Kelembutan Hati

45

Allah Ta’ala telah memuji sifat lembut dan menyanjung para nabi yang menyandang sifat ini. Dia menyanjung Nabi Ibrahim alaihissalam sebagai hamba yang sangat lembut hatinya:

“…Sungguh Ibrahim itu seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun” (Q.S. At Taubah: 114).

“… Ibrahim sungguh penyantun, lembut hati dan suka kembali (kepada Allah)” (Q.S. Hud: 75).

Sifat lembut hati ini disampaikan Allah dalam Al-Quran dengan ungkapan awwaah (أَوَّاهٌ). Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah menyebutkan beberapa riwayat terkait makna awwaah ini:

  1. Orang yang banyak berdoa.
  2. Penyayang
  3. Orang yang yakin.
  4. Mukmin.
  5. Orang yang banyak mensucikan Allah dan banyak mengingat Allah.
  6. Banyak membaca Al Quran.
  7. Banyak merintih ketika beribadah.
  8. Orang paham dengan ilmu.
  9. Khusyuk dan berserah diri dalam ibadah

Di akhir pembahasan makna awwaah, Ibnu Jarir rahimahullah lebih memilih pendapat bahwa makna dari awwaah adalah banyak berdoa sesuai dengan atsar yang diriwayatkan oleh sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu. Alasan yang kedua karena makna doa lebih tepat jika memperhatikan susunan kalimat sebelumnya dalam ayat yang sama. Awal ayat ini menyampaikan upaya Nabi Ibrahim alaihissalam meminta ampun kepada Allah untuk ayahnya. Sebagaimana firmaNya:

“Adapun permohonan ampunan Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah dikrarkannya kepada bapaknya…” (Q.S. At Taubah: 114).

Pendapat yang dipilih Imam Ibnu Jarir ini tidak menghalangi makna lain yang juga sesuai. Karena Nabi Ibrahim sangat lembut hatinya, maka ia sangat terdorong untuk meminta ampunan Allah untuk ayahnya. Bahkan ia berjanji untuk mendoakan ayahnya, walaupun ia dihina dan diusir oleh ayahnya. Hal ini Allah sebutkan dalam ayat:

“Dia (ayahnya) berkata: “Bencikah engkau kepada tuhan-tuhanku, wahai Ibrahim? Jika engkau tidak berhenti, pasti engkau akan kurajam, maka tingalkanlah aku untuk waktu yang lama”. (Ibrahim menjawab):”Smoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku” (QS Maryam: 46-47).

Hati Nabi Ibrahim adalah hati yang sangat lembut. Dengan kelembutannya ia mendoakan ayahnya yang menentang dakwahnya. Ia yakin karena Allah Maha Penerima Doa. Ia berdoa dengan penuh keimanan dan dengan penuh harap. Semuanya lahir dari kelembutan hati dan kasih sayangnya.

Kelembutan hati merupakan sifat mulia seorang mukmin. Tidaklah Allah memuji Nabi-Nya kecuali dengan menyebutkan sifat mulianya Allah memuji Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam dalam firmannya:

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur” (Q.S. Al Qolam:4).

Dalam kesempatan lain Allah Ta’ala juga menyebutkan beberapa akhlak Rasulullah dalam ayat-Nya:

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sunguh Allah mencintai orang yang bertawakal” (Q.S. Ali Imran: 159).

Di sini, Allah perintahkan Nabi-Nya untuk berlemah lembut. Sebaliknya Allah mencela orang yang berhati kasar. Hasil dari kelemah lembutan Rasulullah ini adalah diperintahkannya memberi maaf, memohonkan ampun dan mau menerima pendapat dari orang lain dalam musyawarah. Ini menegaskan bahwa kelembutan hati merupakan salah satu akhlak yang mulia.

Kelembutan hati memancarkan akhlak utama

Rasulullah menyampaikan dalam hadisnya:

((أَلا وَإِنَّ فيِ الْجَسَدِ مُضْغَةٌ: إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْفَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلا وَهِيَ الْقَلْبُ))

“Ketahuilah, sesungguhnya dalam diri ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh anggota badannya, dan jika ia jelek, maka jeleklah seluruh anggota badannya. Ketahilah ia adalah hati” (H.R. Bukhari:52, Muslim:  107)

Ibnu Qudamah rahimahullah menyampaikan: “Ketahuilah, sesungguhnya hal yang paling mulia dalam diri seseorang adalah hatinya, dengnnya ia bisa mengetahui Allah, kemudian beribadah untuk-Nya, bersegera menuju kepada-Nya, mendekat dan berusaha menggapai apa yang disisi-Nya. Anggota badan hanya mengikuti dan melayaninya. Hati menggunakannya sebagaimana seorang raja menggunakan para hamba sahayanya”.

Ibnu Qudamah dalam Mukhtasor Minhajul Qasidin menyebutkan sifat-sifat hati yang menjadi pintu masuknya syaitan. Salah satunya adalah kerasnya hati. Hati yang lembut yang dimaksud di sini adalah hati yang mulia. Hati para Nabi dan Rasul. Bukan hati yang lemah. Hati yang penuh dengan akhlak mulia. Hati yang penuh dengan cahaya iman.

Upaya menjadikan hati menjadi mulia penuh dengan ketakwaan dan akhlak yang baik adalah kewajiban utama seorang hamba. Allah tegaskan:

“Sungguh beruntung orang yang mau mensucikan dirinya. Dan sungguh merugi orang yang mengotori jiwanya” (Q.S. As Syams: 9-10).

Imam Ath-Thabarani rahimahullah meriwayatkan hadis dari Abu Darda radhiyallahu’anhu:

((إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَإِنَّمَا الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ))

“Ilmu hanya bisa diraih dengan belajar, dan kelemah lembutan bisa diraih dengan cara mempelajarinya”

 Seseorang hendaknya terus berupaya agar hatinya baik. Beberapa upaya yang sebaiknya dilakukan antara lain:

  1. Ikhlas dalam semua aktifitas.

Berakhlak mulia adalah ibadah yang besar pahalanya. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda menegaskan bahwasanya berakhlak yang baik adalah bagian dari ibadah:

((أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ أخْلَاقًا))

“Orang mukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya” (HR. Abu Dawud:4682, Tirmizi: 1162).

Tidaklah diterima sebuah ibadah kecuali hanya mengharapkan wajah Allah semata. Ia akan selalu berusaha istiqamah dalam menjaga hatinya. Bukan karena ada kepentingan untuk mendapatkan pujian dari manusia ketika berbuat baik.

  1. Memperbanyak membaca AlQuran dengan mentadaburi maknanya.

Allah berfirman:

“Kitab (Al-Quran) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran” (Q.S. Shad: 29).

Ada keberkahan dari Al-Quran yang sangat banyak. Terutama ketika seorang ingin hatinya penuh dengan kemuliaan, maka hendaknya ia banyak berinteraksi dengan Al-Quran.

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menyampaikan perkataan Hasan Al-Basri rahimahullah yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim: “Demi Allah, Al-Quran tidaklah dihayati dengan menghafal huruf-hurufnya saja sedangkan aturan-aturannya ditinggalkan, sampai ada yang mengatakan: “Aku telah membaca Al-Quran seluruhnya” tapi tidak nampak dari dirinya Al-Quran dalam akhlak dan aktifitasnya”.

  1. Memperbanyak hadir dalam majelis ilmu.

Ilmu yang dimaksud adalah memahami syariat Allah secara sempurna. Orang yang benar dalam menuntut ilmu pasti akan berakhlak mulia. Tanda dari ilmu yang bermanfaat adalah pemiliknya semakin tawadhu. Ia semakin tahu akan kebodohan dirinya. Sebagaimana dalam majelis ilmu ia juga mendapatkan berkah dari hadirnya malaikat yang mendoakannya. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah dan para malaikatnya serta penduduk langit dan bumi sampai semut di dalam lubangnya dan ikan di laut mendoakan kebaikan untuk pengajar manusia kebaikan” (HR Tirmizi).

  1. Membaca sirah Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasalam.

Tidak layak seorang yang mengharap keutamaan akhlak Nabi Muhammad tidak mempelajari sirahnya, tentang aktifitas beliau mengisi hari-harinya yang penuh dengan kebaikan. Rasulullah memiliki hati yang sangat mulia. Dalam banyak kesempatan beliau mendapatkan penganiayaan dan intimidasi dari kaumnya. Tapi yang terucap dari lisan beliau hanyalah:

((اللهم اغفر لقومي فإنهم لا يعلمون))

“Ya Allah, ampuni kaumku, karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang belum mengetahui” (HR Bukhari dan Muslim).

  1. Membaca sirah para sahabat dan ulama

Mempelajari sirah para sahabat dan para ulama adalah jalan yang selayaknya ditempuh. Karena merekalah yang dekat dengan akhlak Rasulullah. Para sahabat memilki akhlak mulia karena mereka adalah orang yang paling dekat dengan Rasulullah. Sedangkan para ulama yang utama adalah orang-orang yang paling paham tentang akhlak Rasulullah dan para sahabatnya.

Uwais Al-Qarni rahimahullah jika mendapatkan lemparan batu dari anak-anak kecil, beliau hanya mengatakan kepada mereka: “Wahai saudaraku, jika memang kalian harus melempariku, maka lemparilah aku dengan batu kerikil saja agar betisku tidak terluka dan menghalangiku untuk shalat”.

  1. Bergaul dengan muslim yang memiliki akhlak yang mulia.

Rasulullah pernah menegaskan:

((المرء على دين خليله، فلينظر أحدكم من يخالل))

“Seseorang tergantung kepada teman baiknya, maka perhatikan dengan siapa dia bergaul” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmizi).

  1. Tidak menunda untuk memulai kebaikan.

Al-Quran memotivasi seorang mukmin untuk segera melakukan kebaikan. Contohnya adalah perintah Allah untuk segera bertaubat dan banyak mengingat Allah:

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa” (Q.S. Ali Imron: 132).

Juga firman-Nya:

“… maka segeralah kamu mengingat Allah…” (Q.S. Al Jumuah: 9).

Semoga Allah mempermudah usaha menghiasi hati dengan kelemah lembutan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.