Mengapa Dunia Membutuhkan Pahlawan

Sejarah selalu menjadi tempat bercermin terbaik, tentang siapa dan akan menjadi apa wajah dunia saat ini dan pada masa-masa yang akan datang. Apa yang kelam di masa lalu, nampak jelas pada cermin itu, sebagaimana kenangan indah juga telah terpatri di dalam sanubari setiap insan dan termaktub di dalam lembaran-lembaran yang kini semakin usang termakan waktu.

Berbicara tentang masa kelam, dunia menjadi saksi bisu atas berbagai macam idealisme. Baik yang diterapkan dalam sistem sosial, perekonomian, pemerintahan, bahkan keagamaan. Sebahagian, dengan niat hendak merubah sistem sebuah negara namun karena masyarakatnya belum siap dari berbagai sisi kehidupan, niat itu justru menimbulkan genosida terhadap keberadaan manusia.

Antara tahun 1958 hingga 1961, China mengalami salah satu periode paling kelam dalam sejarah mereka di mana sekitar 45 juta jiwa hilang karena kelaparan. Penyebabnya ada dua, bencana kekeringan dan kebijakan partai komunis di bawah Mao Zedong yang nekat mengimplementasikan kebijakan ekonomi dan sosial baru di saat masyarakat belum siap dengan konsekuensinya.

Mao Zedong memaksakan China berubah dari negara agraris menjadi raksasa industri saat bencana kekeringan terjadi. Akibatnya pasokan bahan makanan habis. Di mana-mana rakyat kelaparan hingga di beberapa daerah praktek kanibalisme pun lazim terjadi. Bencana kelaparan ini berlangsung selama tiga tahun dan menewaskan sekitar 5% dari total populasi penduduk China saat itu.

Sedikit ke belakang pada masa jahiliah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dikenal sebagai seorang yang paling jujur di tengah-tengah kaumnya. Tak pernah terucap kata dusta dan hina dari beliau walau sekali. Yang menarik adalah, kejujuran merupakan salah satu keistimewaan kalangan arab quraisy. Karenanya mereka rela melakukan apapun, agar tidak terdengar kata dusta dari mulut mereka.

Ketika Abu Sufyan menemui Heraklius, raja roma[1]. Terjadi diskusi antara keduanya terkait perihal Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan dakwah yang beliau usung. Abu Sufyan yang masih berstatus seorang kafir dan penyembah berhala sekaligus musuh Nabi Muhammad, menjawab seluruh pertanyaan Heraklius dengan jawaban yang jujur dan tidak ada kedustaan sedikit pun. Abu Sufyan lantas berkata kepada para sahabatnya “seandainya bukan karena saya takut akan dusta, maka saya akan berdusta atas Muhammad”.

Seperti itu kejujuran Abu Sufyan, lantas bagaimanakah kejujuran Al-Amiin, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ?

Kejujuran ini yang kemudian bertolak belakang dengan sebagian penduduk yang masih menggunakan sistem riba dan penipuan, yang terus menggerogoti dan siap menghancurkan perekonomian kota Mekkah kala itu. Kejujuran yang menjadi salah satu tonggak dasar diembannya Nubuwwah kepada baginda Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kejujuran ini yang menjadi simbol, kebenaran risalah yang diusung oleh seorang yang ummy.

Sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beberapa kabilah arab sekitar kota madinah memilih meninggalkan agama islam dan kembali kepada agama nenek moyang mereka. Terlepas dari maksud dan tujuan mereka meninggalkan agama islam, namun hal ini memberikan ancaman yang sangat besar terhadap keutuhan dan stabilitas pemerintahan islam Madinah yang telah dibangun oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selama 10 tahun lamanya.

Hal ini kemudian menjadi prioritas utama Abu Bakar As-Siddiq radiyallahu ‘anhu sebagai khalifah muslimin pertama setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Untuk memerangi kabilah yang telah murtad, demi mengembalikan kekuatan dan kekuasaan islam di jazirah arab, sekaligus memproklamirkan kepada dunia akan asas dan pondasi pemerintahan yang diusung oleh khilafah islamiyah saat itu.

Di seluruh dunia, dusta atas nama agama adalah kejahatan yang terbesar. Lahirnya pemikiran khawarij dan akibat yang ditimbulkannya mungkin dapat dianggap sebagai jenis genosida lain yang berporos pada kepentingan agama. Olehnya, perang saudara sampai terbunuhnya Ali bin Abi Talib radhiyallahu ‘anhu menjadi sejarah kelam yang telah mereka corengkan dalam lembaran-lembaran suci sejarah kaum muslimin.

Seiring hal itu, perbuatan dusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak dapat dihindari. Muncullah hadits-hadits palsu yang dibuat untuk masing-masing kelompok yang berkepentingan pada masa fitnah. Menahan keburukan yang semakin besar, maka apa yang dilakukan oleh amirul mukminin Umar bin Abdul Aziz rahimahullah pada masanya untuk mengumpulkan dan menuliskan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi prioritas yang paling utama agar hadits maudhu’ dapat dipisahkan dari hadits-hadits yang tsabit.

Sahabat, sekali lagi sejarah mengajarkan bahwa dunia pernah porak-poranda disebabkan ulah tangan manusia-manusia setan. Namun ia juga mengajarkan bahwa dalam perjalanannya tetap ada manusia-manusia malaikat yang berusaha untuk mengembalikan keindahan dunia. Mereka tulus dalam usahanya, makanya suap tak mempan pada mereka. Mereka jujur dalam usahanya, makanya kepercayaan datang setelah keragu-raguan meliputi umat manusia kala itu.

Umat manusia membutuhkan sosok pahlawan yang berdedikasi pada sebuah simbol, karena hal itu jauh lebih baik dari kekuatan sejuta manusia yang tak memiliki keyakinan, visi dan misi yang jelas. Simbol keadilan, kejujuran, kemerdekaan, keinginan untuk merubah dunia tempat ia berpijak agar menjadi tempat yang lebih baik untuk dihuni dalam berbagai aspek dan jenis makna kehidupan, meskipun hanya diusung oleh seseorang. Namun simbol inilah yang akan memberikan secercah harapan bagi umat manusia, bahwa dunia belum berakhir.

Perjuangan untuk merubah nasib dunia membutuhkan manusia-manusia hebat dan tangguh di segala medan. Meskipun tidak berkekuatan super, karena manusia tetaplah manusia yang jika digelitik maka mereka akan tertawa, dan jika mereka melihat bangsanya hancur, mereka akan menangis.

Saya dan Anda, di manapun profesi dan tempat berpijak, bisa menjadi simbol itu, tergantung apa usaha kita untuk meraihnya. Bukankah Allah ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ

Artinya : “Dan sungguh telah Kami tulis di dalam zabur sesudah Kami tulis dalam lauh mahfudz, bahwasanya bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hambaKu yang shaleh[2].

[1] Shohih Bukhari No. 7

[2] QS Al Anbiyaa : 105

You might also like More from author

Leave a comment
k