Figur Pendidik Muslim : Luqman Al-Hakim (Bag. 1)

Dalam Al-Quran, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan gambaran sosok pendidik rabbani yang diharapkan menjadi teladan bagi para pendidik muslim zaman ini. Dia adalah Luqman, begitulah panggilannya, nama yang tidak asing bagi seorang muslim karena merupakan salah satu nama surat dalam Al-Quran.

Biografi Luqman al-Hakim

Dia seorang hamba yang saleh, sederhana, dan bukan dari kalangan nabi. Akan tetapi diberikan hikmah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya yang artinya: “Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman.”  (QS. Luqman: 12)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلا أُولُو الألْبَابِ

“Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa diberi hikmah, maka sesungguhnya dia telah diberi karunia yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran selain orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah: 269)

Diantara hikmah yang Allah anugerahkan kepadanya adalah kecerdasan, keluasan ilmu, ketepatan perkataan, dan hikmah yang lainnya.

Luqman al-Hakim adalah gelar yang disandangnya, tetapi nama aslinya adalah Luqman bin Ba’ura, merupakan keponakan Nabi Ayyub ‘alaihis salam. Berdasarkan riwayat-riwayat yang ada dia berasal dari daerah Nobiy yang terletak di Sudan, sebelah selatan Mesir. Beliau adalah seorang yang pendek, berkaki lebar dan tumitnya pecah-pecah, berbibir tebal, hidungnya pesek, dan berkulit hitam. Para ulama berselisih pendapat apakah beliau seorang penggembala, tukang kayu, tukang jahit, atau pengumpul kayu bakar.  ( lihat Tafsir Al Qurtubi)

Khalid ar-Rabi’i menjelaskan bahwa Luqman adalah seorang budak Habasyah yang telah dibeli oleh seorang lelaki dari Bani Israil dengan harga 30,5 dinar. Majikan Luqman berkata kepadanya, “Tolong sembelihkan kambing ini untuk kita!” Kemudian ia menyembelihnya. Majikannya berkata lagi, “Keluarkan dua kerat daging yang paling baik darinya!” Ia mengeluarkan lidah dan hatinya. Selang beberapa lama majikannya menyuruhnya lagi, “Tolong sembelihkan kambing ini untuk kita!” Kemudian ia menyembelihnya. Majikannya berkata lagi, “Keluarkan dua kerat daging yang paling jelek darinya!” Ia mengeluarkan lidah dan hatinya. Dengan penuh keheranan majikannya berkata, “Aku menyuruhmu mengeluarkan dua daging yang paling baik darinya dan kamu mengeluarkan keduanya (hati dan lidah). Dan aku menyuruhmu mengeluarkan dua daging yang paling jelek darinya dan kamu mengeluarkan keduanya (hati dan lidah).” Luqman menjawab, ”Sesungguhnya tidak ada yang lebih baik darinya jika keduanya baik. Dan tidak ada yang lebih jelek darinya bila keduanya jelek.” ( lihat Tafsir Ibnu Katsir)

Seiring perjalanan hidupnya beliau kemudian menjadi seorang mufti yang mengeluarkan fatwa dan menjawab pertanyaan Bani Israil. Suatu ketika dia didatangi seseorang ketika sedang duduk dan memberikan ceramah di hadapan khalayak ramai, lalu dia bertanya, “Bukankah dulu anda yang menggembala kambing di tempat ini dan ini?“ Luqman menjawab, “Ya.” Orang itu bertanya lagi, “Apa yang membuat anda mencapai kedudukan ini?” Beliau menjawab, “Berbicara yang jujur dan diam dari sesuatu yang tidak perlu.” ( lihat Tafsir Al Qurtubi)

Al-Qurtubi berkata, “Luqman melihat seseorang yang memandang kepadanya, lalu Luqman berkata, “Meskipun anda melihat kedua bibirku tebal, namun sesungguhnya yang keluar di antara keduanya adalah perkataan yang lembut. Meskipun Anda melihat kulitku hitam, namun hatiku berwarna putih.”

Akhirnya beliau bertemu dengan Nabi Daud ‘alaihis salam dan belajar ilmu darinya. Semenjak Nabi Daud diutus menjadi nabi, beliau tidak lagi memberi fatwa. Pada saat ditanya kenapa engkau tidak lagi memberi fatwa, beliau menjawab:

أَلَا أَكْتَفِي إِذَا كُفِيتُ؟

Maksudnya: Bukankah aku semestinya mencukupkan diri jika sudah dicukupi? (Lihat: Bahrul Muhith, Abu Hayyan)

Dalam sejarahnya, Luqman menikah dan dikaruniai banyak anak, akan tetapi semuanya meninggal dunia ketika masih kecil, tidak ada yang sampai dewasa, namun Luqman tidak menangis, karena keyakinannya kepada Allah. (lihat tafsir ibnu Katsir)

Pelajaran bagi Seorang Pendidik dari Kisah Luqman

  • Surat Luqman ayat 12

وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha kaya lagi Maha terpuji”.

  1. Kredibilitas dan nilai seseorang tidak dilihat dari penampakan fisiknya, tapi dari hikmah yang dimilikinya berupa kedalaman ilmu, integritas/kejujuran, dan akhlak mulia. Seorang pendidik selain memperhatikan penampilan juga harus menjadikan perhatian utamanya pada peningkatan kualitas keilmuan yang dimilikinya.
  2. Seorang pendidik harus berwibawa di hadapan peserta didiknya dengan keilmuan, ketakwaan, keteladanan, dan akhlak yang dimilikinya. Sehingga ia mendapatkan tempat mulia di hati para peserta didiknya. Dengannya, perkataannya akan didengar, ditaati, dan memiliki pengaruh.
  3. Syukur adalah sifat pendidik muslim sejati, yang dengannya akan hilang keluh kesah dan keputusasaan dalam menghadapi setiap kondisi, melakukan perbaikan terhadap keadaan diri dan didikannya secara berkesinambungan, dan tidak pernah merasa bangga dengan pencapaian yang diraihnya. Karena baginya semua itu merupakan karunia Ilahi. Sebaliknya dia akan terus berkarya sebagai implementasi rasa syukurnya dan merasa khawatir akan hilangnya kenikmatan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya.
  • Surat Luqman Ayat 13

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, ’Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”

  1. Seorang pendidik seharusnya punya perhatian yang besar terhadap anak didiknya dan memberi waktu yang cukup, duduk bersama mereka untuk memberi pendidikan, nasihat, dan wejangan atas apa yang sedang dan akan dihadapi oleh peserta didiknya secara berkesinambungan.
  2. Seorang pendidik harus memiliki sifat penyayang dan adab yang mulia, memanggil dengan penuh kasih sayang bukan dengan panggilan yang buruk, dan mendidik dengan penuh harapan kebaikan untuk peserta didiknya, sebagaimana dalam perkataan Luqman يَا بُنَيَّ (ya bunayya) yang merupakan panggilan kasih sayang dan penuh cinta untuk sang anak.
  3. Seorang pendidik harus memahami tahapan-tahapan dalam pendidikan, dimulai dari hal yang paling penting (asas), kemudian yang lebih penting setelahnya dan seterusnya. Sebagaimana Luqman memulai nasihatnya dengan: لاَ تُشْرِكْ بِاللَّهِ, yaitu materi tauhid yang merupakan materi pendidikan terpenting dan asas dalam pembinaan generasi.
  4. Seorang pendidik hendaknya menggunakan bahasa yang jelas, sederhana, dan perumpamaan yang mudah dipahami oleh anak didiknya. Sehingga apa yang disampaikan akan berbekas pada diri mereka. Tampak dalam nasihat Luqman: إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ, kata zhulm (kezaliman) menunjukkan perumpamaan yang jelas bahwa syirik berarti menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya, yaitu menyembah sesuatu yang tidak memiliki hak untuk disembah. Dan ini adalah kezaliman yang paling besar, karena menyelewengkan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan nikmat yang melimpah kepada kita.
  5. Seorang pendidik jika mengajarkan sesuatu perlu untuk menyebutkan alasan atau sebab pentingnya hal tersebut sehingga menjadi motivasi/dorongan yang kuat bagi peserta didiknya.

Baca kelanjutannya di sini ….

You might also like More from author

Leave a comment
k