KOMUNIKASI DENGAN ANAK

 

Fathimah putri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di awal pernikahannya tentu melakukan adaptasi dengan keluarga barunya bersama sang suami Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Karena pastinya ada pekerjaan-pekerjaan baru yang harus beliau lakukan.

Suatu hari, Fathimah radhiyallahu ‘anha mengeluhkan bekas alat penggiling di tangannya, pas bertepatan dengan datangnya tawanan perang kepada ayahandanya. Bergegaslah ia ke rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan penuh harap beliau berkenan memberikan satu budak untuk membantu pekerjaan rumahnya. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berada di tempat dan hanya bertemu dengan ibunda Aisyah. Malam harinya barulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang, segera beliau ke rumah Fathimah setelah Aisyah mengabarkan perihal kedatangannya tadi. Ternyata pasangan baru ini sudah bersiap untuk istirahat tidur. Saat Fathimah ingin beranjak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Tetaplah di tempatmu!”

Fathimah bercerita, “Lalu beliau duduk di tengah kami, sehingga aku bisa merasakan dinginnya kedua telapak kaki beliau di dadaku. Beliau pun berkata, ‘Ketahuilah, akan kuajarkan kepadamu sesuatu yang lebih baik dari pada apa yang engkau minta kepadaku. Apabila engkau hendak tidur, maka bertakbirlah tiga puluh empat kali, bertasbihlah tiga puluh tiga kali, dan bertahmidlah tiga puluh tiga kali, maka itu lebih baik bagimu daripada seorang pembantu”.

Sepenggal kisah ini menggambarkan kepada kita kedekatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan putrinya. Sampai-sampai duduk di antara Ali dan Fathimah di atas tempat tidurnya. Kedekatan yang berkualitas ini tentu saja tidak begitu saja terjadi. Pasti telah didahului dengan kualitas komunikasi yang baik.

Prinsip komunikasi seperti apa yang harus kita lakukan untuk anak kita?

Pertama: meluangkan waktu.

Memberikan waktu yang berkualitas untuk anak, bukan sisa-sisa waktu yang sering kali justru berakhir tidak baik, bisa karena kelelahan, suasana hati sensitif dll. Untuk komunikasi dalam hal-hal penting baiknya tidak menyambinya dengan pekerjaan lain, sehingga anak merasa bahwa apa yang disampaikan bukan hal yang biasa.

Waktu yang berkualitas itu seperti saat santai dengan makan bersama, jalan-jalan bersama ke pantai atau sawah, shalat jamaah bersama di masjid besar, piknik keluarga, atau bahkan sekedar minum teh bersama di depan rumah.

Kontak mata pun jangan sampai luput dari perhatian kita. Ini baru bisa kita lakukan jika waktu komunikasi fokus untuk anak-anak. Kontak mata akan memberi kesan tersendiri. Kita juga bisa merasakannya ketika lawan bicara kita menatap mata kita, ada energi perhatian yang menembus mata turun ke hati.

Pada saat marah atau emosi ada baiknya kita menghindari banyak bicara, karena sering kali kita tidak bisa mengontrol kata-kata, sehingga dikhawatirkan ada kata-kata menyakitkan yang membekas pada anak.

Kedua: menjadi pendengar.

Keterampilan mendengar tidak kalah pentingnya dari keterampilan berbicara. Menjadi pendengar setia memberi kesan kepada lawan bicara bahwa apa yang disampaikannya penting untuk dia, sehingga ada rasa dihargai dan diperhatikan. Perasaan ini penting dalam tumbuh kembang anak, karena ini fitrah yang harus terpenuhi.

Ketika anak hanya selalu diminta untuk mendengar, maka yang terbentuk hanya komunikasi searah. Dampaknya anak tidak terbiasa untuk menyampaikan perasaan, keinginan, pendapat, dan semisalnya. Bahkan bisa juga dia akan memenuhi kebutuhan ini dengan mencarinya di luar rumahnya. Iya kalau yang menerima curahan hatinya orang bertanggung jawab, kalau sebaliknya maka hanya dampak negatif yang ia dapatkan.

Di antara cara melatih menjadi pendengar yang baik adalah dengan memancing anak dengan pertanyaan-pertanyaan terbuka, yaitu pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang lebar seperti, “Tadi kamu main apa saja sama temanmu di sekolah?” atau, “Bagaimana ceritanya kok tadi bisa jatuh?” bukan pertanyaan tertutup yang bisa dijawab dengan satu atau dua kata seperti, “Siapa yang mengajar kamu?” atau, “Dapat nilai berapa matematikanya?”

Ketiga: memilih kata.

Ada benarnya pepatah yang berbunyi “Lidah lebih tajam daripada pedang”. Salah memilih kata bisa berakibat fatal. Anak kita juga manusia yang memiliki perasaan yang terpengaruh oleh kata-kata yang didengarnya. Dari sini kita memahami benarnya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kata yang baik adalah sedekah.” (HR. Bukhari Muslim).

Ucapan terima kasih dan pujian yang tulus saat anak berbuat baik akan menumbuhkan kasih sayang dan sifat menghargai orang lain. Selain itu bisa memotivasi mereka untuk melakukan kebaikan lebih banyak lagi. Saat anak merasa dihargai oleh orang tuanya maka akan terjalin komunikasi yang baik.

Dalam memilih kata, kita perlu mengurangi kata-kata yang tidak perlu. Terlebih kata-kata buruk yang bernada merendahkan. Biasanya ini terjadi saat kita jengkel pada anak. Emosi yang meluap membuat kita boros kata-kata, bahkan yang tidak ada kaitannya dengan kasus tersebut diungkit dan dihujankan pada anak. Pada saat itu kita melatih diri untuk mengendalikan emosi dengan cara memilih kata yang bisa memberi solusi masalah yang terjadi.

Bukankah lebih santun kita mengatakan, “Ayah melihat ada seragam kotor di ruang tamu,” atau, “Ibu suka kalau kamu membuang kulit pisang itu di tempat sampah, biar orang tidak kepeleset,” daripada, “Sudah berapa kali ayah bilang, kalau pulang sekolah lepas seragamnya dan taruh di mesin cuci, coba kalau ada tamu, ayah kan malu sama tamu,” atau, “Dasar anak bandel, sudah dibilangi seribu kali jangan buang kulit pisang sembarangan masih saja dilakukan, tahu rasa kalau nanti dipukul sama orang yang kepeleset.” Pesan yang disampaikan sama, namun yang pertama irit kata dan yang kedua boros.

Dalam berkomunikasi pun tidak selamanya dengan bahasa yang serius, perlu kiranya kita bersenda gurau untuk mencairkan kebekuan. Bisa dengan tebak-tebakan, cerita lucu, atau permainan yang lucu.

Keempat: melibatkan diri.

Kita orang tua memiliki hak untuk menyuruh anak, namun kalau bahasa kita ke anak melulu suruhan dan perintah bisa jadi akan mengganggu komunikasi kita. Alangkah baiknya dalam waktu tertentu kita melibatkan diri dalam perintah tersebut. Misalnya, “Nak, ayo sama bapak mengantar makanan ini ke rumah nenek,” atau, “Ibu senang kamu ikut ibu membereskan mainan kamu, biar rapi.” Dengan ini anak akan merasa bahwa kita ikut serta meski dalam prakteknya nanti mereka yang lebih banyak melakukannya tanpa mereka sadari.

Indahnya sebuah keluarga yang komunikasinya tidak terhambat, ada keterbukaan, saling menghormati, bahu membahu dalam pekerjaan rumah. Tidak hanya saat anak-anak kita di usia kecil, namun saat mereka sudah dewasa sekalipun.

 

You might also like More from author

Leave a comment
k