Wahana Berbagi Ilmu dan Menebar Dakwah

Mengenal Madzhab Syafi’i (Bag. 1)

276

Madzhab Syafi’i adalah madzhab yang bernisbat kepada Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’i. Madzhab ini termasuk salah satu dari empat madzhab yang dianut oleh kaum muslimin di seluruh pada saat ini, di samping 3 madzhab yang lain yaitu: Madzhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali.

Madzhab Syafi’i pada saat ini tersebar di Yaman, negara-negara pesisir pantai timur Afrika, negara-negara Asia tenggara, sebagian negara Mesir, dan sebagian Negara Syiria.

Pendiri Madzhab Syafi’i

Beliau adalah Imam Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin Saib bin Ubaid bin Abdi Yazid bin Hasyim bin Muththalib bin Abdi Manaf. Bertemu nasabnya dengan nasab Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pada Abdi Manaf.

Imam Syafi’i lahir pada tahun 150 Hijriah di Gaza Palestina. Dan tidak lama setelah kelahirannya, wafat ayahnya Idris bin Abbas. Kemudian pada saat Imam Syafi’i berusia 2 tahun, ibunya membawanya ke Mekkah di mana sanak kerabat ayahnya berasal dari sana.

Imam Syafi’i Menuntut Ilmu

Di antara keistimewaan Imam Syafi’i adalah kemampuannya dalam menghafal. Al Hafidz ibnu Hajar menukilkan sebuah riwayat dari Al Khatib Al Baghdadi dengan sanadnya, bahwasanya Imam Syafi’i berkata: “Aku telah menghafal Al Quran ketika aku berumur 7 tahun, dan aku telah menghafal kitab Al Muwaththa (karangan Imam Malik bin Anas) ketika aku berumur sepuluh tahun”[1].

Imam Syafi’i juga dikenal fasih berbahasa Arab; sehingga dengan kemampuannya ini beliau dengan mudah memahami firman-firman Allah -subhanahu wa ta’ala-, dan sabda-sabda Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, serta atsar-atsar dari para shahabat dan tabi’in.

Rihlah-rihlah Imam Syafi’i dalam menuntut ilmu

  1. Rihlah ke Madinah

Rihlah ini bertujuan untuk menimba ilmu dari Imam Malik bin Anas[2]. Disamping itu Imam Syafi’i juga menimba ilmu dari ulama-ulama Madinah (yang pada waktu itu terkenal dengan madrasah ahli hadits) yang mengambil ilmu langsung dari para tabi’in dan anak cucu shahabat yang tinggal di Madinah. Ditambah lagi dengan masih terjaganya tradisi Islam yang mereka warisi secara turun-temurun dari zaman Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, seperti: lafazh adzan, ukuran mud dan sha’, menjadikan Imam Syafi’i lebih mudah untuk memahami hadits.

  1. Rihlah ke Baghdad

Rihlah ini pada awalnya disebabkan sebuah fitnah yang menimpa Imam Syafi’i; sehingga Khalifah Harun Ar Rasyid memanggil beliau untuk datang ke Baghdad. Tetapi Allah -subhanahu wa ta’ala- berkehendak memuliakan Imam Syafi’i dengan mempertemukannya dengan Imam Muhammad bin Hasan[3] murid senior Imam Abu Hanifah[4] sekaligus pengganti beliau sebagai imam madrasah ahli ra’yi.

Dari Imam Muhammad bin Hasan inilah Imam Syafi’i belajar fiqih ahli ra’yi; sehingga menyatulah antara fiqih ahli hadits dan fiqih ahli ra’yi pada diri Imam Syafi’i.

Dari perjalana hidup Imam Syafi’i di atas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa fase ini adalah fase pembentukan madzhab dalam diri Imam Syafi’i yang menggabungkan antara madzhab ahli hadits dan madzhab ahli ra’yi, yang kemudian melahirkan sebuah madzhab baru setelah beliau meninggalkan kota Baghdad pada tahun 189 Hijriah.

Bersambung…

___________________________

[1] . lihat: tawaali at ta’sis, karangan ibnu Hajar, hal: 54.

[2] . Imam Malik bin Anas adalah Imam madzhab maliki, lahir pada tahun 93 H, wafat pada tahun 179 H.

[3] . Imam Muhammad bin Hasan Asy Syaibani, lahir pada tahun 131 H, wafat pada tahun 189 H.

[4] . Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit adalah Imam Madzhab Hanafi, lahir pada tahun 80 H, wafat pada tahun 150 H.

Leave A Reply

Your email address will not be published.