Mengagungkan Syiar-syiar Islam

51

Mengagungkan syiar-syiar agama Allah adalah ibadah mulia yang membuktikan pengagungan seorang hamba terhadap Rabb-nya, menunjukkan cinta kepada-Nya, dan sebagai bukti nyata kesempurnaan takwa dalam hatinya.

Syiar Allah berarti semua bentuk peribadatan yang disyariatkan Allah atas hamba- Nya, juga berarti semua simbol khusus yang menjadi ciri khas agama dan umat Islam.

Secara global, pengagungan syiar agama Allah dapat diklasifikasikan ke dalam lima bagian, yaitu:

Pertama: Pengagungan perintah Allah & Rasul-Nya.
Allah Azza wa Jalla berfirman:

ذَلِكَ وَمَنْ یُعَظ ِّمْ شَعَائِرَ الله َِّ فَإِنَّھَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

“Demikianlah (perintah Allah). Dan siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32).

Pengagungan perintah Allah meliputi semua rukun Iman dan rukun Islam, Ibadah wajib dan sunnah, serta semua amal saleh yang dianjurkan dalam syariat. Pengagungan ini direalisasikan dengan mencintai segala perintah Allah dan Rasul-Nya dalam hati, kemudian berusaha semaksimal mungkin melaksanakannya dengan sempurna, dengan penuh keikhlasan dan sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Perintah yang paling agung adalah tauhid, yakni mengesakan Allah Azza wa Jalla dalam niat, segala perbuatan dan perkataan. Karena itu, penyucian akidah dan ibadah dari segala bentuk kesyirikan adalah pengagungan yang paling tinggi dan mulia.

Kedua: Pengagungan perkara yang diharamkan.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

یَا أَیھَا الذِینَ آمَنُوا لاَ تُحِلُّوا شَعَائِرَ الله َِّ وَلاَ الشھْرَ الْحَرَامَ وَلاَ الْھَدْيَ وَلاَ الْقَلاَئِدَ وَلاَ آمینَ الْبَیْتَ الْحَرَامَ یَبْتَغُونَ فَضْلاً مِنْ رَبھِمْ وَرِضْوَانً

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syiar-syiar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang- binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari Tuhannya.” (QS. Al-Maidah: 2)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

ذَلِكَ وَمَنْ یُعَظِّمْ حُرُمَاتِ الله َِّ فَھُوَ خَیْرٌ لَھُم عِنْدَ رَبِّهِم

”Demikianlah (perintah Allah). Dan siapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya.” (QS. Al-Hajj: 30).

Allah ‘Azza wa Jalla memberi peringatan tegas kepada kaum mukminin untuk tidak melanggar syiar-syiar Allah, untuk menghormati semua perkara yang dimuliakan dalam syariat, juga menghindari semua dosa dan maksiat.

Pengagungan terhadapa larangan Allah Ta’ala direalisasikan dengan rasa takut kepada murka Allah dan merasakan akibat besar yang menimpa jika melanggar larangan- larangan-Nya.

Dosa yang paling besar adalah dosa syirik, karenanya bentuk pengagungan tertinggi kepada Allah dan agama-Nya adalah dengan menjauhi perbuatan syirik secara lahir dan batin, baik syirik besar maupun syirik kecil (riya).

Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata: “Pengagungan syiar-syiar Allah akan menciptakan wazi’/kontrol hati yang kuat, rasa takut yang tinggi kepada Allah, serta motivasi iman untuk melaksanakan semua kewajiban, meninggalkan semua larangan, berbuat adil kepada diri sendiri, dan menunaikan amanat kepada orang lain”. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, jilid II, hal. 230).

Ketiga: Pengagungan Syiar Makaniah.
Syiar makaniah adalah semua tempat yang diperintahkan untuk diagungkan, dijaga, dan dimuliakan. Di antara tempat yang harus dimuliakan adalah baitullah (masjid), dan masjid yang paling mulia adalah Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsha.

Allah Azza wa Jalla berfirman tentang baitullah, Ka’bah al-Musyarrafah: “Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman”. (QS. Al-Baqarah: 125)

Juga berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidilharam yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih”. (QS. Al-Hajj: 25)

Rindu kepada baitullah, menghormati azan, memuliakan imam dan muazin, serta memakmurkan masjid dengan kegiatan ibadah, halaqah Al-Qur’an dan majelis ta’lim adalah bagian dari mengagungkan rumah-rumah Allah di muka bumi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فِي بُیُوتٍ أَذِنَ الله َُّ أَنْ تُرْفَعَ وَیُذْكَرَ فِیھَا اسْمُهُ یُسَبِّحُ لَهُ فِیھَا بِالْغُدُو ِّ وَالآْصَالِ

“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang.” (QS. An- Nur: 36).

Keempat: Pengagungan Syiar Zamaniah.
Di dalam syariat Islam terdapat waktu-waktu tertentu yang diagungkan, dimuliakan, dan pahala amal ibadah di dalamnya dilipatgandakan, di antaranya adalah bulan-bulan haram (Dzulqa’dah. Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab), bulan Ramadhan, 10 awal bulan Dzulhijjah, hari Jumat, dll.

Tentang pengagungan bulan-bulan haram Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36).

Tentang kemuliaan bulan Ramadhan, Allah Ta’ala berfirman: “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”. (QS. Al- Baqarah: 185).

Adapun keagungan sepuluh awal Dzulhijjah, 10 malam terakhir Ramadhan, dan hari jumat dapat dilihat dalam hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Masa-masa mulia ini diagungkan dalam hati, diisi dengan amal ibadah yang disyariatkan, dan menjauhkan diri dari maksiat dan segala ritual yang tidak ada tuntunannya dalam Al-Qur’an dan hadis Rasululah. Sebab, sebagaimana pahala ibadah padanya dilipatgandakan, maka dosa maksiat juga berlipat ganda.
Kelima: Pengagungan simbol-simbol khusus agama Islam.

Pengangungan ini meliputi semua simbol agama Islam serta ciri has yang dimulikan dan dicintai kaum muslimin. Yaitu Allah Ta’ala, termasuk semua asma’ dan sifat-Nya, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan sunnahnya, Al-Qur’an al-Karim dan setiap ayat-ayatnya, kalimat tauhid, takbir, Ka’bah dan semua masjid, azan, jilbab, cadar, dan sebagainya. Semua simbol ini menjadi syiar umat Islam yang diagungkan berdasarkan nas-nas Al-Qur’an dan hadis Nabi.

Mengihina dan merendahkannya meski sekedar senda gurau dapat menghantarkan pelakunya kepada kemunafikan, bahkan kekufuran. Allah Azza wa Jalla berfirman: “Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman”. (QS. At-Taubah: 65-66).

Marilah kita mengagungkan syiar-syiar agama Allah yang mulia, dalam setiap niat, amal dan ucapan kita, serta membelanya dengan harta, jiwa dan raga. Dengannya, semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang bertakwa: “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar- syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati”. (QS. Al-Hajj: 32).

Dalam ayat ini Allah menisbatkan takwa kepada hati, karena ketakwaan hakiki sesugguhnya ada dalam hati. Bila hati khusyuk dan penuh dengan takwa, maka cahaya ketakwaan akan terpancar dalam setiap perkataan dan perbuatannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketakwaan itu ada di sini”, beliau menunjukkan ke dadanya sebanyak tiga kali. (HR. Muslim: 2564).

Leave A Reply

Your email address will not be published.