Ingatlah Aku Maka Aku Akan Mengingatmu

81

Berzikir  adalah amalan ringan, hanya menggunakan lisan dan kehadiran hati dalam tiap lafal yang diucapkan, sedikit tenaga yang dikeluarkan, besar pahala yang dijanjikan tapi begitu sulit untuk diamalkan.

Ya, benar akan sulit jika belum menjadi kebiasaan, sulit jika tak dipaksakan dan sulit jika belum tahu rahasia apa yang dijanjikan.

Sebagai manusia beriman, kita telah diperintahkan oleh Allah dalam alquran untuk selalu berzikir mengingat-Nya sebanyak-banyaknya sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Wahai orang- orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak- banyaknya”. (Q.S AlAhzab: 41).

Dalam ayat yang lain Allah juga memperingatkan kita untuk tidak menjadi orang- orang yang lalai sebagaimana firman-Nya: “Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai atau lenga.” (Q.S Al A’raf: 205).

Oleh karena itu, maka sudah menjadi keharusan bagi kita untuk senantiasa berzikir mengingat Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallahu’alaihi wasallam dan para sahabatnya yang bisa kita baca dalam kitab sirah dan sejarah para salaf.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa ketika Allah memerintahkan suatu amalan untuk dikerjakan maka Allah Ta’ala pasti memberikan janji balasan pahala bahkan faedah yang bisa didapatkan secara langsung ketika mengamalkan amalan yang diperintahkan.

Ada beberapa faedah yang bisa dirasakan secara langsung dalam kehidupan kita ini saat kita mengamalkan amal ibadah zikir, yaitu:

1- Dengan berzikir, Allah akan selalu mengingat kita. Hal ini sesuai dengan firman Allah subhanahu wata’ala: “Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu.” (Q.S Albaqarah: 152).

2- Dengan berzikir hati kita akan diliputi ketenteraman. Hal ini sesuai dengan firman Allah subhanahu wata’ala: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar- Ra’d: 28).

Dua faedah diatas berkaitan dengan persoalan hati karena pusat ketenteraman dan ketenangan itu berasal dari hati kita.

Berzikir kepada Allah subhanahu wata’ala ada 3 macam sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Tahzib Madarij As-Salikin, yaitu:

3- Zikir dalam bentuk pujian seperti ucapan subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar.

4- Zikir dalam bentuk doa seperti:

                           رَبَّنا ظَلمْنَا أَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ”  ”

5- Zikir dalam bentuk “ri’ayah” maksudnya adalah keyakinan akan kebersamaan Allah dan pengawasan-Nya kepada kita seperti ucapan kita: Allah mencipatkanku, Allah bersamaku, Allah menjagaku, Allah melihatku dan lain sebagainya.

Tiga macam bentuk zikir di atas sangat mudah untuk kita amalkan baik kita dalam keadaan duduk, berdiri atau berbaring sebagaimana firman Allah tentang karakter orang-orang yang berakal: “Yaitu orang- orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring,..”. (Q.S Alimran: 91).

Zikir berupa pujian kepada Allah akan banyak kita dapatkan dalam hadis- hadis Rasulullah shallahu’alaihi wassalam dan beliau shallalahu ‘alaihi wasallam tidak hanya mengajarkan bentuk lafalnya namun juga mengabarkan akan keutamaan atau ganjaran balasan dari melafalkannya, seperti lafal “subhanallahu wabihamdihi subhanallahil adzim” yang keutamaannya akan memberatkan amalan kebajikan di hari kiamat kelak, juga siapa yang senantiasa mengucapkannya seratus kali dalam sehari maka dosa-dosanya akan digugurkan walaupun dosanya sebanyak buih di lautan sebagaimana sabda baginda  nabi kita shallalahu ‘alaihi wasallam:

كَلِمَتَان خَفِيْفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيْلَتَانِ فِي الْمِيْزَانِ حَبِيْبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ الله وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ الله العظيم   

Artinya: “Dua kalimat yang ringan di lisan berat di mizan dan dicintai oleh Allah Ar-Rahman: subhanallahu wabihamdihi subhanallahil adzim” (H.R Bukhari dan Muslim).

Dalam hadis yang lain Rasulullah Shallalahu’alaihi wasallam bersabda:

مْن َقاَل ُسْبَحاَن االله َوِبَحْمِدِه ُسْبَحاَن االله العظیم ِفي َیْوٍم ِماَئَة َم َّرٍة ُح َّطْت َخَطاَیه َوَلْو َكاَنْت ِمثل َزبد البحر

Artinya: ​”Siapa yang mengucapkan ‘subhanallahu wabihamdihi subhanallahil adzim’ seratus kali dalam sehari dosa-dosanya akan digugurkan walaupun dosanya sebanyak buih dilautan “​ (H.R Bukhari).

Adapun zikir dalam bentuk doa adalah bentuk zikir yang menunjukkan hakekat penyembahan seorang hamba kepada Allah subhanahu wata’ala dan menunjukkan ketergantungan kita kepada-Nya dan hamba Allah yang tidak ingin berdoa kepada Allah, Allah menganggapnya sebagai suatu kesombongan dan akan dimasukkan kedalam neraka jahannam dengan penuh kehinaan, Allah subhanahu wata’ala berfirman: ​”Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang- orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka dalam keadaan hina dina”.​ (Q.S Ghafir: 60).

Zikir dalam bentuk “ri’ayah” bisa juga kita amalkan dengan tafakur terhadap makhluk- makhluk Allah yang ada disekitar kita seperti tingginya langit tanpa tiang dan banyaknya

jenis makhluk yang ada dalam bumi dengan berbagai spesies maka kita akan menghadirkan kebesaran Allah dalam hati kita, Allah subahnahu wata’ala berfirman: ​”Dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia- sia; MahaSuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.”​ (Q.S Alimran: 91).

Dan perlu kita ketahui bahwa dalam berzikir kepada Allah harus memahami adab- adab dalam berzikir kepada-Nya karena zikir tidak perlu mengeraskan suara atau bahkan teriak sehingga mengusik orang-orang yang ada disekitar kita, olehnya Allah mengajarkan kepada kita adab dalam berzikir kepada-Nya yang termaktub dalam kitab suci-Nya, Allah subhanahu wata’ala berfirman: “​Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang,” (Q.S Al- A’raf: 205).

Oleh karena itu, marilah kita senantiasa mengingat Allah dengan melalui 3 macam bentuk zikir kepada-Nya dalam keadaan bagaimana pun diri kita agar Allah selalu mengingat kita dan memberikan ketenangan hati dan ketenteraman jiwa untuk kita di dunia dan balasan pahala yang banyak di akhirat kelak. (Abdurrabbani Usman Nur, Lc).

Comments are closed.