Shalat Istisqa

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala karunia yang telah diberikan kepada hamba-Nya. Tanah yang subur, bumi yang hijau, pegunungan yang mengalir darinya sumber mata air,  laut yang kaya akan sumber daya alam, negeri yang gemah ripah loh jinawi (kekayaan alam yang berlimpah), semuanya adalah karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang patut kita syukuri.

Shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pembawa risalah Islam sebagai agama yang diridhoi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Artinya: Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku cukupkan kepada kalian ni’mat-Ku, dan telah Ku ridhai Islam sebagai agama kalian”. [QS. Al-Maidah: 3].

Beberapa bulan yang lalu terjadi bencana asap akibat kemarau panjang yang melanda beberapa daerah di Indonesia, yang menyebabkan berbagai masalah kemanusiaan, mulai dari masalah kesehatan, pendidikan, sampai masalah ekonomi. Mungkin sebagian kita bertanya: Kenapa ni’mat-Nya berubah menjadi niqmah (azab)?

Tentu musibah yang melanda bangsa kita ini adalah teguran dari Allah Subhanahu wa Ta’ala supaya kita bertaubat, dan mengingatkan kita akan sunnah Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang perlu kita hidupkan kembali, yaitu shalat istisqa. Berikut ini pembahasan tentang shalat istisqa.

ISTISQA MAKNA DAN HUKUMNYA

Istisqa dalam bahasa Arab artinya meminta air minum. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِذِ اسْتَسْقَى مُوسَى لِقَوْمِه

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya”.       [QS. Al-Baqarah: 60].

 Sedangkan makna istisqa secara syar’i adalah memohon kepada Alllah Subhanahu wa Ta’ala supaya diturunkan hujan ketika kaum muslimin di suatu negeri mengalami kekeringan dan kemarau panjang[1]).

Hukum Istisqa adalah mustahab (sunnah) sebagaimana dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan diamalkan oleh para shahabat, dan tabi’in setelahnya.

MACAM-MACAM ISTISQA

Ada 3 cara melaksanakan istisqa yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam[2]):

  1. Istisqa yang dilaksanakan setelah shalat. Ini dikenal dengan shalat al-istisqa[3]).
  2. Istisqa yang dilakukan khatib di akhir khutbah jum’at.

Dalilnya adalah hadits Anas radhiyallahu ‘anhu:

أَنَّ رَجُلًا دَخَلَ اَلْمَسْجِدَ يَوْمَ اَلْجُمُعَةِ, وَالنَّبِيُّ – صلى الله عليه وسلم – قَائِمٌ يَخْطُبُ. فَقَالَ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ, هَلَكَتِ اَلْأَمْوَالُ, وَانْقَطَعَتِ اَلسُّبُلُ, فَادْعُ اَللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُغِيثُنَا, فَرَفَعَ يَدَيْهِ, ثُمَّ قَالَ: “اَللَّهُمَّ أَغِثْنَا, اَللَّهُمَّ أَغِثْنَا…” .مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ[4](.

Artinya: Bahwasannya seorang laki-laki masuk ke dalam masjid pada hari jum’at, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah. Kemudian dia berkata: Wahai Rasulullah, harta-harta telah musnah dan jalan-jalan telah terputus (karena kekeringan), maka berdo’alah kepada Allah ‘Azza wa Jalla supaya menurunkan hujan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya, kemudian berdo’a: “Ya Allah berilah kami hujan, ya Allah berilah kami hujan…”. [Muttafaq ‘alaih].

  1. Istisqa yang dilakukan oleh setiap muslim di dalam do’anya pada waktu-waktu mustajabah.

Dalilnya adalah hadits Anas radhiyallahu ‘anhu:

«أَنَّ عُمَرَ – رضي الله عنه – كَانَ إِذَا قَحِطُوا يَسْتَسْقِي بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ اَلْمُطَّلِبِ. وَقَالَ: اَللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَسْتَسْقِي إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِينَا, وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا، فَيُسْقَوْنَ»[5](.

Artinya: Bahwasanya Umar radhiyallahu ‘anhu apabila terjadi kekeringan meminta Abbas bin Abdilmuttalib (untuk berdo’a). Sambil berkata: “Ya Allah dulu kami beristisqa dengan (do’a) Nabi-Mu maka engkau menurunkan kepada kami hujan, dan sekarang beristisqa dengan (do’a) paman Nabi-Mu, maka turunkanlah hujan kepada kami”, kemudian turunlah hujan.

TATA CARA SHALAT ISTISQA SESUAI TUNTUNAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata:

«خَرَجَ النَّبِيُّ – صلى الله عليه وسلم – مُتَوَاضِعًا, مُتَبَذِّلًا, مُتَخَشِّعًا, مُتَرَسِّلًا, مُتَضَرِّعًا, فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ, كَمَا يُصَلِّي فِي الْعِيدِ, لَمْ يَخْطُبْ خُطْبَتَكُمْ هَذِه»[6](.

Artinya: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  keluar (untuk shalat istisqa) dalam keadaan tawadhu’, tidak memakai pakaian mewah, khusyu’, berjalan dengan tenang, dan penuh pengharapan, kemudian Beliau shalat dua raka’at sebagaimana shalat ‘id (hari raya), dan tidak berkhutbah seperti khutbah kalian ini”.

Dari hadits di atas dapat kita ambil beberapa faidah tentang tata cara shalat istisqa:

  • Waktu shalat istisqa adalah setelah terbit matahari setinggi tombak, karena sebelum waktu tersebut adalah waktu-waktu terlarang untuk shalat sunnah mutlaq (tanpa sebab), sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu:

لَا صَلَاةَ بَعْدَ اَلصُّبْحِ حَتَّى تَطْلُعَ اَلشَّمْسُ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ[7](.

Artinya: “Tidak ada shalat setelah shalat shubuh sampai matahari terbit[8])”. [Muttafaq ‘alaih].

Dan dalil bahwasanya waktu tersebut adalah waktu shalat istisqa hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

شَكَا اَلنَّاسُ إِلَى رَسُولِ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قُحُوطَ الْمَطَرِ, فَأَمَرَ بِمِنْبَرٍ, فَوُضِعَ لَهُ فِي اَلْمُصَلَّى, وَوَعَدَ اَلنَّاسَ يَوْمًا يَخْرُجُونَ فِيهِ, فَخَرَجَ حِينَ بَدَا حَاجِبُ اَلشَّمْسِ[9]).

Artinya: “Orang-orang mengeluhkan kemarau panjang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Beliau menyuruh mereka untuk meletakkan mimbarnya di mushalla[10]), dan menentukan hari supaya mereka keluar (untuk shalat istisqa), kemudian Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar (ke mushalla) ketita matahari mulai terlihat”.

  • Tempat shalat istisqa adalah di tanah lapang. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits di atas bahwa para shahabat meletakkan mimbar di mushalla.
  • Takbir di dalam shalat istisqa adalah: 7 kali pada raka’at pertama selain takbiratul ihram, dan 5 kali pada raka’at kedua selain takbir berdiri dari sujud[11]), sebagaimana shalat ‘id.
  • Disunnahkan untuk membaca surat al-A’la pada raka’at pertama, dan surat al-Ghasyiyah pada raka’at kedua, sebagaimana shalat ‘id.


KHUTBAH PADA SHALAT ISTISQA

Dalam khutbah istisqa disunnahkan bagi khatib untuk mengajak kaum muslimin bertaubat dan memperbanyak istighfar, karena kekeringan dan kemarau panjang yang menimpa kaum muslimin tidak lain disebabkan oleh dosa mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya: “Munculnya bencana di daratan dan lautan itu tidak lain karena perbuatan manusia, supaya mereka merasakan akibat dari perbuatan mereka, agar mereka kembali (bertaubat kepada Allah). [QS. ar-Rum: 41].

Disunnahkan juga bagi khatib untuk berdo’a sesuai dengan do’a[12]) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sambil mengangkat kedua tangannya, dan membalikkan surbannya. Dalilnya adalah hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beristisqa kemudian beliau berdoa sambil mengangkat kedua tangannya sampai kelihatan kedua ketiaknya yang putih bersih, kemudian membelakangi jama’ah, dan membalikkan surbannya[13])

DO’A ISTISQA

Diantara doa-doa istisqa yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagai berikut:

اللَّهُمَّ اسقنا غَيْثاً مُغِيثاً مَرِيئاً مَرِيعاً، نَافِعاً، غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلاً غَيْرَ آجِلٍ([14].

اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا([15].

اللَّهُمَّ اسْقِ عِبَادَكَ، وبَهَائِمكَ، وانْشُرْ رَحْمَتَكَ، وأحْيِي بَلَدَكَ المَيِّت([16].

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ اَلْعَالَمِينَ, اَلرَّحْمَنِ اَلرَّحِيمِ, مَالِكِ يَوْمِ اَلدِّينِ, لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ، اَللَّهُمَّ أَنْتَ اَللَّهُ, لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ, أَنْتَ اَلْغَنِيُّ وَنَحْنُ اَلْفُقَرَاءُ, أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ, وَاجْعَلْ مَا أَنْزَلْتَ قُوَّةً وَبَلَاغًا إِلَى حِين. ([17]

“Ya Allah! Berilah kami hujan yang merata, menyegarkan tubuh dan menyuburkan tanaman, bermanfaat, tidak membahayakan. Kami mohon hujan secepatnya, tidak ditunda-tunda.”

“Ya Allah! Berilah kami hujan. Ya Allah, turunkan hujan pada kami. Ya Allah! Hujanilah kami,”

“Ya Allah! Berilah hujan kepada hamba-hambaMu, ternak-ternakMu, berilah rahmatMu dengan merata, dan suburkan tanahMu yang tandus.”

“Segala pujian adalah milik Allah Rabb sekelian alam, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Yang Menguasai hari pembalasan. Tidak ada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, Dia melakukan apa yang dikehendakiNya, Ya Allah Engkaulah Allah, tiada tuhan yang berhak diibadahi melainkan Engkau Yang Maha Kaya, sedangkan kami yang fakir, turunkan untuk kami hujan, dan jadikan apa yang Engkau turunkan itu kekuatan dan memenuhi keperluan kami”.

___________________________________

[1]) Kitab Taudhih al-Ahkam min Bulugh al-Maram, karangan asy-Syekh Abdullah bin Abdirrahman al-Bassam, jilid: 3, halaman: 76.

[2]) Kitab al-Iqna’ fii Halli Alfaazhi Abi Syuja’, karangan Imam asy-Syirbini (wafat 977 H), jilid: 1, halaman: 176.

[3]) Akan ada pembahasan lengkap shalat al-istisqa.

[4]) HR. Bukhari no: 1014, HR. Muslim: 897.

[5]( HR. Bukhari no: 1010.

[6]( HR. Ahmad 1/230, HR. Abu Dawud no: 1165,HR. Tirmidzi no:558, HR. Nasai 3/156, HR. Ibnu Majah no: 1266.

[7]) HR. Bukhari no: 586, HR. Muslim: 827.

[8]) Berkata Imam ash-Shan’ani ketika menjelaskan hadis ke-164 dari Bulughul Maram: “disebutkan di dalam riwayat ‘Amr bin ‘Absah dengan lafaz “sampai matahari terbit setinggi tombak”. Lihat kitab Subulussalam, karangan Imam ash-Shan’ani, jilid: 1, halaman: 112

[9]) HR. Abu Dawud no: 1173, dan dishahihkan oleh Iman Ibnu Hibban.

[10]) Yang dimaksud mushalla di sini adalah tanah lapang sebelah barat masjid nabawi.

[11]) Kitab al-Ghayah wa at-Taqrib, karangan Abi Syuja’ Ahmad al-Ashfahani (wafat 593 H), halaman 13.

[12]) Do’a istisqa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan dicantumkan di akhir tulisan.

[13]) HR. Abu Dawud no: 1173, HR. Ibnu Hibban no: 991.

[14]) HR. Bukhari no:1013, HR. Muslim no: 897.

[15]) HR. Abu Dawud no: 1169, dishahihkan oleh asy-Syekh al-Albani.

[16]) HR. Abu Dawud no: 1176, dihasankan oleh asy-Syekh al-Albani.

[17]) HR. Abu Dawud no: 1173, dishahihkan oleh Ibnu Hibban no: 2860.

You might also like More from author

Leave a comment
k