Sistem Pendidikan Berbasis Al Qur’an Sebagai solusi (Bag. 2)

Manusia sebagai makhluk Allah Subhanahu wata’ala terdiri dari akal, ruh, dan jasad. Ini yang membedakannya dengan makhluk yang lain dan menjadikannya sebagai makhluk yang paling sempurna penciptaannya.

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَان فِي أَحْسَن تَقْوِيم

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4)

Sistem pendidikan yang berkembang era ini sangat berorientasi pada materi. Sehingga sering mengesampingkan nilai-nilai agama, moral, dan sosial yang merupakan bagian penting tak terpisahkan dari pendidikan untuk mewujudkan manusia seutuhnya (tetap berada pada kedudukannya sebagai makhluk yang mulia). Maka perhatian terhadap pendidikan yang komprehensif (menyeluruh) menjadi hal yang tidak bisa lagi ditawar penerapannya. Betapa tidak? Kondisi umat Islam dan masyarakat dunia secara umum telah berada pada titik bawah peradaban moral kemanusiaan yang lebih dekat dengan derajat kebinatangan.

Kembali Kepada Al-Quran adalah sebuah keniscayaan

  1. Al-Quran diturunkan dari Rabbul alamin, yang mendidik makhlukNya, mengatur alam semesta dengan segala isinya secara sempurna, mencukupi segala kebutuhannya, dan tidak ada sesuatu pun yang luput dari Allah Subhanahu wata’ala.

 مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ… 

“Tiadalah sesuatu pun yang terluput di dalam Al-Quran, kemudian kepada Tuhanlah mereka dikumpulkan.” (QS. Al-An’am: 38)

Pendidikan yang keliru dan tidak komprehensif (baca: Menyeluruh( berpotensi untuk merusak fitrah manusia dan menjadikannya dicampakkan pada kedudukan yang hina.

Allah berfirman:

ثُمَّ رَدَدْنٰهُ اَسْفَلَ سَافِلِيْنَ

“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.”(QS. At-Tin: 5)

Allah juga berfirman:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 179)

Mereka yang tidak dapat mendengar kebenaran dan tidak pula membelanya, serta tidak dapat melihat petunjuk, adalah seperti binatang yang digembalakan yang tidak dapat memanfaatkan anggota tubuhnya, kecuali untuk mempertahankan kehidupan dunia saja. (Lubaabut Tafsir Min Ibni Katsiir)

Karenanya kami berpendapat bahwa pandangan pendidikan yang benar adalah pendidikan yang berorientasi pada upaya untuk memanusiakan manusia. Artinya mengembalikan manusia pada kodratnya sebagai makhluk ciptaan Allah Subhanahu wata’ala yang mengemban amanah ilahi; sebagai hamba dengan kewajiban ibadah kepadaNya, dan sebagai khalifah di bumi dengan tugas memakmurkannya sesuai apa yang dikehendaki oleh Sang Pencipta.

Allah berfirman:

وَجَعَلْنَا لَهُمْ سَمْعًا وَأَبْصَارًا وَأَفْئِدَةً فَمَا أَغْنَى عَنْهُمْ سَمْعُهُمْ وَلا أَبْصَارُهُمْ وَلا أَفْئِدَتُهُم مِّن شَيْءٍ إِذْ كَانُوا يَجْحَدُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ

“… Dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan, dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan, dan hati mereka itu tidak berguna sedikit pun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah…” (QS. Al-Ahqaaf: 26)

Allah berfirman:

فَإِنَّهَا لا تَعْمَى الأَبْصَارُ وَلَكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

“… Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati (kalbu) yang di dalam dada…” (QS. Al-Hajj: 46)

Bisa dipahami bahwa standar kebaikan sistem pendidikan harus dilihat dari dua sudut pandang; Pertama, manusia sebagai hamba membutuhkan pemahaman yang benar terhadap hakikat kehidupan dan sarana mendekatkan diri kepada Rabbnya. Kedua, manusia sebagai khalifah yang ditugaskan memakmurkan bumi dengan apa yang diridhai oleh Allah Subhanahu wata’ala, sehingga membutuhkan pengetahuan yang baik terhadap apa yang disyariatkanNya serta kemampuan yang cukup untuk menjalankan tugas tersebut.

Maka, tentu tidak ada sistem pendidikan yang memberi jaminan tercapainya tujuan penciptaan manusia dan penjagaannya terhadap fitrah kemanusiaan itu, kecuali sistem yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wata’ala.

  1. Sistem pendidikan yang telah terbukti melahirkan generasi terbaik dan peradaban gemilang adalah Pendidikan Qur’ani, bukan sistem coba-coba dan merusak tatanan kehidupan.

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayatNya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab Al-Quran dan Hikmah (Sunnah), padahal sebelumnya mereka dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Jumuah: 2)

Orang-orang Arab sebelum diutusnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berada dalam kebodohan, penyimpangan, dan perpecahan yang nyata. Namun setelah datang utusan Allah Subhanahu wata’ala yang mendidik mereka dengan wahyu, menyucikan jiwa dari kesyirikan dan keburukan akhlak. Akhirnya, bangkitlah mereka menjadi umat yang terbaik, bahkan mengusai hampir 2/3 belahan dunia.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 110)

Umat Islam telah membangun peradaban gemilang, peradaban kemanusiaan dan ilmu pengetahuan. Siapakah yang tidak mengenal sepak terjang dan akhlak Sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum? Siapakah yang tidak mengenal ulama Islam dengan kekuatan hafalan dan kezuhudan mereka rahimahumullah? Juga para ilmuwan Islam dengan penemuan spektakulernya yang menjadi rujukan ilmu pengetahuan dunia? Tersisa bangunan-bangunan sejarah yang menjadi saksi peradaban tersebut di antaranya: Istana Al-Hambra di Spanyol, Istana Topkapi di Istanbul Turky, Perpustakan Megah tertua di Iskandaria Mesir, Observatorium Maragha (Pusat studi astronomi) di Azerbaijan, dan lainnya.

Di antara gambaran peradaban ilmu pengetahuan kaum muslimin bisa nampak dalam pernyataan para pakar berikut ini:

Oliver Leaman:

“…. Pada masa peradaban agung [wujud] di Andalusia, siapapun di Eropa yang ingin mengetahui sesuatu yang ilmiah, maka ia harus pergi ke Andalusia. Di waktu itu banyak sekali problem dalam literatur Latin yang masih belum terselesaikan, dan jika seseorang pergi ke Andalusia, maka sekembalinya dari sana ia tiba-tiba mampu menyelesaikan masalah-masalah itu. Jadi Islam di Spanyol mempunyai reputasi selama ratusan tahun dan menduduki puncak tertinggi dalam pengetahuan filsafat, sains, teknik, dan matematika. Ia mirip seperti posisi Amerika saat ini, di mana beberapa universitas penting berada.”

William Drapper: 

“Pada zaman itu Ibu Kota pemerintahan Islam di Cordova merupakan kota paling beradab di Eropa, 113.000 buah rumah, 21 kota satelit, 70 perpustakaan, dan toko-toko buku, masjid-masjid, serta istana yang banyak. Cordova menjadi masyhur di seluruh dunia, di mana jalan yang panjangnya bermil-mil dan telah dikeraskan diterangi dengan lampu-lampu dari rumah-rumah di tepinya. Sementara kondisi di London 7 abad sesudah itu (yakni abad 15 M), satu lampu umum pun tidak ada. Di Paris berabad-abad sesudah zaman Cordova, orang yang melangkahi ambang pintunya pada saat hujan, melangkah sampai mata kakinya ke dalam lumpur.” (Jejak kegemilangan umat Islam oleh Budi Suherdiman)

Sungguh mengagumkan apa yang pernah ada pada umat ini, sudah seharusnya umat Islam tersadarkan bahwa keberhasilan dan kejayaan pernah dan akan kembali menjadi milik umat Islam. Tentu jika kita kembali mengkaji Al-Quran sebagai sumber ilmu yang dengannya Allah Subhanahu wata’ala memuliakan generasi pertamanya.

Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata:

لَنْ يَصْلُحَ آخرُ هَذهِ الأمةِ إِلاَّ بما صَلُحَ بهِ أَوَّلها

“Tidak akan pernah baik urusan akhir umat ini kecuali dengan apa yang membuat baik pendahulunya.” (Musnad Muwaththa’, Al-Jauhari)

Nabi shallallahu alaihi wasallam seorang pendidik terbaik, beliau telah berhasil  mencetak Al-Quran, bukan dalam bentuk mushaf, tapi di dalam dada para sahabatnya. Sehingga nampaklah Islam pada kehidupan mereka, memancar di setiap sudut kehidupan manusia dan menyebar ke seluruh penjuru dunia.

You might also like More from author

Leave a comment
k