Obati Kesalahan

Bismillahirrahmanirrahiim

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا[1]

Artinya : Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharapkan rahmat Allah dan datangnya hari kiamat, serta banyak menyebut Allah ta’ala.

Abu Bakrah radiallahu ‘anhu menggambarkan indahnya sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada dirinya -yang baru saja masuk islam saat itu- ketika ia melakukan kesalahan dengan mengatakan :

“Sungguh beliau –Rasulullah- tidak mencela, menghardik dan menghinaku…”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ibaratnya seorang dokter yang mengobati penyakit pasiennya, sebagai pemimpin yang mengarahkan pasukannya, sebagai kawan yang menasehati sahabatnya, sebagai ayah yang mengayomi keluarganya, dan di seluruh lini kehidupannya, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa berada dalam koridor penggambaran Allah ta’ala terhadapnya :

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ[2]

Artinya : Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kaum kalian sendiri, terasa berat olehnya penderitaanmu, dan ia sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang yang beriman.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam kitab shahih mereka dari Anas bin Malik dan Abdullah bin Yazid radiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendapatkan harta rampasan yang sangatlah banyak selepas peperangan Hunain yang terjadi pada tahun ke-8 Hijriyah. Harta rampasan tersebut kemudian dibagikan kepada orang-orang Quraisy serta kabilah-kabilah arab lainnya yang baru memeluk agama islam dengan tujuan untuk mengikat hati mereka. Bahkan di dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah memberikan 100 ekor unta kepada seseorang dan tidak memberikan sedikit pun bagian bagi kaum Anshar (kaum muslimin dari penduduk asli kota Madinah) dari harta rampasan tersebut. Sebuah ujian yang berat bagi kaum Anshar saat itu, yang menyebabkan sebagian dari mereka merasa adanya ketidakadilan dari perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, hingga mereka berkata :

“Semoga Allah ta’ala memberikan ampunanNya kepada Rasulullah, sungguh perbuatan beliau benar-benar di luar dugaan. Beliau memberikan seluruh harta rampasan kepada kaum Quraisy dan beliau melupakan kita kaum Anshar, padahal pedang-pedang kita dahulu berlumur darah mereka (kaum Quraisy) sebelum mereka masuk islam. Apabila keadaan sedang tidak stabil dan berpotensi timbulnya peperangan maka kitalah kaum Anshar yang dipanggilnya, namun saat rampasan perang dibagi ia justru diberikan kepada selain kita. Sungguh seandainya perkara ini adalah perintah Allah ta’ala maka kita akan bersabar, namun jika ia merupakan ijtihad dan pandangan Rasulullah semata, maka kita harus bertindak..”

Perkataan ini kemudian sampai ke telinga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melalui perantara Sa’ad bin Ubadah radiyallahu anhu. Sa’ad berkata kepada beliau :

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya segelintir kaum Anshar merasa keberatan atas perbuatan Anda”

Rasulullah membalas “dalam permasalahan apa wahai Sa’ad ?”

“persoalan pembagian harta rampasan yang Anda bagikan kepada kaum Anda (Quraisy) sedang kaum Anshar tidak mendapatkan sedikit pun darinya.”

“lantas apakah kamu termasuk di antara mereka yang menolaknya wahai Sa’ad?” tanya Rasulullah.

“saya hanyalah penduduk biasa wahai Rasulullah yang diamanahkan untuk menyampaikan pesan ini kepada Anda” jawab Sa’ad.

Rasulullah kemudian berkata “Jika demikian maka kumpulkanlah kaummu siang ini dan kabari Aku bila mereka telah berkumpul seluruhnya.”

Berkumpullah kaum Anshar yang dimaksudkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tak ada seorang pun dari mereka melainkan sangat ingin untuk mendengarkan penjelasan atas sikap Rasulullah yang dinilai tidak adil atas mereka. Hingga tiba saatnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian berdiri di hadapan wajah-wajah mereka, beliau memuji Allah dan bersyukur kepadaNya lalu bersabda :

“Wahai kaum Anshar !!!

Bukankah dahulu Aku datang sedang kalian masih berada di dalam kesesatan lantas Allah memberikan hidayah kepada kalian?

Bukankah dahulu kalian melarat dan terlunta-lunta lantas Allah mengaruniakan kepada kalian harta yang cukup?

Bukankah dahulu kalian saling bermusuh-musuhan lantas Allah mengaruniakan ukhuwwah imaniyah di dalam hati kalian?

Jawablah wahai kaum Anshar !!!”

Kaum Anshar kemudian menjawab “benar wahai Rasulullah, seluruhnya berkat karunia Allah subhanahu wa ta’ala.”

Rasulullah kemudian bersabda kembali “lalu mengapa Aku mendengarkan ucapan tersebut dari kalian?”

Mereka diam tak menjawab…

Rasulullah kembali bersabda “mengapa Aku mendengarkan ucapan tersebut dari kalian?”

Maka salah seorang dari kaum Anshar kemudian berkata “Wahai Rasulullah, para pemuka kaum Anshar tak berkata apapun tentang harta rampasan itu, ucapan itu justru keluar dari mulut sebagian pemuda kami.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

”Sesungguhnya orang-orang Quraisy tersebut adalah orang-orang yang baru saja memeluk agama Islam, mereka jahil akan agamanya. Atas alasan ini Aku memberikan harta rampasan Hunain kepada mereka untuk menetapkan dan menguatkan hati mereka dalam agama ini.

Apakah karena perkara dunia yang fana (baca : harta) ini sampai membuat kalian tidak ridho atas Nabi kalian?

Apakah kalian tidak ridho jika harta dunia yang sedikit ini kita jadikan sebagai sebab untuk menguatkan hati mereka yang baru saja meninggalkan kekufurannya dan memeluk keyakinan kita bersama?

Apakah kalian tidak ridho jika orang-orang Quraisy pulang ke rumah mereka dengan membawa harta rampasan dari hewan ternak, kambing, unta, persenjataan dan yang lainnya sedangkan kalian pulang bersama Rasul Allah subhanahu wa ta’ala ke kota Madinah, kalian menjaga dan melindunginya?

Sungguh demi Allah, apa yang kalian bawa jauh lebih berharga dibandingkan dengan apa yang mereka bawa…

Dan demi Dzat yang jiwaku berada di dalam genggamanNya, jika saja ummat manusia diperhadapkan pada 2 buah jalan, maka pasti Aku akan mengikuti jalan yang diambil oleh kaum Anshar.

Kalian wahai kaum Anshar ibarat pakaian bagi Islam, sedangkan mereka (selain Anshar) ibarat selimut … seandainya bukan karena ibadah hijrah, maka Aku berharap lahir di tengah-tengah kalian …

Ya Allah rahmatilah kaum Anshar dan anak-anak mereka.”

Demikian pidato Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang telah membuat wajah para sahabat radiyallahu ‘anhum ajma’in basah karena air mata mereka yang tak berhenti mengucur deras membasahi pipi, dagu dan jenggot mereka…

Nasehat Nabawiyyah yang penuh dengan pelajaran yang berharga, mengajarkan kita bahwa dunia tak pernah lebih berharga dibandingkan kedudukan mulia agama ini. Mengajarkan kita makna keadilan serta penunaian hak-hak muslim, dan sekaligus menyurati pesan tersirat kepada pemeluknya bagaimana Rasulullah mengobati kesalahan, mengayomi pelakunya, dan memberikan jalan keluar tanpa menyakiti hati siapa pun dari ummatnya.

Sungguh kita memang membenci adanya kesalahan, kekhilafan, dosa dan maksiat, baik kesalahan itu ada pada diri kita ataupun orang lain. Namun ia tidak serta-merta menjadikan kita bersikap pesimis, putus asa, apalagi arogan kepada orang lain. Bukankah kesalahan merupakan salah satu jalan untuk melakukan perbaikan dan pembinaan diri pribadi dan orang lain ? Allah ta’ala berfirman :

لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ[3]

Artinya : Jangan pernah kalian menganggap (berita dusta : Ifk) itu buruk, bahkan ia justru baik bagi kalian.

Boleh jadi sebuah kesalahan, musibah, ujian, dan persoalan berbalik menjadi kenikmatan, kebaikan dan karunia dari Allah apabila kita mengambil sikap yang benar terhadap kesalahan tersebut.

__________________________

[1]  Surah Al Ahzab : 21.

[2]  Surah At Taubah : 128.

[3] Surah An Nuur : 11.

You might also like More from author

Leave a comment
k