Bunda, Jadilah Murabbiyah Yang Tak Kenal Lelah (Bag. 1)

Tanggung jawab pembinaan putra putri merupakan salah satu kewajiban terbesar yang harus diperankan oleh pasangan suami istri dalam bahtera rumah tangga mereka. Masing-masing tentunya memiliki peran dan tanggung jawab yang tak kalah pentingnya.

Bila seorang ayah bertanggung jawab memberikan nafkah atas anak istrinya, memberikan mereka bimbingan dan senantiasa berusaha membina putra putri dengan tarbiyah atau pembinaan yang baik, maka peran sang bunda tentunya tak kalah penting dalam pemberian bimbingan, dan pembinaan mereka dari berbagai segi. Akan tetapi seorang bunda tentunya lebih memiliki pengaruh besar dalam peran tarbiyah ini lantaran keistimewaannya dari segi besarnya perhatian, cinta, dan kasih sayangnya atas mereka, dan ini merupakan sunnatullah secara umum dalam kehidupan yaitu bila Sang Bunda lebih memperhatikan putra putrinya dibanding sang ayah yang lebih banyak berada di luar rumah.

Tanggung jawab tarbiyah yang diembankan pada pundak Sang Bunda ini telah dijelaskan oleh Nabi kita shallallahu’alaihi wasallam sebagaimana dalam hadis Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعيّتِهِ, والأميرُ راعٍ, والرّجُلُ راعٍ على أهلِ بيتِهِ, والمرأةُ رَاعِيَّةٌ على بيتِ زوجِها وَوَلَدِهِ, فكلّكم راعٍ وكلّكم مسئولٌ عنْ رَعِيَّتِهِ

Artinya: “Kalian adalah pemimpin dan kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan kalian. Seorang penguasa adalah pemimpin, seorang suami adalah seorang pemimpin seluruh keluarganya, demikian pula seorang istri adalah pemimpin atas rumah suami dan anaknya. Kalian adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan kalian”. (HR Bukhari: 2554 dan Muslim: 1829).

Fadhilah Tarbiyah / Pembinaan Putra putri

Putra putri adalah salah satu nikmat dan karunia Allah terbesar dalam kehidupan ini, merekalah kuntum bunga kehidupan, dan yang paling diharapkan menyelamatkan kedua orang tuanya di hari tua, juga di akhirat kelak. Karunia berupa putra putri ini merupakan anugerah istimewa dari Allah subahanahu wata’ala untuk semua umat manusia, sebagaimana dalam firman-Nya:

يَهَبُ لِمَن يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَن يَشَاءُ الذُّكُورَ (49)
أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا  وَيَجْعَلُ مَن يَشَاءُ عَقِيمًا  إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِير (50)

Artinya: “Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki.
atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.”
(QS Syura: 49-50).

Juga berfirman dalam ayat lain:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَاراً  (11) وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَاراً (12)

Artinya: “Maka aku katakan kepada mereka: mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha pengampun. niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun,dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai (QS Al-Nuh: 10-12).

Ayat-ayat ini mengisyaratkan bahwa karunia Allah atas hamba-hamba-Nya berupa putra putri adalah pertolongan dan hiburan darinya, sama halnya dengan karunia berupa rezeki harta, dan ditumbuhkannya kebun-kebun yang berlimpah sebagai sumber kehidupan. Hal ini nampak jelas pula dalam firman-Nya yang lain:

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ

Artinya: “Allah menjadikan bagi kamu istri-istri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki dari yang baik-baik.” (QS Al-Nahl: 72)

Juga firman-Nya:

واذكروا إذ كنتم قليلا فكثركم

Artinya: “Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit lalu Allah memperbanyak jumlah kamu” (QS Al-A’raf: 86).

Ini menunjukkan bahwa anugerah banyaknya anak dan keturunan merupakan karunia dan anugerah terbesar yang Allah curahkan atas hamba-hamba-Nya, lantaran putra putri adalah hiasan dunia, kebanggaan hidup bahkan mereka adalah karunia yang tak ditandingi oleh karunia harta, kedudukan, bahkan tidak pula oleh kemuliaan pangkat dan nasab. Seorang penyair menggambarkan ini dalam sajaknya:

نعم الإله على العباد كثيرة * وأجلهن نجابة الأولاد

Nikmat ilahi atas hamba-hamba-Nya begitu banyak

Namun yang paling besar adalah lahirnya putra putri

Bahkan putra putri merupakan faktor datangnya rezeki dari Allah ta’ala, lantaran merekalah rezeki Ayah-Bunda dimudahkan, dan karunia atas mereka berdua tercurahkan, sebagaimana dalam firman suci-Nya:

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ

Artinya: “Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan.  Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka.” (QS. Al An’am: 151).

Juga firman-Nya:

 وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ

Artinya: “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kami lah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu.” (QS. Al Isra: 31).

Tidak ada pemberi keselamatan yang paling berperan ketika seseorang berada dalam kuburnya selain doa-doa para putra putri yang senantiasa terpanjatkan tuk orang tua mereka. Sebagaimana dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu’anhu  bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

 إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ؛ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ, وَعِلْمٍ يَنْتَفِعُ بِهِ, وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ

Artinya: “Bila anak adam telah meninggal dunia, maka akan terputus semua amalnya, kecuali 3 perkara, yaitu: sedekah jariyah, ilmunya yang senantiasa bermanfaat bagi manusia, dan anak shalih yang selalu mendoakannya”. (HR Muslim: 1631)

Juga dalam hadis lain dari ‘Uqbah bin ‘Amir Al-Juhani radhiyallahu’anhu berkata; Saya mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

 مَنْ كَانَ لَهُ ثَلاَثُ بَنَاتٍ فَصَبَرَ عَلَيْهِنَّ, وَأَطْعَمَهُنَّ, وَسَقَاهُنَّ, وَكَسَاهُنَّ مِنْ جِدَتِهِ، كُنَّ لَهُ حِجَاباً مِنَ النَّارِ يَوْمَ القِيَامَةِ

Artinya: “Barangsiapa memiliki tiga anak perempuan, kemudian bersabar terhadap mereka, memenuhi kebutuhan makan, minum, dan pakaian mereka dari jerih keringatnya, maka ketiganya akan menjadi tameng baginya dari api neraka.” (HR Ahmad: 17403 dan Bukhari dalam Adab Mufrad: 76, dan dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’: 5/34).

Amanah Yang Mesti Diemban

Tarbiyah atau pembinaan yang efisien, teratur dan terencana untuk putra putri merupakan penopang utama dalam membentuk perbaikan keluarga dan masyarakat. Sebab pada hakikatnya, faktor dan penyebab kemunduran umat ini disebabkan oleh dua perkara utama:

Pertama: Faktor interen yaitu kurang adanya tarbiyah atau pembinaan yang efisien.

Kedua: Faktor-faktor eksteren yang menggagalkan semua usaha pembinaan yang efisien dan terencana.

Oleh karena itu, hendaknya diketahui bahwasanya wanita muslimah yang berprofesi sebagai Bunda harus mengemban tanggung jawab tarbiyah ini dengan menghadirkan dua solusi bagi dua problem diatas secara bersamaan, sebagaimana ia juga merupakan tanggung jawab Sang Ayah.

Solusi Pertama: terwujud dalam bentuk pembentukan karakter putra putri serta pembinaan mereka dengan tarbiyah yang baik dan efisien baik dari segi kejiwaan, keimanan, akhlak, sopan santun, dan pertumbuhan jasad mereka, serta menumbuhkan mereka di atas tarbiyah islamiyah yang benar.

Sedangkan Solusi Kedua: terwujud dalam bentuk penjagaan mereka dari faktor dan sarana yang bisa merusak akhlak dan aqidah mereka, di antaranya westernisasi dengan segala bentuk penyebaran dan sarananya.

[1] .Diterjemahkan dari kitab Humuum Tarbawiyah

You might also like More from author

Leave a comment
k