Sholat Kusuf (Gerhana)

Defenisi Kusuf dan hikmahnya

Kusuf الكسوف) ) : Tertutup dan terhalangya cahaya matahari atau bulan dengan sebab di luar kebiasaan. Istilah  Kusuf dan Khusuf memilki makna yang sama.

Allah menjadikan adanya gerhana ini sebagai sarana agar manusia memiliki rasa takut dan kembali kepada Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

إن الشمس والقمر آيتان من آيات الله، لا ينكسفان لموت أحد ولا لحياته، ولكن الله تعالى يخوف بها عباده

Artinya: “Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah, tidak terjadi gerhana pada keduanya disebabkan kematian dan kelahiran seseorang, sungguh Allah menjadikan (gerhana) pada keduanya agar hamba-hambaNya merasa takut. (HR. Bukhari No. 1048 dan Muslim No. 911)

Hukum dan dalilnya

Sholat kusuf menurut jumhur ulama hukumnya sunnah muakkadah. Sebagian ulama menghukuminya wajib pada saat terjadinya gerhana. Olehnya itu, sholat ini memiliki kedudukan yang sangat penting dan tidak boleh dianggap perkara sepele.

Dalil disyariatkannya adalah, sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam:

إن الشمس والقمر لا ينكسفان لموت أحد ولا لحياته، فإذا رأيتم فصلوا، وادعوا الله

Artinya: “Sesungguhnya matahari dan bulan tidak terjadi gerhana pada keduanya disebabkan kematian dan kelahiran seseorang, jika kalian melihatnya maka sholatlah dan berdoalah kepada Allah”. (HR. Bukhari No. 1043 dan Muslim No. 915)

Waktu dan tempat pelaksanaannya

Sholat ini disyariatkan untuk dimulai sejak mulai terjadinya gerhana hingga kembali terang, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam:

فادعوا الله وصلوا حتى ينجلي

Artinya : “Maka berdolah dan sholatlah hingga (kembali) terang”. (HR. Bukhari No. 1060 & Muslim No. 901)

Adapun tempatnya maka disunnahkan dilakukan berjamaah di masjid laki-laki dan perempuan. Dan boleh juga dilakukan sendiri-sendiri, karena ia merupakan sholat sunnah tetapi yang lebih afdhal dilakukan secara berjamaah sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam beserta para sahabat.

Tata cara pelaksanaannya

 Jika dilakukan berjamaah  di masjid, maka disunnahkan untuk memanggil jamaah dengan perkatan “Ash-shalaata Jaami’ah” yang artinya “Mari berkumpul melakukan sholat”, berdasarkan hadits Aisyah radhiyallahu ’anha beliau berkata:

أن الشمس خسفت على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم، فبعث مناديا: «الصلاة جامعة»

Artinya: “Terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam lalu beliau mengutus seseorang untuk menyeru: “ash-Shalaata Jaami’ah”. (HR. Muslim No. 901)

Adapun tata cara pelaksanaan sholatnya, juga dijelaskan dalam hadits Aisyah  radhiyallahu ’anha, beliau berkata:

 خَسَفَتِ الشَّمْسُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللهِ – صلى الله عليه وسلم -، فَصَلَّى رَسُولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – بِالنَّاسِ، فَقَامَ فَأَطَالَ القِيَامَ، ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ، ثُمَّ قَامَ فَأَطَالَ القِيَامَ، وَهُوَ دُونَ القِيَامِ الأَوَّلِ، ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ، وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الأَوَّلِ، ثُمَّ سَجَدَ فَأَطَالَ السُّجُودَ، ثُمَّ فَعَلَ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ مِثْلَ مَا فَعَلَ فِي الأُولَى، ثُمَّ انْصَرَفَ، وَقَدِ انْجَلَتِ الشَّمْسُ، فَخَطَبَ النَّاسَ، فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: «إِنَّ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ، لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللهَ، وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا». ثُمَّ قَالَ: «يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ، وَاللهِ مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنَ اللهِ أَنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ أَوْ تَزْنِيَ أَمَتُهُ، يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ، وَاللهِ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلاً وَلبَكَيْتُمْ كَثِيراً».

Artinya: “Telah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam maka beliau mengimami para sahabat melaksanakan sholat, beliau berdiri dan memperpanjang lamanya berdiri, kemudian beliau ruku’ dan memperpanjang lamanya ruku’, kemudian beliau berdiri lagi memperpanjang lamanya berdiri tetapi lebih pendek dari lama berdirinya beliau yang pertama, lalu beliau ruku’ lagi dan memperpanjang lamanya ruku’, lalu beliau sujud dan memperpanjang lamanya sujud. Pada rakaat yang kedua beliau melakukan hal yang sama dengan rakaat pertama, pada saat beliau selesai sholat, matahari telah kembali terang, kemudian beliau berkhutbah di hadapan sahabat seraya memuji Allah, lalau beliau bersabda: ““Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah, tidak terjadi gerhana pada keduanya disebabkan kematian dan kelahiran seseorang, jika kalian melihatnya berdoalah, bertakbirlah, lakukanlah sholat, dan bersedekahlah kalian”. Kemudia beliau berkata: “Wahai ummat Muhammad! Sungguh Allah memiliki kecemburuan dan kebencian (terhadap maksiat yang kalian lakukan melebihi kecemburuan dan kebencian kalian) jika mendapati budak lelaki atau wanita kalian berzina. Wahai ummat Muhammad!, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit ketawa dan banyak menangis”. (HR. Bukhari no. 1044 & Muslim No. 901).

Jika sholat telah selesai dilaksanakan dan gerhana masih berlangsung maka disunnahkan untuk memperbanyak doa, memohon ampun, bertakbir dan bersedekah hingga suasana kembali terang.

Demikianlah risalah singkat tentang pelaksanaan sholat gerhana, semoga bermanfaat.

You might also like More from author

Leave a comment
k