Keuntungan yang Hakiki

Suatu ketika seseorang sedang asyik berjalan melewati sebuah rumah tua yang hampir roboh. Saat sedang melintas, sebuah genteng tiba-tiba jatuh dan nyaris menimpa kepalanya. Sontak hal itu membuatnya kaget dan secara spontan berkata “Alhamdulillah, untung tidak kena kepala…”

Di saat yang sama pada tempat dan kejadian yang berbeda seseorang juga mengatakan hal yang sama “Alhamdulillah, untung tidak kena kepala…” ketika ia sedang berjalan di pinggir lapangan basket dan dikejutkan dengan meluncurnya sebuah bola basket ke arahnya dengan cepat.

Kejadian seperti ini memang kerap terjadi dalam kehidupan kita sebagai makhluk sosial yang senantiasa butuh kepada sesama, namun sahabat…jika dilihat sepintas, ternyata ada kesamaan antara kedua contoh kejadian di atas. ialah bahwa keburukan  yang tak menimpa pelaku kejadian di atas dianggap sebagai sebuah keberuntungan baginya.

Dari sini kita ingin mengubah sedikit paradigma ummat manusia saat ini yang selalu menjadikan keberuntungan sebagai sesuatu hal (baca : kebaikan) yang datang kepada kita. Apakah dengan bertambahnya pemasukan bulanan, besarnya laba hasil perdagangan, atau bertambahnya modal juga saham kita di sebuah perusahaan tertentu misalnya, ini semua selalu dikatakan sebagai keberuntungan bagi mereka. Padahal jika dilihat dari kacamata syariat islam, maka keberuntungan tak selalu datang berbentuk kebaikan semata buat kita, yang boleh jadi justru melenakan bahkan membinasakan kita jika tak hati-hati dengannya.

Benar, keuntungan tidak selalu berbentuk uang, bertambahnya modal, dan sebagainya. Kadang terhindarnya kita dari musibah, kecelakaan dan keburukan juga merupakan keuntungan yang sebenarnya jarang kita sadari.

Jika demikian halnya maka tak ada yang patut disalahkan dalam setiap episode kehidupan kita. Kebaikan atau keburukan dapat menjadi keberuntungan yang besar jika kita mengetahui kunci keberhasilan dalam setiap takdir yang telah Allah subhanahu wa ta’ala tetapkan buat kita.

Kunci keberhasilan itu adalah :

  1. Selalu siap dengan takdir yang cocok ataupun yang tidak cocok buat kita. Sebab apapun hal itu maka ia pasti akan terjadi dalam kehidupan, dan kita takkan pernah sanggup menghindari apa yang telah Allah ta’ala gariskan untuk hamba-hambaNya. Dengan memiliki hati yang selalu siap terhadap kejadian apapun bersama keyakinan bahwa kebaikan dan keburukan semuanya memiliki hikmah di sisi Allah, maka kita akan siap untuk masuk dalam ranah episode-episode kehidupan yang ada di hadapan kita.
  2. Memiliki keridhoan atas segala hal yang terjadi dalam kehidupan. Jika takdir Allah telah terjadi, maka kewajiban kita adalah ridho akan takdir tersebut dan bukan menggerutu atau mencerca apa yang Allah tetapkan atas kita. Sebab sikap tidak ridho itu tidak akan mendatangkan apapun kecuali kerugian semata, rugi karena keburukan yang menimpanya dan rugi karena tak menjadikannya ladang pahala dengan sikap ridho dan menerima atas takdir Allah.
  3. Jangan sekali-kali mempersulit persoalan hidup. Demikianlah ciri seorang mukmin yang baik, ia mempermudah urusannya dan tidak mempersulitnya. Sebagaimana di dalam banyak dalil, Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mewanti-wanti kita untuk mempermudah dan tidak mempersulit hidup kita. Sejatinya masalah yang kita hadapi tidak ada yang berbahaya buat kita, namun sering kali kita justru terperangkap di dalam persoalan hidup yang sebenarnya adalah buah dari karangan kita sendiri karena selalu mempersulit masalah yang pada dasarnya remeh dan temeh.
  4. Senantiasa evaluasi diri dan bertawakkal kepada Allah. Mengapa? Sebab setiap usaha kita untuk meraih kebahagiaan yang terbesar takkan pernah berhasil jika tak pernah mengevaluasi setiap usaha yang telah kita lakukan, agar kita selalu mendapatkan pelajaran berharga untuk diterapkan dalam usaha selanjutnya, dan tentu saja seluruhnya tetap harus dikembalikan kepada Allah subhanahu wa ta’ala sebab fokus kita dalam beramal adalah dua hal : meluruskan niat hanya untuk Allah dan menyempurnakan ikhtiyar di jalanNya, selebihnya kita serahkan kepadaNya.

Sahabat, dalam syariat Islam keuntungan yang hakiki dan ukhrawi adalah sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala di dalam Al Quran:

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

Artinya : “Demi masa, Sesungguhnya manusia berada di dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal sholeh, dan saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran”. (Surah Al ‘Ashr 1-3)

Imam Syafi’i rahimahullah berkata tentang surah ini “Seandainya Allah tak menurunkan hujjah selain surah ini, maka niscaya ia telah cukup.”

Keuntungan seorang muslim yang hakiki adalah :

  1. Beriman kepada Allah ta’ala, dan iman takkan berbuah melainkan dengan ilmu syar’i yang kita pelajari.
  2. Mengamalkan ilmu dan iman yang telah dimiliki.
  3. Mendakwahkan ilmu kepada ummat manusia.
  4. Bersabar di atas keimanan kepada Allah ta’ala, bersabar dalam mengamalkan ilmu pengetahuan, dan bersabar di atas jalan dakwah yang penuh dengan onak dan rintangan.

Keuntungan hakiki ketika kita beriman, beramal, berdakwah dan bersabar fi sabilillah.

You might also like More from author

Leave a comment
k