Syi’ah Hazara, Dari Mongolia Sampai ke Indonesia

Syi’ah Hazara adalah salah satu etnis Syi’ah yang hidup di Afghanistan. Data terakhir menunjukkan bahwa populasinya mencapai 2,9 juta jiwa. Bahasa aslinya Persia, dan ideologinya adalah  Syi’ah Imamiah 12 (Rafidhah), ideologi Syi’ah paling ekstremis.

Populasi Hazara juga dapat ditemui di Iran, Pakistan, Skandinavia, Australia dan Selandia Baru.

Asal Muasal Syi’ah Hazara

Syi’ah Hazara adalah sisa-sisa pasukan Mongolia, yang dulunya menyerang ke Asia. Tentara Jengis Khan dalam aksinya dibagi kepada beberapa divisi, di antara  divisi tersebut terdiri dari 1000 prajurit, merekalah yang kemudian tersisa di Afghanistan. Hazar dalam Bahasa Persia berarti 1000. Etnis ini berdomisili di sebelah barat Kota Kabul, tepatnya di distrik Bamyan, Oruzgan, dan sekitarnya.

Selain etnis Hazara, ada satu etnis Syi’ah lagi yang tinggal di Afghanistan, etnis ini disebut Kizilbash. Mereka adalah sisa-sisa tentara Persia Iran yang menyerang Kabul di bawah pimpinan Nader Afshar. Kizilbas berasal dari Bahasa Turki yang berarti ‘kepala merah’. Ini adalah celaan dari pasukan Turki Othmani atas tentara Syi’ah yang memakai penutup kepala merah.

Meski pertikaian antara Syi’ah Hazara dan Syi’ah Kizilbas tak kunjung padam, tetapi kedua etnis ini sama-sama beraliran Syi’ah Ekstremis; Syi’ah Imamiah 12. Perlu digarisbawahi, bahwa tidak semua etnis Hazara beraliran Syi’ah.

Syi’ah Hazara di Afghanistan

Kasus Syi’ah Afghanistan mulai tercuat ke permukaan sejak tahun 1298 H. Aksi penistaan mushaf Al-Qur’an yang dilakukan beberapa penganut  Syi’ah dari distrik Bamyan, mengobarkan kemarahan Emir Abdurrahman Khan (1844-1901). Beliau segera meminta para ulama meneliti dan mengeluarkan fatwa tentang Syi’ah ini. Setelah penelitian ilmiah selesai, para ulama mengeluarkan fatwa bahwa ideologi Syi’ah Imamiah 12 sesat. Selanjutnya Emir Abdurrahman memberi tenggang waktu beberapa hari bagi mereka untuk bertaubat dan kembali kepada ajaran Islam yang lurus, namun mereka enggan dan tetap membangkang. Akhirnya Emir Abdurrahman mengirimkan bala tentara dan memberi hukuman yang setimpal kepada mereka. Sejak saat itu, Syi’ah Rafidhah tak berani lagi menunjukkan identitas, maupun ritual sesatnya.

Uni Soviet kemudian masuk menjajah Afghanistan. Perang melawan penjajah menyebabkan jutaan penduduk mengungsi ke Iran dan Pakistan. Diperkirakan ada sekitar dua juta penduduk mengungsi ke Iran, yang kemudian dimanfaatkan oleh Iran sebagai sarana untuk menyebarkan ideologi rafidhahnya. Syi’ah menangguk di air keruh, dan berhasil menerobos masuk ke lini pemerintahan, menguasai perekonomian, dan memperkokoh eksistensinya di tengah kacau-balaunya politik dan keamanan setempat.

Sultan Ali Keshtmand , adalah salah seorang PM Afghanistan berasal dari Syi’ah Hazara yang menjabat antara 1980-1990. Di masa jabatannya, ia menjadi kaki tangan Uni Soviet, dan dengan giat membantu penjajah menghadapi mujahidin Afghanistan yang berjihad melawan penjajah Komunis. Iran pun tak mau kehilangan kesempatan, mereka segera mengirimkan dukungan senjata, logistik, dan dana.

Pasca runtuhnya Uni Soviet, perannya digantikan oleh Amerika yang masuk menjajah Afghanistan  dan meruntuhkan pemerintahan Taliban. Peran yang sama dimainkan oleh Iran dan Syi’ah Afghanistan.

Saat ini, Syi’ah hampir menguasai politik dan ekonomi Afghanistan. Aniaya dan siksaan atas mujahidin Afghanistan dan penduduk Ahlus Sunnah lainnya yang dilakukan oleh Syi’ah hampir tak pernah muncul ke dunia luar. Dalam semua episode pergerakannya, peran besar Iran sangat besar hingga berhasil mengantarkan Syi’ah ke pusat pemerintahan, dan menguasai Afghanistan, bekerja sama dengan Amerika.  Barangkali ‘menghitamnya’ Kota Kabul dan kota-kota besar Afghanistan lainnya saat perayaan Asyura, adalah bukti eksistensi Syi’ah, dan kuatnya cengkeramannya atas negara Mulla ini.

Syi’ah Hazara di Pakistan

Di Pakistan, Syi’ah Hazara bagai tamu tak diundang, idiologi ekstremisnya menjadikan rakyat Pakistan gerah dan tak senang dengan mereka. Hal ini menyebabkan gesekan acap kali terjadi antara Ahlus Sunnah Pakistan dengan etnis Syi’ah Hazara. Para pemerhati HAM dari Barat kemudian membesar-besarkan kasus minoritas Hazara di Pakistan, hingga menarik perhatian dunia internasional. Tapi mereka terus menutup mata atas kasus minoritas Rohingnya di Miyanmar, Uighur di China, atau minoritas muslim lainnya di segenap penjuru dunia.

Australia dan Syi’ah Hazara Pakistan

Pada Sabtu, 23 Pebruari 2013, Situs Vetogate merilis pernyataan pembesar Syi’ah Hazara di Pakistan tentang rencana migrasi ke Australia. Dalam pernyataannya, Sardar Sadat Ali Hazara membantah adanya niat Syi’ah Hazara bermigrasi ke Australia. Ia berkata: “Etnis Hazara tak punya rencana meninggalkan Pakistan, tetapi penindasan terhadap kaum Hazara mengancam masa depan pendidikan dan pekerjaan kami.”

Ia menambahkan bahwa perhatian pemerintah pusat terhadap etnis Hazara mengalami peningkatan, ini ditandai dengan penangkapan beberapa oknum pelaku kekerasan atas Syi’ah Hazara.

Beberapa hari sebelumnya, pejabat Komisi Tinggi Australia di Islamabad menampik isu bahwa Australia menawarkan migrasi bertahap bagi ribuan etnis Hazara dari Pakistan. Sebelumnya tersebar berita bahwa Australia menawarkan migrasi tahap pertama bagi 2500 etnis Hazara ke negeri Kanguru. Ia menegaskan bahwa program migrasi 2012-2013 yang diterapkan pemerintah Australia hanya dikhususkan bagi para pengungsi. Tetapi ia juga menuntut Komisioner Tinggi PBB untuk pengungsi (UNHCR) agar segera menetapkan etnis Hazara sebagai etnis yang berhak menjadi pengungsi.

Ribuan Syi’ah Hazara Ikut Berperang di Suria

Akibat banyaknya tentara Syi’ah yang tewas melawan mujahidin Suria, Iran mengerahkan lebih dari 2000 tentara bayaran dari etnis Syi’ah Hazara, Afghanistan. Setiap orang dibayar sekitar USD 500 perbulan. Hal ini diungkapkan The Wall Street Journal, edisi Mei 2014, dengan judul “Iran Pays Afghans to Fight for Assad”.

Sepak Terjang Pengungsi Syi’ah Hazara di Indonesia

Sebenarnya, kedatangan pengungsi Syi’ah Hazara dari Pakistan dan Iran (beritanya mereka berasal dari Afghanistan) di bumi pertiwi, tidak terlepas dari agenda  besar rezim Syi’ah Iran. Agenda tersebut tertuang dalam dokumen misi rahasia jangka panjang yang dikenal dengan al-Khittah al-Khamsiniah (misi 50 tahun). Agenda ini dibagi kepada lima tahap, setiap tahap dijalankan dalam tempo sepuluh tahun. Untuk lebih detailnya, silakan baca terjemahannya dengan judul “Dokumen Rahasia Agama Syi’ah Imamiah”. (Lihat daftar referensi). Jika dilihat dari target wilayah transmigran Syi’ah Hazara di Indonesia, seperti Balikpapan, Riau, Bogor, dll. kita tidak meragukan lagi adanya benang halus yang menghubungkan mereka dengan misi Syi’ah internasional.

Belum genap setahun berada di Indonesia, para pengungsi Syi’ah Hazara dari Pakistan dan Iran ini sudah membuat resah rakyat Indonesia, khususnya daerah tempat mereka ditampung. Banyak kejanggalan yang meliputi kedatangan mereka, berbagai kasus pun sudah mulai mencuat ke permukaan. Sempat menjadi isu -tak resmi- tingkat nasional, berita tentang para pengungsi ini –sengaja atau tidak- kemudian ditutupi dengan berita kenaikan BBM.

Peran besar rezim Iran dalam menancapkan hegemoninya di Timur Tengah harus mulai menjadi perhatian pemerintah Indonesia, para politikus, aktivis, dan ulama. Dengan bantuan militer, politik, dana, dan logistiknya, Iran telah berhasil menancapkan hegemoninya di Libanon, Afganistan, Irak, Bahrain dan Kuwait. Iran juga cukup berhasil mempertahankan rezim Syi’ah Nushairiah di Suria, dan mengantarkan Syi’ah Houthi ke pusat istana pemerintahan Yaman. Semua ini adalah fakta dan realitas, tetapi masih banyak kaum muslimin yang menutup mata.

Berasal dari Mongolia, penganut Syi’ah Hazara kini telah mendarat di Indonesia, sederet catatan hitam sejarah menghiasi perjalanan hidup etnis ini, yang sampai sekarang menjadi dilema di setiap negara tempat mereka berada. Syi’ah Imamiah 12, apapun etnisnya, misi mereka tetap sama, karena semuanya adalah gerbong-gerbong yang digerakkan oleh lokomotif yang sama.

Pesan Singkat

Penulis hanya dapat menyampaikan pesan singkat kepada seluruh elemen masyarakat Indonesia, khusunya kaum muslimin: “Indonesia adalah tanah tumpah darah kita, maka kita semua bertanggung jawab mempertahankan dan membelanya dari invasi semua musuh bangsa dan agama. Ahlus sunnah Indonesia harus menyatukan visi dan misi menghadapi musuh bersama, sembari mencari solusi internal terhadap perbedaan yang ada. Tanpa persatuan, kita akan kehilangan kekuatan, dan tidak mustahil nantinya akan kehilangan kewarganegaraan.”

Referensi:

  1. Situs Ahlus Sunnah:
  1. Wikipedia:
  1. Tentara Bayaran Syi’ah Hazara ke Suria:

http://www.wsj.com/articles/SB10001424052702304908304579564161508613846

  1. Migrasi Syi’ah ke Australia: http://www.vetogate.com/117552
  2. Dokumen rahasia agama Syiah Imamiah: http://muslim.or.id/manhaj/dokumen-rahasia-agama-syiah-imamiyah.html.
  3. Sepak terjang pengungsi Syi’ah Hazara di Indonesia:

You might also like More from author

Leave a comment
k