Wahana Berbagi Ilmu dan Menebar Dakwah

Khutbah Jumat: Pembatal-pembatal Pahala Amalan

239

Kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah.

Kewajiban seorang hamba adalah beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, demi untuk mengumpulkan pundi-pundi pahala untuk menjadi bekal bagi perjalanan abadi di akhirat kelak, maka adalah hal yang ideal bagi seorang muslim untuk berkompetisi demi mendekatkan diri kepada Allah untuk merealisasikan cita-cita yang kita dambakan tersebut.

Hal penting yang perlu untuk diketahui terkait ibadah bukan hanya bagaimana memperbanyak ibadah kepada Allah, namun  ada hal lain yang sangat perlu untuk kita perhatikan, di antaranya adalah upaya untuk melaksanakan ibadah dengan sesempurna mungkin, demi menjaga kualitas amalan tersebut sehingga diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta berusaha untuk mengawal dan menjaga amalan-amalan tersebut agar terbentengi dari perkara-perkara yang dapat membatalkannya dan menghilangkan pahalanya.

Adalah merupakan  perkara yang sia-sia, jika bangunan yang telah kita tegakkan kita robohkan kembali, maka demikian pula dengan amalan, alangkah ruginya jika pahala amalan yang telah kita kumpulkan dengan susah payah, namun kemudian kita musnahkan pahala-pahala amalan tersebut dengan perbuatan dan ucapan kita.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Menjaga kualitas amalan dan membentenginya dari pembatal-pembatalnya bukanlah merupakan perkara  yang ringan, sangat besar harapan kita usaha ini merupakan bagian dari sikap istiqomah setelah beramal shalih.  Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk menjaga amalan-amalan yang telah kita kerjakan dan melarang untuk membatalkannya, Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُم

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan janganlah kalian membatalkan amalan-amalan kalian.” [QS. Muhammad : 33]

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kepada kita untuk melaksanakan amalan kebaikan, dengan mematuhi perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya dan memberikan peringatan untuk tidak merusak dan membatalkan amalan-amalan kita.

Dan peringatan ini mencakup dua hal:

Pertama: peringatan untuk tidak membatalkan amalan dan merusaknya ketika sedang melaksanakan amalan tersebut, dengan meninggalkan salah satu rukunnya atau dengan melaksanakan hal-hal yang dapat membatalkan amalan tersebut ketika sedang dilaksanakan, seperti makan dan minum dengan sengaja ketika berpuasa, atau berjima’ ketika berhaji, atau berbicara ketika sedang shalat dan lain sebagainya.

Kedua: peringatan untuk tidak membatalkan pahala amalan setelah kita selesai dari melaksanakan ibadah tersebut, baik dengan perbuatan ataupun dengan ucapan.

Sesungguhnya Allah telah mengabarkan kepada kita, bahwa manusia dapat masuk ke dalam neraka meskipun memiliki amalan yang sangat banyak, mungkin disebabkan karena Allah tidak menerima amalan tersebut karena tidak menjaga kualitas amalan tersebut – yaitu dengan mengikhlaskan niat ketika beribadah dan berusaha untuk ber-ittiba’ (mengikuti contoh) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melaksanakannya – dan mungkin juga karena terjatuh ke dalam amalan yang dapat membatalkan ibadah atau pahala ibadah tersebut. Allah berfirman menceritakan tentang salah satu sisi pada hari kiamat:

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ ( ) وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ ( %2

Comments are closed.