Bentuk dan Jenis Jual Beli yang Dilarang (Bag. 1)

Pada dasarnya, segala jenis jual beli hukumnya dibolehkan selama tidak ada dalil yang melarangnya. Oleh karena itu, jual beli dalam kehidupan manusia bersifat aktif dan inovatif, bentuk dan jenis jual beli mengalami banyak perubahan, baik dari sisi komoditas yang diperjualbelikan ataupun dari sisi bentuk transaksinya. Hal ini mendasari betapa perlunya seorang muslim mengetahui bentuk dan jenis jual beli yang dilarang. 

Berdasarkan objek jual beli (al-ma’qud  ‘alaihi) maka sebab-sebab dilarangnya sebuah bentuk jual beli dapat dibagi menjadi lima kategori :

Pertama : Jual beli yang mengandung unsur gharar dan jahalah.

Kedua : Jual beli yang mengandung unsur riba.

Ketiga : Jual beli yang mengandung unsur kemudhratan dan penipuan.

Keempat : Jual beli barang yang diharamkan.

Kelima : Jual beli yang dilarang karena adanya faktor lain (external) yang dilarang dalam syariat Islam.

Kelima sebab ini akan dijelaskan secara terperinci dalam beberapa tulisan.

Pertama : Jual beli yang mengandung unsur gharar dan jahalah

Gharar dalam jual beli bermakna akad jual beli terhadap sebuah barang  yang tidak dapat diprediksi hasilnya apakah ia ada atau tidak, apakah ia bisa diserahterimakan atau tidak, apakah ia bisa diketahui atau tidak, semua ini masuk dalam kategori gharar. Adapun jahalah bermakna ketidakjelasan, yaitu  ketidakjelasan yang kadarnya dapat menimbulkan perselisihan pada pihak yang melakukan transaksi jual beli. Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu berkata:

نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ،وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ

Artinya : Rasulullah ﷺ  melarang jual beli al-hashaah dan jual beli al-gharar. (HR. Muslim No. 1513)

Syariat Islam melarang segala bentuk transaksi jual beli yang mengandung kedua unsur ini dalam rangka menjaga harta seseorang dari segala macam perselisihan yang dapat timbul. Dan yang terpenting bagi sesama muslim ia bertujuan untuk menjaga hubungan ukhuwah dan rasa cinta yang harmonis di antara kaum muslimin.

Beberapa bentuk jual beli yang dilarang disebabkan mengandung kedua unsur ini adalah :

  1. Jual beli al-mulaamasah dan al-munaabadzah

Kedua jenis jual beli ini telah ada sejak dahulu. Al-mulaamasah artinya melakukan transaksi jual beli dengan hanya menyentuh/meraba barang yang diperjualbelikan tanpa memperhatikannya secara seksama, atau seseorang membeli sebuah barang dalam kegelapan dan ia tidak mengetahui barang tersebut. Adapun al-munaabadzah adalah dua orang yang melakukan jual beli saling melempar kepada pihak yang lain barang yang diperjualbelikan, dan transaksi tersebut langsung dianggap sah tanpa perlu memperhatikan barang yang dilemparkan kepadanya.

Kedua jual beli ini dilarang berdasarkan hadits Abu Sa’id radhiyallahu ’anhu :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ المُنَابَذَةِ،وَهِيَ طَرْحُ الرَّجُلِ ثَوْبَهُ بِالْبَيْعِ إِلَى الرَّجُلِ قَبْلَ أَنْ يُقَلِّبَهُ،أَوْيَنْظُرَإِلَيْهِ وَنَهَى عَنِ المُلاَمَسَةِ، وَالمُلاَمَسَةُ: لَمْسُ الثَّوْبِ لاَ يُنْظَرُ إِلَيْهِ.

Artinya: Bahwasanya Rasulullah ﷺ melarang jual beli al-munaabdzah; yaitu seseorang yang melemparkan pakaiannya dengan maksud jual beli kepada orang lain tanpa ia memeriksa dan melihat pakaian itu (dengan seksama). Dan juga beliau melarang jual beli al-mulaamasah; yaitu menyentuh sebuah pakaian tanpa melihatnya (dengan seksama). (HR. Bukhari No. 2144 & Muslim No. 1512)

  1. Jual beli al-hashaah

Jual beli al-hashaah adalah jual beli yang dilakukan dengan melempar sebuah batu kecil ke objek jual beli dan ketika mengena objek tersebut maka jual beli tersebut dianggap sah tanpa perlu memperhatikan barang tersebut secara seksama dan teliti. Jual beli ini dilarang oleh Rasulullah ﷺ dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu yang telah disebutkan di atas.

  1. Jual beli habalal-habalah

Jual beli ini telah dikenal sejak masa jahiliyah, berdasarkan hadits Ibnu Umar radhiyallahu ’anhuma beliau berkata :

كَانَ أَهْلُ الجَاهِلِيَّةِ يَتَبَايَعُونَ لُحُومَ الجَزُورِ إِلَى حَبَلِ الحَبَلَةِ، قَالَ: وَحَبَلُ الحَبَلَةِ أَنْ تُنْتَجَ النَّاقَةُ مَافِي بَطْنِهَا،ثُمَّ تَحْمِلَ الَّتِي نُتِجَتْ، فَنَهَاهُمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ

Artinya : “Orang-orang di masa jahiliyah melakukan jual beli dari jual beli daging unta hingga jual beli habalal-habalah, yaitu : (jual beli) yang dilakukan terhadap janin yang dikandung oleh unta betina, kemudian ketika janin itu lahir (ditunggu) hingga ia hamil (dan melahirkan). Maka Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melarang mereka melakukan hal itu.” (HR. Bukhari No. 3843 & Muslim No. 1514)

  1. Jual beli al-madhaamiin, al-malaaqiih dan ‘asbal-fahl

Jual beli al-madhaamiin adalah jual beli janin yang masih berada dalam kandungan induknya. Adapun jual beli al-malaaqiih adalah jual beli sperma pada seekor hewan pejantan (unta, sapi, kambing dan lainnya). Kedua jenis jual beli ini dilarang karena keduanya jelas mengandung unsur gharar dan ketidakjelasan. Hal ini berdasarkan riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma, beliau berkata :

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعِ الْمَضَامِينَ وَالْمَلَاقِيحِ وَحَبَلِ الْحَبَلَةِ

Artinya: Bahwasanya Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam melarang jual beli al-madhaamiin, al- almalaaqiih dan habalal-habalah. (HR. At-Thabraaniy dalam Mu’jamal-Kabiir, No. 11851 & al-Bazzaar, No. 4828. Berkata Al-Haitsami : (hadits ini) Diriwayatkan oleh At-Thabrani dalam Al-Kabiir dan Al-Bazzaar, dan terdapat di dalam sanadnya perawi bernama Ismail ibn Abi Habibah, beliau tsiqah (terpercaya) menurut Imam Ahmad tetapi didhaifkan oleh jumhur ulama, Majma’ Az-Zwaaid 4/104)

Adapun ‘asbalfahl adalah menyewakan seekor pejantan untuk mengawini seekor betina atau lebih. Jenis transaksi ini dilarang berdasarkan hadits Ibnu Umar radhiyallahu ’anhuma beliau berkata:

نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ عَسْبِ الفَحْلِ

Artinya : Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melarang ‘asbal-fahl (HR. Bukhari, No. 2284)

  1. Jual beli buah atau biji-bijian sebelum menunjukkan tanda-tanda kematangan.

Masuk dalam kategori ini jual beli al-mukhaadarah; yaitu jual beli buah-buahan atau biji-bijian yang masih hijau (belum matang). Begitu juga jual beli al-mu’aawamah/as-siniin, yaitu jual beli buah-buahan pada sebuah pohon atau lebih selama 2 tahun atau lebih. Jual beli yang seperti ini dilarang karena mengandung unsur gharar dan ketidakjelasan berdasarkan hadits Ibnu Umar radhiyallahu ’anhuma beliau berkata :

نَهَى عَنْ بَيْعِ الثِّمَارِحَتَّى يَبْدُوَ صَلاَحُهَا، نَهَى البَائِعَ وَالمُبْتَاعَ

Artinya : Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli buah-buahan hingga buah tersebut menunjukkan (tanda-tanda) kematangannya. Beliau melarang si penjual dan si pembeli. (HR. Bukhari No. 2194 dan Muslim No. 1534)

Larangan ini berlaku selama buah atau biji tersebut masih berada di pohonnya, adapun jika telah dipetik maka hal tersebut dibolehkan. Adapun tanda-tanda kematangan berbeda antara satu jenis buah dengan yang lainnya, terkadang dapat ditandai dari warna, keras dan lunaknya, rasanya dan lain sebagainya.

  1. Jual beli barang yang tidak diketahui (majhuul)

Jual beli majhuul adalah segala bentuk jual beli yang mengandung unsur ketidakjelasan baik pada objek jual beli, harga, kadar barang yang diperjualbelikan ataupun penentuan waktu penyerahan barang. Begitu juga segala bentuk jual beli yang sulit  diserahterimakan. Contohnya : jika si A berkata kepada si B : “Saya jual kepadamu 2 ekor kambing yang ada di kandang milikku,” tanpa ditentukan secara jelas 2 ekor kambing tersebut. Atau seperti: ”Saya jual rumahku kepadamu jika si fulan meninggal dunia.” Bentuk jual beli yang seperti ini jika disepakati maka akadnya dikategorikan tidak sah (batal) karena mengandung ketidakjelasan yang dapat menimbulkan perselisihan pihak yang bertransaksi.

  1. Jual beli ats-tsunayya

Jual beli ats-tsunayya transaksi jual beli yang dilakukan dengan mengecualikan sebagian dari objek jual beli tetapi pengecualian tersebut tidak ditentukan. Seperti jika si A berkata ke si B “Saya jual semua kambing di kandang milikku kecuali 2 ekor,” tapi tidak ditentukan yang mana 2 ekor yang dikecualikan. Jika yang dikecualikan telah ditetapkan dan dijelaskan maka jual beli tersebut dibolehkan dan dikategorikan sah. Dasar larang jual beli ini adalah hadits Jabir bin Abdullah radhiyallahu ’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam melarang beberapa jenis jual beli, dan salah satu diantaranya adalah jual beli ats-tsunayya (HR. Muslim No. 1536)

  1. Menjual barang yang pada saat transaksi tidak dimiliki oleh si penjual

Termasuk jual beli yang dilarang adalah melakukan transaksi jual beli terhadap sebuah barang yang tidak dimiliki oleh si penjual pada saat transaksi berlangsung. Jual beli ini dilarang karena mengandung gharar dan ketidakjelasan yang dapat menimbulkan perselisihan diantara pihak yang melakukan akad. Dasar larangan jual beli ini adalah hadits Hakim bin Hizaam radhiyallahu ’anhu, beliau berkata : Aku pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan berkata jika seseorang datang kepadaku dan memintaku untuk melakukan jual beli sesuatu yang tidak aku miliki, maka bolehkah aku pergi membeli untuknya barang itu dari pasar ? , maka beliau bersabda:

لَا تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

Artinya : “Jangan engkau menjual apa yang tidak engkau miliki” (HR. Abu Dawud No. 3503 dan Tirmidzi No. 1232)

Demikianlah, beberapa jenis jual beli yang dilarang dikarenakan mengandung unsur gharar dan ketidakjelasan. Tulisan berikutnya – Insya Allah – akan membahas beberapa jenis jual beli yang dilarang karena mengandung unsur riba.

Semoga Allah melindungi kita semua dari jual beli yang dilarang. Aamiin.

You might also like More from author

Leave a comment
k