Tuntutlah Ilmu Sampai Ke Negeri Cina

Diantara ungkapan yang sangat terkenal dari para ulama kita adalah “tuntutlah ilmu meskipun sampai ke negeri Cina”[[1]], kendati ungkapan ini bukan hadits dari Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- namun ungkapan ini mengandung sisi kebenaran, inti pesan dari ungkapan di atas adalah pentingnya menuntut ilmu bagi umat manusia, sehingga kendati seseorang harus pergi ke tempat nan jauh demi tujuan mulia tersebut, maka hendaknya dia melakukannya.

Adapun makna tersirat dari pepatah di atas, bahwa proses menuntut ilmu membutuhkan pengorbanan dari penuntutnya, baik itu pengorbanan secara materi maupun tenaga, bahkan seorang penuntut ilmu harus siap untuk berpisah dengan keluarga demi merealisasikan tujuannya tersebut.

Makna ini terkandung dalam hadits Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, beliau bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Artinya:”Barang siapa yang berjalan untuk mencari ilmu, maka Allah mempermudah baginya jalan menuju surga”[[2]].

Sabda Rasulullah  –shallallahu ‘alaihi wa sallam-:    مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا  memiliki dua makna:

Pertama: makna hissy, yaitu proses keluarnya seorang penuntut ilmu dari rumah atau kampungnya untuk menuntut ilmu di jalan Allah, dengan makna ini maka hadits ini merupakan dalil bagi proses Rihlah fi Thalabil Ilmi.

Kedua: makna ma’nawi, yaitu upaya dan sarana yang ditempuh penuntut ilmu untuk mendapat ilmu syar’i, seperti menghafal, belajar, mengkaji, menulis pelajaran dan lain sebagainya.

Adalah potret kehidupan para orang shaleh dan ulama terdahulu yang menjadi tuntunannya, amatilah perjalanan Nabi Musa –alaihis salam- ketika beliau melakukan rihlah [perjalanan] dalam rangka menuntut ilmu kepada Nabi khidr, bahkan Allah mengabadikan kisah tersebut di dalam alqur-an, tepatnya di surat kahfi ayat 60-82, dalam ayat tersebut Allah menceritakan dengan gamblang bahwa Nabi Musa menempuh perjalanan jauh demi berguru kepada Nabi Khidr. Tentunya, melakukan perjalanan dalam menuntut ilmu membutuhkan pengorbanan yang tidak kecil, dimulai dari pengorbanan berupa harta sebagai bekal, ditambah beratnya perpisahan dengan orang dicintai dan disayangi, belum lagi pengorbanan berupa kecapean, keletihan, kelaparan dan kehausan dalam perjalanan tersebut, namun pengorbanan Nabi Musa tersebut mendapat ganjaran setimpal, yaitu memperoleh ilmu-ilmu baru yang tidak Allah ajarkan kepada beliau.

Pelajaran berharga juga bisa kita raih dari adab Nabi Musa kepada Nabi Khidr dan kesopanan beliau dalam bertutur kata, Allah berfirman (mengutip perkataan Nabi Musa):

قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

Artinya:”Musa berkata kepada Khidhr:((bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang telah Allah ajarkan kepadamu))”.[QS. al-Kahfi 66].

Ucapan ini merupakan tauladan dari seorang Ulul Azmi kalimullah Musa –alaihis salam-, yang menunjukkan ketawadhuan beliau meskipun beliau menduduki tempat yang mulia nan tinggi di tengah makhluk Ilahi. Dan ketawadhuan ini merupakan kunci tuk memperoleh khazanah ilmu yang luas bagi seseorang, sebab ia tidak gengsi dan malu untuk menuntut ilmu dari siapa saja yang berkompoten di bidangnya kendati usia dan kedudukan lebih rendah dari sang penuntut ilmu, sungguh benar ucapan tabiin yang mulia Mujahid bin Jabr:

لَا يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ مُسْتَحْيٍ وَلَا مُسْتَكْبِرٌ

Artinya:”tidak (sukses) belajar ilmu orang yang pemalu dan sombong”.[[3]]

Simak pula “kengeyelan” beliau dalam berguru kepada Nabi Khidr, kendati beberapa kali mendapat peringatan dari gurunya, namun semangatnya tidak padam untuk menutut ilmu darinya. Tentunya “kengeyelan” ini bukti kesabaran beliau dalam menuntut ilmu, buah manis dari sifat ini bisa beliau rasakan pada penjelasan Nabi Khidr terhadap masalah-masalah yang tidak mampu beliau pecahkan.

Kemudian kajilah potret kehidupan Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, seorang sahabat nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wasallam-, sang periwayat hadits bahkan beliau adalah sahabat Nabi yang paling banyak riwayatnya diantara para sahabat yang lain.

Jika kita telisik sirah beliau, mungkin kita akan terheran-heran dengan kepakaran beliau dalam meriwayatkan hadits Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam-. Pasalnya, beliau bukan termasuk As-Sabiqunal Awwalun (sahabat yang pertama kali masuk islam), bahkan beliau termasuk agak telat masuk ke dalam agama islam, dan juga agak terlambat untuk berhijrah, beliau berhijrah dari bani Daus di Yaman ke kota Madinah setelah perang Khaibar pada tahun 7 H.

Namun jika kita telaah sirah beliau dalam menuntut ilmu, maka kita akan memaklumi “gelar ilmiyah” yang disematkan oleh DR. Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib dalam buku beliau untuk Abu Hurairah, yaitu sang periwayat islam.

Simaklah beberapa faktor –setelah taufik dari Allah- yang menjadikan beliau menduduki derajat yang mulia, sebagai sosok yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam-, diantara faktor tersebut adalah:

  1. KEDEKATANNYA DENGAN NABI DAN SENANTIASA BERUPAYA UNTUK BERMULAZAMAH DENGAN BELIAU.

Inilah salah satu unsur yang menjadi pondasi kuat bangunan keilmuan Abu Hurairah, dan tidak bisa dipungkiri bahwa kedekatan seorang penuntut ilmu dengan sang guru merupakan salah satu pilar tegaknya bangunan ilmu, Imam Syafi’i mewariskan kepada kita salah satu kiat untuk memperoleh ilmu, beliau mengatakan:

وصحبة أستاذ

Artinya: [diantara kiat untuk mendapatkan ilmu adalah] dekat [mulazamah] dengan sang guru.

Ini adalah salah satu kunci Abu Hurairah untuk membuka khazanah ilmu Nabi kita tercinta, maka bukanlah suatu hal yang aneh, apabila beliau meriwayatkan kurang lebih 5374 hadits dari Rasulullah, hal ini tentunya membuktikan “kemujaraban” kiat di atas. Dan perlu kita ketahui bahwa kedekatan Abu Hurairah dengan Nabi kita yang mulia bukanlah isapan jempol belaka, namun hal ini adalah sebuah fakta yang ditulis dengan tinta emas oleh sejarah, beberapa riwayat yang valid mengabarkan kepada kita tentang hakikat yang satu ini, olehnya alangkah baiknya jika kita menelaah riwayat demi mengukuhkan hal ini.

Abu Hurairah mengatakan:

إِنَّ النَّاسَ يَقُولُونَ أَكْثَرَ أَبُو هُرَيْرَةَ ، وَلَوْلاَ آيَتَانِ فِى كِتَابِ اللَّهِ مَا حَدَّثْتُ حَدِيثًا ، ثُمَّ يَتْلُو (إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ) إِلَى قَوْلِهِ (الرَّحِيمُ) إِنَّ إِخْوَانَنَا مِنَ الْمُهَاجِرِينَ كَانَ يَشْغَلُهُمُ الصَّفْقُ بِالأَسْوَاقِ ، وِإِنَّ إِخْوَانَنَا مِنَ الأَنْصَارِ كَانَ يَشْغَلُهُمُ الْعَمَلُ فِى أَمْوَالِهِمْ ، وَإِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ كَانَ يَلْزَمُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – بِشِبَعِ بَطْنِهِ وَيَحْضُرُ مَا لاَ يَحْضُرُونَ، وَيَحْفَظُ مَا لاَ يَحْفَظُونَ

Artinya:”Sesungguhnya manusia mengatakan: sungguh Abu Hurairah terlalu banyak meriwayatkan hadits!!, dan sesungguhnya jika bukan karena dua ayat dalam al-Qur’an niscaya aku tidak akan meriwayatkan sebuah hadits-pun, kemudian beliau membaca firman Allah. (artinya) :”Sungguh, orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan dan petunjuk, setelah Kami tunjukkan kepada manusia dalam kitab, mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat pula oleh orang yang melaknat. kecuali mereka yang telah bertobat, mengadakan perbaikan dan menjelaskannya, mereka itulah yang Aku terima tobatnya dan Akulah maha penerima tobat”[QS. al-Baqoroh 159-160]. Sesungguhnya saudara-saudara kami dari kalangan muhajirin disibukan dengan perniagaan di pasar, sedangkan saudara kami dari kalangan Anshor disibukan dengan pekerjaan-pekerjaan mereka, sedangkan Abu Hurairah senantiasa melazimi Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- dengan kenyangnya perutnya, dan dia menghadiri ta’lim-ta’lim yang tidak dihadiri para sahabat yang lain, dan menghafal hadits-hadits yang tidak dihafal oleh para sahabat yang lainnya”.[[4]]

Perlu diketahui, bahwa kedekatan Abu Hurairah dengan Nabi Muhammad adalah merupakan rahasia umum para sahabat Nabi, oleh sebab itu bukanlah suatu hal yang aneh jika lisan para sahabat mengakui bahwa beliau adalah sosok yang sangat dekat dengan Nabi Muhammad, perhatikanlah!! Lisan mulia Thalhah bin Ubaidillah –radhiyallahu ‘anhu- menepis “syubhat” yang datang dari seseorang, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Katsir  dengan sanadnya: Dari Abu Yusr bin Abi ‘Amir, beliau berkata: saya bersama Thalhah bin ‘Ubaidillah tiba-tiba muncul seorang seraya bertanya: wahai Abu Muhammad, kami merasa heran dengan orang Yaman ini [maksudnya Abu Hurairah], bagaimana bisa dia lebih banyak meriwayatkan hadits daripada anda?? Apakah meriwayatkan hadits yang tidak dia dengarkan dari nabi??. Maka Thalhah-pun mengatakan: Demi Allah, kami tidak meragukan bahwa dia [Abu Hurairah] telah mendengarkan dari Rasulullah hal-hal yang tidak kami dengarkan, dan mengetahui sesuatu yang kami tidak mengetahuinya, sesungguhnya kami dahulu termasuk orang kaya, kami memiliki rumah-rumah dan keluarga, dahulu kami mendatangi Nabi tiap pagi dan petang kemudian pulang ke rumah, sedangkan Abu Hurairah orang miskin, beliau tidak memiliki harta maupun keluarga, sesungguhnya tangannya dahulu senantiasa bersama tangan Nabi dan selalu mendampingi Nabi di manapun beliau berada, maka tidak bisa dipungkiri jika kemudian beliau mengetahui hal-hal yang tidak kami ketahui, dan mendengarkan hadits-hadits yang tidak kami dengarkan.[[5]]

  1. KETEKUNAN DAN KERAJINAN ABU HURAIRAH DALAM MEMPELAJARI HADITS

Adalah merupakan rahasia umum bahwa ketekunan, kerajinan dan keuletan dalam menuntut ilmu adalah kunci sukses untuk memperoleh khazanah ilmiyah yang luas, salah satu buktinya adalah sahabat yang mulia Abu Hurairah. Beliau dengan penuh sukarela berlapar ria, tekun dan ulet dalam mengejar ilmu, dan tentunya dibarengi “segudang” kesabaran untuk menuntut ilmu dari Rasulullah, beliau dengan ikhlas meninggalkan perniagaan dan pekerjaan, berhias dengan sifat qonaah dalam masalah dunia demi memperoleh warisan hadits Rasulullah –shallahu ‘alaihi wasallam-, tidak memelihara mata iri dan hati dengki terhadap sahabat-sahabat yang lainnya yang sibuk dengan pekerjaan mereka, intinya adalah beliau mendedikasikan waktu, tubuh, semangat, fokus dan konsentrasi untuk menimba ilmu dari Rasulullah, maka tidak heran bila lisan mulia Nabi kita sempat mentazkiyah ketika beliau bertanya tentang sesuatu, sebagimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Abu Hurairah bertanya kepada Rasulullah:Wahai Rasulullah, siapakah yang paling bahagia untuk mendapatkan syafaatmu pada hari kiamat kelak??, maka Rasulullah menjawab:”sungguh aku telah mengira wahai Abu Hurairah, bahwa tidak akan ada seorangpun mendahului engkau untuk bertanya kepadaku tentang hadits ini, karena aku telah melihat semangatmu yang besar untuk mempelajari hadits. sesungguhnya orang yang paling bahagia dengan syafaatku pada hari kiamat kelak adalah semua yang mengucapkan kalimat “Laa Ilaha Illallah” dengan penuh keikhlasan”.[[6]]

inilah salah satu rekomendasi yang keluar dari lisan ma’shum Nabi kita yang tercinta kepada Abu Hurairah, sehingga dengan penuh keyakinan kita katakan bahwa Abu Hurairah adalah salah seorang sahabat yang paling semangat untuk mempelajari hadits-hadits Nabi.

  1. DO’A NABI UNTUK ABU HURAIRAH

Inilah puncak keutamaan Abu Hurairah, dan salah satu kunci terpenting dari kemampuan ilmiyah Abu Hurairah, yaitu kemampuan hafalan Abu Hurairah yang luar biasa, yang merupakan buah dari mukjizat kenabian, beliau adalah penghulu para penghafal, sang periwayat islam, olehnya jangan heran bila Imam Bukhari mengatakan bahwa jumlah perawi dari kalangan tabi’in yang meriwayatkan hadits dari beliau mencapai 800 orang!!. Kemukjizatan hafalan Abu Hurairah bukanlah kabar burung belaka, akan tetapi sebuah fakta sejarah yang terpahat di dinding-dinding waktu, perhatikanlah dengan seksama wahai saudaraku!, hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari di bawah ini:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنِّى أَسْمَعُ مِنْكَ حَدِيثًا كَثِيرًا أَنْسَاهُ . قَالَ « ابْسُطْ رِدَاءَكَ » فَبَسَطْتُهُ . قَالَ فَغَرَفَ بِيَدَيْهِ ثُمَّ قَالَ « ضُمُّهُ » فَضَمَمْتُهُ فَمَا نَسِيتُ شَيْئًا بَعْدَهُ

Artinya: Dari Abu Hurairah, beliau berkata:”Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mendengarkan hadits yang banyak darimu, namun aku melupakannya”. Maka Rasulullah mengatakan:((hamparkanlah selendangmu!!)), maka aku hamparkan selendangku, maka Nabi mengambilnya dengan tangannya, kemudian beliau bersabda: ((peluklah selendangmu!!)), maka akupun memeluknya, dan aku tidak lupa sedikitpun setelah itu”.[[7]]

Kekuatan hafalan Abu Hurairah menjadi buah bibir setiap generasi, perhatikanlah wahai saudaraku beberapa perkataan ulama terkait hafalan beliau:

Imam Syafi’i  mengatakan:”Abu Hurairah adalah perawi yang paling hafal hadits pada masanya”.[[8]]

Ad-Dzahabi  mengatakan:”[Abu Hurairah] adalah penghulu para penghafal”[[9]], Beliau juga mengatakan: hafalan Abu Hurairah yang luar biasa adalah buah dari mu’jizat kenabian.[[10]]

Oleh karena itu Ibnu Hajar menukil ijma’ bahwa Abu Hurairah adalah sahabat yang terbanyak menghafal hadits Nabi, beliau mengatakan: sungguh ahli hadits telah bersepakat bahwa Abu hurairah adalah sahabat yang paling banyak menghafal hadits Nabi.[[11]]

Dan demi menentramkan hati para ikhwah sekalian terkait hal ini [kekuatan hafalan Abu Hurairah], maka mungkin perlu kami tegaskan bahwa kemampuan hafalan Abu Hurairah telah teruji, hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Hakim dalam al-Mustadrak dengan sanadnya kepada Abu Zu’aizi’ah –sekretaris Marwan Bin Hakam-, bahwa khalifah Marwan bin Hakam memanggil Abu Hurairah, dan khalifah memerintahkan aku duduk di belakang singgasana, maka kemudian khalifah mulai bertanya tentang hadits-hadits dan akupun mulai menulisnya ke dalam catatanku. Kemudian setelah satu tahun berselang dari kejadian tersebut, khalifah memanggil Abu Hurairah kembali, dan beliau memerintahkan agar aku [Abu Zu’aizi’ah] duduk di belakang tirai, maka khalifahpun mulai bertanya tentang hadits yang ditanyakan tahun lalu, dan aku mulai memeriksa catatanku, ternyata Abu Hurairah tidak meleset meskipun satu huruf.[[12]]

Intinya, atsar diatas bukanlah sabda Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam-, namun kita bisa memetik kandungan hikmah dan pelajaran darinya, bahwa kesuksesan dalam menuntut ilmu dibutuhkan usaha, pengorbanan dan berdo’a kepada Allah, wallahu ta’ala a’lam bishawab, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

_______________________________________

[[1]] . Musnad al-Bazzar hal: 175, akhbarul ashbahan 7/376.

[[2]] . HR. At-Tirmidzi no hadits: 2646, Abu Dawud No Hadits: 3641, Ibnu Majah No hadits: 223. Hadits ini sangat masyhur, dan dinyatakan shahih oleh syaikh Albani.

[[3]].HR Bukhari secara mu’allaq, 1/135

[[4]] . shahih al-Bukhari 1/213

[[5]]. al -Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir 8/117

[[6]] . Shahih Bukhari 1/185

[[7]] . Shahih Bukhari 1/123

[[8]]. Al-Ishobah fi Ma’rifatis shahabah 3/513

[[9] ]. Siyar A’lamun Nubala 2/578

[[10]].Siyar A’lamun Nubala 2/594

[[11] ]. al-Ishobah 4/202.

[[12]] . al-Mustadrak karya Imam al-Hakim 3/510, beliau mengatakan: hadits ini sanadnya shahih, dan Imam ad-Dzahabi menyepakatinya

You might also like More from author

Leave a comment
k