Generasi Terbaik

259

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir tetapi amat penyayang kepada sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka nampak pada wajah mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanamnya karena Allah hendak membuat hati orang-orang kafir jengkel kepada orang-orang mukmin. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal sholeh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.”[1]

Sejarah pernah mengenal tokoh-tokoh penting yang telah membawa perubahan kepada wajah dunia ini. Dengan skala yang berbeda-beda, baik itu nasional maupun internasional, mereka adalah orang-orang yang telah berjasa bagi umat manusia kala itu. Hanya saja seiring dengan waktu, sedikit demi sedikit, satu persatu dari mereka terlupakan dari benak manusia. Bagi kita para pemuda, mungkin karena kesilapan para tetua kita yang tak pernah mengenalkan siapa tokoh-tokoh sejarah tersebut. Akhirnya yang tertinggal hanyalah nama tanpa banyak mengetahui apa saja yang telah mereka perjuangkan dan korbankan di masa yang lalu.

Satu hal yang sangat mencolok bahwa hampir dari setiap generasi tertentu, hanya terdapat beberapa orang saja yang menjadi tokoh penting di masa itu, sebut saja Alexander Agung (356 SM-323 SM), atau Genghis Khan (1162-1227) dan lainnya, yang menjadikan persentase kaburnya sejarah mereka terhadap pemuda akhir zaman ini semakin bertambah besar. Berbeda halnya ketika sebuah generasi berisi ratusan bahkan ribuan tokoh yang masing-masing dari mereka telah mengukir jasa terbesar untuk kita bahkan hingga kiamat kelak tiba. Bukankah generasi yang seperti itu pantas disebut sebagai generasi terbaik ?.

Mereka adalah para sahabat radiyallahu ‘anhum ajma’in, orang-orang yang bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan beriman kepadanya dan meninggal di atas keimanan tersebut. Para penolong agama Allah yang telah dipilih untuk menyertai Rasul-Nya yang terbaik, para pejuang Allah yang telah mengorbankan seluruh harta bahkan jiwa demi tegaknya syariat Allah, para pelanjut dan pembawa tongkat estafet tabligh risalah islam kepada seluruh alam, hingga syariat Allah menjadi rahmat untuk seluruh dunia, jasa terbesar yang Allah karuniakan hanya untuk mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah mereka yang hidup di zamanku (para sahabat. pen), lalu orang-orang yang datang setelah mereka, dan orang-orang yang datang setelah mereka.”[2]

Dan cukuplah pujian Allah subhanahu wata’ala kepada mereka sebagai bukti terkuat akan kemuliaan dan agungnya jasa mereka. Allah menggambarkan bahwa orang-orang yang beriman bersama Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam adalah sangat keras kepada orang-orang kafir, namun amat penyayang kepada sesama mereka. Para sahabat ibarat tunas-tunas yang tumbuh dari sebuah benih, dimana tunas-tunas tersebut terus berkembang bertambah kuat nan tegak melindungi benihnya. Adapun benih itu ialah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan jiwa mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Quran dan Al Hikmah.

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa untuk menentukan jumlah sahabat radiyallahu ‘anhum ajma’in secara pasti adalah merupakan suatu hal yang sulit. Hal itu dikarenakan tersebarnya mereka di perkotaan, perkampungan bahkan di belahan dunia lainnya selain jazirah arab saat itu. Di tambah pengakuan Ka’ab bin Malik radiyallahu ‘anhu dalam kisah peperangan tabuk pada tahun 9 hijriyah:

“Dan jumlah kaum muslimin yang akan berangkat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangatlah banyak, sayangnya tak ada kitab yang digunakan untuk menuliskan nama-nama mereka saat itu.”[3]

Meski demikian, secara umum jumlah mereka tentu saja tidak kurang dari seratus ribu orang. Abu Zur’ah Ar-Razy menyebutkan bahwa jumlah para sahabat adalah 114.000 orang sebagaimana diriwayatkan Khatib Al-Bagdady dalam kitab Al-Jaami’[4]. Jabir radiyallahu ‘anhu juga pernah menggambarkan jumlah yang sangat banyak ini dalam peristiwa hajjatul wada’:

“Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengendarai Al-Qaswaa untanya, beliau berhenti di Baidaa’, maka nampaklah di kedua mataku lautan manusia yang sangat banyak baik di depan, kanan, kiri maupun di belakang beliau.”[5] 

Sahabat, tahukah kau bahwa dari jumlah yang sangat banyak ini rupanya sebagian besar mereka justru masih berusia sangat belia dan muda, namun mereka telah berjuang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di saat para pemuka dan tetua suku Quraisy memusuhi dan menghina Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan risalah yang beliau bawa.

 Mereka adalah para pemuda generasi terbaik, apakah kau tidak takjub terhadap ‘Ali radiyallahu ‘anhu yang rela mengorbankan jiwanya yang masih berusia 23 tahun untuk menggantikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di atas tempat tidurnya ketika beliau melaksanakan hijrah bersama Abu Bakar ? atau kepada ‘Abdullah bin Umar radiyallahu ‘anhuma yang terbakar tekad dan semangatnya untuk ikut berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada peperangan uhud, sedang usianya belum genap 15 tahun ? atau kepada Zubair bin ‘Awwam radiyallahu ‘anhu yang digelar sebagai hawaariy atau penolong Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam padahal usianya belum genap 20 tahun ? atau kepada Dzatunnitaqain Asmaa bintu Abi Bakar radiyallahu ‘anha yang memeluk islam di usianya yang ke-14 tahun dan berperan penting dalam kesuksesan hijrah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ? dan masih banyak lagi pemuda generasi terbaik ini yang telah memantaskan diri mereka menjadi qudwah hasanah, maka tidakkah sepantasnya bagi kita untuk menggali lebih dalam nilai-nilai qudwah generasi emas tersebut guna membawanya dalam pendakian kita menuju kemuliaan di sisi Allah subhanahu wata’ala.

________________________________

[1] QS Al-Fath 29.

[2] HR Bukhari nomor 2652 dan Muslim nomor 2533.

[3] HR Bukhari nomor 4418 dan Muslim nomor 2769.

[4] 2/293.

[5] HR Muslim nomor 1218.

Leave A Reply

Your email address will not be published.