Keluarga Mulia Bersama Hingga di Surga

Oleh Brilly El-Rasheed, S.Pd.

Allah Ta’ala menginformasikan sebagian kecil dari doa malaikat pemikul ‘arsy-Nya yang mana mereka meyakini hal tersebut. Malaikat pemikul ‘arsy Allah, yang jumlahnya tidak ada yang mengetahui kecuali Dia, tak henti-hentinya mendoakan kesuksesan untuk manusia yang berjuang membina keluarga, saudara dan kerabatnya menuju surga. Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ (7) رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (8) وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ وَمَنْ تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (9)

“Para pemikul ‘arsy dan malaikat di sekitarnya mensucikan Allah dengan pujian-pujian untuk Tuhan mereka tersebut dan beriman kepadanya dan memohon ampun kepada Allah untuk orang-orang beriman, seraya berdoa, ‘Wahai Tuhan kami, sungguh rahmahMu sangat luas meliputi segala-galanya, begitu juga ilmuMu, maka ampunilah orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalanMu dan lindungi mereka dari siksa neraka jahim. Wahai Rabb kami, dan masukkan mereka ke dalam surga ‘adn yang Engkau janjikan untuk mereka dan juga orang-orang yang berbuat baik diantara ayah-ayah mereka, istri-istri mereka, dan keturunan mereka, Engkau Mahamulia dan Maha bijaksana. Dan lindungilah mereka dari keburukan, dan barang siapa terlindungi dari keburukan pada hari ini sungguh Engkau telah merahmatinya, dan itulah kesuksesan yang besar.” [QS. Ghafir (40): 7-9]

Untuk bisa membawa serta keluarga kita bersama-sama di dalam surga, para malaikat sudah membantu kita dengan doanya. Doa malaikat berbeda dengan doa manusia dalam hal keterkabulannya. Allah lebih cepat mengabulkan doa para malaikat karena mereka tidak pernah bermaksiat, terlebih malaikat-malaikat pemanggul ‘arsy. Sungguh menakjubkan, padahal malaikat tidak dikaruniai Allah ‘cita rasa’ berkeluarga namun malaikat turut merasakan kebahagiaan hamba-hambaNya yang beriman yang ingin keluarganya ikut menikmati surga. Bagi malaikat, kesuksesan tersebut adalah kesuksesan terbesar.

Firman Allah ini mengisyaratkan syafa’at orang yang beriman kepada orang yang beriman lainnya. Allah memberikan izin kepada orang-orang khusus untuk memberi syafa’at kepada siapa saja yang mereka kehendaki untuk terselamatkan dari siksa neraka. Sebagaimana para malaikat, para rasul dan Al-Qur`an memberikan syafa’at, orang yang beriman juga bisa memberikan syafa’at masuk surga atas izin Allah.

Kita berharap kitalah yang memberikan syafa’at atau setidaknya ada di antara keluarga kita yang diizinkan Allah memberikan syafa’at. Tapi, pilihan terbaik adalah kita berusaha menjadi orang-orang terpilih yang diizinkan-Nya memberi syafa’at. Upaya yang bisa dilakukan adalah sebagaimana petunjuk ayat tersebut, beriman dan beramal shalih serta berdakwah. Beriman dan beramal shalih adalah untuk diri kita sendiri, sementara berdakwah untuk orang lain. Kita mendakwahi ayah kita, ibu kita, eyang kita, istri-istri kita dan keturunan kita agar menetapi jalan Allah sehingga dengannya kita diizinkan Allah memberi mereka syafa’at.

Muhammad Al-Qurthubi (wafat 671 H) mengutip keterangan dari Sa’id bin Jubair tentang firman Allah ini dengan sebuah dialog, dalam tafsir Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur`an (Kairo: Dar Al-Kutub Al-Mishriyah, 1384 H), “Sa’id bin Jubair memaparkan, “Penghuni surga bertanya, ‘Wahai Rabb, dimana ayahku, eyangku, ibuku? Dimana anakku dan cucuku? Dimana istriku?’ Maka dijawab Allah, ‘Mereka tidak beramal seperti amalamu.’ ‘Wahai Rabb, aku dulu beramal untukku dan untuk mereka.’ Allah menjawab lagi, ‘Kalau begitu, masukkan mereka ke surga.’ Lalu Sa’id bin Jubair menyitir firman Allah, ‘Para malaikat pemanggul ‘arsy dan selainnya di sekitar mereka’ hingga, ‘Dan ayah-ayah mereka, istri-istri mereka, dan keturunan mereka yang berbuat baik pula.’ Ayat ini selaras dengan firmanNya yang lain, ‘Dan orang-orang yang beriman dan keturunan mereka yang mengikuti mereka dengan iman, maka Kami keturunan mereka kumpulkan bersama mereka.’ [QS. Ath-Thur (52): 21].” [Tafsir Al-Qurthubi 15/296]

Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani (wafat 1250 H) sudah mendefinisikan frasa ‘berbuat baik’ dengan ungkapannya, “Berbuat baik yang dimaksud dalam ayat ini adalah iman kepada Allah dan mengamalkan syariatNya. Siapa yang berbuat seperti itu berarti sudah berbuat baik untuk bisa masuk surga.” [Tafsir Fat-h Al-Qadir 4/553]

Kita tidak bisa tiba-tiba meminta Allah agar memasukkan keluarga kita ke surga kelak saat kita sudah di surga. Agar diizinkan Allah bisa measukkan keluarga kita ke surga, kita tertuntut untuk menjadi shalih dan menshalihkan keluarga kita di atas jalan Allah.

Ada lima kiat agar keluarga kita dapat utuh bersama selamanya hingga di Surga.

Pertama: jadikan rumah kita sebagai masjid. Di rumahlah aktivitas ibadah dihidupkan. Sang ayah adalah imam yang menahkodai keluarganya. Tapi bukan berarti semua shalat dikerjakan di rumah. Di rumah juga dibiasakan lantunan Al-Qur`an oleh anggota keluarga.

Kedua: menjadikan rumah sebagai sekolah. Di mana aktivitas menuntut ilmu selalu berlangsung. Orang tua sebagai guru, dan anak sebagai peserta didik. Tapi tidak menuntut kemungkinan, guru belajar kepada peserta didik.

Ketiga: menjadikan rumah sebagai benteng pertahanan utama. Di rumahlah anak dan cucu dikenalkan pada misi kehidupan yaitu untuk menghambakan diri kepada Allah. Semua anggota keluarga menggembleng diri menjadi prajurit yang siap tempur. Mereka mempersiapkan diri memiliki selurah sarana untuk menjadi mu`min yang rabbani dan mujahid yang muwahhid.

Keempat: menjadikan rumah sebagai rumah sakit. Tempat orang datang untuk mencari kesembuhan. Rumah keluarga syariah selalu disibukkan dengan mencari obat kebahagiaan dunia-Akhirat.

Dan kelima: menjadikan rumah sebagai pelabuhan tenang tempat seluruh anggota keluarga mendapatkan kedamaian setelah bertempur seharian. Di sana tegak sendi-sendi ukhuwwah, itsar (mementingkan orang lain daripada diri sendiri) dan ‘iffah (menahan diri) dan iman.

You might also like More from author

Leave a comment
k