Antara Mahabbatullah dan Mahabbah Ma’allah

103

Dipandang dari segi struktur katanya; perbedaan antara kata mahabbatullah dan kata mahabbah ma’allah dalam judul di atas, sesunggunya beda tipis. Karena bedanya hanya ada pada imbuhan “ma’a” dalam struktur kata yang kedua. Akan tetapi makna dan akibat hukum dari keduanya sangat berbeda, baik di dunia atau pun di akhirat.

Kata mahabbatullah adalah gabungan dari dua kata dalam bahasa Arab, yaitu: mahabbah dan Allah. Akhiran mahabbah dibaca dengan huruf “h” mati jika berdiri sendiri, tetapi jika ia bersambung atau diparalelkan dengan kata lainnya maka akhiran “h” tersebut dibaca dengan bacaan huruf “t”. Karenanya, kata mahabbah jika diparalelkan dengan lafal jalalah “Allah” maka bacaan dan tulisannya menjadi mahabbatullah. Kedua kata tersebut jika dimasuki sisipan “ma’a” di antara keduanya maka hasilnya menjadi mahabbah ma’allah.

Dilihat dari segi maknanya, mahabbah diartikan cinta atau kecintaan. Dengan demikian kata mahabbatullah berarti cinta Allah atau kecintaan kepada Allah. Sedangkan kata “ma’a” bermakna bersama yang berarti penyertaan. Karenanya kata mahabbah ma’allah diartikan dengan menyertakan kecintaan kepada Allah dengan kecintaan kepada yang lain-Nya.

Orang yang cintanya kepada Allah tergolong mahabbah ma’allah adalah orang yang cintanya adalah cinta syirik. Karena cintanya tidak murni ditujukan kepada Allah, sebab sebagian cintanya ditujukan kepada selain-Nya. Menurut salah satu di antara dua interpretasi firman Allah yang artinya: “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. (QS. Al-Baqarah: 165). Cinta syirik inilah yang dimaksud oleh ayat tersebut. Karena selain mencintai Allah, mereka juga mencinta sembahan lain-Nya sebagaimana mereka mencintai Allah.

Mahabbah Sebagai Ibadah

Jika dipahami bahwa esensi ibadah itu adalah semua perkataan dan perbuatan yang lahir ataupun yang tersembunyi selama ia diridhai dan dicintai Allah maka mahabbah atau rasa cinta itu merupakan ibadah yang agung, karena ia dipuji oleh Allah dan Rasulullah shallallahu alaihi wasalam.

Dalam kaitannya dengan kecintaan kepada Allah, Allah berfirman:  “… Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya …” (QS. Al-Maidah: 54).

“Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah” (QS. Al-Baqarah: 165).

Dan dalam kaitannya dengan perlunya mendahulukan cinta Allah dan cinta Rasulullah, Nabi bersabda: “Terdapat tiga hal yang jika dimiliki oleh seseorang maka ia akan mendapatkan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, ia mencintai seseorang hanya karena Allah, dan ia benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran itu sebagaimana ia benci jika dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ayat dan hadits yang berisi pujian kepada mahabbatullah atau pun mahabaturrasul ini menunjukkan bahwa mahabbah merupakan bagian dari ibadah yang mulia, karena Allah dan Rasul-Nya memujinya, dan memuji pelakunya bahkan memerintahkan hambanya untuk memiliki amal tersebut.

Cinta kepada Allah merupakan ibadah yang wajib ditunaikan dengan tulus kepada Allah. Dalil yang digunakan oleh ulama dalam menetapkannya wajibnya cinta kepada Allah adalah antara lain firman Allah, yang artinya: “Katakanlah: “jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan Nya”. (QS. At-Taubah: 24).

Dari ayat ini, sebagaian ulama menyimpulkan dan menetapkan bahwa mahabbatullah hukumnya wajib, karena ayat ini berisi ancaman, sedang ancaman tidak ditujukan kecuali karena meninggalkan kewajiban. (lihat: Juhud al-Syafi’iyyah fi Taqrir Tauhid al-Ibadah, karya Abdul Aziz al-Anqari, hal. 212).

Korelasi Antara Mahabbatullah Dengan Iman Kepada Allah

Terdapat korelasi yang kuat antara mahabbatullah dengan keimanan kepada Allah. Karena kecintaan kepada Allah merupakan buah dari keimanan kepada-Nya, sebab iman yang terdapat dalam diri seorang mukmin senantiasa menanamkan rasa cinta kepada Allah. Sebagaimana kecintaan kepada Allah juga akan semakin menguatkan keimanan kepada-Nya. Semakin tinggi rasa cinta seseorang kepada Allah maka semakin kuat pula keimanannya kepada-Nya. Allah berfirman: Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah” (QS. Al-Baqarah: 165).

Dorongan cinta kepada Allah, selain dari iman seseorang kepada-Nya, juga lebih disebabkan karena kesempurnaan segala sifat-sifat yang dimiliki Allah, plus karena besar dan luasnya karunia dan kenikmatan yang Allah berikan kepada hamba-hamba-nya. Karena secara naluri manusia itu senantiasa senang dan cinta kepada yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan dan yang selalu berbuat baik kepada dirinya. Sedang faktor-faktor tersebut hanya dimiliki secara sempurna oleh Allah Ta’ala. Hal tersebut mendorong hamba Allah yang beriman untuk senantiasa cinta kepada-Nya. (lihat: Juhud al-Syafi’iyyah fi Taqrir Tauhid al-Ibadah, karya Abdul Aziz al-Anqari, hal. 215).

Pembagian Mahabbah

Pada dasarnya, mahabbah dapat dibagi kepada tiga bagian, yaitu:

Pertama, mahabbah yang wajib, yaitu mencintai Allah dan mencintai rasul-Nya, serta mencintai segala apa yang dicintai Allah dari ibadah-ibadah dan yang selainnya. Mahabbah jenis ini dikategorikan sebagai mahabbatullah, yaitu cinta Allah semata, dan mahabbah fillah wa lillah, yaitu cinta Rasul, dan cinta kepada segala yang dicintai Allah.

Kedua, mahabbah yang mubah, yaitu mahabbah yang bersifat naluri, seperti cintanya orang tua kepada anaknya, seorang kawan kepada kawannya, cinta kepada harta dan lain-lain. Mahabbah jenis ini hukumnya boleh dengan dua syarat:

  • Mahabbah tersebut tidak disertai dengan ketundukan, penghinaan diri dan pengagungan. Jika perkara-perkara itu ada bersama cinta ini, maka dia masuk dalam jenis mahabbah yang syirik atau mahabbah syirkiyah.
  • Mahabbah tersebut tidak sampai kepada level cintanya seseorang kepada Allah dan rasul-Nya. Jika cinta itu menyamai cinta Allah dan rasul-Nya atau lebih darinya, maka itu adalah cinta yang diharamkan.

Ketiga, mahabbah yang bersifat syirik, yaitu mencintai makhluk dengan sebuah cinta yang disertai dengan ketundukan dan pengagungan. Inilah cinta ubudiyyah (penghambaan) yang tidak boleh dipersembahkan kepada selain Allah Ta’ala. Siapa yang memalingkan cinta ibadah ini untuk selain Allah, maka dia terjatuh pada syirik akbar. Mahabbah inilah yang dimaksudkan Allah dalam firman-Nya:

وَمِنَ النَاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُوْنِ اللهِ أنْدَادًا يُحِبُّونَهُم كَحُبِّ اللهِ

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. (QS. Al-Baqarah: 165). (lihat: Ta’shil al-Aqidah al-Islamiyah, karya Abdur Rahman al-Jibrin, hal 173-176).

Pada sisi lain, mahabbah juga dapat digolongkan menjadi dua jenis, yaitu:

Jenis pertama, mahabbah ubudiyah atau penghambaan. Yaitu perasaan cinta yang berkonsekuensi pada ketundukan dan pengagungan kepada yang dicintai. Mahabbah jenis ini, jika ditujukan kepada Allah semata, maka ia merupakan ketauhidan dan berwujud mahabbatullah, tetapi apabila ia ditujukan kepada selain Allah maka ia menjadi kesyirikan yang besar, dan bukan lagi mahabbatullah tetapi berubah menjadi mahabbah ma’allah.

Jenis kedua, mahabbah non ubudiyah atau bukan penghambaan. Dan jenisnya bermacam-macam:

  • Cinta karena Allah dan untuk Allah, misalnya mencintai nabi, mencintai ulama dan kaum muslimin, cinta jenis ini termasuk dikategorikan sebagai mahabbah lillah wa fillah.
  • Cinta disebabkan rasa kasihan atau kasih sayang. Seperti orang tua yang mencintai anaknya, atau menyayangi orang sakit dan lemah.
  • Cinta disebabkan rasa hormat. misalnya cinta seorang anak kepada orang tua atau gurunya.
  • Cinta naluri seperti menyukai makanan, minuman, pakaian, dan lain sebagainya.

Ketiga jenis cinta yang terakhir ini hukumnya mubah, kecuali apabila diiringi oleh niat untuk beribadah dan mendekatkan kepada Allah, maka ia termasuk ibadah.

Cinta seorang anak kepada orang tua adalah cinta yang disebabkan oleh rasa hormat, namun jika ia meniatkan cinta tersebut untuk beribadah kepada Allah, maka cinta tersebut menjadi ibadah. (lihat: Al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab al-Tauhid, karya Al-Utsaimin: 2/44-46).

Mahabbah Sebagai Pilar Ibadah

Dalam beribadah kepada Allah, mahabbah merupakan salah satu di antara tiga pilar yang harus menjadi landasan beribadah, yaitu: mahabbah, khauf dan raja’ atau kecintaan kepada Allah, rasa takut kepada-Nya, dan pengharapan kepada-Nya.

Dalam konsep Ahli Sunah wal Jamaah, ketiga pilar tersebut harus melandasi seluruh ibadah. Dan ketiganya harus berimbang dan tidak boleh hanya mementingkan salah satunya tanpa yang lainnya. Dalam konsep ini, ibadah yang dilakukan seseorang harus dilandasi atas dasar kecintaan kepada Allah, dibarengi rasa takut akan ancaman-Nya, dan didorong oleh pengharapan yang tulus untuk diterima oleh Allah Ta’ala.

Mendahulukan atau mementingkan salah satu di antara pilar tersebut atas pilar lainnya dipandang oleh Ahli Sunah sebagai penyimpangan. Dalam ungkapan yang masyhur, mereka menegaskan:“Siapa yang beribadah kepada Allah dengan cinta saja maka dia seorang zindiq (munafiq), siapa beribadah hanya dengan khauf (takut) saja maka dia seorang haruri (khowarij), siapa beribadah hanya dengan raja’ (rasa harap) saja maka dia seorang murji’ (murji’ah) dan siapa yang beribadah dengan cinta, takut dan harap maka dia seorang mukmin yang bertauhid.” (lihat: Syarah al-Aqidah al-Thahhawiyah: 2/458).

Leave A Reply

Your email address will not be published.