Pendidikan finansial pada anak

 

Mengelola keuangan adalah keterampilan yang harus kita miliki. Karena ini sangat menentukan pola kita dalam bertahan hidup dengan pemasukan yang ada. Tak kalah pentingnya dari keterampilan kerja dalam mendapatkan uang itu sendiri. Selain untuk kita, skill ini pun semestinya kita wariskan kepada anak kita, agar mereka sedini mungkin siap dan cakap dalam mengelola keuangan mereka.

Di masa kanak-kanak anak kita mendapatkan uang melalui beberapa cara: uang saku, uang lebaran, hadiah, atau upah dari sebuah pekerjaan. Namun yang terakhir ini tergolong sedikit, kecuali setelah mereka beranjak dewasa. Uang yang mungkin relatif kecil ini bisa kita jadikan media pembelajaran dalam membangun kecerdasan finansial dengan beberapa langkah berikut:

Pengaturan uang saku

Uang saku sekolah seakan sudah menjadi sesuatu yang wajib di era kita ini. Beda dengan era 80 atau 90 an, di mana siswa lebih sering membawa bekal makan dari rumah sekedarnya. Hal ini menuntut kita untuk menjadikannya ajang dalam mengenal uang dan belajar mengaturnya.

Besaran uang saku ditentukan oleh kebutuhan anak kita, sekedar untuk jajan atau juga termasuk transportasi ke sekolah. Ada baiknya kita mengetahui beberapa harga jajanan di sekolah sebagai acuan kita dalam menentukan besaran uang saku. Sangat disarankan untuk tidak berlebihan, agar sejak dini anak kita tidak terbiasa  menghamburkan uang untuk hal yang tidak perlu. Pada tingkat anak bisa diajak mengerti kondisi keuangan keluarga, maka baik pula disampaikannya agar ia bisa memaklumi jika uang sakunya tidak sama dengan teman-temannya.

Perlu ada komunikasi dengan anak, terutama di usia TK dan SD, tentang strategi pemakaian uang saku. Kita beri gambaran makanan apa yang dibeli pada istirahat pertama, dan apa pula pada istirahat ke dua, sehingga uang itu cukup atau bahkan lebih. Termasuk bagian dari strategi juga membawa bekal makanan dari rumah, selain lebih sehat, langkah ini bisa menghemat uang sakunya.

Pada usia TK dan SD, uang saku disarankan untuk diberikan secara harian. Baru ketika anak menginjak SMP anak dilatih untuk mengelola uang saku secara mingguan. Sampai pada tahapan anak dilatih untuk mengelolanya secara bulanan pada usia SMA atau saat anak masuk pesantren dengan tetap mempertimbangkan kecakapannya dalam mengelola uang.

Kebutuhan dan keinginan

Pengelolaan keuangan sering kali menemui kendala karena tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Allah sudah menjamin kebutuhan makhlukNya namun tidak ada jaminan dalam keinginan manusia. Dalam soal makan misalnya, kita sebenarnya hanya butuh nasi, sayur, dan satu tempe, namun ingin ada telur, ayam, sate kambing, rendang sapi, atau lainnya. Keinginan inilah yang kerap kali menyedot keuangan kita tanpa kita sadari karena terkesan bahwa ini adalah kebutuhan kita. Maka, saat tebersit dalam benak kita untuk membeli sesuatu, ada baiknya kita berhenti sejenak untuk berpikir; apakah ini kebutuhan atau keinginan. Kalau ternyata hanya keinginan, maka kita belajar untuk mengekang diri tidak menurutinya.

Demikian halnya untuk anak kita. Saat anak kita menginginkan sesuatu, coba kita lakukan pendekatan untuk menjawab pertanyaan di atas. Tas sekolah misalnya, ketika anak kita merengek minta tas baru, kita ajak ia duduk dalam keadaan santai untuk bertanya, tas lama masih bisa dipakai atau tidak? Kalau memang rusak, masih bisa diperbaiki atau tidak? Dan pertanyaan lainnya untuk sampai pada kesimpulan bahwa ini kebutuhan atau keinginan.

Fungsi dan gengsi

Poin ini mirip dengan sebelumnya. Banyak orang yang diperbudak oleh gengsi sehingga keuangannya tidak terkontrol dengan baik. Bahkan tidak sedikit yang akhirnya terlilit hutang hanya karena mengikuti tren. Handphone atau kendaraan misalnya, fungsi sering kali hanya dilihat sebelah mata. Banyak mata yang tergiur dengan model dan aksesorisnya, padahal kebutuhan asasinya tidak menuntut itu. Alhasil, handphonenya canggih, tetapi yang dipakai hanya telepon dan SMS saja, banyak fitur menganggur yang dibeli dengan harga mahal.

Anak kita pun perlu dikenalkan fungsi dan gengsi ini. Dalam kesempatan yang tepat, tidak harus menunggu ia meminta sesuatu, kita ajak bicara anak kita dalam hal yang mendasar ini, fokus pada fungsi, bukan gengsi. Secara tidak langsung prinsip ini akan membentuk pola kesederhanaan dalam rumah tangga kita.

Belanja

Kegiatan belanja bisa juga menjadi ajang kita dalam mengajari keterampilan mengelola keuangan pada anak. Sebelum belanja pastikan bahwa kita telah mendata barang-barang yang akan kita beli. Tujuannya, agar kita lebih cepat selesai serta tidak melebar membeli apa yang tidak kita perlukan. Dalam mendata pun kita memperhatikan poin kebutuhan dan keinginan serta poin fungsi dan gengsi.

Apa yang telah kita tulis pun bukan sesuatu yang sakral, bisa berubah jika ternyata ada barang semisal yang lebih murah. Kesederhanaan harus menjadi prinsip dalam kegiatan belanja. Termasuk dalam hal kuantitas, jika cukup dengan satu bungkus, mengapa harus membeli dua?

Di antara prinsip yang penting dalam belanja ialah tidak berutang dulu. Kebiasaan berutang bukan kebiasaan baik, kelihatannya mudah di awal, namun berujung berat apalagi saat sudah menumpuk.

Melibatkan anak dalam belanja ini akan mentransfer keterampilan tersendiri dalam pengelolaan uang.

Belajar dagang

Dagang merupakan mata pencaharian yang menempati posisi teratas dalam mendatangkan rezeki. Keterampilan berdagang bisa dipupuk sejak dini. Sayangnya, generasi kita ini lebih dihinggapi rasa malu untuk belajar dagang. Malu dengan teman dan gurunya, malu dikatakan sebagai anak miskin, dan semisalnya.

Padahal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah mencontohkan kepada kita bahwa di usia belasan tahun beliau sudah berdagang, bahkan sampai ke negeri Syam yang cukup jauh. Pendidikan kemandirian ini perlu kita kembalikan lagi pada generasi kita. Mulai dari melihat peluang yang ada di sekitar rumah atau di sekolah anak kita. Tawarkan peluang itu kepada anak kita dengan asumsi bahwa keuntungannya untuk dia.

 Menabung

Gemar menabung adalah tradisi yang baik. Anak kita bisa kita ajari menabung di rumah atau di sekolahan. Biarkan anak kita memilih bentuk tabungan yang mereka sukai. Kita arahkan bahwa uang saku tidak harus habis dijajankan di sekolah, namun bisa disisihkan untuk ditabung di rumah. Tidak harus besar, asal rutin kegiatan ini akan terasa manfaatnya beberapa tahun berikutnya. Uang angpao lebaran pun bisa disimpan di tabungan ini agar tidak segera habis untuk jajan, begitu pula uang hasil dagangnya.

Pada saat uang tabungan itu terkumpul dalam jumlah tertentu, satu juta misalnya, bisa dibelikan barang lainnya yang sekiranya bisa berkembang, seperti anak kambing yang nantinya dititipkan kepada orang dengan sistem bagi hasil. Atau jika uang tabungan itu lima juta atau sepuluh juta, bisa dibelikan emas batangan. Intinya bagaimana uang tabungan itu tidak berhenti, namun berkembang.

Sedekah

Yang tidak kalah pentingnya, kita selaku orang tua mengenalkan prinsip sedekah kepada anak kita. Bagaimanapun, harta adalah amanah dari Allah kepada kita, untuk kita pergunakan dalam rangka ibadah. Sedekah juga bagian dari pengelolaan keuangan. Karena keberkahan hanya Allah yang Mahatahu. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sudah menegaskan bahwa sedekah tidak akan mengurangi harta, bahkan menumbuhkembangkannya.

Keterampilan bersedekah ini tidak bertentangan dengan keterampilan dagang dan menabung di atas. Justru semakin melengkapi. Jangan sampai anak kita fokus untuk mengumpulkan uang lalu kehilangan kepekaan sosial kepada orang yang membutuhkan di sekitarnya. Pembinaan ranah ini bisa dengan kotak khusus infak di rumah kita, atau pada momen tertentu kita minta anak kita menyisihkan uangnya untuk membantu tetangga atau teman sekolahnya. Bisa juga sesekali kita ajak mereka mengunjungi anak yatim atau panti asuhan untuk berbagi.

You might also like More from author

Leave a comment
k