Khutbah Jumat: Wasiat Bagi Orang Yang Tertimpa Musibah

Kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah..

Kehidupan seorang hamba di muka bumi ini diliputi oleh kesedihan dan didera oleh kegelisahan. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa kehidupan seorang hamba di muka bumi ini sarat dengan ujian, dan di antara ujian yang meliputi kita adalah musibah dan bencana.

Sebagian dari manusia ada yang diuji badannya, maka ditimpakan kepadanya penyakit yang menggerogoti tubuhnya dan menghancurkan badannya, siang dan malam ia ditimpa kegelisahan dengan penyakitnya tersebut. Sebagian manusia ada yang diuji pada hartanya, maka disempitkan rezekinya dan dibangkrutkan usahanya serta ditenggelamkan ia dalam hutang. Dan sebagian manusia ada yang diuji dengan kedukaan disebabkan oleh wafatnya orang-orang yang dicintainya. Inilah kehidupan, setiap manusia pasti tertimpa musibah dan bencana sedikit ataupun banyak, Allah berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ

Artinya: “Dan niscaya akan Kami berikan cobaan dan ujian kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan”.[Al-Baqarah : 155].

            Namun yang patut diwaspadai dari ujian dan bencana yang datang mendera adalah kesedihan dan duka yang menjajah hati seorang hamba, sehingga ia dapat tenggelam dalam kegelisahan yang amat dalam, dan hal ini membawa kepada dua akibat negatif bagi seorang hamba, yaitu:

  1. Lemahnya hati seorang hamba, sehingga dia terombang-ambing dalam kesedihan yang mendalam, bahkan tidak menutup kemungkinan akan menjadi stres dan gila.
  2. Hal ini dapat menjadi penghalang bagi perjalanan ibadah hati seorang hamba kepada Allah, maka tidak ada di dalam hatinya Ar-Raja’ (harapan), Al-Khauf (takut) dan At-Tawakkul (tawakkal) kepada Allah, karena hatinya sarat dengan penyakit hati berupa kedukaan dan kegelisahan.

Olehnya, sangat perlu bagi kita untuk saling menasihati dalam masalah ini, untuk mengangkat energi-energi negatif dalam hati dan menggantinya dengan amalan-amalan hati yang positif, maka dalam khutbah kali ini kami ingin memberikan wasiat-wasiat kepada mereka yang tertimpa musibah:

Wasiat pertama:

Kita harus mengetahui bahwa ujian dan bencana adalah sebuah keniscayaan bagi seorang hamba, tidak ada seorang pun yang luput dari ujian Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka hendaknya setiap kita bersiap-siap untuk menghadapi dan menerima ujian tersebut.

Wasiat kedua:

Musibah dan bencana yang ditimpakan oleh Allah kepada para hamba-Nya tujuannya bukan untuk menghancurkan dan membinasakan mereka, namun itu semua bersumber dari kebijaksanaan Allah, ada hikmah yang sangat besar di belakang musibah dan bencana yang menimpa kita.

Wasiat ketiga:

Islam adalah agama yang sempurna, salah satu bentuk kesempurnaannya adalah keanekaragaman ibadah yang disyariatkan, bahkan setiap keadaan memiliki ibadah khusus. Ketika nikmat datang menjelang, maka disyariatkan syukur bagi kita, ketika tanah kering kerontang karena hujan enggan turun, disyariatkan bagi kita shalat istisqa, ketika keadaan perang, maka disyariatkan bagi kita berjihad, dan ketika bencana dan musibah datang menyapa, maka disyariatkan bagi kita untuk bersabar, Allah berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Artinya: “Dan niscaya akan Kami berikan cobaan dan ujian kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, dan berilah berita gembira bagi orang yang bersabar.” [Al-Baqarah : 155].

            Maka musibah dan bencana datang kepada kita, agar kita mendekatkan diri kepada Allah lewat ibadah sabar yang disyariatkan ketika bencana datang.

Wasiat keempat:

Ungkapan keimanan seorang hamba kepada Allah bukan hanya hiasan pada lisan saja, namun ia membutuhkan bukti yang valid pada diri hamba tersebut, dan bukti tersebut akan nampak pada diri seorang hamba dengan ujian dan musibah yang Allah berikan kepada hamba tersebut, Allah berfirman:

أحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Artinya: “Apakah manusia menduga bahwa mereka dapat mengucapkan: ‘Kami telah beriman kepada Allah,’ sedangkan mereka tidak diuji? # Sungguh telah Kami uji orang-orang beriman sebelum mereka, maka Kami tahu orang yang jujur imannya dan yang dusta.” [QS. Al-Ankabut : 2-3].

Wasiat kelima:

Musibah yang Allah timpakan kepada hamba-Nya memiliki keutamaan, tidaklah keutamaan dan kemuliaan datang kepada hamba kecuali melalui ujian dan bencana, Imam Ahmad mengatakan:

 لَا يُمَكَّنُ حَتَّى يُبْتَلَى

“Seseorang orang tidak akan mencapai kemuliaan sampai ia diuji.”

Jadi kesuksesan dan kemuliaan seorang hamba memiliki pintu, maka pintu tersebut adalah UJIAN dan BENCANA.

Ulama kita mengatakan:

الاِبْتِلَاءُ رَحِمُ التَّمْكِيْن

“Bencana adalah rahim bagi kemuliaan.” Artinya kemuliaan dan kejayaan datang setelah kita diuji oleh Allah.

Wasiat keenam:

Para Nabi dan Rasul yang merupakan kekasih Allah, dan orang yang paling dicintai oleh Allah diuji juga oleh-Nya, Nabi bersabda:

إِنَّ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ بَلاَءً الأَنْبِيَاءَ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ.

Artinya: “Sesungguhnya orang yang paling berat musibahnya adalah para Nabi, kemudian orang yang dekat tingkatannya dengan mereka, kemudian orang yang dekat tingkatannya dengan mereka.” [HR Ahmad]

Maka jika kita mengaku sebagai pengikut para Nabi dan Rasul, maka bersiaplah untuk diuji oleh Allah.

 

Wasiat ketujuh:

Di antara keutamaan musibah adalah dapat menghapuskan dosa-dosa orang yang bersabar ketika menghadapinya, Rasulullah bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Artinya: “Tidaklah seorang mukmin mendapatkan capek, sakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan bahkan meskipun hanya tertusuk duri, kecuali Allah akan menghapuskan dosa-dosanya.” [HR. Bukhari & Muslim]

Wasiat kedelapan:

Musibah adalah jalan menuju surga Allah, dan tidaklah seorang hamba akan dimuliakan oleh Allah dengan surga-Nya kecuali setelah dapat melalui sebuah proses yang namanya musibah, Allah berfirman:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

Artinya: “Apakah kalian menduga untuk masuk ke dalam surga, padahal belum datang kepadamu cobaan dan musibah sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka tertimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan dengan bermacam-macam ujian dan cobaan, sampai berkatalah Rasul dan pengikutnya: ‘Kapan akan datang pertolongan dari Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” [Al-Baqarah : 214].

 

You might also like More from author

Leave a comment
k