Wahana Berbagi Ilmu dan Menebar Dakwah

Keteladanan

235

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam qudwah yang baik bagimu, yaitu bagi orang-orang yang mengharap kepada Allah dan kedatangan hari akhir sedang dia banyak menyebut Allah”.[1]

Qudwah Hasanah

Qudwah atau suri tauladan yang baik adalah nilai-nilai yang dibawa oleh pendahulu kita dari kalangan Nabi dan Rasul Allah serta orang-orang yang meniti jalan mereka. Jalan yang telah dilukiskan kembali oleh Allah melalui Kalam-Nya Al Quran, berisi kisah-kisah heroik, pengorbanan, cinta, kasih sayang, tanggung jawab, pendidikan dan beribu nilai yang tak sanggup diucapkan dengan kata maupun dituliskan dengan tinta, kecuali bagi orang yang hanya berharap kepada rahmat Allah subhanahu wata’ala, merindu yang membuncah akan pertemuannya dengan Sang Kekasih yang senantiasa ia sebut nama-namaNya yang maha indah, maka hati orang yang seperti ini sudah sanggup menjadi wadah dari nilai-nilai qudwah mereka.

Al Quran dan Hadits sarat akan kisah-kisah para Nabi dan Rasul Allah serta kaum sholihin, bahkan tidak jarang beberapa dari kisah tersebut diulang beberapa kali untuk mengimplisitkan pentingnya qudwah hasanah. Qudwah hasanah demikian urgen sebab ia dapat menjadi barometer kejayaan sebuah umat ketika mereka menerapkan nilai-nilai luhur tersebut. Sebagaimana ungkapan Imam Darul Hijrah Malik bin Anas (179 H) rahimahullah yang masyhur:

“Tidak akan berjaya akhir dari umat ini kecuali dengan cara kejayaan para pendahulu mereka.”

Sekilas perhatian para qudwah kita kepada pemuda

Usia muda dengan berbagai macam karunia yang Allah berikan adalah masa yang tak tergantikan oleh apapun juga. Sebuah bangsa dan negara bahkan dapat diperhitungkan dalam beberapa tahun ke depan disebabkan jumlah pemuda yang mereka miliki. Oleh karena kekuatan dan kemampuan fisik, pikiran, serta umur yang mereka miliki, yang dengan itu semua sebuah peradaban baru dapat tercipta, karenanya islam meletakkan perhatian yang sangat besar kepada para pemuda.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Manfaatkanlah lima hal sebelum datang lima perkara; masa mudamu sebelum tiba masa tua…”[2]

Amirul mukminin fil hadits, Ibnu Syihab Az Zuhry (124 H) rahimahullah suatu ketika menasihati para pemuda zamannya untuk tidak merasa minder karena usia mereka yang masih belia tatkala menuntut ilmu, beliau mengisahkan “bahwasanya semasa pemerintahan Umar bin Khattab (23 H) radiyallahu ‘anhu, ada kalanya beliau menghadapi persoalan yang pelik dan sangat mendesak untuk diselesaikan saat itu juga, maka beliau segera mengumpulkan para pemuda untuk meminta pendapat mereka” dengan mengharapkan ketajaman akal yang dimiliki para pemuda.

Seorang ulama besar ternama dari kalangan tabi’in, Abu Ishaq As-Sabi’iy (132 H) rahimahullah pernah berwasiat kepada para pemuda yang sering hadir dalam majelis ilmu beliau:

“Wahai para pemuda, manfaatkanlah masa muda dan kekuatan kalian, sungguh demi Allah, sangat jarang saya melewati sebuah malam melainkan saya hiasi ia dengan bacaan seribu ayat Al Quran, dan satu raka’at tahajjudku sepanjang lantunan surah Al Baqarah.”[3]

Ibnul Mubarak (181 H) rahimahullah suatu ketika berpesan:

“Kalian akan berada dalam kebaikan selama ilmu dituntut sejak usia dini, dan ketika ilmu telah berada di tangan para pemuda maka mereka para tetua akan mencemburu andai saja mereka belajar lebih awal.”[4]

Bagaimana hari ini ?

Seiring berjalannya zaman dan berputarnya roda kehidupan, nilai-nilai qudwah terus terkikis oleh bejatnya godaan dunia. Bahkan bisa dikatakan ada tangan-tangan manusia setan yang secara sengaja ingin mengaburkan pandangan para peng-qudwah hingga mereka hilang arah. Sayangnya, tidak sedikit dari mereka yang tergilas bahkan berubah menjadi pawang-pawang setan selanjutnya untuk menghapus nilai qudwah hasanah dan mengubahnya menjadi qudwah sayyi’ah atau suri teladan yang buruk. Kisah teladan para salaf akhirnya hanya dianggap sebagai dongeng semata untuk menina bobokkan anak ingusan.

Hilangnya qudwah hasanah sendiri adalah musibah dan bencana terbesar yang menimpa akhir zaman ini. Dan hal itu telah terjadi bahkan menimpa para pemuda dan pemudi[5] yang kelak akan diproyeksikan menjadi wajah baru dari masa depan dunia ini. Menggelincirkan segelintir dari kalangan pemuda, itu berarti telah merusak sebagian dari masa depan yang seyogyanya dapat tercipta indah, aman dan bermartabat.

Berapa banyak pemuda muslim dan muslimah yang telah kehilangan jati diri dan identitas mereka hari ini?

Berapa banyak pemuda muslim dan muslimah yang pikirannya telah diracun oleh belenggu materialisme yang menjadikan dunia sebagai segala-galanya?

Berapa banyak pemuda muslim dan muslimah yang tingkah laku bahkan kebiasaannya telah terkontaminasi oleh perasaan takjub dan bangga akan musuh-musuh islam dan muslimin ?

Bahkan berapa banyak pemuda muslim dan muslimah yang lebih ridho dengan musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya, takut akan syariat islam, anti terhadap pemeluknya yang mencoba istiqamah di atasnya ?

Maka bukan sebuah hal yang mengherankan jika di antara mereka ada yang merasa begitu bangga memiliki nama yang sama dengan idola mereka, atau merasa amat terhormat dengan kehidupan modis duniawi ala model kesayangan mereka.

Bukan hal yang mengherankan jika di antara mereka ada yang merasa nikmat dengan banyaknya waktu yang terbuang sia-sia demi kepuasan dan kelezatan syahwat mereka, atau mereka yang merasa sangat bahagia setelah menanggalkan syariat dari tubuhnya, bahkan rela menjual islam dan hidayah dari hatinya demi pengakuan manusia, wal ‘iyaadzu billah.

Sahabat, hukum sebab-akibat selalu berlaku kapanpun dan di manapun, tak terkecuali musibah yang menimpa umat ini. Tentu saja para pemuda tak pantas dikambing hitamkan begitu saja, karena ada begitu banyak sebab yang melatar belakanginya. Bahkan boleh jadi kelalaian diri dan ketidak sungguhan para ulama dan mu’allimin dalam mengarahkan dan membimbing para pemuda, justru mengambil bagian terbesar dari sebab munculnya musibah ini.

Olehnya, untuk menangani dan mengobati luka yang semakin parah ini, maka dibutuhkan kesungguhan untuk mengulang kembali nilai-nilai qudwah yang telah dituliskan oleh para ulama salaf lalu menghadirkannya dengan metode yang lebih dekat seakan para pemuda merasa hidup bersama tokoh-tokoh generasi muda pendahulu umat ini, yang telah tertempa secara langsung melalui taujihaat serta arahan Nabawiyyah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan harapan, di saat yang sama semoga mereka yang memiliki maqam alim ulama dan para pendidik kian tercerahkan dengannya, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melahirkan generasi muda islam yang berjaya bahkan sampai beratus-ratus tahun setelah wafatnya.

______________________

[1] QS Al-Ahzaab 21.

[2] HR Al-Hakim nomor 7846 dan dishahihkan Al Albany.

[3] Musnad Ibnul Ja’d nomor 404.

[4] Al ‘Ilm karya Zuhair bin Harb nomor 155.

[5] Selanjutnya saya bahasakan keduanya dengan pemuda.

Leave A Reply

Your email address will not be published.