Khutbah Jumat : Tanggung Jawab Kaum Muslimin

Kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah.

Di dalam sebuah riwayat, Rasulullah bersabda: .

يَحْمِلُ هَذَا اْلعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ، يُنْفُوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الغَالِّيْنَ وَتَأْوِيْلَ الجَاهِلِيْنَ وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِيْنَ.

Artinya:”Ilmu (agama) ini akan dibawa oleh orang-orang tepercaya dari setiap generasi. Mereka akan meluruskan penyimpangan orang-orang yang melampaui batas, ta’wil orang-orang jahil, dan pemalsuan orang-orang bathil”. [lihat Al-Jaami’ li-Akhlaqir-Raawi wa Adabis-Saami’oleh Al-Khathib Al-Ba’dadi dan dinyatakan shahih oleh syaikh Albani].

Kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

Sesungguhnya hadits ini bisa menjadi lentera bagi kaum muslimin dalam membela dan memperjuangkan agama Allah –Subhanahu wa Ta’ala-, dan menggugah jiwa segenap kaum muslimin bahwa mereka memiliki tanggung jawab yang harus dipikul untuk agama ini.

Beberapa pelajaran penting yang bisa kita petik dari hadits di atas:

Pertama: Bahwa agama islam akan tegak di atas dunia ini sampai waktu yang dikehendaki oleh Allah, dan di antara pilar tegaknya agama ini adalah orang-orang  pilihan  Allah -subhanahu wa ta’ala- yang hidup pada setiap generasi, yang memiliki semangat menyala-nyala untuk mengusung dan menyebarkan ajaran agama yang mulia ini, maka hal menjadi tantangan bagi kita segenap kaum muslimin, untuk bergabung dengan barisan ini.

Kedua: Sesungguhnya generasi-generasi sebelum kita telah menorehkan nama mereka dengan tinta emas dalam mengemban tanggung jawab menjaga dan mengajarkan agama ini kepada kita, dan pada generasi ini tongkat estafet berpindah ke tangan kita, maka langkah pertama yang harus tertanam di dalam sanubari kita adalah Al-istisy’ar bil mas’uliyah (menanamkan rasa tanggung jawab di dalam dada) untuk memperjuangkan agama ini, bahwa segenap kaum muslimin memiliki tanggung jawab terhadap agamanya -baik sedikit ataupun banyak- dalam memperjuangkan dan menegakkan agama yang mulia ini, dan ini merupakan tugas mulia yang diemban oleh para Nabi dan Rasul, yang kemudian diwariskan kepada umat, yang dikomandoi oleh para ulama dan para dai, Rasulullah bersabda:

العُلَمَاءُ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ

Artinya:”Para ulama merupakan pewaris para Nabi”.

Ketiga: Hadits ini menjelaskan kepada kita, bahwa setiap generasi yang ingin menapaki jalan para Nabi ini, yakni menegakkan dan mendakwahkan agama Allah, hendaknya berbekal dengan ilmu syar’i, maka seorang pejuang islam harus berupaya untuk membekali dirinya dengan ilmu syar’i yang mumpuni, sehingga ilmu tersebut memandunya ke jalan yang benar ketika memperjuangkan dan membela agama ini, dan hal ini telah dicontohkan oleh para Nabi dan Rasul, Allah berfirman:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي

Artinya:”Katakanlah (wahai Nabi Muhammad), ini adalah jalanku, yaitu berdakwah di jalan Allah di atas jalan ilmu, dan ini adalah jalanku dan orang-orang yang mengikuti aku”.[QS Yusuf 108].

Dan sesungguhnya salah satu jalan bagi kejayaan umat ini adalah dengan mengamalkan dan berdakwah di atas jalan ilmu, Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah mengatakan:

فإِنَّ اللهَ أَقَامَ الدِّينَ بِالحُجَّةِ وَاْلبَيَانِ وَالسَّيْفِ وَالسِّنَانِ وَكِلَاهُمَا فِي نَصْرِهِ أَخَوَانِ شَقِيْقَانِ

Artinya:”Sesungguhnya Allah menegakkan agama dengan hujjah dan penjelasan dan (mengangkat) senjata (yaitu jihad), dan keduanya (berdakwah dan berjihad) merupakan pilar yang tidak bisa dipisahkan dalam menegakkan agama Allah”.[Al-Furusiyah 84].

Kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah –subhanahu wa ta’ala-.

Ilmu yang paling berkah adalah ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah, olehnya Rasulullah berpesan kepada segenap kaum muslimin untuk berpegang dengan keduanya ketika fitnah datang menerjang, Rasulullah bersabda dalam Hadits Irbadh bin Sariyah:

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ مِنْ بَعْدِيْ

Artinya:”Sesungguhnya yang hidup setelahku sebagian di antara kalian, pasti akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib bagi kalian berpegang teguh dengan sunnah ku dan sunnah para khulafaur Rosyidin Setelahku”.

Maka kami nasihatkan kepada segenap kaum muslimin untuk menapaki jalan yang mulia ini, yaitu jalan ilmu. Tuntutlah Ilmu ini dari para ulama dan asatidzah yang tepercaya dan mumpuni ilmunya, serta berada di atas manhaj yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah –subhanahu wa ta’ala-.

Keempat: di antara faedah yang dapat kita petik dari hadits ini, Kalimat ‘udul yang tertera dalam Hadits, adalah kalimat yang pendek namun memiliki makna yang sangat dalam bahkan mungkin sulit untuk ungkapkan dengan kata-kata, namun makna ringkasnya adalah seseorang yang memiliki ilmu syar’i dan yang berhias dengan ketakwaan kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-, maka hendaknya para pengusung dakwah untuk mengumpulkan antara dua pilar pokok dalam mengemban tugas yang mulia, yaitu ilmu syar’i dan ketakwaan kepada Allah.

Kelima: Kalimat udul dalam Hadits adalah bentuk jamak, makna yang tersirat dari bentuk ini adalah perjuangan ini tidak bisa diemban oleh satu orang, namun memerlukan banyak orang yang bekerja sama bahu membahu dalam berjuang dan berdakwah, jika para Nabi sebelum kita membutuhkan bantuan dari yang lain sebagaimana firman Allah tentang Dzulkarnain:

فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ أَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا

Artinya”Maka kalian bantulah aku untuk membuat penghalang bagi ya’juj dan ma’juj”.[QS Al-kahfi 95].

Dan Allah juga menasihati Nabi Muhammad:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

Artinya :”Dan bersabarlah engkau dengan orang-orang yang berdoa kepada tuhan mereka dengan ikhlas setiap pagi dan petang, dan jangan engkau Palingkan pandanganmu dari mereka demi untuk mendapatkan kenikmatan dunia”.[QS Al-Kahfi  28].

Dua ayat ini memerintah kita untuk hidup bersatu dan saling bekerja sama dalam kebaikan, maka di antara nasihat kami kepada segenap kaum muslimin untuk saling berta’awun di dalam kebaikan dan ketakwaan, dan saling memberikan nasihat jika ada yang terjatuh ke dalam kemaksiatan dan penyimpangan.

Keenam: Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

يُنْفُوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الغَالِّيْنَ وَتَأْوِيْلَ الجَاهِلِيْنَ وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِيْنَ

Artinya: “Mereka akan meluruskan penyimpangan orang-orang yang melampaui batas, ta’wil orang-orang jahil, dan pemalsuan orang-orang bathil”.

Penggalan hadits di atas menjelaskan kepada kita tentang salah satu tugas para dai dan asatidzah di kalangan kaum muslimin, yaitu “An-Nahyu anil Mungkar”, atau mencegah kemungkaran atau menghilangkannya, dan tugas ini relatif lebih berat dibandingkan Al-Amru bil Ma’ruf (menyeru kepada kebaikan), apalagi pada zaman ini, yang banyak tersebar keburukan, kemaksiatan, bid’ah dan kesyirikan. Dan salah satu di antara perkara yang dapat melemahkan umat ini adalah tersebarnya keburukan dan kemungkaran tersebut, maka salah satu tugas berat yang dipikul oleh seorang mushlih (orang yang melakukan perbaikan) adalah mencegah terjadinya kemungkaran atau menghilangkannya dari tubuh umat ini.

You might also like More from author

Leave a comment
k