Khutbah Jum’at: Dampak Buruk Perpecahan

Kaum muslimin yang dirahmati Allah!!

Sesungguhnya persatuan umat merupakan salah satu pilar penting dalam islam, olehnya sangat banyak dalil-dalil syar’i yang memotivasi dan memerintahkannya, di antaranya adalah firman Allah:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا

Artinya: “Dan berpegang teguhnya dengan tali agama Allah, dan janganlah kalian berpecah belah”.[QS. Ali Imran 103].

Syaikh Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:

من القواعد العظيمة التي هي من جماع الدين: تأليف القلوب واجتماع الكلمة وصلاح ذات البيّن … وأهل هذا الأصل هم أهل الجماعة، كما أن الخارجين عنه هم أهل الفرقة

Artinya: “Di antara kaidah penting yang menjadi pilar agama adalah bersatunya hati-hati kaum muslimin, berpadunya kalimat mereka, dan baiknya hubungan antara sesama kaum muslimin … dan orang berkomitmen dengan pilar ini disebut ahlul jamaah, sebagaimana orang yang menyelisihi pilar ini disebut ahlul furqoh (perpecahan)”. [Majmu’ul Fatawa Ibnu Taimiyah 28/51].

Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah memaparkan urgensi pilar ini dengan mengatakan: “Di antara perkara-perkara ilahiyah, dan syariat nan suci, serta wasiat kenabian yang teragung adalah; berpegang teguh dengan tali agama Allah dan bersatunya kalimat kaum muslimin, Dan berusaha untuk memotivasi mereka dengan beragam sarana untuk mencapainya (persatuan), mewanti-wanti umat dan memberi peringatan kepada mereka untuk tidak berselisih, berpecah belah dan bercerai berai, serta melarang seluruh sarana yang dapat mengantarkan umat ini kepada hal tersebut”. [Al-Hatstsu ‘Ala Ijtima’i Kalimatil Muslimin, karya Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di, Hal. 18].

Kendati hal ini termasuk perkara aksiomatik dan terang benderang, namun kita masih dapatkan bahwa di antara problematika dakwah yang terbesar dan tantangannya yang terberat adalah fenomena pertikaian dan perpecahan di medan dakwah yang menimpa para aktifis dakwah, yang berpotensi mengakibatkan rusaknya aktifitas dakwah dan melemahkan kekuatan para duat. Dan fenomena ini sangat Nampak di tubuh kaum muslimin, khususnya ketika badai fitnah datang melanda umat ini dan terjadinya permasalahan-permasalahan kontemporer di tengah mereka.

Jika kita mengkaji dan menelaah nash-nash syar’i dari Al-Qur’an dan Sunah yang memotivasi untuk bersatu dan melarang untuk berpecah belah, maka kita akan dapat memetik selaksa dampak negatif dari  fenomena ini, di antaranya adalah:

ِِA. Penyebab sifat gentar dan Lenyapnya kekuatan.

Allah berfirman:

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ

Artinya: “Dan Taatilah Allah dan RasulNya, dan janganlah kalian berselisih dan bertikai, sehingga menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilangnya kekuatan kalian” [QS. Al-Anfal 46].

B. Terjadinya Fitnah (bencana) dan kerusakan yang besar.

Allah berfirman:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِياءُ بَعْضٍ، إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسادٌ كَبِيرٌ

Artinya: “Dan orang kafir, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, jika kalian tidak melaksanakan apa yang telah Allah perintahkan itu, niscaya akan terjadi bencana dan kerusakan yang besar di atas bumi” [QS. Al-Anfal 73].

Ketika seluruh kaum kuffar bersatu padu demi merealisasikan tujuan bersama, yaitu menghancurkan kaum muslimin, padahal sejatinya ada perseteruan dan pertikaian yang sengit bahkan tegaknya dinding pemisah yang cukup tinggi di antara mereka, sedangkan kaum muslimin dan para juru dakwah enggan untuk  bersatu, bekerja sama dan saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, maka saat itulah akan terjadi kekacauan dan bencana yang dahsyat.

Ibnu Jarir rahimahullah -sang pakar tafsir- mengutip perkataan Ibnu Juraij rahimahullah ketika menjelaskan firman Allah diatas yang mengatakan: “Jika kalian enggan untuk melaksanakan perintah Allah berupa anjuran untuk bekerjasama dan saling menolong diatas agama, maka akan terjadi kekacauan dan bencana yang besar“. [Tafsir Ibnu Jarir At-Thobari 14/87].

C. Berpotensi untuk mendapatkan kebinasaan dan azab.

 Rasulullah bersabda:

والْجَمَاعَةَ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةَ عَذَابٌ

Artinya: “Sesungguhnya berjamaah (persatuan) itu mendatangkan rahmat, dan perpecahan mendatangkan azab”. [HR. Ahmad, Thabrani dan Al-Baihaqi, dan dinyatakan Hasan oleh Syaikh Albani].

Ya, manusia akan terus berselisih dan bertikai bahkan sampai bercerai-berai, kecuali mereka yang dinaungi Allah dengan RahmatNya, alangkah indahnya firman Allah:

وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ (118) إِلَّا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ

Artinya: “Dan mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang yang diberi Rahmat oleh Rabbmu”. [QS. Huud 118/119].

Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan: “Allah mengabarkan bahwa jika Dia berkehendak, maka niscaya manusia akan dapat disatukan dalam agama Islam, karena Allah Maha Mampu, namun sifat Bijaksana Allah berkonsekuensi bahwa mereka harus berselisih pendapat, dan menyelisihi jalan yang lurus…kecuali para hamba yang dirahmati oleh Allah, maka mereka diberi Hidayah untuk mengetahui kebenaran, dan mengamalkannya, serta bersatu di atasnya.[Tafsir As-Sa’di hal. 392].

D. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berlepas diri dari orang yang berpecah belah.

Dan hal ini sangat tercermin dengan nyata dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ، وَكانُوا شِيَعاً لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya (yaitu melaksanakan sebagian syariat agama dan meninggalkan yang lain) dan mereka terpecah menjadi beberapa golongan, maka engkau wahai Rasul bukan bagian dari mereka”. [Al-An’am 159].

Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di menafsirkan ayat ini dengan berkata: “Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa agama ini memerintahkan kepada perkumpulan dan persatuan, serta melarang perpecahan dan pertikaian antar sesama umat islam, dan di seluruh masalah agama, baik yang pokok maupun yang cabang, dan Allah telah memerintahkan kepada NabiNya untuk berlepas diri dari mereka”.(Taisir Karimir Rahman hal. 282).

E. Dikuasai oleh Musuh

Dalam hadits yang di riwayatkan oleh imam Muslim dan yang lainnya, Rasulullah bersabda: bahwa Allah berfirman:

يَا مُحَمَّدُ، إِنِّي إِذَا قَضَيْتُ قَضَاءً فَإِنَّهُ لا يُرَدُّ وَإِنِّي أَعْطَيْتُكَ لأُمَّتِكَ أَنْ لا أُهْلِكَهُمْ بِسَنَةٍ عَامَّةٍ، وَأَنْ لا أُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ فَيَسْتَبِيحَ بَيْضَتَهُمْ، وَلَوِ اجْتَمَعَ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِ أَقْطَارِهَا حَتَّى يَكُونَ بَعْضُهُمْ يُهْلِكَ بَعْضًا

Artinya: “Wahai Muhammad, sesungguhnya jika Aku telah menetapkan sebuah takdir maka tidak akan bisa ditolak (pasti terjadi), dan sesungguhnya Aku telah menakdirkan bagi umatmu (umat Islam) untuk tidak binasa dan hancur dengan bencana kelaparan dan kekeringan, dan (juga) mereka tidak akan dikuasai oleh musuh dari luar (orang kafir) sehingga dapat menghancurkan (kekuatan) mereka, kendati mereka (orang-orang kafir) bersatu padu untuk memerangi dan menaklukkan mereka, kecuali jika sesama kaum muslimin saling membinasakan/bertikai”.

Kesimpulan yang dapat kita petik dari hadits diatas adalah  faktor terbesar yang menjadikan kaum muslimin terjajah dan bertekuk lutut kepada kaum kuffar bukanlah disebabkan kekuatan dan kemutakhiran senjata mereka semata, namun justru disebabkan faktor internal kaum muslimin, yaitu permusuhan dan perpecahan yang terjadi di kalangan mereka sehingga melemahkan kekuatan mereka dan menjauhkan pertolongan Allah kepada mereka. Seandainya kaum muslimin bertekad untuk bersabar dan bertakwa kepada Allah, niscaya kekuatan musuh tidak akan memberikan kemudharatan sedikit pun kepada mereka, Allah berfirman:

وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا

Artinya: “Dan seandainya kalian (kaum muslimin) bersabar dan bertaqwa, maka niscaya siasat dan kelicikan mereka (orang kafir) tidak akan membahayakan kalian”. [QS Ali-Imron 120).

Dan di antara konsekuensi ketakwaan adalah menjaga persatuan dan kesolidan kaum muslimin, di samping menghiasi diri dengan manhaj yang benar dan banyak beribadah kepada Allah.

F. Ditundanya Ampunan Allah subhanahu wa ta’ala

Sebagaimana yang jelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang diriwayatkan Imam Muslim dan yang lainnya dari sahabat Abu Hurairah, bahwa beliau bersabda:

تُفْتَحُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ كُلَّ يَوْمِ اثْنَيْنِ وَخَمِيسٍ فَيُغْفَرُ ذَلِكَ الْيَوْمَ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلَّا رجلا كَانَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا

Artinya: “Pintu surga terbuka setiap hari senin dan hari kamis, maka Allah mengampuni pada hari itu seluruh hamba yang tidak musyrik, kecuali seseorang yang memusuhi saudaranya, maka dikatakan untuk mereka: Tundalah ampunan untuk mereka sampai mereka berdamai”.

G. Hilangnya berkah

Dari sahabat Wahsyi bin  Harb radhiyallahu anhuma, beliau mengatakan:

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَأْكُلُ وَلاَ نَشْبَعُ، قَالَ:((فَلَعَلَّكُمْ تَفْتَرِقُونَ)). قَالُوا: نَعَمْ. قَالَ: ((فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ))

Artinya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan, namun kami tidak kenyang, Rasulullah menjawab: Jangan-jangan kalian makan dengan berpencar? Mereka mengatakan: benar wahai Rasulullah, maka Rasulullah bersabda: berkumpullah jika kalian sedang makan dan ucapkanlah Basmalah sebelum kalian makan, maka Allah akan mencurahkan berkah untuk makanan tersebut”. [HR. Abu Dawud dan yang lainnya, dan dinyatakan hasan oleh syaikh Albani].

Mari kita perhatikan hadits ini, ternyata hadits ini menjelaskan bahwa keberkahan suatu makanan bisa berkurang dan lenyap jika berpencar saat menyantapnya,  jika ini terjadi pada makanan, maka bagaimana dengan keberkahan ilmu, dakwah dan jihad yang dilakukan oleh kaum muslimin, jika mereka tetap saling bertikai dan bermusuhan?.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah!!.

Jika kita teliti dampak-dampak negatif di atas, maka terbersit rasa khawatir di dalam dada, bahwa fenomena kemunduran umat akhir-akhir ini dan musibah yang bertubi-tubi menimpanya adalah buah pahit dari perpecahan dan permusuhan di antara kita.

Olehnya, sangat penting bagi seluruh kaum muslimin dan tokoh-tokohnya untuk mengkaji faktor-faktor yang dapat menyatukan kaum muslimin di atas kebenaran, dan memulai merencanakan langkah-langkah nyata untuk mewujudkan persatuan umat di atas kebenaran dan ketakwaan[].

 

You might also like More from author

Leave a comment
k