Menyongsong Generasi Rabbani

Banyak diantara kita yang kadang menyebut atau mendengar kata “rabbani” baik disandingkan dengan ulama, da’i ataupun suatu generasi tertentu. Namun pada hakikatnya tidak sedikit juga di antara kita yang sebenarnya masih merasa samar atau bahkan belum tahu tentang makna yang tersirat dari kata “rabbani” ini.

Ketidaktahuan atau bahkan kekurangpahaman akan makna kata “rabbani” ini sangat fatal akibatnya bagi umat Islam, karena menyandangkan kata ini bukan pada tempatnya, atau bukan pada orang yang berhak mendapatkan gelar ini, merupakan sebuah kezaliman dan penipuan terhadap umat Islam, bahkan terhadap umat manusia. Sebab derajat “rabbani” adalah sebuah gelar yang tidak sembarang bisa ditujukan pada siapa saja, bahkan banyak ulama yang tidak sampai pada tingkat ini. Tengok saja, Siyar A’lam An-Nubala karya Imam Adz-Dzahabi, dari ribuan ulama dan tokoh-tokoh besar yang disebutkan oleh beliau dalam kitab ini, hanya sekitar 40-an ulama yang beliau sebut dengan julukan Ar-Rabbani !!.

Derajat “rabbani” adalah sebuah derajat yang lebih tinggi dari sekedar derajat ulama, atau generasi ilmu tertentu. Ini bukan berarti kita tidak boleh mengambil ilmu dari para ulama yang belum sampai pada derajat ini, atau tidak boleh bekerjasama dan bergabung dengan generasi yang belum sampai pada derajat ini, namun seorang muslim khususnya calon ulama dan duat, hendaknya berusaha semaksimal mungkin untuk bisa mengambil ilmu dari ulama atau bergabung dengan generasi yang memiliki ciri-ciri “rabbani” yang akan disebutkan pada pembahasan ini. Lalu siapakah generasi Rabbani (atau bahkan ulama rabbani) yang dinanti kehadirannya dalam tubuh umat ini? Selamat membaca.

Makna Rabbani

Rabbani adalah sifat yang mengumpulkan antara kapasitas ilmu, pembuktian amal, dan pengajaran ilmu (pengkaderan). Demikian ungkapan Al-Azhari, Imam Ahli Bahasa Arab [wafat 370 H] dalam Kitabnya Tahdzib Al-Lughah [14/225]. Tiga komponen ini merupakan syarat mutlak yang harus ada dalam diri ulama ataupun generasi yang mencapai derajat “rabbani”. Bahkan setiap poin dari ketiganya memiliki konsekuensi tersendiri yang apabila tidak tercapai maka sifat “rabbani” belum bisa disandarkan pada suatu generasi atau ulama.

A. Kapasitas ilmu: Generasi Rabbani harus memiliki kapasitas ilmu yang cukup dan kualitas ilmu yang shahih…meniti di atas manhaj salaf, dan kokoh di atas manhaj ahli sunah … Makna inilah yang seringkali disebutkan oleh para salaf dalam ungkapan mereka: Rabbaniyyun adalah para ahli fiqh (ulama) yang memiliki sifat hikmah (bijak dan adil). Diantara mereka juga ada yang menafsirkannya: ulama yang bertakwa. [lihat Tafsir Ath-Thabari 6/541 dan setelahnya]

B. Pembuktian amalan: dengan melakukan amalan shalih, menyebarkan dakwah, serta pembaharuan baik dari sisi agama, maupun dunia dan seluruh bidang kehidupan dengan secara teratur dan terorganisir. Tidak dinamakan “rabbani” kalau hanya fokus pada agama dan hanya selalu menjaga keshalihan pribadi, dan tidak melakukan pengorbanan untuk melakukan ishlah pada bidang agama, sosial, ekonomi, politik dll. Imam Ath-Thabari [wafat: 310 H] berkata (setelah menyebutkan pendapat ulama tentang makna Rabbani):“Pendapat yang paling benar menurutku adalah bahwasanya Rabbaniyyun merupakan jamak dari kata ‘rabbani’ yang dinisbatkan dengan ‘al-rabbani’, yang berarti orang yang mentarbiyah (mengkader) manusia, dan yang senantiasa memperhatikan dan memberikan solusi atas seluruh bidang kehidupan mereka … bersamaan dengan sifat ini, ia juga merupakan seorang ahli fiqh (ulama) dan hikmah dari kalangan mushlihin, selalu memperhatikan semua bidang kehidupan manusia, dengan mengajarkan mereka kebaikan (ilmu), dan menyeru mereka kepada maslahat kehidupan mereka …”. Beliau juga berkata: “Rabbaniyyun adalah orang-orang yang menjadi sandaran manusia pada masalah fiqih, ilmu, dan mencakup perkara agama dan perkara dunia, … dan makna Rabbani adalah orang yang mengumpulkan antara ilmu dan fiqh serta pengetahuan tentang masalah siyasah (pengaturan), tadbir (pengorganisasian), dan memperhatikan problem-problem penduduk, dan perbaikan kehidupan mereka baik dari segi dunia maupun agama.” [Tafsir Ibnu Jarir 6/544-545]

Dari ungkapan ini, begitu jelas bahwa derajat “rabbani” adalah yang mengaplikasikan firman Allah Ta’ala:

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً”

Artinya: ”Wahai orang-orang yang beriman masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan.”  [QS. Al-Baqarah: 208]

Tidak hanya memfokuskan kehidupan, dakwah, dan perhatian mereka pada bidang ilmu /amalan agama tertentu, namun merata ke seluruh bidang ilmu dan amal-amal Islam, bahkan ke seluruh bidang kehidupan duniawi.

C. Pengajaran ilmu dan tarbiyah (pengkaderan). Makna ini disebutkan oleh sebagian salaf termasuk Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu sebagaimana dalam Shahih Bukhari bahwa Rabbani: “Ta’lim an-Naas shighar al-‘ilmi qabla kibaarihi” (orang yang mengajarkan manusia ilmu yang ringan sebelum ilmu yang berat). Dalam Fathul-Bari [1/121] Ibnu Hajar [wafat : 852] berkata bahwa makna ungkapan ini adalah: “Mengajarkan ilmu pada manusia secara tadarruj” (baca : bermarhalah).

Al-Azhari [wafat: 370 H] dalam kitabnya Tahdzib Al-Lughah [14/225] setelah menyebut definisi rabbani ini, beliau berkata: “Barangsiapa yang dalam dirinya kehilangan satu saja dari tiga poin ini maka ia tidak bisa disebut sebagai rabbani.” Jadi, seseorang/generasi/kelompok disebut Rabbani jika menggabungkan tiga perkara ini secara sempurna. Sebab itu, tidak heran bila Imam Mujahid rahimahullah menyatakan bahwa derajat orang-orang rabbani berada di atas para ahbaar (para ulama). [lihat: Tafsir Ath-Thabari : 6/542]

Karakteristik Generasi Rabbani

Karakteristik generasi sebagaimana yang tersebut di atas adalah:

  1. Menggabungkan tiga sifat mulia; yaitu meraih dan menuntut ilmu yang shahih (sesuai manhaj salaf) dengan kesungguhan, mengamalkan ilmu hingga mencapai derajat hikmah dan takwa, dan mengajarkannya pada orang lain sebagai ulama, da’i dan murabbi.
  2. Menggabungkan antara ilmu, dakwah dan ishlah (perbaikan) segala bidang kehidupan masyarakat dan umat Islam, sebagaimana dalam ucapan Imam Ath-Thabari.
  3. Memiliki qudrah (kemampuan) untuk memimpin, dan mengorganisir umat serta menyelesaikan problem yang mereka hadapi baik problem agama maupun duniawi. Dalam ungkapan salaf yang sangat popular: “Bukan termasuk golongan kami, orang yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin”. Urusan ini mencakup makna umum ; agama dan duniawi.
  4. Bisa menggabungkan dan membagi porsi antara ilmu, dan pergerakan/ishlah peradaban umat Islam dalam berbagai kehidupan. Tuntutan ilmu dan penyebarannya, tidak menjadikan mereka hanya fokus pada ilmu, ilmu dan ilmu. Demikian pula sebaliknya, pergerakan dakwah dan perbaikan mereka terhadap umat Islam dan peradabannya, tidak menjadikan mereka melepas jubah dan pakaian keilmuan mereka.
  5. Meletakkan metode belajar, pengajaran, dan pengkaderan secara tadarruj (ber-marhalah). Artinya belajar atau mengajarkan orang lain dari dasar-dasar ilmu terlebih dahulu sebelum masuk pada bagian ilmu yang lebih rumit dan sulit. Sebagaimana konsekuensi dari ucapan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu di atas. Mustahil seseorang bisa menjadi ulama, duat, ustadz yang sukses apalagi derajat rabbani bila tidak meletakkan manhaj (metode) tadarruj/marahil dalam halaqah ilmu dan tarbiyah…Dan ini merupakan sunnahnya para salaf dan khalaf (ulama belakangan) dalam proses ta’lim dan tarbiyah. Bahkan setiap bidang ilmu dalam ilmu-ilmu Islam sudah diletakkan di dalamnya marahil (tingkatan) dalam menuntutnya.

Terakhir … Sudahkah tiga  karakteristik generasi rabbani ini ada pada diri generasi masa kini??

Kita berharap agar Generasi Rabbani ini hadir ditengah-tengah umat Islam dengan membawa solusi bagi semua problem umat baik problem agamis ataupun duniawi sebagaimana ucapan Imam Ath-Thabari. Wallahu A’lam.

You might also like More from author

Leave a comment
k