Mengaktifkan Energi Berfikir Positif

Oleh Brilly El-Rasheed, S.Pd.

Dewasa ini berkembang secara pesat konsep motivasi yang berporos pada aktivasi energi berpikir positif setelah banyak kalangan peneliti psikologi yang menularkan penemuan tentang hal itu. Sebetulnya penemuan tersebut bukanlah hal yang sama sekali baru. Pasalnya Islam sudah jauh lebih dulu menanamkan urgensitas berpikir positif.

Berpikir positif dapat diraih dengan mudah, kuncinya adalah memperbesar harapan atas kebaikan ke depan, entah jarak satu detik, satu menit, satu jam, satu hari dan seterusnya. Dengan senantiasa berharap akan adanya kebaikan dan yakin bahwa pasti ada sisi baik dari kegagalan atau keterpurukan, niscaya berpikir positif menjadi mudah dilakukan.

Dari Abu Hurairah, dari Nabi, Allah berfirman,

عَبْدِيْ أَنَا عِنْدَ ظَنِّكَ بِيْ وَ أَنَا مَعَكَ إِذَا ذَكَرْتَنِيْ

”Hamba-Ku, Aku sesuai dengan prasangkaanmu kepada-Ku. Dan Aku bersamamu selagi engkau menyebut-Ku.” [Shahih: Shahih Al-Jami’ no. 4325; Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 2012]

Demikian ungkapan cinta Allah kepada hambaNya. HambaNya diperingatkanNya agar tidak membiarkan energi dari pikiran positif padam. Sekali padam, maka deburan ombak badai energi berpikir negatif akan menyerbu secara dahsyat dan membuat kelumpuhan otak dan kepincangan qalbu, sampai tak jauh beda dengan orang yang hilang logika warasnya.

Orang yang bakhil (tidak mau berderma untuk sosial dan edukasi religi Islami), yakni menolak berinfaq untuk kepentingan Islam dan kaum muslimin, enggan berzakat, tidak mau bershadaqah  kepada orang yang butuh, sesungguhnya mereka itu sedang berpikir negatif, ragu akan kemahakayaannya Allah, tidak percaya akan keajaiban infaq, beranggapan infaq hanya mengurangi harta dan menjadi sebab kemiskinan, dan sebetulnya kadar ketawakkalannya kepada Allah hilang tiada tersisa. Walhasil, orang-orang yang bakhil akan kehilangan potensi finansial yang luar biasa hingga dia terpuruk dalam angan-angan kosong. Tidak menutup kemungkinan, dia akan terperosok dalam jurang kebangkrutan, karena memang Allah lah pemilik seluruh kekayaan dunia akhirat.

Dari Watsilah, dari Nabi Muhammad, Allah berfirman,

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ إِنْ خَيْرًا فَخَيْرٌ وَ إِنْ شَرًّا فَشَرٌّ

”Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Jika dia berprasangka baik, maka baik. Jika dia berprasangka jelek, maka jelek.” [Shahih: Al-Mu’jam Al-Ausath Ath-Thabrani; Hilyah Al-Auliya` Abu Nu’aim. Shahih Al-Jami’ no. 1905]

Begitupun orang-orang yang menyekutukan Allah dengan selain-Nya. Sebenarnya mereka sedang berpikir negatif, yaitu ragu akan kemahakuasaan Allah untuk menciptakan atau mengadakan apa saja yang mereka inginkan maupun yang tidak mereka inginkan. Allah Ta’ala memperingatkan,

{ يَظُنُّونَ بِاللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ يَقُولُونَ هَلْ لَنَا مِنَ الْأَمْرِ مِنْ شَيْءٍ قُلْ إِنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ}

“…Mereka berprasangka yang tidak benar terhadap Allah, seperti sangkaan jahiliyah, mereka berkata: apakah ada bagi kita sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, katakanlah: sungguh urusan itu seluruhnya di Tangan Allah.…” [QS. Ali Imran, 154]

Husnuzhzhan mampu membakar cinta hamba kepada Allah sehingga hamba semakin berlari menuju Allah. Berpikir positif terhadap Allah tidak akan membuat seorang hamba kehilangan optimisme dan semangat dalam menghambakan diri kepada Allah. Orang-orang yang berpikir negatif maka akan terjauhkan atau bahkan menjauhkan diri dari Allah, sengaja ataupun tidak, karena sudah tidak memiliki ‘tempat’ bergantung dan berharap.

Berpikir positif menghadirkan energi kebahagiaan dan kecemerlangan. Rela tidak berpikir positif berarti rela kehilangan potensi bahagia. Mereka yang membiarkan diri tenggelam dalam pikiran negatif terhadap Allah maupun terhadap sesama manusia, sebentar maupun dalam waktu yang lama, akan ditimpa kekalutan pikiran, kesedihan tanpa alasan, kecurigaan yang terus bergelayutan, dan keputus asaan.

Dari Watsilah, dari Rasulullah, Allah berfirman,

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ فَلْيَظُنُّ بِيْ مَا شَاءَ

”Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Maka silahkan ia berprasangka apa saja yang ia mau.” [Shahih: Al-Mu’jam Al-Kabir Ath-Thabrani; Al-Mustadrak Al-Hakim. Shahih Al-Jami’ no. 4316]

Orang yang tidak mau berpikir positif kerap dirundung kegagalan demi kegagalan karena tidak memiliki ruang yang cukup dalam otaknya untuk memproses intuisi, pengalaman, pengetahuan dan doa menjadi sebuah keputusan yang sempurna. Orang yang mau berpikir positif setiap detik, setiap menit, setiap jam dan setiap kesempatan, maka dia memiliki ruang yang sangat luas dalam otaknya untuk enzim kesuksesan yang akan mengalir ke seluruh tubuhnya.

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam,

ادْعُوا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإجَابَةِ

“Berdoalah kepada Allah sementara kalian yakin dikabulkan olehNya.” [HR. At-Tirmidzi dengan sanad shahih]

Sungguh betapa hebatnya bimbingan Nabi akan pentingnya menjaga diri untuk senantiasa berpikir positif dan untuk tidak sekali-kali membiarkan pikiran negatif bercokol dalam otak lantas turun ke qalbu. Sebab tidak menutup kemungkinan kita didatangi malaikat maut sementara pikiran negatif sudah sangat akut atau sekedar tersangkut.

You might also like More from author

Leave a comment
k