka sama saja dengan orang tuli dan bisu.'” [4]

Intinya, kita semua perlu introspeksi diri, meneliti penyebab penyimpangan pribadi maupun manhaj, agar diri dan masyarakat kita terhindar dari bahaya maksiat.

Kembali kepada pertanyaan semula; Di manakah posisi para reformis saat fitnah dan krisis melanda?

Maksudnya, di mana seharusnya posisi para reformis?, partisipasi apa yang harus mereka lakukan untuk mencegah terjadinya fitnah?, dan peran positif apa yang bisa diajukan untuk mengatasi fitnah jika telah terjadi?. Artikel ini  mengajukan beberapa solusi, berupa kewajiban, prakarsa, proyek, dsb.

Peribahasa Arab mengatakan, nilai seseorang sesuai kemampuannya menempatkan diri. Lebih indah dari ungkapan ini firman Allah Ta’ala:

“(yaitu) bagi siapa di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur.” (QS. Al Muddatstsir: 37)

Meluruskan Istilah Fitnah dalam Aplikasi Nyata

Pengertian fitnah dalam terminologi syari’at sudah banyak dibahas dalam berbagai karya tulis. Namun meluruskan istilah ini dalam aplikasi nyata masih sangat minim. Sebagian orang menjadikan fitnah sebagai alasan untuk mengisolasi diri saat krisis terjadi dan mundur dari medan jihad lisan dengan menyampaikan kebenaran atau membantah kebatilan. Padahal jika kebenaran terlihat dengan nyata, maka seorang muslim wajib menyampaikannya pada saat yang tepat, tentu dengan tetap mengindahkan al-hikmah (bijaksana dalam dakwah), serta komparasi antara maslahat dengan mafsadat. Dia tidak boleh membisu atau enggan menyampaikan kebenaran dan menentang kemungkaran.

Bersabar atas Cobaan

Seorang mukmin sejati takkan pernah terlepas dari ujian dan cobaan, sesuai dengan kualitas perjuangannya. Inilah jalan yang ditempuh oleh para Nabi dan Rasul Allah serta para pengikut mereka. Pada saat cobaan menimpa tidak boleh berkeluh kesah, marah, gelisah apalagi putus asa. Tetapi harus tetap mengharap pahala, memperbaiki niat, dan bergembira dengan takdir Allah. Tidak dibenarkan pula mengharap bertemu musuh atau membebani diri di luar batas kemampuan.

Manusia senantiasa berputar antara ‘azimah dan rukhshah. Karenanya yang terpenting adalah kesabaran tertinggi disertai usaha maksimal.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak patut seorang mukmin merendahkan dirinya sendiri atau menyongsong cobaan yang tidak ia sanggupi.” ([5])

Nama Baik

Kendati kesabaran mendatangkan pahala yang sangat besar, bahkan sebagaimana dalam hadits disebutkan: “Senantiasa cobaan menimpa seorang mukmin dan mukminah, pada dirinya, anaknya, dan hartanya; hingga ia bertemu Allah tanpa membawa satu  dosa pun.”([6]) Akan tetapi balasan ini kadang alpa dari benak manusia, bahkan dari orang yang sedang ditimpa musibah atau cobaan. Padahal perkara yang dapat menjadi pelipur lara adalah nama baik atau sebutan bagi orang beriman yang ditimpa bala.

Ibnu Qayyim berkata:

Di antara sekian banyak nikmat besar yang dianugerahkan Allah bagi hamba-Nya adalah dengan meninggikan nama dan derajatnya di semesta alam. Sebutan baik adalah anugerah yang telah dijanjikan Allah kepada para Nabi dan Rasul-Nya.  Seperti firman Allah:

“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishak dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat.” (QS. Shaad: 45-46)

Firman Allah tentang do’a Nabi Ibrahim alaihissalam:

Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang yang datang kemudian. (QS. asy-Syu’araa: 84)

Dan tentang Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, Allah berfirman:

Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama) mu (QS. al-Syarh: 4)

Karenanya para pengikut Rasul juga mendapat bagian sesuai dengan kadar ketaatan dan kepatuhan masing-masing. Sebaliknya orang yang berpaling akan tereliminasi dari keutamaan agung ini sesuai besar maksiat dan penyimpangannya.([7])

Fakta ini telah terbukti dari dulu sampai saat ini. Betapa banyak orang jujur dan baik dimusuhi dan dizhalimi. Kezhaliman itu kemudian justru mengharumkan namanya, sehingga orang yang tak pernah melihat atau mendengar tentang dia menjadi kenal dan mencintainya.

Jika Allah berkehendak menebarkan kemuliaan yang ditutupi, maka Allah pasti mengangkatnya meski dengan perantara lisan pendengki…

Bersambung ….([8])

_____________________________

[1] HR. Ahmad, no. 1493.

[2] HR. Bukhari, no. 6492

[3] I’lam al-Muwaqqi’in, jilid II, h. 176.

[4] Al-Durar al-Saniyyah, jilid VIII, h. 78.

[5] HR. Tirmidzi, no.2254, Ibn Majah, no. 4016

[6] HR. Tirmidzi, no. 2399

[7] Al-Da’u wa al-Dawa’, h. 114.

[8] Artikel ini adalah terjemahan dari artikel berjudul (أين مواقع المصلحـين حين الشدائد والفتن), karya Prof. DR. Sulaiman bin Hamd al-Audah.  Sumber:  https://www.albayan.co.uk/mobile/MGZarticle2.aspx?ID=3150

Leave A Reply

Your email address will not be published.