Belajar dari Angka Nol

Angka nol adalah angka yang sangat fantastis, ia bisa merubah banyak hal bergantung  di mana posisi angka nol tersebut. Seorang bijak pernah berkata:kun shifran biyaminil wahid” yang artinya “jadilah angka nol di samping kanan angka satu”. Angka satu kalau ditambahi angka nol di kanannya akan berubah menjadi 10, kalau nolnya ditambah satu lagi akan menjadi 100, kalau angkanya seratus ribu ditambah satu nol lagi di kanannya maka berubah menjadi 1.000.000 begitulah seterusnya, maka tidak heran apabila seseorang menulis di atas lembaran cek, setelah angka nol yang terakhir, biasanya dibubuhi garis, supaya tidak dapat lagi ditambahkan dengan angka nol lagi setelahnya, atau biasanya diuraikan lagi dalam bentuk kata-kata yang ditulis di antara dua tanda kurung untuk menghindari kesalahpahaman. Bayangkan, apa jadinya kalau terjadi kesalahan dalam penulisan angka seratus juta yang harusnya angka nolnya hanya berjumlah delapan, kemudian menjadi sembilan?.

Semuanya itu bisa terjadi kalau angka nol tersebut berada di kanan angka satu atau yang lainnya (selain nol tentunya). Tapi kalau ia berada di kiri angka satu, maka berapa pun banyaknya angka nol tersebut angka satu itu tetap satu, ia tidak memiliki makna sama sekali atau dengan kata lain tidak membawa perubahan sama sekali, ada dan tidak adanya sama saja. Begitu juga ketika angka nol berdiri sendiri, ia tidak mempunyai arti dan nilai sedikit pun. Begitulah angka nol, kelihatannya sepele namun di balik kekerdilannya ia mampu merubah angka apapun menjadi luar biasa atau tidak biasa.

Seorang muslim seharusnya berusaha untuk selalu menjadi angka nol yang berada di kanan angka satu tersebut, baik menjadi angka nol yang pertama ataupun yang kesepuluh. Ini bermakna bahwa seorang muslim seharusnya berusaha untuk memberikan kontribusi konkret (idhafah haqiqiyah)  dalam perjuangan umat, sekecil apapun kontribusi tersebut. Allah Ta’ala senantiasa memotivasi kita untuk terus beramal dan membuat langkah-langkah konkret dan strategis, Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

“Apabila engkau selesai (dari sesuatu urusan) maka tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)” (al-Insyirah: 6)

“ Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggetarkan musuh Allah dan musuhmu…”. (al-Anfaal: 60)              

Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam memotivasi kita menjadi manusia yang terbaik, yaitu dengan memberikan manfaat yang berarti bagi yang lain. Beliau bersabda yang artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain” (HR. al-Baihaqi, Mu’jam al-awsath no: 5787).

Islam tidak pernah membebani kita dengan target yang muluk-muluk, sekecil apapun yang mampu kita lakukan maka kontribusi itu layak untuk dihargai. Bukankah gunung yang menjulang tinggi berasal dari butiran-butiran batu dan pasir yang kecil?. Kita pasti teringat bagaimana Rasulullah Shallahu’alaihiwasallam pernah menyayangkan sikap para sahabat yang tidak memberitahukan kepada beliau perihal meninggalnya wanita berkulit hitam yang berprofesi sebagai “cleaning service” masjid Nabawi, setelah beliau bertanya di mana wanita tersebut dimakamkan, beliau bergegas menuju kuburannya, kemudian melakukan shalat jenazah di atas kuburan wanita tersebut (HR. Bukhari no. 1272) Walaupun hanya sekedar tukang sapu, tapi dalam pandangan baginda Nabi adalah sebuah jerih payah dan kontribusi yang patut dihargai.

Dalam sabda beliau yang lain,  sejalan dengan semangat memberikan motivasi beramal dan berkontribusi, beliau memerintahkan kita, jikalau seandainya kita telah mengetahui bahwa hari kiamat telah dekat, kemudian pada saat itu kita masih mampu untuk menanam sebuah pohon maka beliau memerintahkan untuk tetap melanjutkan menanam pohon tersebut (HR. Bukhari, al-Adab al-Mufrad, no:479) Padahal, logika sederhana kita pasti mengatakan bahwa perbuatan tersebut adalah sia-sia. Sebuah tradisi dan semangat Islam dalam berbuat dan memberikan kontribusi nyata.

Walaupun dunia ini semakin tua, ia tidak pernah berhenti melahirkan orang-orang besar yang pantas untuk diberi gelar “arrajulu ummah” yaitu seseorang yang secara individu mampu melakukan kerja dan  memberikan kontribusi  yang setara dengan pekerjaan dan kontribusi ribuan atau bahkan jutaan orang, meskipun secara fisik/jasmani memiliki kekurangan tapi mampu memberikan kontribusi yang luar biasa melebihi kebanyakan kita yang jauh lebih sempurna. Siapa yang tidak mengenal syekh Ibn Baz –Rahimahullah- seorang alim, mufti, yang dengan ilmu dan kesederhanaannya menjadikan beliau sosok yang sangat dihormati oleh semua kalangan. Begitu juga dengan syekh Ahmad Yasin –Rahimahullah-, yang walaupun lumpuh dan mengandalkan bantuan orang lain ketika hendak bergerak, tapi mampu menjadikan zionis Israel begitu takut kepada beliau. Islam tidak menjadikan fisik dan materi kita sebagai ukuran keberhasilan, tetapi yang menjadi ukuran adalah seberapa besar kontribusi yang mampu kita berikan untuk agama ini.

Angka nol  mengajarkan kepada kita untuk tidak larut dalam kelemahan yang kita miliki. Setiap kita pasti memiliki senjata yang tidak dimiliki oleh yang lain. Setiap kita memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh yang lain. Maka seharusnya kita mampu untuk berbuat dan memberi dari sudut “kelebihan” kita masing-masing. Jangan pernah mengatakan “saya tidak mampu” karena ketika itu terungkap, maka rentetan kelemahan-kelemahan lainnya akan menghiasi hidup kita. Jadilah angka nol di samping kanan angka satu!, hidup ini akan selalu bermakna.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakannya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. (Attaubah: 105)

You might also like More from author

Leave a comment
k