Milikilah Keyakinan Kuat Maka Engkau Akan Hebat

Dengan keyakinan, bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar, Allah akan jadikan Islam sebagai agama yang tidak tertandingi di muka bumi, pemeluk agama manapun akan tunduk pada umat Islam. Ketika keyakinan sudah hilang, tatkala kebanggaan terhadap Islam telah tiada, berganti kekaguman terhadap agama lain, Allah pun akan menjadikan umat Islam tidak bermartabat, pemeluk agama lain tidak menaruh segan pada umat Islam. Dan fenomena minder terhadap Islam telah melanda sebagian umat Islam. Padahal Nabi Muhammad dengan penuh keyakinan berkata:

اْلإِسْلاَمُ يَعْلُو وَلاَ يُعْلَى

Islam itu tinggi dan tidak akan ada yang lebih tinggi darinya.”[1]

Beliau telah mencontohkan bagaimana keyakinan itu harus menghujam kuat di dalam hati. Karena beliau tahu, keyakinan merupakan modal paling utama bagi kejayaan sebuah peradaban. Beliau telah melihat betapa keyakinan telah menumbuhkan energi dahsyat tak tertandingi pada peradaban umat Islam awal di zaman beliau. Beliau menuturkan:

صَلاَحُ أَوَّلِ هَذِهِ اْلأُمَّةِ بِالزُّهْدِ وَاْليَقِيْنِ وَيَهْلِكُ آخِرُهَا بِالبُخْلِ وَاْلأَمَلِ

Kejayaan awal umat ini adalah dengan sebab sikap zuhud dan yakin. Sedangkan kehancuran akhir umat ini dengan sebab kekikiran dan panjang angan-angan.[2]

Signifikansi keyakinan tampak pula pada doa. Doa yang terucap tanpa keyakinan, laksana memancing di kolam renang, tidak akan mungkin mendapat apa yang diinginkan. Rasulullah berkata:

ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ

Berdoalah kepada Allah dengan penuh keyakinan akan dikabulkan. Ketahuilah, Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai lagi main-main.[3]

Allah adalah satu-satunya pencipta dan pemilik segalanya. Kita adalah hamba-Nya. Kita hanya pantas berdoa kepada Allah. Saat kita meminta kepada Allah, hati haruslah penuh dengan keyakinan bahwa Allah akan mengabulkan pinta kita. Pensyarah Sunan At-Tirmidzi menasehatkan, “Anda harus yakin Allah tidak akan acuh dengan Anda. Kemurahan Allah sangat besar, kekuasaan-Nya sempurna, ilmu-Nya meliputi segalanya, (sangat mudah bagi-Nya) untuk mengetahui harapan yang tulus dan doa yang ikhlas dari hamba-Nya. Orang yang berdoa, jika rasa berharapnya tidak kuat, maka doanya menjadi tidak tulus.”[4]

Allah-lah, satu-satunya yang bisa mewujudkan kejayaan bagi umat Islam. Maka dengan iringan ikhtiar yang tegar, keyakinan kepada Allah tidak boleh pudar, hingga Allah berikan kepada kita kejayaan yang membuat orang nonmuslim gentar. Allah berfirman:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ إِنْ خَيْرًا فَخَيْرٌ وَ إِنْ شَرًّا فَشَرٌّ

Aku sesuai prasangka hambaKu kepadaKu. Jika dia berprasangka baik, maka baik. Jika dia berprasangka jelek, maka jelek.[5]

Jika kita yakin Allah akan berbuat baik kepada kita, maka kebaikanlah yang akan Allah anugerahkan kepada kita. Sebaliknya, jika kita menyangka Allah akan dan atau sedang berbuat jelek kepada kita, maka kejelekanlah yang kita dapatkan.

Melalui firman-Nya ini, Allah ingin agar manusia selalu yakin dengan pertolongan dan kebaikan dari Allah. Allah tidak menginginkan manusia beranggapan buruk terhadap Allah, Allah juga melarang berputus asa akan kebaikan dari-Nya. Rasulullah berkata, ”Ada tiga golongan manusia yang tidak ditanyai (pada hari kiamat); …Orang yang ragu akan taqdir Allah; Dan orang yang putus asa akan rahmah Allah.”[6]

Lebih dari itu, keyakinan bila tidak terus dirawat, bisa jadi secara perlahan namun pasti, akan terserang hama “keraguan” dan virus relativisme. Bila kedua penyakit ini telah menghantam pohon keyakinan, maka kehancuran tinggal menunggu waktu. Maka, jauh-jauh hari Rasulullah telah memasang benteng preventif dari gelombang serangan dua penyakit ini. Beliau berpesan:

دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إلَى مَا لَا يَرِيْبُكَ

Tinggalkanlah apa yang meragukanmu, (berpalinglah) menuju apa yang tidak meragukanmu.”[7]

Demi mencegah robohnya pilar keyakinan, keragu-raguan harus secepatnya dihilangkan, lantas beralih kepada apa yang menjadi keyakinan, tentu keyakinan yang benar. Sebab, keragu-raguan dihembuskan oleh setan untuk membinasakan manusia. Karenanya Allah perintahkan manusia untuk berlindung dari segala macam hembusan setan, termasuk keragu-raguan ini, sebagaimana tertuang dalam Al-Qur`an surah An-Nas.

Di samping itu, keragu-raguan, yang merupakan bagian dari intuisi (hawa nafsu) sesat, sangat perlu dijauhi, karena dampaknya sangat menghancurkan. Nabi shallallahu alaihi wasallam  menyebutkan:

ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: هَوًى مُتَّبَعٌ وَشُحٌّ مُطَاعٌ وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

Tiga hal yang membinasakan; hawa nafsu yang dituruti, kikir yang diikuti, dan kekaguman pada diri sendiri”.[8] []

Oleh Brilly El-Rasheed

___________________________________________

[1] Hasan: Shahih Al-Jami’ no. 2778; Irwa` Al-Ghalil no. 1268

[2] Hasan: Shahih Al-Jami’ no. 3739, 3845; Misykah Al-Mashabih no. 5281

[3] Shahih: Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 3479; Shahih Al-Jami’ no. 245; Ash-Shahihah no. 564, 594, 596; Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 1653

[4] Tuhfah Al-Ahwadzi 9/450

[5] Shahih: Shahih Al-Jami’ no. 1905

[6] Shahih: Shahih Al-Jami’ no. 3059

[7] Shahih: Shahih Al-Jami’ no. 3377; Irwa` Al-Ghalil no. 2074

[8] Hasan li ghairihi: Ash-Shahihah no. 1802; Shahih Al-Jami no. 3039

You might also like More from author

Leave a comment
k