Sistem Pendidikan Berbasis Al Qur’an Sebagai solusi (Bag. 1)

Sejak lama Indonesia bahkan dunia secara umum mencari model pendidikan yang kuat, sistematis dan menyeluruh. Telah banyak model pendidikan yang diuji coba bahkan model-model pendidikan tersebut tidak dapat dipertahankan dalam tempo lama karena munculnya kekurangan yang nyata di berbagai sisinya, sebagai contoh di Indonesia yang awalnya menganut sistem pendidikan Konvensional (1947, 1952, 1964, 1968, 1975) berorientasi pada penguasaan kognitif sehingga dianggap lemah dalam penguasaan keterampilan kemudian beralih pada Kurikulum 1994 dan suplemen 1999 yang menitik beratkan pada pendekatan proses, namun karena dianggap terlalu padat, maka pada tahun 2004 diganti dengan sistem Kurikulum Berbasis Kompetensi yang mengarahkan pembelajaran pada pencapaian kompetensi, tapi sayangnya KBK dianggap memandang Kompetensi sebagai sebuah entitas yang bersifat tunggal dengan pemisahan mata pelajaran pembentuk masing-masing ranah (kognitif, afektif dan psikomotor) dan berangkat dari pemikiran bahwa indonesia memiliki potensi kebutuhan daerah yang berbeda beda maka pada tahun 2006 diberlakukan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang lebih memberi ruang kepada guru dan masyarakat untuk berkontribusi sesuai kondisi yang dihadapi masing-masing sekolah, namun melihat kekurangan pada sisi pembentukan karakter maka didesainlah  kurikulum 2013 yang juga terlihat ada ketimpangan pada orintasi dan hasil yang di inginkan sehingga harus dihentikan pemberlakuannya, kondisi ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan Indonesia belum menemukan bentuk ideal yang diharapkan (kuat , sistematis, dan menyeluruh ) dalam mencetak generasi emas yang ditargetkan terwujud pada tahun 2035. Yang menjadi pertanyaan berapa kali lagi sistem pendidikan kita akan berganti-ganti ?, dan apakah pergantian itu akan menyampaikan kita  pada target tersebut ???, dengan banyaknya tanda tanya yang muncul  sudah seharusnya para ahli pendidikan bermuhasabah (introspeksi) dan kembali melihat sejarah peradaban dunia. secara jujur  tidak bisa dipungkiri bahwa Ada sebuah peradaban spektakuler yang berhasil membuka dan mengangkat peradaban kemanusiaan dan ilmu pengetahuan pada kemajuan yang memukau.

Cara pandang manusia yang tidak menyeluruh dan bersifat temporal, menjadikan sistem yang dibangun pun tidak bertahan lama. Allah subhanahu wata’ala sang maha pencipta lagi maha pengatur lebih mengetahui dengan pengetahuan yang pasti sistem terbaik dalam mewujudkan seluruh aspek kehidupan manusia yang gemilang di dunia maupun di akhirat.

Perhatikan bagaimana rahim peradaban islam mampu melahirkan ulama seperti imam as syafi’i , imam bukhari dan lainnya dalam bidang  sains  menjadi rujukan utama seperti  Al khwaritzmi dalam bidang matematika,  al khaitham dalam bidang fisika  , ibnu hayyan dalam bidang kimia , dan lainnya . kapan sistem pendidikan kita melahirkan ulama dan ilmuwan hebat?.

Kembali Kepada Al Qur’an sebuah keniscayaan :

  1. Tidak ada suatu ilmu pun kecuali dari Allah subhanahu wata’ala yang maha mengetahui dan Maha sempurna IlmuNya,

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

Artinya: “Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”              ( Al-Baqarah: 32)

Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa “Ayat ini menerangkan tentang sanjungan malaikat kepada Allah subhanahu wata’ala dengan menyucikan dan membersihkan-Nya dari semua pengetahuan yang dikuasai oleh seseorang dari ilmu-Nya, bahwa hal itu tidak ada kecuali menurut apa yang dikehendaki oleh-Nya. Dengan kata lain, tidaklah mereka mengetahui sesuatupun kecuali apa yang diajarkan oleh Allah subhanahu wata’ala kepada mereka. Karena itulah para malaikat berkata, “Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, Yang Maha Bijaksana dalam ciptaan dan urusan-Mu serta dalam mengajarkan segala sesuatu yang Engkau kehendaki, hanya Engkaulah yang memiliki kebijaksanaan dan keadilan yang sempurna”.  (tim penerjemah Tafsir)

Pengetahuan Allah meliputi segala sesuatu, baik yang nampak maupun yang tersembunyi,  yang telah terjadi, sementara terjadi maupun akan terjadi dan bagaimana terjadinya. maka mengikuti sistem yang disyariatkannya dan menjadikannya sebagai mashdar (baca; sumber) utama dalam menyusun kurikulum kehidupan termasuk pendidikan, mengkajianya, menfokuskan perhatian padanya dalam terwujudnya sistem pendidikan yang berkualitas adalah keniscayaan.

Setiap yang Allah tetapkan  memiliki hikmah dan kemaslahatan bagi seluruh manusia bahkan alam semesta sehingga sistem yang didasarkan pada-Nya bersifat sempurna dan paripurna tidak hanya berlaku pada komunitas dan zaman tertentu tapi pada setiap waktu dan keadaan.

Syaikh ‘Abdur-Rahmân bin Nashir as-Sa’di rahimahullah  ketika menjelaskan makna al-Hakîm pada ayat tersebut mengatakan: “Al-Hakîm, artinya Dzat Yang Maha memiliki hikmah sempurna. Tidak ada satu makhlukpun yang keluar dari lingkaran hikmah Allah, dan tidak ada satu perintahpun yang keluar dari lingkup hikmah-Nya. Allah tidak pernah menciptakan sesuatupun kecuali untuk suatu hikmah, dan tidak pernah memerintahkan sesuatupun kecuali untuk suatu hikmah. Hikmah ialah meletakkan sesuatu pada tempatnya yang pas”

  1. Setiap sistem dari Allah subhanahu wata’ala adalah standar kebaikan dan kemaslahatan

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وهُوَ خَيْرٌ لكَمْ وَعَسى أَنْ تُحِبُّوْا شَيْئا وهو شرٌّ لكم واللهُ يعلمُ وأَنْتُمْ لا تَعْلمُوْنَ

“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”( Al- Baqarah: 216)

Setiap pandangan pendidikan yang bertentangan dengan tuntunan ilahi bahkan menolak batasan syariat adalah kekeliruan dan subjektifitas yang tidak bisa dibenarkan.

  1. Sistem islam dalam pendidikan tidak akan diterapkan secara sempurna jika mengandalkan hasil penelitian non muslim karena mereka tidak akan menjadikan Al Qur’an sebagai sumber utama dan tidak menginginkan kejayaan untuk umat islam serta kerugian bagi mereka, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَنُنزلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلا خَسَارًا

Artinya: “Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian( Al-Isra : 82).

Dalam tafsir Jalalain disebutkan ketika menafsirkan surat al-Baqarah ayat 32:

 وَلَن ترضى عَنكَ اليهود وَلاَ النصارى حتى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ( دينهم )قُلْ إِنَّ هُدَى الله( أي الإسلام )هُوَ الهدى( وما عداه ضلال )وَلَئِنِ( لام قسم )اتبعت أَهْوَاءَهُم( التي يدعونك إليها فرضاً )بَعْدَ الذي جَاءكَ مِنَ العلم( الوحي من الله )مَا لَكَ مِنَ الله مِن وَلِيّ( يحفظك )وَلاَ نَصِيرٍ( يمنعك منه

Orang-orang Yahudi dan Kristen tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti millah mereka) maksudnya agama mereka. (Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah) yaitu agama Islam (itulah petunjuk) yang sesungguhnya, sedangkan yang selainnya hanyalah kesesatan belaka. (Sesungguhnya, jika) ‘lam’ menunjukkan sumpah (kamu ikuti keinginan mereka) yakni apa-apa yang mereka anjurkan (setelah datangnya pengetahuan kepadamu) maksudnya wahyu dari Allah (maka Allah tidak lagi menjadi pelindung) yang akan melindungimu (dan tidak pula menolong.”) yang akan menghindarkanmu dari bahaya. (Tafsir Jalalain Surah Al-Baqarah: 32)

Sudah seharusnya umat islam tersadarkan untuk kembali menkaji Al qur’an sebagai sumber ilmu dan meneliti manhaj Rabbani yang Allah Subhanahu wata’ala tuntunkan dalam mencapai kejayaan.[]

You might also like More from author

Leave a comment
k