Hak anak

Ibnu Umar radhiallahu anhuma berkata, “Sesungguhnya orang itu dinamakan Abrar (orang yang baik nan berbakti) karena ia berbakti kepada orang tua dan anak, sebagaimana orang tuamu memiliki hak maka anakmu pun memiliki hak atasmu.” Riwayat Bukhari dalam kitab Al-adabul Mufrad dengan sanad yang lemah.

Tidak ada orang tua yang menginginkan anak durhaka, namun banyak orang tua yang tidak tahu apa yang harus dilakukannya agar anaknya berbakti. Akhirnya, keinginan tinggallah keinginan, jauh panggang dari api. Sudah semestinya saat kita meminta anak memenuhi hak kita, kita bertanya pada diri, sudahkah kita tunaikan hak anak kita?

Lalu, apa sajakah hak anak kita itu?

  1. Mendapat ayah ibu yang baik

Kualitas ayah ibu sangat menentukan kualitas anak, karena mereka adalah sekolahan pertamanya. Sebagai calon ayah kita perlu selektif dalam memilih calon ibu dari anak-anak kita, demikian juga calon ibu. Hanya saja bagi wanita peran wali sangat dominan dalam menentukan pendamping hidupnya.

Perkara yang semestinya menjadi pertimbangan utama ialah masalah kualitas agama dan akhlaknya. Adapun nasab, paras, dan harta menjadi pertimbangan berikutnya, karena yang paling dibutuhkan dalam perjalanan rumah tangga nantinya adalah faktor kualitas agama. Ini rahasia pesan Rasulullah saw dalam masalah memilih pasangan.

Baiknya calon pasangan bisa diketahui melalui beberapa cara, di antaranya: ia tumbuh di keluarga dan lingkungan yang baik, ia berteman dengan teman-teman yang baik, dan menyukai aktivitas yang positif. Informasi ini bisa didapat melalui teman, saudara, atau akun media sosialnya.

  1. Mendapat nama yang bagus dan berarti baik

Nama adalah kata yang terindah yang didengar oleh pemiliknya. Nama ini pula yang akan Allah panggil di akhirat kelak. Nama adalah doa kita untuk anak kita. Pada hari ke tujuh dari kelahirannya kita sematkan nama yang baik untuknya. Nama Abdullah dan Abdurrahman, nama para Nabi, nama para sahabat, atau nama lain yang memiliki arti yang baik.

Kalau ternyata kita sudah terlanjur memberi nama yang baru kita ketahui bahwa artinya tidak baik, maka kita ganti namanya sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengganti beberapa nama sahabatnya.

  1. Mendapat anak air susu ibu (ASI)

ASI sudah didesain oleh Allah untuk menjadi makanan terbaik dan tersehat untuk anak kita. Sarat dengan kandungan zat yang dibutuhkan oleh bayi dalam masa pertumbuhan, di antaranya membangun kekebalan tubuh. ASI juga menjadi sarana untuk mendekatkan bayi kepada ibunya. Karena alami, ASI tidak akan basi dan selalu pas tingkat kehangatannya.

Selain bayi, sang ibu juga mengambil manfaat dari aktivitas menyusui ini. Ia akan terhindar dari ancaman kanker payudara, karena ketegangannya tersalurkan dengan baik.

Sangat disarankan selama 6 bulan pertama si anak hanya mengonsumsi ASI, tidak mencampurnya dengan makanan lain. Selanjutnya, bisa dibarengi dengan asupan lain namun ASI tetap diberikan sampai usia 2 tahun. Andaikata karena kehendak Allah ASI tidak keluar, maka dicari ibu susuan yang baik untuk menyusui anak kita meski dengan imbalan. Ini lebih baik daripada susu formula.

  1. Mendapat pengajaran Al Quran

Al Quran adalah firman Allah Sang Pencipta. Anak kita memiliki hak untuk mendengarnya dari kita, orang tuanya. Dalam teori pendidikan Nabawi, bacaan Al Quran adalah asas utama dalam pendidikan. Ayat-ayat Allah inilah yang akan melembutkan hati anak, sehingga lebih mudah diarahkan seiring tumbuh kembangnya.

Tidak hanya setelah lahir, selama dalam kandungan pun sangat disarankan agar orang tua membacakan Al Quran untuknya. Ini menjadi motivasi bagi para orang tua untuk menyiapkan diri dengan kualitas bacaan Al Quran yang baik. Kalaulah karena kelalaian kita dalam perjalanan hidup, kita belum bisa membaca Al Quran, maka sembari belajar, kita antarkan anak kita ke salah satu ustadz untuk diajari Al Quran.

Termasuk dalam poin ini mengenalkan anak kita siapa itu Allah. Melalui kita, anak mengenal bahwa Allah adalah pencipta alam semesta termasuk dia, Allah yang menghidupkan, memberi rezeki, mematikan, dan membangkitkan kembali. Allah yang memiliki dan Mahakuasa atas segala sesuatu, sehingga hanya Allah yang patut dan berhak disembah.

Anak juga berhak mengenal Rasulnya Muhammad shallallahu alaihi wasallam, orang yang Allah utus untuk menjadi contoh dan teladan dalam semua lini kehidupan. Ia berhak pula mengenal dasar-dasar Islam yang menjamin kebahagiaan di dunia dan akhiratnya.

  1. Mendapat nafkah dan makanan halal

Selama anak laki-laki belum balig, dan anak perempuan belum menikah, maka nafkahnya merupakan kewajiban kita selaku orang tua, ayah khususnya. Bukan sembarang nafkah tetapi nafkah yang halal. Karena apa yang ia makan akan tumbuh menjadi daging, apa jadinya jika daging yang tumbuh itu berasal dari harta yang haram. Tentu akan menjadi penghalang baginya untuk mendapatkan kebaikan-kebaikan Allah.

Kehalalan nafkah dilihat dari sisi barangnya, yaitu bukan sesuatu yang Allah haramkan. Dilihat pula dari cara memperolehnya, yaitu bukan hasil pencurian, pekerjaan yang haram, transaksi riba, atau cara haram lainnya.

Nafkah ini, meski kewajiban kita, namun dengan niat yang tulus karena Allah bisa menjadi poin sedekah kita. Maka, hadirkan niat sedekah saat kita memberi nafkah keluarga.

  1. Dipilihkan calon suami/istri yang baik

Agar rangkaian pendidikan anak ini berlanjut, orang tua memiliki kewajiban untuk memilihkan calon suami/istri yang baik untuk anaknya. Perjalanan rumah tangga yang telah dijalaninya tentu menjadi pelajaran penting dalam poin ini. Kembali, faktor agama harus menjadi acuan dalam pemilihan. Kita bisa belajar dari Rasulullah saw dalam hal ini. Beliau menikahkan putri-putrinya dengan sahabat-sahabat terdekatnya yang benar-benar beliau kenal kualitas agamanya.

Demikianlah, perbesanan di kalangan para sahabat menjadi faktor pembentukan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur agama, jauh dari unsur syahwat belaka.

You might also like More from author

Leave a comment
k